Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 15


__ADS_3

Sejak peristiwa malam menjelang pagi itu, sikap Dave terhadap Nayla kembali menghangat. Disetiap kesempatan ia selalu bersikap manis dan penuh perhatian. Meski penuh dengan kepura-puraan namun ia tak lagi bersikap kasar apalagi membentaknya.


Nayla sangat bahagia melihat suaminya kembali bersikap manis terhadapnya seperti dulu. Namun ada satu hal yang membuat hatinya sedikit sedih.


Meski telah berbaikan dan kembali tidur bersama dalam satu ranjang, namun Dave belum mau menyentuh istrinya kembali. Ia selalu menghindar dan membuat berbagai alasan saat Nayla menginginkannya.


Hal inilah yang masih membuat Nayla sedih, Namun ia tak mau larut dan terlalu memikirkan hal itu. Yang terpenting suaminya tak lagi bersikap dingin atau mengacuhkannya seperti kemarin.


Sementara itu di kediaman Haidar, Abhimana tengah terlibat perang dingin dengan istrinya. Semenjak peristiwa pengusiran Nayla dari rumah olehnya, sikap Kania menjadi dingin dan tak tersentuh.


Berulangkali Abhimana mencoba mendekati istrinya, namun Kania selalu menghindar dengan berbagai alasan. Tak jarang ia membuat kejutan-kejutan romantis untuk menyenangkan hatinya, namun semua berakhir dengan kegagalan.


Suasana rumah tak lagi sama seperti dulu. Rumah yang dulu dihiasi tawa ceria dan penuh dengan kehangatan, kini menjadi suram bagai tak berpenghuni seiring hilangnya senyuman di wajah manis Kania.


Pagi itu Abhimana tengah kebingungan mencari dasi kesukaannya yang merupakan hadiah ulangtahun dari Kania. Entah kenapa tiba-tiba hari itu ia ingin mengenakan dasi itu untuk menghadiri rapat penting bersama jajaran dewan direksi di perusahaannya.


Abhimana terus mencari benda itu kesetiap lemari, namun ia tak juga berhasil menemukannya. Ia pun berteriak memanggil istrinya untuk meminta bantuan. "Kania, tolong bantu aku mencari dasi kesukaanku! Sebentar lagi aku ada rapat penting."


Mendengar teriakan suaminya yang memanggilnya, Kania datang ke kamar dengan tergopoh-gopoh. Namun begitu tiba di kamar ia malah melihat kondisi kamar yang berantakan. "Astaga! Kenapa kamar kita jadi berantakan kayak kapal pecah begini?," tanyanya penuh dengan keterkejutan.


Abhimana nyengir kuda sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal melihat keterkejutan istrinya. "He he he, Maaf! Aku yang sudah membuatnya berantakan. Tapi tolong sekarang bantu aku untuk mencari dasiku ya!" ucapnya penuh pengharapan.


Kania menghela nafas panjang sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya yang meski sudah tua tapi masih seperti anak kecil. Dia selalu lupa akan hal-hal kecil termasuk dimana ia menyimpan barang-barangnya. "Memangnya kau mau mencari dasi yang mana?" tanyanya.

__ADS_1


"Dasi warna merah bata dengan strip hitam yang kau berikan sebagai kado ulangtahunku tahun lalu," jawab Abhimana memberitahukan ciri-ciri dasi yang sedang dicarinya.


Kania mengangguk faham. Ia segera membuka laci kecil di bagian bawah lemari di sudut tembok dimana ia biasa menyimpan koleksi dasi suaminya. "Apa ini yang yang kau cari?" tanyanya sambil menunjukkan barang yang sedari tadi dicari suaminya.


"Ya, benar! Itu dia dasi yang aku cari." Abhimana mengulurkan tangan dan mengambil dasi itu dari tangan istrinya. "Terimakasih!."


"Kau itu tak pernah berubah! selalu saja lupa akan hal-hal kecil" ucap Kania datar.


"Dan kau selalu mengingatkanku akan hal-hal kecil yang sering aku lupakan" jawab Abhimana cepat.


Kania kembali membisu, tak menanggapi perkataan suaminya.


Abhimana kembali bersiap dan mengalungkan dasi itu di lehernya. Tapi karena terlalu terburu-buru, ia malah salah mengikat dasi.


Kania yamg sedari tadi terus memperhatikan suaminya pun geleng-geleng kepala melihat kebiasaan suaminya. "Dasar, dari dulu nggak pernah berubah! Selalu saja salah memasang dasi kalau sedang buru-buru," ucapnya sambil tersenyum lebar. "Sini, berikan dasinya padaku! Biar aku bantu memasangkannya di lehermu."


