Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 25


__ADS_3

Kania sangat syok saat melihat kondisi Farrel dari balik kaca kecil yang terdapat pada pintu ruang ICU. Semakin syok saat melihat dokter menggunakan alat pacu jantung untuk mengembalikan detak jantungnya.


"Ya Allah, selamatkan putraku. Jangan ambil dia dariku. Cukup Emir saja yang yang kau ambil."


Kania berlari ke pelukan Abhimana, menumpahkan semua air mata di dada bidangnya. "Mas Abhi, Farrel....."


Abhimana mendekap istrinya erat dan menyalurkan kekuatan yang ia punya.. Matanya berkaca-kaca merasakan kehancuran hati wanita yang sangat di cintainya itu.


"Tenangkan dirimu, Kania. Yakinlah bahwa Farrel akan baik-baik saja." Wajahnya mendongak keatas untuk menyembunyikan air mata yang terus memaksa untuk keluar. Bagaimana oun dia hanyalah manusia biasa yang juga merasakan kesedihan saat orang-orang yang dicintainya berada diantara hidup dan mati.


"Tapi bagaimana kalau dia tidak bisa bertahan, Mas. Aku tidak ingin kehilangan putraku lagi"


"Yakinlah pada Tuhan, Kania. Farrel pasti akan selamat!."


Kania melepaskan diri dari pelukan suaminya. Diusapnya lelehan air mata di pipi. "Lakukan sesuatu, Mas Abhi. Gunakan semua kekuasaan dan harta yang kau punya. Bahkan aku rela menukar nyawaku dengannya. Tapi jangan biarkan putraku diambil lagi, Mas. Cukup aku kehilangan Emir dulu."


Kania terduduk diatas lantai dengan tubuh terguncang. "Farrel... putraku... Jangan biarkan dia meninggalkanku...." ratapnya pilu.


Jebol sudah pertahanan Abhimana, tak sanggup lagi menahan tetesan air mata yang sedari tadi terus memaksa untuk keluar. Ia pun ikut terduduk di depan istrinya.


"Jangan bicara seperti itu, Kania. Aku tidak akan bisa beetahan hidup tanpamu.


"Lalu bagaimana aku akan menjalani sisa hidupku kalau putraku diambil lagi dariku, Mas? Katakan bagaimana caranya?."


Abhimana diam, tak sanggup. menjawab pertanyaan istrinya. Hanya lelehan air mata yang bisa ia gambarkan betapa pedihnya hatinya saat ini. Karena sebenarnya saat ini ia pun merasakan ketakutan yang sama.


Abhimana ingat betul bagaimana hancurnya Kania saat kehilangan Emir dulu. Dan kini ia tak sanggup membayangkan betapa hancurnya hati Kania andai ia harus kembali kehilangan putranya untuk yang kedua kali.


Emir adalah anak pertama Kania dengan Arsen yang meninggal dunia saat usianya masih kanak-kanak. Ia meninggal karena tertabrak oleh sebuah mobil bak terbuka akibat perbuatan Ayah kandungnya sendiri.


Saat itu Kania begitu hancur dan terpuruk, hingga membuat dirinya yang baru sembuh dari ketergantungan kembali mengkonsumsi barang haram itu.

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka menampakan dokter di baliknya. Abhimana dan Kania bangkit lalu segera menghampirinya. "Bagaimana keadaan anak saya, dok?" tanya Kania.


"Apa kalian adalah orang tua dari pasien yang ada di dalam?."


"Ya, saya adalah ibunya."


Dokter terdiam, terlihat berat untuk mulai berucap. Wajahnya terlihat sangat tegang menandakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.


Melihat kebungkaman dokter, hati Kania semakin tak tenang. "Tolong katakan sesuatu, Dok! bagaimana keadaan anak saya?" desaknya tak sabar.


Dokter menghembuskan nafas berat sebelim mulai berucap. "Kami mohon maaf! tapi kami harus menyampaikan kabar buruk ini."


Kania menata hati, bersiap mendengarkan kabar terburuk yang akan disampaikan oleh dokter.


Abhimana mengusap bahu istrinya lembut agar ia tak terlalu emosional.


"Terjadi pendarahan parah di otak pasien, dan kami harus segera melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawanya. Untuk itu kami meminta Anda untuk menandatangani berkas persetujuan operasi."


