
Langit secara tak sengaja menemukan berkas berisikan informasi tentang Davka saat membersihkan mobilnya. Ia pun segera memberitahukan hal itu pada Abhimana.
Bicara berdua dengan Abhimana di ruang kerja ayahnya. Abhimana terkejut setengah mati saaat mengetahui siapa ayah Davka.
"Ka...kau bilang apa tadi? Davka anak dari Alex Hitler?" tanyanya dengan bibir bergetar hebat serta tubuh yang merosot ke lantai seketika. Terlihat sangat kekhawatiran di wajahnya.
"Iya, benar! Disini memang tertulis begitu, yah. Emangnya ada apa ya?" tanya Langit dengan wajah penuh kebingungan. Kedua alis mata saling bertaut karena bingung.
Pias.....wajah Abhimana pucat seketika. "Ya Tuhan, dari awal aku sudah curiga kalau ada yang tidak benar dengan laki-laki itu. Tapi aku tidak pernah menyangka kalau dia adalah anaknya Alex. Pantas saja aku merasa seperti pernah melihat wajahnya."
Melihat hal itu, Langit pun semakin bingung. Sontak ia pun bertanya, "Ada apa, yah? Apa ayah mengenalnya?."
"Bukan hanya mengenal, Tapi Ayah tahu betul siapa Alex. Yang jelas saat ini kakakmu sedang dalam bahaya besar."
Mendengar perkataan Abhimana, Langit semakin bingung. Namun disisi lain mendadak perasaannya menjadi khawatir. "Maksud ayah apa? Ada apa dengan kak Nayla?."
"Dulu ayahlah yang telah membunuh Alex dengan kedua tangan ayah sendiri."
Mulut Langit menganga tak percaya mendengar pengakuan Abhimana. "A....apa? A..yah membunuh....."
"Ya, benar! Dan sekarang Ayah takut Dave akan menuntut balas pada kita, terutama kakakmu."
Langit masih saja terpaku di tempatnya. Ia masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Seorang Abhimana yang yang telah menjadi panutannya selama bertahun-tahun ternyata memiliki sisi gelap yang tak pernah ia ketahui.
Melihat keterkejutan Langit, Abhimana mengerti jika saat ini anak angkatnya itu sangat syok. "Memang benar ayah telah membunuh Alex. Tapi ini semua tidak seperti yang kau duga. Semua ada alasannya."
Berdiri tegak membelakangi Langit. Ingatan Abhimana melayang menuju kejadian puluhan tahun silam dimana awal mula semua ini terjadi.
"Semua ini berawal saat ayah masih remaja. Saat itu Ayah terpaksa kehilangan kedua orangtua ayah dalam sebuah kecelakaan besar. Menurut penyelidikan, kecelakaan itu terjadi akibat ada seseorang yang dengan sengaja mensabotase rem mobil yang orangtua ayah kendarai. Untung saat itu ayah tidak ikut serta dalam mobil itu."
__ADS_1
"Sejak saat itu ayah sengaja menyembunyikan identitas asli untuk menyelidiki masalah tersebut. Ayah khawatir orang yang mencelakakan orangtua ayah akan menghabisi ayah juga kalau sampai mereka tahu kalau ayah masih hidup."
"Awalnya Ayah mengira kalau semua ini adalah karena persaingan bisnis semata. Tapi ternyata semuanya tidak sesimpel itu. Hingga akhirnya ayah mendengar kisah hidup Dinda."
"Apa Dinda yang ayah maksud adalah Tante Dinda temannya bunda?" tanya Langit.
"Ya benar!"
"Memangnya apa yang terjadi dengan tante Dinda?" tanya Langit kembali.
Abhimana membalikkan tubuh, menyunggingkan senyum tipis pada Langit lalu memghempaskan tubuh di ayas sofa. Ingatannya pun kembali menerawang ke kejadian silam.
"Kau mungkin tidak akan pernah mengira, tapi apa yang terjadi pada Dinda jauh lebih mengenaskan dari apa yang ayah alami."
"Saat itu Dinda masih duduk di bangku SMA. Tapi kesuciannya malah direnggut secara paksa oleh orang-orang tak bertanggungjawab atas perintah dari pamannya sendiri."
Langit geleng-geleng kepala dengan mulut berdecak, tak menyangka bahwa masa lalu orang-orang disekitarnya jauh lebih kelam dari dirinya.
