Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 7


__ADS_3

Pagi itu, Kania tengah bersantai di halaman belakang bersama dengan suaminya sambil menikmati secangkir minuman di teras belakang. Di hadapannya terbentang taman kecil yang sangat indah hasil kreasinya yang ditumbuhi oleh beraneka ragam bunga dengan berbagai warna.


Setelah menyerahkan tampuk kepemimpinan perusahaan peninggalan sang Papa pada Nayla seperti yang tertulis dalam surat wasiat, tak banyak yang bisa Kania lakukan untuk menikmati masa tua selain bersantai dan bercengkrama dengan suaminya sambil menikmati secangkir teh seperti saat ini. Sesekali ia merawat tanaman yang tumbuh subur di taman rumah terlebih itu memang passionnya sejak dulu.


Di tengah asyiknya bercengkrama, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari arah depan. "Mas Abhi, itu ada apa sih? Pagi-pagi gini kok sudah ribut," ujar Kania.


Abhimana pun menjawab dengan mengedikkan bahu. "Entah, Mas juga nggak tahu. Udah biarin aja! Mungkin hanya para pelayan saja."


Kania mengernyitkan dahi, sanksi akan jawaban suaminya. "Kayaknya itu bukan cuma pelayan. coba deh Mas lihat ke depan!"


Dengan sedikit enggan karena kemesraannya dengan sang istri harus terganggu, Abhimana menyeret langkah menuju ke depan untuk melihat penyebab dari keributan itu. "Siapa sih yang ribut di depan? Gangguin orang aja" gerutunya.


Namun saat tiba di depan, ia terkejut melihat Nayla tengah berdebat dengan lelaki yang diperkenalkannya sebagai calon suaminya kemarin. Disampingnya ada bik Ijah yang tengah menundukkan kepala. Yang lebih mengejutkan lagi, ia melihat putrinya dalam balutan gaun pengantin berwarna putih.


Sontak ia pun menyatukan kedua alis sambil memicingkan sebelah mata, gaya khas yang dimilikinya jika bertanya sesuatu pada orang lain. "Kenapa kau berpakaian seperti itu, Nayla?."


Namun mendengar jawaban yang diutarakan oleh putrinya bahwa ia baru saja melangsungkan pernikahan dengan Dave membuat hatinya terbakar amarah. Hatinya sangat kecewa, hingga akhirnya ia mengusir putri kandungnya sendiri.


Sementara itu, melihat suaminya tak kunjung kembali, Kania pun memutuskan untuk menyusul ke depan. "Memangnya di depan ada ribut-ribut apa sih? kok suaranya kedengeran sampai sini. Mas Abhi juga, ngapain aja dari tadi kok nggak balik-balik" gerutunya.


Alangkah terkejutnya Kania setelah ia tiba di depan. Ia melihat suaminya mendorong putri mereka hingga terjerembab dan jatuh diatas kakinya. Sontak ia pin menolong dan membantu putrinya untuk berdiri.


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut disini? Mas abhi juga, kenapa mendorong Nayla sampai terjatuh seperti tadi?."


Mendengar pertanyaan bertubi dari istrinya, Abhimana mendengus kesal. Sisa-sisa kemarahannya masih tergambar jelas di wajah. "Kamu tanya saja sendiri pada putri kesayanganmu itu apa yang sudah dilakukannya? Lihatlah juga pakaian yang dikenakannya saat ini," jawabnya datar. Sorot mata menatap tajam ke arah Nayla.


Nayla merasa terhakimi dengan cara ayahnya memandang. Ia pun menundukkan kepala untuk menghindari bersitatap dengan ayahnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan suaminya, sontak Kania mengalihkan pandangan ke arah Nayla. Dilihatnya sang putri dari atas ke bawah. "Nayla! Ke....kenapa kamu mengenakan gaun pengantin seperti ini?," tanyanya terbata. "Jangan bilang kalau kau sudah...."


"Ya, dia memang sudah menikah. Dan kini dia datang dan meminta kita agar mau menerima pernikahannya," ujar Abhimana lugas.


"Benarkah itu, nak?" tanya Kania, menuntut jawaban langsung dari putrinya.


Nayla tak memiliki keberanian untuk menjawab pertanyaan ibunya dan malah semakin menundukkan kepala.


Kania tak sabar melihat kebungkaman putrinya. Ia merangsek mendekati Nayla. Dicengkeramnya kedua lengan sang putri dan mengguncangnya keras. "Jangan hanya diam saja, Nayla, jawab pertanyaan bunda! Apa benar yang dikatakan oleh ayahmu tadi kalau kau sudah menikah?" teriaknya.