Abhimana mengangkat tubuh sanga istri, secara bersamaan ia mengiyakan permintaan dokter. "Jangan banyak tanya lagi, Dok lakukan saja apapun yang harus dilakukan. Tapi tolong, selamatkan nyawa anak saya!."


Dokter mengangguk. "Baik, Tuan! kami akan segera persiapkan ruang operasinya."


Setelah mengatakan itu dokter kembali menutup pintu, meninggalkan Kania dan Abimana dalam kekhawatiran


...****************...


Meninggalkan kisah Abhimana fan Kania dengan segala ketegangan yang terjadi di rumah sakit, kembali ke kisah Dave dan Nayla.


Hari itu, di hari pertama Dave menduduki posisi pimpinan perusahaan sementara selama Nayla hamil, ia mulai menunjukkan sikap sok berkuasa. Ia mengadakan inspeksi dadakan hanya untuk mencari-cari kesalahan para karyawan.


"Apa-apaan ini? Kenapa bisa terjadi banyak kekeliruan dalam laporan ini?" teriaknya sambil melemparkan berkas laporan keuangan yang di pegangnya diatas lantai.

__ADS_1


Dua orang staf bagian keuangan menunduk takut menghadapi kemarahan Dave.


"Maaf, pak!. Tapi laporan itu sudah sesuai dengan keadaan di lapangan," ucap salah satu diantara mereka.


"Sesuai apanya?" teriaknya kembali. Mengambil berkas itu dan menunjuk beberapa angka yang menurutnya terlihat ganjil. "Lihat ini, lihat! Apa menurutmu angka-angka ini sudah benar?."


Staf itu kembali menundukkan kepala tak berani lagi membantah. Dalam hati ia berkata, "Dimana letak kesalahannya? Aku rasa semua angka-angka itu sudah benar. Kayaknya pak Davka hanya ingin mencari-cari kesalahan saja."


Dave meletakkan laporan keuangan dan beralih memgambil berkas laporan penjualan. Dan seperti sebelumnya, kali ini pun ia sengaja mencari-cari kesalahan dalam berkas itu yang sebenarnya memang sudah benar.


"Ini lagi, kenapa bulan ini penjualan kita bisa menurun?."


Seorang staf marketing bergerak maju. "Maaf, pak! Tapi kondisi masyarakat sekarang sedang terdampak oileh pandemi. Sehingga menurunkan daya beli mereka dan berimbas pada penurunan penjualan" ucapnya memberi penjelasan.


"Alah itu cuma alasan kalian saja untuk bermalas-malasan, iya kan? Yang sebetulnya adalah kalian tidak becus dalam memanfaatkan pasar. Harusnya kalian lebih kreatif dan melakukan beberapa terobosan baru untuk mempromosikan barang milik kita."


Dave kemudian melemparkan berkas tersebut ke hadapan staf itu. "Perbaiki lagi kinerja kalian. Dalam waktu satu bulan aku ingin penjualan kita mengalami peningkatan. Kalau tidak, aku akan memotong gaji kalian untuk menutupi kerugian perusahaan."


"Karena kalian semua tidak becus dalam bekerja, maka aku akan menghukum kalian dengan kerja lembur malam ini tanpa upah. Dan bila kalian masih melakukan kesalahan yang sama, maka aku tidak akan membayarkan gaji kalian bulan ini."


Para staf yang berada dalam ruangan itu hanya bisa menghela nafas melihat kesemena-menaan terhadap para karyawan


Usai berkata begitu, Dave pun mengibaskan tangan dan mengusir mereka keluar dari ruangan. "Sekarang kalian semua pergi dari sini. Dasar menyusahkan! membuat kepalaku pusing saja."


Para staf pun meninggalkan ruangan dengan hati dongkol. "Enak saja nyalah-nyalahin kita dan mengatakan tidak becus dalam bekerja. Padahal dirinya sendiri juga nggak bisa apa-apa."


"Iya, benar!" timpal karyawan yang lain. "Sepertinya dia sengaja mencari-cari kesalahan kita untuk menunjukkan kekuasaannya saja."


"Andai Bu Nayla ada di sini, aku yakin semua ini pasti tidak mungkin terjadi."


"Iya! semoga saja Bu Nayla segera kembali lagi ke kantor atau perusahaan ini akan hancur karena ulah suaminya."

__ADS_1


__ADS_2