
Seorang pemuda dengan mengenakan setelan jas rapi terlihat tengah memasuki kediaman Abhimana. Langkah kakinya terlihat sangat mantap. Suara hentakan dari sepatu pentofel yang dikenakannya terdengar menggema memenuhi seluruh ruangan.
Dialah Langit, anak dari mendiang sahabat Kania yang bernama Tasya yang mereka rawat sejak masih berusia lima tahun. Kini ia telah tumbuh dewasa dan menjelma menjadi sosok pemuda yang sangat tampan dan berpikiran matang.
Tubuh tinggi tegap bak atlet olahraga. Alis mata tebal, hidung mancung, dan tulang rahang tinggi. Bibir merah alami terlihat begitu menawan tiap kali ia tersenyum, berpadu indah dengan kulit putih bersih miliknya.
Berjalan memasuki ruang tamu. Suara langkah kakinya membuat Kania yang saat itu sedang membaca koran disitu langsung mengalihkan pandangan. "Langit!," pekiknya bahagia setelah tahu siapa yang datang. "Kau sudah pulang, nak?."
Langit mungkin hanya anak asuh, namun Kania sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Ia tak pernah membeda-bedakan kasih sayang diantara ketiganya.
Berjalan menghampiri Kania, bersimpuh dihadapannya, lalu mencium punggung tangannya dengan takzim. "Iya, bunda, Langit sudah pulang," senyum manis menghias wajahnya.
"Duduklah disamping bunda, nak!" ucap Kania sambil menepuk tempat di sampingnya. "Bunda sangat merindukanmu."
Langit menurut dan duduk di samping wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandung sendiri. "Langit juga sangat merindukan bunda. Oh ya, bunda apa kabar?."
"Bunda baik. Kamu sendiri gimana?."
"Langit juga baik, bund. Tapi kayaknya bunda nggak baik-baik saja deh," ucapnya sambil memandang Kania dengan seksama. "Terlihat lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu."
Kania tersenyum tipis mendengar ucapan anak asuhnya itu. "Tidak apa, nak, bunda baik-baik saja kok," jawabnya, sengaja menyembunyikan masalah yang tengah dihadapinya.
Namun Langit tak percaya begitu saja. Ia terus memandangi wanita yang telah memberinya kehidupan kedua itu. "Bunda jangan bohong. Raut wajah bunda menunjukkan kalau bunda sedang tidak baik-baik saja. Langit tahu kalau saat ini bunda sedang ada masalah."
Kania menghela nafas lalu menunjukkan senyum terbaiknya agar tak membuat Langit semakin curiga. "Bunda tidak apa, nak. Nih lihat! Bunda tersenyum bahagia kan."
Langit masih tak percaya dengan ucapan Kania. Belasan tahun mereka hidup bersama. Ia tahu betul bagaimana ekspresi Kania saat menyembunyikan masalah.
__ADS_1
Melihat Langit terus saja menatapnya seperti itu, Kania berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Oh ya, bagaimana dengan usahamu disana? Apa semua baik-baik saja?," tanyanya.
"Semuanya lancar, bund. Emang ada sedikit masalah, tapi sekarang semuanya sudah aman terkendali. Makanya Langit cepat-cepat balik kesini karena sudah merindukan bunda," jawabnya.
"Oh ya, Langit ada sedikit oleh-oleh buat bunda." Mengambil sebuah bingkisan kecil dari dalam koper dan menyerahkannya pada Kania.
Menerima bingkisan itu sambil mengernyitkan dahi. "Apa ini?."
"Bunda buka aja sendiri biar tahu isinya apa."
Kania membuka bingkisam tersebut dan melihat isinya. Matanya berbinar bahagia saat mengetahui isinya. "Langit, kau membuatkan lukisan keluarga kita!."
Langit mengangguk sambil tetap tersenyum. "Apa bunda suka."
"Suka sekali, nak, terimakasih! Kau memang sangat tahu apa yang bisa membuat bunda sangat senang."
Kania tersenyum teduh mendengar ucapan anak ketiganya itu. "Kau memang anak yang berbakti, nak. Tidak salah kami mengasuhmu dulu," ucapnya sambil mengusap wajah Langit lembut.
