Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 58


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, Natasha seperti orang kebakaran jenggot. Ia berjalan mondar mandir sambil terus berusaha menghubungi anaknya.


"Dave ini ngapain aja sih? kenapa di saat genting seperti ini malah susah dihubungi," ucapnya tersungut-sungut saat panggilannya tak juga diangkat.


Ia kembali mencoba menghubungi Dave, namun hasilnya tetap saja sama. "Kurangajar! Lama-lama dibiarkan makin ngelunjak aja itu anak. Kenapa dia nggak juga mengangkat telepon dariku? Awas saja! Kalau sampai pulang, aku akan memberinya pelajaran."


Natasha berjalan mondar mandir seperti setrikaan menunggu kepulangan anaknya. Namun hingga tengah malam yang di tunggu-tunggu belum juga menampakkan diri. Ia pun mencoba untuk menghubungi anaknya kembali. Namun kali ini hasilnya pun tetap sama.


Nayla yang kebetulan terbangun karena merasa tenggorokannya kering pun terlihat sangat khawatir begitu tahu tempat tidur di sampingnya kosong.


"Dave kemana ya? Kok jam segini dia belum juga pulang. Tidak biasanya dia pulang selarut ini."


"Coba aku tanya sama Mama. Mungkin saja dia tahu."


Ia pun menyibakkan selimut, turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar untuk mencari tahu dari Natasha.


"Dari tadi Mama belum juga tidur?" tanyanya saat melihat Natasha berjalan mondar mandir di ruang tamu.


Natasha terlihat sangat terkejut mengetahui Nayla tiba-tiba ada di belakangnya. "Eh, Nayla. Ngapain kamu kesini?" ucapnya bertanya balik.


"Nayla tadi terbangun karena merasa haus, Ma. Tapi malah melihat Dave belum juga pulang. Kira-kira Mama tahu nggak Dave pergi kemana?."


"Mama juga nggak tahu, Nay. Ini juga Mama lagi nungguin dia pulang. Dari tadi Mama mencoba menghubunginya tapi malah nggak diangkat."


Mendengar penuturan Natasha, hati Nayla mendadak khawatir. "Dave kenapa ya? Tidak biasanya dia seperti ini? Atau jangan-jangan dia sedang terkena masalah. Nayla jadi nggak tenang ini, Ma."


Melihat hal itu, Natasha berusaha menenangkannya kembali. "Kamu tidak usah khawatir begitu, Nay. Dave pasti baik-baik saja. Mungkin saat ini dia masih ada di kantor untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Apalagi kamu kan tahu sendiri kalau perusahaanmu sekarang sedang ada masalah. Jadi lebih baik sekarang kamu kembali ke kamar dan tidur. Biar mama yang menunggu Dave pulang."


"Tapi, Ma...."

__ADS_1


"Tidak usah tapi-tapian. Kamu itu sedang hamil, nggak baik kalau begadang tengah malam. Nanti kalau Dave sudah pulang Mama pasti langsung memberitahumu."


Nayla menghela nafas berat, berpikir sejenak lalu menyetujui saran mertuanya. "Baiklah, Ma. Nayla ke kamar dulu. Tapi Mama janji, nanti begitu Dave pulang, mama harus segera memberitahuku."


Natasha menganggukkan kepala menyanggupi keinginan menantunya. "Iya, Mama pasti akan langsung memberitahumu. Sekarang pergilah ke kamarmu!." Dan Nayla pun kembali lagi ke kamarnya.


Sepeninggal Nayla dari situ, Natasha bernafas lega. "Untung Nayla menuruti perkataanku. Kalau tidak, bisa-bisa nanti aku nggak bisa bicara berdua dengan Dave."


...****************...


Di tempat lain.....


Tengah malam Jessica terbangun karena terganggu oleh suara ponsel Dave yang terus saja berdering. "Siapa sih yang telpon malam-malam begini. Gangguin orang lagi tidur aja," gerutunya kesal.


Ia pun menyingkirkan lengan Dave yang melingkar diatas perutnya dan meraih ponsel itu berniat untuk mengangkatnya. Namun begitu ponsel itu berada di tangannya panggilan tersebut malah mati.


Ya, malam itu Dave tengah tidur di apartemennya. Mereka sama-sama terkapar tak berdaya usai pertarungan hebat mereka sehingga membuat Dave lupa untuk pulang.


