
Natasha mulai menjalankan rencana jahatnya. Pagi itu ia dengan sengaja membuat lantai apartemen basah dengan harapan Nayla akan jatuh terpeleset lalu pendarahan dan keguguran.
Sebuah rencana yang cukup sederhana namun sangat ampuh mengingat usia kandungan Nayla yang masih muda dan rentan keguguran.
Ceklek....kriettt..
Pintu kamar Nayla terdengar dibuka. Natasha segera bersembunyi di balik tembok menanti adegan menyenangkan yang akan segera terjadi.
Menit demi menit berlalu, namun Nayla tak kunjung keluar dari kamar. Padahal pintu kamarnya sudah terbuka sedari tadi.
Natasha yang terus memantau dari balik tembok terlihat tak sabar. "Nayla ini masih ngapain aja sih? Kok lama sekali keluarnya," ucapnya tersungut-sungut. "Coba aku tunggu sebentar lagi. Mungkin setelah ini dia keluar. Lagipula sekarang sudah jam segini."
Lama menanti namun Nayla tak jua keluar dari kamar, hingga Natasha pun kehilangan kesabaran. "Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus memancing Nayla agar segera keluar kamar."
Natasha berjalan cepat menuju kamar Nayla sambil berteriak memanggil namanya. "Nayla, ayo keluar, nak. Kita sarapan bersama yuk! Hari ini Mama masak spesial buat kamu. Lagipula sekarang sudah jam segini. Emangnya kamu nggak berangkat ke kantor?."
Terdengar suara sahutan dari dalam kamar yang ia yakini sebagai suara Nayla. "Iya, Ma, sebentar lagi aku ke meja makan."
Natasha terlihat tak sabaran untuk memancing Nayla keluar kamar hingga membuatnya lupa pada bagian mana yang sengaja ia buat basah. Hingga akhirnya...
Srettt....
Braakkk...
"Argkkkk...."
...****************...
Pagi itu selesai bersiap dengan mengenakan pakaian kerja yang sedikit lebih longgar, Nayla membuka pintu kamar dan berniat untuk sarapan dulu sebelum berangkat kerja. Namun tiba-tiba perutnya terasa sangat mual. Ia pun berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Huekkk...huekkkk...
Mendengar Nayla muntah-muntah di kamar mandi, Dave segera menghampirinya untuk membantu. "Kamu kenapa, Nay? Morning sicknes lagi?" tanyanya khawatir namun penuh dengan kepalsuan.
__ADS_1
Walau dalam hati ia tak mau mengakui anak dalam kandungan Nayla, Namun ia tak.bisa menunjukkan ketidaksukaannya secara langsung, takut Nayla curuga lagi padanya dan tak mau menuruti perintahnya.
Mendengar suara suaminya, Nayla menoleh. "Iya nih, Dave. Perutku rasanya sangat tidak nyaman. Kepalaku pun mendadak pusing," keluhnya. Wajahnya terlihat begitu pucat usai mengeluarkan isi perutnya yang kesemuanya hanya berupa cairan, sebab perutnya belum terisi makanan apapun.
"Tolong bantu aku ke tempat tidur lagi, Dave. Aku ingin beristirahat sejenak" pintanya.
Dave mengangguk, segera membantu memapah tubuh Nayla menuju tempat tidur.
"Baringkan tubuhmu di atas kasur. Biar aku gosok dengan minyak angin untuk meringankan pusing di kepalamu" ucapnya sesampainya di dekat ranjang.
Nayla menuruti perintah Dave dan segera merebahkan tubuh yang dibantu olehnya. Dave mangambil minyak angin yang sejak beberapa hari ini selalu berada tak jauh dari istrinya semenjak ia sering mengeluh mual dan muntah.
Dave membuka tutup botol dan membalurkannya ke tengkuk serta pelipis istrinya kemudian memijatnya lembut dengan gerakan memutar dan ke atas-bawah. "Apa sekarang jauh lebih baik?" tanyanya setelah beberapa saat.
Nayla terlihat sangat menikmati pijatan sang suami di kepalanya. Sentuhan lembut Dave ditambah dengan aroma eucaliptus dari minyak angin membuat pusing di kepalanya berangsur-angsur berkurang. " Jauh lebih baik, Dave! Pusing di kepalaku pun mulai berkurang" jawabnya.