Kania berdiri di hadapan suaminya, sedikit berjinjit untuk menyamakan tinggi badan mereka. Perlahan ia pun mengikat dasi tersebut membentuk sebuah simpul yang rapi.


Begitu seriusnya ia saat memakaikan dasi itu di leher suaminya hingga tanpa sadar ia terus saja mengoceh tentang kebiasaan suaminya ini seperti yang selalu ia lakukan disaat seperti ini. "Kau itu sudah tua tapi sifatmu nggak pernah berubah. Selalu saja salah melakukan sesuatu kalau sedang buru-buru. Lihat! Harusnya seperti ini kalau memasang dasi."


Abhimana semakin terkejut melihat perubahan di diri istrinya. Bukan soal dia yang terus mengomel dan memarahinya sedari tadi. Tapi terkejut karena sifat bawel sang istri yang sempat hilang selama beberapa hari terakhir kini telah kembali gara-gara hal sepele. Bahkan sudut bibirnya pun terlihat tertarik ke tepi membentuk sebuah senyuman manis.


"Nah, sudah selesai! Sekarang kamu sudah siap dan rapi" ucapnya sambil menepuk-nepuk pelan jas yang dikenakan suaminya untuk menghilangkan debu yang menempel.

__ADS_1


Abhimana tak tahan melihat bibir istrinya yang sedari tadi terus bergerak mengomel entah apa karena tak terlalu ia perhatikan pun mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir manisnya.


"Kau terlihat sangat cantik kalau sedang mengomel dan memarahiku sambil tersenyum seperti ini. Aku sangat merindukan ocehanmu ini. Andai aku tak pernah kehilangan senyuman ini, aku pasti menjadi lelaki yang paling bahagia di dunia. Sebab senyumanmu adalah sumber kebahagiaanku," ucapnya lirih.


Kania sangat terkejut melihat suaminya yang telah berani mencuri kecupan singkat di bibirnya. Sontak ia pun kembali bersikap dingin dan menjauhkan diri darinya.


Greppp...


Dengan cepat Abhimana menarik pergelangan tangan istrinya dan mengunci tubuh mungilnya dengan kedua tangannya. "Aku mohon, Kania, jangan menghindar lagi dariku!. Kembalikan senyum indah di wajahmu itu," ucapnya penuh dengan permohonan. Dahinya menyentuh dahi sang istri.


Untuk sesaat Kania terbuai dengan kata manis dan sikap manis samg suami. Namun ia segera menguasai diri dan menjauh dari suaminya dengan mendorong tubuhnya ke belakang. "Lepaskan aku, Mas Abhi! Jangan bersikap kekanakan seperti ini."


Namun Abhimana tak mau menyerah. Ia kembali mengurung tubuh sang istri dalam kungkungannya. Ia sudah lelah melihat Kania yang selalu menghindarinya. "Terserah kau mau menyebutku apa. Tapi tolong kembalikan senyuman itu di wajahmu. Kenapa sekarang kau seolah menjauhiku dan selalu bersikap dingin padaku? Kemana keceriaanmu yang selalu mewarnai hari-hariku?."


"Saat seorang ibu dipisahkan dari anaknya, masih bisakah ia untuk tersenyum dan tertawa?" tanya balik Kania. Sorot matanya menatap tajam sang suami.


"Anak adalah separuh nyawa sang ibu. Dan saat nyawa itu diambil darinya, maka hidupnya tidak akan berarti lagi."


"Kau ingin melihat senyumku kembali kan? Maka kembalikan putriku padaku!" tandasnya.


Abhimana tertegun mendengar ucapan istrinya. Perlahan ia melepaskan kungkungannya dan berjalan mudur. "Kenapa kau tak mau mengerti juga Kania? Aku melakukan ini juga demi kebaikan anak kita. Bukankah aku sudah menjelaskan padamu apa alasanku melakukan ini?."


"Aku tak mau tahu apa alasanmu. Terserah kau mau melakukan apa. Tapi yang terpenting adalah kembalikan putriku padaku," teriak Kania emosional.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Kania berlari meninggalkan suaminya dengan cucuran air mata.


Abhimana hanya memandangi kepergian istrinya dengan tatapan kosong, tak bisa berbuat apa-apa untuk menghapus air mata itu. "Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus segera menyelidiki siapa lelaki itu sebenarnya dan apa maksud dibalik niatnya mendekati putriku sebelum aku benar-benar kehilangan istriku!" ucapnya Dalam hati.


__ADS_2