Langit menanggap tangan Kania yang berada di pipinya lalu mengecupnya singkat. "Dan Langit sangat berterimakasih untuk itu."
Puas melepas rasa rindu yang mengharu biru, Langit celingak-celinguk mencari sesuatu. Melihat hal itu Kania pun bertanya, "Ada apa, nak? Kau sedang mencari siapa?."
"Kok aku nggak ngelihat kak Nayla sedari tadi ya, bund? Apa dia masih ada di kantor? Aku ingin memberikan oleh-oleh untuknya juga nih."
Mendengar nama putrinya kembali disebut, mendadak wajah Kania berubah sendu.
Melihat perubahan di wajah sang bunda, Langit pun bertanya, "Ada apa, bund? Kenapa mendadak wajah bunda menjadi sedih?."
__ADS_1
Kania tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala. Namun Langit tak menyerah, ia terus mendesak Kania agar mau berkata jujur. "Jangan bohongi Langit lagi, bund. Langit tahu kalau ada sesuatu yang sedang bunda sembunyikan." Namun Kania masih saja diam dan tak mau menjawab serta memalingkan wajah menghindari bersitatap dengan putra ketiganya itu.
"Apa hal yang sedang coba bunda sembunyikan dariku ada hubungannya dengan kak Nayla?," tanya Langit tepat sasaran. Namun Kania masaih saja setia dengan kebungkamannya.
Langit menghela nafas berat. "Jadi ini yang coba ayah katakan padaku di telepon waktu itu," ucapnya menarik kesimpulan.
Mendengar ucapan Langit, Kania langsung memalingkan wajah. "Jadi kau sudah tahu dengan apa yang terjadi pada kakakmu?," tanyanya cepat.
Langit tersenyum tipis saat mengetahui jika tebakannya memang benar. "Jadi dugaanku memang benar. Semua ini ada hubungannya dengan kak Nayla. Sekarang bunda tidak bisa membohongiku lagi. Katakan bund, apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kita?."
Kania menghela nafas berat, tak mungkin lagi menutupi segalanya dari Langit. Ia telah terjebak dengan kata-katanya sendiri. "Seberapa banyak ayahmu menceritakan masalah ini padamu."
"Ayah belum mengatakan apa-apa di telepon. Hanya saja ia berkata kalau ada masalah yang sedang keluarga kita hadapi. Untuk itulah beliau ingin aku segera pulang. Sekarang jelaskan semuanya padaku, bund. Jangan coba menyembunyikan apa-apa lagi. Atau aku tidak akan pernah menemui bunda lagi."
Mendengar ancamam Langit, Kania kembali menghela nafas berat. "Baiklah, nak! Bunda akan beritahukan semuanya padamu." Mau tak mau ia pun menceritakan semua yang terjadi dengan Nayla pada Langit.
"Sekarang katakan pendapatmu, apa yang bunda lakukan sekarang ini salah?." Kania mengakhiri cerita singkatnya dengan menanyakan pendapat Langit.
Langit menghela nafas berat. Mengertilah kini masalah yang sedang menimpa keluarganya. Namun ia tak bisa menghakimi mana yang salah dan mana yang benar, karena ia baru mendengar cerita dari sepihak saja. Namun ia berusaha untuk bersikap bijak karena tak ingin membuat hati bundanya lebih terluka lagi.
"Menurutku apa yang bunda lakukan tidaklah salah. Karena hati seorang bunda memang hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia. Namun Langit juga tidak bisa mengatakan kalau tindakan ayah itu salah. karena beliau pasti memiliki alasan dibalik sikapnya itu."
Kania terdiam mendengar ucapan Langit, menghela nafas berat lalu kembali berkata, "Apapun alasannya, maukah kau membantu bunda?."
Langit menggenggam kedua tangan Kania dan menatapnya dalam. "Jangan membuat Langit merasa malu dengan meminta dariku, bund. Karena nyawaku pun adalah milik bunda. Cukup katakan saja apa yang harus Langit lakukan. Maka Langit akan berusaha untuk memenuhinya."
Kania kembali tersenyum mendengar ucapan putra ketiganya itu, mengangguk sekilas laku berkata, "Bawalah kakakmu kembali ke rumah ini apapun caranya. Bunda serasa mati karena hidup jauh darinya."
__ADS_1