Ditengah-tengah asyiknya menikmati pijatan Dave di kepala, terdengar suara Mama Natasha memanggil namanya dan mengajaknya untuk sarapan bersama di meja makan. Ia pun menyahuti panggilan itu dengan balik berteriak. "Iya, Ma, tunggu sebentar!. Mama ke meja makan aja dulu. Sebentar lagi aku menyusul ke sana dengan Dave."
Namun tak berselang lama setelah ia menyahuti panggilan itu, terdengar suara orang terjatuh yang disertai dengan suara teriakan dari luar. Sontak ia pun bangkit dari tempat tidur.
Sementara Dave, begitu mendengar teriakan Mamanya ia baru teringat akan rencana mereka semalam. "Astaga! Jangan-jangan Mama terpeleset karena terkena jebakannya sendiri" ucapnya dalam hati.
"Ayo!" jawabnya. Menganggukkan kepala dan menjawab singkat ajakan istrinya.
Ia segera melesat keluar kamar untuk memastikan dugaannya diikuti oleh Nayla di belakang.
Setibanya di luar kamar ia dikejutkan dengan keadaan sang Mama yang sudah dalam posisi terlentang diatas lantai sambil memegangi kepala sambil meringis kesakitan.
"Astaga, Mama!" pekik Dave tertahan. Sontak ia menurunkan tubuh dan membopong tubuh Mamanya.
"Dave, tolongin Mama!" ucap Natasha lirih dalam gendongan anaknya. Perlahan sorot matanya meredup dan ia pun jatuh pingsan.
"Tidak!" teriak Dave panik. "Buka kembali mata Mama. Mama harus tetap terjaga."
__ADS_1
Melihat kepanikan suaminya, Nayla pun ikutan panik. Namun ia segera menguasai diri agar keadaan tak semakin kacau. "Kita bawa Mama ke rumah sakit, Dave. Mama harus segera mendapat pertolongan dokter!" ucapnya.
Dave mengangguk dan segera membawa tubuh Mamanya ke basement. Nayla mengikuti suaminya dari belakang setelah mengambil tas beserta kunci mobil di kamar.
"Pakai mobilku saja, Dave, biar lebih cepat!" ucap Nayla kembali setibanya mereka di basement. Dibukanya pintu penumpang untuk memudahkan Dave meletakkan ibunya.
Dave mengangguk. Tanpa banyak bicara ia segera memasukkan Mamanya ke kursi penumpang di belakang.
"Kau masih panik, Dave. Biar aku saja yang menyetir. Lebih baik kau temani Mama di belakang," ucap Nayla kembali saat melihat suaminya hendak dudum di kursi pengemudi.
Dave kembali mengangguk dan masuk ke kursi penumpang di belakang. Kemudian ia menggunakan kedua kakinya sebagai bantal kepala sang Mama.
Kepanikan yang mendera Dave membuatnya tak bisa berpikir jernih, sehingga menuruti saja apa yang di katakan oleh istrinya.
Nayla segera menghidupkan mesin mobil dan melajukannya membelah jalanan kota menuju ke rumah sakit terdekat.
"Kemudikan mobilnya lebih cepat lagi, Nay, aku takut Mama kenapa-napa" ucap Dave, semakin panik saat melihat nafas Mamanya semakin tersengal.
"Kamu tenang saja, Dave, Mama pasti baik-baik saja! Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Nayla menoleh sejenak kebelakang, lalu kembali fokus lagi ke jalanan yang ada di depan. Di tambahnya kecepatan mobil agar segera sampai di rumah sakit.
Beberapa saat kemudian mobik sampai di rumah sakit. Dave mengangkat tubuh Mamanya dan membawa ke dalam. "Suster...suster tolongin Mama saya, suster!" teriaknya.
Seorang suster datang mendekat dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa, pak?," tanyanya.
"Tolongin Mama saya, sus. Tadi dia jatuh terpeleset, dan sekarang dia pingsan."
Suster bergerak cepat mengambil brangkar yang ada di dekatnya. "Silahkan letakkan Mama anda di sini!"
Tanpa banyak bicara Dave meletakkan tubuh Mamanya di atas brangkar. Suster mendorongnya menuju unit gawat darurat untuk segera mendapat pertolongan diikuti oleh Dave dari belakang.
"Silahkan tunggu diluar. Biar kami yang menangani pasien" ucap suster setibanya di ruang itu.
"Tapi, sus..."
__ADS_1
Tak perduli akan penolakan dari Dave, suster langsung menutup pintu.
Dave tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa menatap kosong pintu UGD yang tertutup. "Selamatkan nyawa Mamaku, Ya Allah!" pintanya lirih.