"Siapa sih yang nelpon malam-malam begini? Nggak tahu apa kalau ini itu waktunya istirahat" gerutunya makin kesal. "Atau jangan-jangan itu istrinya Dave yang lagi nyariin dia."


"Kalau begitu aku bangunin aja Dave biar dia sendiri yang ngangkat teleponnya. Bisa-bisa nanti istrinya curiga kalau aku yang ngangkat."


Ia pun menggoyang-goyangkan lengan Dave bermaksud untuk membangunkannya. "Dave, ayo bangun! Istri kamu nelpon tuh."


Dave tergeragap, terbangun dari tidurnya. "Astaga! Ini jam berapa?" tanyanya sambil langsung bangun dari posisi tidurnya.


"Udah tengah malam, Dave."


"Ya Tuhan, ini gawat! Aku harus pulang ke rumah sekarang juga. Atau nanti istriku akan curiga."

__ADS_1


Tanpa banyak membuang-buang waktu lagi, Dave segera bangkit dari tempat tidur, mengenakan kembali pakaiannya, lalu bergegas meninggalkan apartemen.


Memacu mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Dave berusaha keras agar segera tiba di rumah secepat mungkin. Ia bahkan tak menghiraukan ponselnya yang terus saja berdering.


Setibanya di rumah, Dave disambut dengan kemarahan Natasha. "Kemana saja kamu dari tadi? Kenapa jam segini kamu baru pulang?" semprotnya.


"Dave sedang ada urusan penting, Ma" jawabnya sengaja berbohong. Mana mungkin ia mengatakan kalau dia baru saja menghabiskan malam yang indah dengan kekasihnya.


"Lalu kenapa kamu nggak jawab telepon dari Mama? Kamu tahu berapa banyak Mama menelponmu?,"


"Jadi yang telponin Dave sedari tadi itu mama, bukannya Nayla?"


"Tentu saja! Kamu kira siapa lagi."


Dave bernafas lega mendengar ucapan Mama-nya. "Syukurlah kalau ternyata Mama yang telpon aku. Aku kira tadi Nayla yang telpon."


"Meski mama yang terus teleponin kamu, tapi bukan berarti Nayla nggak tahu kalau kamu belum juga pulang. Untung tadi mama bisa mengatasinya. Kalau tidak, bisa-bisa kita ketahuan."


"Baguslah kalau begitu!" jawab Dave santai lalu menghempaskan tubuh begitu saja di atas sofa.


Natasha makin kesal melihat tingkah putranya. "Kamu ini dibiarin malah makin kurangajar ya sama Mama!." ucapnya sambil menghampiri putranya.


Namun saat mereka berada dalam posisi yang cukup berdekatan, Natasha mencium bau aneh menguar dari tubuh anaknya. "Bau apa ini, Dave? Kenapa baunya seperti ini?" tanyanya sambil mengendus aroma tubuh anaknya untuk meyakinkan bau apa yang tercium dari tubuh sang putra.


Mendengar pertanyaan Mama-nya, Dave pun ikut mengendus aroma tubuhnya sendiri. "Bau apa sih, Ma? Dave nggak mencium apa-apa?" tanyanya bingung.


"Mama juga nggak terlalu yakin. Tapi bau ini seperti bau bekas percintaan," ucapnya. Mendadak ia tertegun dengan ucapannya sendiri. Lalu kemudian dia kembali berkata, "Jangan bilang kalau kamu baru saja menghabiskan malam dengan seorang perempuan?" menatap tajam ke arah putranya.


Dave salah tingkah karena Mama-nya bisa menebak dengan tepat apa yang sudah di perbuatnya tadi. "Dari mana Mama tahu kalau Dave habis menghabiskan malam bersama dengan wanita?" tanyanya balik sedikit bingung.

__ADS_1


"Mana mungkin Mama nggak tahu kalau aroma tubuhmu jelas-jelas menunjukkan perbuatanmu?" sentaknya makin emosi. "Jadi ini alasan kenapa kamu sampai nggak pulang-pulang sampai selarut ini dan mengabaikan panggilan dari Mama?."


Sontak Dave membekap mulut Mama-nya sendiri. "Ssst...jangan keras-keras, Ma. Nanti Nayla bisa kedengeran kalau Mama berteriak sekencang itu."


__ADS_2