"Langit tidak pernah menyangka kalau kisah hidup tante Dinda setragis ini, yah!," ucapnya. "Tapi apa hubungan antara kisah hidup tante Dinda, kisah hidup ayah, dan juga Davka?."
Abhimana tersenyum tipis mendengar pertanyaan Langit. "Tentu saja semua ini saling berhubungan. Sebab musuh yang Dinda hadapi juga sama dengan musuh yang ayah hadapi."
"Maksud ayah pamannya tante Dinda?."
"Ya, benar!" jawab Abhimana sambil menganggukkan kepala. "Dan apa kau tahu siapa pamannya Dinda?."
Langit hanya menjawab pertanyaan Abhimana dengan gelengan kepala.
Abhimana kembali menyunggingkan senyuman tipis, lalu kemudian berkata, " Dia adalah Alex, orang yang sama dengan yang kau sebut sebagai ayahnya Davka."
__ADS_1
"Apa????" ucap Langit setengah berteriak, mulutnya menganga tak percaya mendengar nama yang disebut oleh Abhimana. Lalu ia pun mulai menggabungkan semua kisah yang Abhimana ceritakan. Namun ada satu hal yang masih tak bisa ia mengerti.
"Lalu apa hubungan semua ini dengan bahaya yang sedang kak Nayla hadapi, yah?" tanyanya kemudian.
"Dengarkan dulu kisah ayah sampai selesai. Setelah itu kau akan mengerti."
Langit tersenyum kikuk mendengar ucapan Abhimana yang mengandung sindiran tipis untuknya. "Maafkan, Langit, yah. Sekarang lanjutkan lagi cerita ayah."
"Atas bantuan dari kakekmu, yang adalah papa dari bundamu, kami berhasil mendapatkan bukti-bukti semua kejahatan mereka. Dan ternyata bukan hanya itu saja kejahatan mereka selama ini."
"Diketahui ternyata keluarga Alex memiliki gangguan jiwa yang sangat mengerikan. Mereka suka menyiksa orang demi memuaskan kesenangan mereka. Bagi mereka, jerit tangis orang yang mereka siksa adalah nyanyian merdu di telinganya."
Langit geleng-geleng kepala mendengar cerita Abhimana. "Sungguh sangat sadis perbuatan mereka. Apa mereka tak pernah berpikir bagaimana jika salah satu keluarga mereka yang menjadi korban."
Abhimana hanya menyunggingkan senyuman tipis mendengar pendapat Langit. "Itulah yang ayah rasakan saat itu" ucapnya. "Karena itu kami menyusun rencana pembalasan dendam dengan cara yang sama agar mereka ikut merasakan bagaimana sakitnya bila disiksa seperti hewan."
"Mendengar hal itu tentu saja bundamu tidak setuju. Dia memperingatkan kami akan bahayanya dan menyarankan untuk menyerahkan semua ini ke pihak yang berwajib. Apalagi saat itu bundamu sedang dalam kondisi hamil besar. Tapi kami malah kukuh dengan rencana kami."
"Semua berjalan sesuai dengan rencana. Kami berhasil membuat Alex dan ibunya merasakan apa yang kami rasakan, lalu kami membuang jasadnya ke dasar jurang. Tentu saja kami menyuruh orang lain yang melakukannya agar tak ada bukti."
"Kekhawatiran bundamu mulai terbukti, karena ternyata Alex berhasil selamat. Lalu ia pun menuntut balas dengan mencelakakan bundamu. Untung saat itu bundamu berhasil diselamatkan dan hanya mengenai salah satu pengawal ayah saja."
"Melihat hal itu ayah sangat marah. Dan dengan kedua tangan ayah sendiri, ayah menghabisinya lalu melemparkan jasadnya ke tengah laut agar menjadi santapan para hiu disana."
Langit manggut-manggut mendengar cerita Abhimana. Sungguh ia tak pernah menyangka, dibalik sikap lembut yang selalu Abhimana tunjukkan, ternyata ia memiliki sisi kejam juga.
Jika tidak dalam kondisi seperti ini, mungkin Langit akan mengira bahwa Abhimana hanya berbohong saja. Sebab kisah yang ia ceritakan lebih mirip dengan kisah dalam novel-novel ketimbang kehidupan nyata.
"Sekarang Langit mengerti kenapa ayah mengatakan bahwa kak Nayla sedang dalam bahaya. Saat ini juga Langit akan memberitahukan hal ini padanya dan memperingatkannya."
__ADS_1