Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 37


__ADS_3

Singkat cerita, Dave membawa Nayla beserta Mama-nya pindah ke rumah baru yang dibelinya kemarin.


Duduk disamping Dave, dengan Dave yang menyetir mobil, Nayla terus saja bertanya pada suaminya itu tentang rumah baru mereka. "Rumah baru kita nanti seperti apa, Dave?."


"Adalah," jawab Dave sok misterius." "Nanti kamu juga tahu sendiri kalau sudah tiba disana. Yang pasti kamu akan suka dengan rumah baru itu nanti."


"Oh ya? Tapi coba kamu gambarkan sedikit tentang rumah itu. Aku sangat penasaran sekarang," ucap Nayla sambil bergelayut manja di lengan suaminya. Entah kenapa belakangan ini dia jadi suka bergelayut di lengan suaminya, mungkin pengaruh dari hormon kehamilan.


Dave tertawa kecil melihat kemanjaan istrinya. Entah kenapa ia jadi suka jika Nayla bergelayut di lengannya. "Kalau aku katakan sekarang nanti nggak surprise lagi dong."


Nayla mencebik kesal karena suaminya tak juga memberitahunya. "Ish, pelit banget sih! Masak gitu aja nggak boleh." melepaskan pegangan dari lengan suaminya.


Dave makin tertawa melihat kekesalan di wajah istrinya. "Udah, sabar dikit napa! Bentar lagi kita juga udah nyampek kok!."


Natasha yang berada di kursi belakang, sedari tadi melihat kemesraan antara Dave dan Nayla membuat hatinya ketar-ketir. "Ini si Dave apa-apaan sih? Kenapa dia bisa bermesraan seperti itu dengan Nayla? Atau dia mulai jatuh cinta dengannya?."


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memperingatkan Dave akan tujuan utama kita. Jangan sampai hanya karena dia jatuh cinta dengan Nayla, dia jadi kasihan dengannya lalu semua rencanaku akan berantakan" ucapnya dalam hati.


Berulangkali Natasha memberi isyarat pada Dave agar ia menghentikan pemandangan yang menurutnya sangat menjijikkan itu lewat kaca spion depan. Namun sayang Dave tak melihat isyaratnya itu. Hingga kemudian....


"Ehem..." Ia pura-pura terbatuk. "Mesra banget kalian hari ini. Mama jadi suka melihatnya."


Mendengar sindiran halus dari Mama-nya, Dave tersadar dan langsung memasang wajah datar. Sementara Nayla yang tak tahu maksud sebenarnya, malah salah tingkah dibuatnya. "i...iya, Ma. Maaf kalau Mama nggak nyaman dengan sikap kami tadi."


Natasha tak meneruskan obrolan, Dave dan Nayla pun sama-sama diam hingga membuat suasana menjadi sunyi. Hanya deruan suara mobil saja yang terdengar.


Tak lama kemudian Dave menghentikan laju kendaraan di depan sebuah rumah. "Kita sudah sampai!," ucapnya sambil melepas sealbelt yang melingkar di pinggangnya. "Yuk kita turun. Biar aku tunjukkan rumah kita pada kalian."

__ADS_1


Maka Nayla dan Natasha pun melakukan hal yang sama dengannya lalu turun dari mobil.


Saat pertama kali menjejakkan kaki di tanah, Nayla di buat tercengang dengan kemewahan rumah itu. Semakin terpukau lagi saat ia berdiri di depan pintu gerbang. "I...ini rumah baru kita, Dave?."



"Ya! Lihatlah, inilah rumah baru kita."


"Besar banget!."


Dave tersenyum melihat keterpukauan istrinya. "Yuk kita masuk ke dalam. Kamu akan semakin terpukau setelah melihat dalamnya."


Nayla mengangguk, lalu mengikuti langkah kaki suaminya memasuki rumah. Meski sedikit kesal dengan sikap anaknya hari itu yang terkesan mengabaikannya, namun ia pun turut mengekor di belakang.


Benar saja kata Dave tadi, Nayla makin terpukau begitu melihat rumah itu dari dalam. "Bagus banget rumahnya, Dave. Udah kayak istana para raja."


