
Suasana penuh ketegangan terlihat di depan ruang operasi, menunggu operasi yang tengah berlangsung dan menjadi penentu hidup seseorang.
Terlihat sosok Abhimana beserta sang istri berdiri disana, menanti denfan penuh keresahan pada operasi sang putra yang sedang berlangsung. Beberapa bodyguard pun ikut berjaga disana pula, menunggu sebuah perintah dari sang Tuan besar.
"Kenapa operasinya lama sekali, Mas abhi? Aku takut Farrel tidak bisa bertahan," ucap Kania penuh kekhawatiran. Wajahnya terlihat sangat sembab akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata.
Abhimana memandang istrinya penuh rasa kasihan. Ingin rasanya ia menghapus kesedihan itu dengan sebuah kebahagiaan. Namun dia hanyalah manusia biasa yang tak memiliki daya apapun untuk menentukan takdir seseorang.
Di bawahnya sang istri ke dalam dekapan untuk sedikit mengurangi beban berat di hatinya. "Percayalah, bunda. Farrel itu anak yang kuat, dia pasti bisa melewati semua ini."
Kania kembali membisu, tak terdengar lagi isak tangis keluar dari mulutnya. Mungkin sudah terlalu lelah atau memang tak ingin menangis lagi. Namun hal itu justru menjadi lebih menyedihkan lagi, sebab tatapannya justru berubah menjadi tatapan kosong seolah kehilangan harapan hidup
Abhimana mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala, menyadarkannya bahwa harapan kan selalu ada. "Bunda, sebaiknya bunda pulang dulu ke rumah dan beristirahat. Bunda pasti sangat lelah, iya kan? Biar ayah yang berjaga disini."
Kania menatap suaminya sendu. "Bagaimana Bunda bisa istirahat kalau putra kita berada antara hidup dan mati."
Abhimana menghela nafas melihat kekeras kepalaan sang istri. "Baiklah! Kalau begitu bunda tidak usah pulang. Tapi beesandarlah di bahu ayah agar bunda bisa sedikit beristirahat."
Dan tanpa menunggu persetujuan darinya, ia menarik tubuh sang istri dan merebahkannya di bahunya.
Detik demi detik terus berlalu, membuat suasana semakin tak menentu. Di tengah ketidakpastian, pintu ruang operasi terbuka, menampakkan dokter ahli bedah yang mengoperasi putranya.
Sontak Abhimana membangunkan istrinya. "Bunda, bangunlah! Dokter sudah keluar."
Kania yang baru saja memejamkan mata langsung terjaga dan bangkit mendekati dokter. "Bagaimana dok? apa operasinya berjalan lancar?" tanyanya.
Dokter menghela nafas. "Sebelumnya saya mau mengatakan bahwa saya membawa kabar baik dan kabar buruk. Silahkan pilih kalian mau mendengar yang mana dulu."
Abhimana saling bersitatap dengan istrinya mendengar pertanyaan dokter. Namun kemudian, "Katakan kabar baiknya saja dulu, dok, biar kami bisa sedikit tenang. Beberapa waktu yang lalu kami telah banyak mendengar kabar buruk. Mungkin dengan mendengar kabar baik kami jadi mempunyai harapan."
__ADS_1
Dokter mengangguk. "Baik, kalau begitu saya akan mengatakan kabar baiknya dulu, baru setelah itu kabar buruk."
Sejenak dokter menjeda ucapan, lalu kemudian berkata, "Kabar baiknya adalah operasi putra anda berhalan dengan lancar dan di berhasil melewati masa kritis."
"Alhamdulillah." senyum penuh kelegaan terpancar pada wajah semua yang hadir disana. Tak terkecuali para bodyguard yang ikut berjaga disana.
"Lalu kabar buruknya apa, dok?" tanya Kania setelah beberapa saat.
"Kabar buruknya adalah..." kembali dokter memberi jeda pada ucapannya hingga menambah ketegangan mereka.
"Akibat dari benturan keras yang terjadi di kepalanya membuat beberapa syaraf otak terputus hingga kini pasien mengalami koma. Kami tidak bisa memprediksi kapan dia akan bangun. Mungkin sebulan, dua bulan, atau entah kapan. Kita berdoa saja semoga akan ada keajaiban yang mampu membawa pasien kembali pada kita."