"I....iya, bunda. Maafkan Nayla. Nayla memang sudah menikah dengan Dave tadi," jawabnya takut-takut.


"Astagfirullah....." gumam Kania pelan. Tubuhnya terasa lemas seketika hingga membuatnya jatuh terduduk diatas lantai. Ia begitu syok mendengar jawaban putrinya hingga membuatnya jatuh pingsan.


"Bunda...." jerit Nayla.


Sontak mereka berdua berlari menghampiri wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


Abhimana mengangkat tubuh sang istri dan membaringkannya diatas sofa Kemudian ia berteriak memanggil asisten rumah tangga. "Bik Ijah, ambilkan minyak angin di kotak obat!."


Nayla datang mendekat ingin melihat kondisi sang bunda, namun ayahnya malah mengusirnya. "Ngapain kamu masih disini! Lihat! gara-gara ulahmu Bundamu jadi seperti ini."


Nayla pun mundur beberapa langkah, memilih menjauh daripada membuat ayahnya semakin marah. Namun hatinya dipenuhi dengan kekhawatiran akan kondisi sang bunda.


Tak berselang lama bik Ijah datang dengan tergopoh-gopoh sambil mengambil minyak angin yang diminta. "Ini tuan, minyak anginnya," ucapnya.


Namun saat melihat kondisi Kania, ia pun terkejut. "Ya Allah, Tuan, nyonya kenapa?" tanyanya penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara anak itu. Dialah yang membuat Istriku jadi seperti ini," jawab Abhimana. Jari telunjuk mengarah ke Nayla.


Mendengar ucapan Abhimana, bik Ijah tak meneruskan pertanyaanya dan memilih memijat kaki Kania. Ia tak mau terlalu ikut campur urusan majikannya khawatir membuat masalah semakin runyam.


Sementara itu Dave hanya menonton pertengkaran yadng terjadi tanpa ada keinginan untuk membela sang istri. Justru dalam hati ia bersorak kegirangan, sebab memang inilah yang ia inginkan, menghancurkan keluarga Abhimana secara perlahan.


Hangatnya minyak angin dan usapan lembut dari sang suami membuat Kania kembali siuman. Ia pun bangkit dari tidurannya dan bersandar di bahu sofa. "Kenapa kau lakukan ini, Nayla," tanyanya lirih.


Nayla terus menangis sesenggukan, tak terhitung lagi banyaknya air mata yang tertumpah hari itu. " Maafkan, Nayla, bunda. Nayla hanya melakukan apa yang menurut Nayla benar."


"Apa menurutmu menentang perintah orangtua dan menikah diam-diam adalah tindakan yang benar?," ujar Abhimana sarkastis.


Nayla membisu, hanya air mata yang mengalir sebagai jawaban.


"Ini semua pasti gara-gara lelaki itu. Dia yang sudah membuatmu menjadi anak pembangkang seperti ini" ujar Abhimana lagi. Jari telunjuk mengarah ke arah Dave.


Melihat ayahnya menyalahkan Dave atas semua yang terjadi, Nayla pun trak terima. "Jangan salahkan Dave, ayah. Dia tidak bersalah sama sekali. Justru akulah yang memaksanya agar mau menikahiku."


Mendengar ucapan Nayla yang terkesan begitu membela Dave membuat Abhimana semakin jengah. "Sudahlah! Kalian berdua memang sama saja. Sekarang kalian berdua tinggalkan rumah ini dan jangan pernah berani menginjakkan kaki lagi disini," ucapnya dingin.


Mendengar suaminya mengusir putrinya sendiri, Kania pun terkejut. "Mas Abhi, kenapa kau malah mengusir putri kita dari rumah?" tanyanya dengan nada tinggi.


"Kenapa tidak?" tanya balik Abhimana. "Untuk apa mempertahankan anak yang membangkang perintah orangtua."


"Tapi seharusnya kita menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Bukan malah menambah masalah apalagi mengusir anak kita dari rumah seperti ini."


Melihat ayah dan bundanya berdebat lantaran dirinya, Nayla segera angkat bicara. "Sudahlah, bunda. Jangan membelaku lagi di hadapan ayah seperti ini. Toh itu juga percuma, tak mungkin membuat ayah merubah keputusannya."

__ADS_1


"Sekali lagi aku minta maaf karena telah mengecewakan kalian. Dan sebaiknya aku memang harus pergi dari rumah ini."


__ADS_2