Sebuah rumah super mewah tiga lantai dengan fasilitas lengkap. Berdiri kokoh di atas lahan seluas satu hektar. Nuansa putih yang mendominasi ekterior rumah membuat rumah itu terlihat begitu elegan dan berkelas, belum lagi interiornya.



Terdapat lima kamar utama dengan tambahan tiga kamar tamu, carport dengan kapasitas enam mobil, juga sebuah garasi dengan kapasitas yang sama pula. Dua buah gudang penyimpanan, gym corner, home theater room, jacuzzi/whirlpool, dan masih banyak fasilitas lain yang tak bisa Nayla lihat satu persatu karena sudah terlalu lelah berkeliling.


"Cukup, Dave. Aku sudah lelah berkeliling rumah. Mungkin besok lagi aku akan lanjut menyisir rumah ini sendiri" ucap Nayla dengan nafas terengah-engah


Dave tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala melihat istrinya. "Aku bahkan belum menunjukkan setengah dari rumah ini lho padamu tadi."


"Terserah kamu mau ngomong apa. Tapi sekarang aku benar-benar capek. Aku nggak ingin anakku kenapa-napa hanya gara-gara aku kecapekan menyisir isi rumah ini."

__ADS_1


Dave tersenyum simpul. "Ya udah. yuk kita samperin Mama lagi di bawah."


Nayla mengangguk setuju. Dengan menggunakan home lift yang tersedia juga di rumah itu, mereka turun ke bawah dan menghampiri Natasha.


"Bagaimana menurutmu rumah ini Nay?" tanya Natasha saat mereka sudah menghempaskan tubuh di atas sofa.


"Sangat luas, Ma" jawab Nayla memberi tanggapan. Tangannya bergerak melebar ke samping untuk menegaskan seberapa besar luas yang di maksud. "Aku sampai nggak sanggup menyisir seluruh ruangan di rumah ini satu persatu."


Dave tertawa kecil. "Ntar sore, coba kamu naik ke lantai paling atas dari rumah ini. di sana ada rooftop garden yang pemandangannya sangat indah apalagi kalau kita melihatnya malam hari. Aku yakin, kamu pasti suka dan betah berlama-lama disana."


"Oh ya?" ucap Nayla sambil menagngkat sebelah alis. "Tapi ngomong-ngomong, berapa harga rumah ini?."


"Dua puluh milyar rupiah."


Sebuah angka yang sangat fantastis. Nayla bahkan sampai melongo tak percaya dengan harga yang disebutkan oleh suaminya. "Kenapa bisa semahal itu, Dave?."


"Tapi harga yang kita bayarkan sesuai dengan fasilitas yang kita dapatkan kan?."


"Emang bener sih. Tapi bukankah aku sudah berpesan padamu untuk membeli rumah yang sesuai dengan kebutuhan kita. Aku rasa rumah ini terlalu berlebihan buat kita."


"Aku rasa rumah ini tidak berlebihan, Nay. Justru semakin menunjukkan kelas kita."


"Harta itu bukan sesuatu yang patut untuk disombongkan, Dave. Masih banyak orang di sekitar kita yang lebih membutuhkan dan patut kita bantu." Nayla sedikit kesal dengan pola pikir suaminya yang memandanga harta adalah segalanya.


Melihat Nayla terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya dengan cara pandangnya, Dave mulai mengeluarkan kata-kata manisnya. "Ayolah, Nay, sesekali memanjakan diri dengan membeli barang-barng mewah tidak apa kan. Lagipula selain sebagai tempat tinggal, rumah juga bisa menjadi investasi kita kan."


Melihat perdebatan antara anak dan menantunya, Natasha tak tinggal diam. Tentu saja ia berpihak pada anaknya sendiri dan ikut berkata manis agar Nayla tak marah.

__ADS_1


Nayla mendesah lesu mendengar kata-kata mereka berdua. "Ya sudah tidak apa, semua sudah terlanjur di beli. Sekarang mana sertifikat rumah ini? Aku ingin melihatnya sekarang."


__ADS_2