"Ya Tuhan, Farrel...." teriak Kania histeris. Sontak tubuhnya terkulai lemas dan jatuh pingsan.
"Bunda!" pekik Abhimana tertahan. Sontak menangkap sang istri sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
Dengan sigap Abhimana membopong sendiri tubuh sang istri dan tak membiarkan siapapun membantu menuju ruangan yang di tunjuk dokter.
"Letakkan nyonya di atas sana!" perintah dokter kembali.
Abhimana menuruti perintah dokter lalu menepi untuk memberi ruang bagi dokter untuk melakukan pemeriksaan. Dokter mengeluarkan alat stetoskop dan memulai pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Abhimana setelah dokter selesai memeriksa."
Dokter melepas stetoskop dari telinga sebelum menjawab pertanyaan Abhimana. "Keadaan nyonya baik-baik saja. Dia hanya sedikit syok setelah mendengar kabar tadi. Di tambah nyonya juga kelelahan dan kondisi perutnya yang kosong sehingga ia kangsung jatuh pingsan tadi."
"Saya sudah menyuntikkan obat penenang padanya agar dia bisa beristirahat. Untuk sementara jangan ganggu dia dan biarkan beristirahat."
"Pastikan nyonya memakan sesuatu setelah sadar nanti."
__ADS_1
Abhimana menghela nafas lega dan mengangguk faham. "Baik, dok, terimakasih banyak! Saya akan melakukan semua saran yang dokter berikan."
"Kalau begitu saya permisi dulu!" Dan dokter pun berlalu meninggalkan mereka berdua dalam ruangan.
Abhimana duduk disamping sang istri dan menggenggam tangannya. Sebuah kecupan ia daratkan disana. "Syukurlah bunda baik-baik saja. Bunda tidak boleh jatuh sakit karena putra kita memerlukan kehadiran bunda."
"Ayah pergi sebentar, Bunda beristirahat saja dulu di sini. Nanti ayah akan kembali menemui bunda lagi."
Kembali Abhimana mendaratkan kecupan di tangan dan dahi istrinya laku berlalu keluar ruangan.
Berjalan menghampiri para bodyguard yang masih setia menunggu di depan ruangan. Raut wajah berubah dingin sedingin es. "Bagaimana bisa semua ini terjadi?" tanyanya.
Suasana mendadak tegang melihat ekspresi sang tuan besar. Seorang bodyguard memberanikan diri untuk menjawab. " Maaf, tuan, kami rasa kecelakaan ini bukan kecelakaan biasa. Ada seseorang yang dengan sengaja mensabotase mobil yang tuan muda kendarai."
"Menurut saksi mata yang melihat kejadian ini tadi, mereka melihat bahwa mobil yang dikemudikan oleh tuan muda mengalami rem blong sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan dan mobilnya jatuh terguling ke dasar jurang. Untung tuan muda bisa memyelamatkan diri sebelum mobil itu meledak."
"Kurangajar!" teriak Abhimana marah dengan tangan terkepal kuat.Rahang terlihat mengeras dan gigi gemeretak menahan amarah yang seketika membuncah. " Cari tahu siapa dalang dibalik kecelakaan ini. Aku ingin kalian sudah mendapatkan informasinya besok pagi. Aku akan membikin perhitungan pada siapa saja yang berani mengusik keluargaku."
Para bodyguard menganggukkan kepala. "Baik, tuan, akan segera kami laksanakan" ucap salah seorang. "Kalau begitu kami permisi dulu!"
Abhimana mengangguk. Beberapa bodyguard berlalu pergi sementara sebagian yang lain tetap berada disana berjaga seandainya ada kondisi yang tak terduga.
Abhimana berlalu meninggalkan mereka menuju putranya yang sudah dipindahkan ke sebuah ruangan khusus.
Sebuah pemandangan miris terpampang di hadapan Abhimana. Terlihat putranya tergolek lemah tak berdaya diatas ranjang dengan berbagai peralatan medis tertancap di tubuh.
Tak ada pergerakan apapun dari tubuh tersebut. Bahkan kini tak lebih dari sebuah mayat hidup. Hanya gerakan naik turun dada akibat tarikan nafas yang memastikan bahwa masih ada kehidupan di tubuh tersebut.
"Kamu pergi ke luar kota untuk mengembangkan bisnis kita. Tapi kenapa kamu malah berakhir seperti ini?."
__ADS_1