Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 9


__ADS_3

Dave melajukan kendaraan membelah jalanan kota yang padat menuju alamat dimana letak apartemen Nayla berada. Namun mendadak ditengah jalan ia menghentikan laju kendaraannya.


"Kenapa kita berhenti disini? Ini kan masih jauh dari apartemenku?,"tanya Nayla bingung.


Dave menggigit bibir bawah, sedikit ragu dengan apa yang diucapkannya. Ia pun menghela nafas pelan untuk mengusir keraguan yang menerpa.


"Nayla, sebelum kita menuju apartemen, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang," ucap Dave penuh keseriusan, pandangannya menatap lurus kearah Nayla.


"Siapa?" tanya Nayla. "Tunggu tunggu tunggu, biar aku tebak! dari raut wajahmu sepertinya dia orang yang sangat penting buatmu."


Dave mengangguk. "Iya, Nay, dia memang orang terpenting dalam hidupku. Sebab dia adalah ibuku."


Nayla memutar posisi duduk dengan dahi berkerut. "Ibumu?" tanyanya penuh kebingungan.


"Ya, ibuku!" Ucap Dave menegaskan.


"Tapi bukankah dulu kau pernah bilang kalau ibumu sudah lama meninggal?."


Nayla ingat betul, diawal-awal perkenalan mereka Dave pernah mengatakan bahwa dia hidup sebatangkara. Kedua orangtuanya sudah lama meninggal, tepatnya saat ia masih berusia kanak-kanak.


Dave salah tingkah karena tertangkap basah oleh Nayla bahwa ia telah berbohong. Ia tidak menyangka bahwa Nayla akan mengingat semua ingormasi tentangnya.


Dave segera memutar otak agar Nayla tak merasa curiga. "Mmmh...Maksudku dia itu ibu asuhku. Dia yang merawatku setelah kedua orangtuaku meninggal."


Nayla manggut-manggut mendengar penjelasan Dave. "Oh gitu, tapi kenapa kau tak pernah mengatakan apapun padaku tentang ini?."


Dave kembali bingung harus mengatakan apalagi. Mana mungkin ia mengaku bahwa dia memang ibu kandungnya. Itu sama saja dengan bunuh diri. "A...i..itu anu..." ucapnya tergagu, mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Anu kenapa? Kok kamu malah jadi gugup seperti ini?."


"Anu itu sebenarnya kami sempat terpisah saat aku mulai beranjak dewasa, dan kami baru bertemu kembali beberapa hari yang lalu. Makanya aku tak pernah mengatakan hal ini padamu" jawabnya lugas. Terpaksa ia mengucap kebohongan lagi untik menutupi kebohongan yang pertama.

__ADS_1


Nayla terdiam, tak percaya sepenuhnya dengan penjelasan Dave. Terlebih kegugupan yang terpancar di wajahnya semakin memperkuat kecurigaannya.


Nayla marah, merasa dibohongi oleh Dave. Namun ia tak berani mengatakannya secara jujur.


Dave tahu jika Nayla masih tak percaya. Ia pun mencoba meluluhkan hatinya agar tak curiga lagi. Di genggamnya jemari Nayla lembut. "Maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Tapi aku sendiri juga tak menyangka kalau kami akan bertemu kembali," dikecupnya punggung tangan sang istri berulang. "Apa kau masih tak percaya dan marah denganku?."


Nayla menghela nafas berat. Sikap manis yang ditunjukkan Dave membuat hatinya luluh. "Baiklah! Sekarang dimana dia?."


"Dia ada disuatu tempat. Nanti akan aku tunjukkan. Tapi sebenarnya kamu sempat melihatnya tadi. Ia ikut hadir dan menjadi saksi dalam pernikahan kita."


Nayla semakin terkejut mendengar pengakuan Dave. "Lalu kenapa kau tak mengatakannya saat itu juga?" teriaknya emosi, semakin merasa dibohongi.


"Karena aku merasa itu bukan saat yang tepat. Mana mungkin aku memperkenalkannya padamu di saat kamu sendiri sedang dirundung kesedihan."


Nayla membisu, tak percaya perkataan Dave sepenuhnya. Namun saat itu ia memang sedang sedih memikirkan kedua orangtuanya.


Melihat Nayla hanya diam membisu, Dave menghela nafas berat, menghela nafas kasar. "Ayolah, Nayla, percaya padaku! ini hari yang berat. Jangan membuatnya semakin sulit lagi"


Meski Dave telah mengatakan alasannya, namun Nayla masih saja membisu. Hingga akhirnya...


"Baiklah kalau kau tak percaya denganku. Kita akhiri saja pernikahan kita yang baru seumur jagung. Untuk apa meneruskan hubungan tanpa adanya rasa saling percaya."


Terpaksa Dave mengatakan hal itu. Ia sudah lelah memberi penjelasan. Ia tahu betul bahwa Nayla tak kan mau berpisah darinya karena dia sudah cinta mati dengannya. Dan dia menggunakan hal itu untuk membuatnya semakin takut.


Dugaan Dave benar, terbukti Nayla mulai bersuara. "Tidak, Dave, jangan lakukan itu. Aku minta maaf! Tapi tolong, jangan pernah mengatakan kata pisah lagi."


Senyum kemenangan tersungging di bibir Dave. Hatinya bersorak kegirangan karena Nayla takut dengan ancamannya. "Kau memang wanita bodoh, Nayla, mudah sekali membuatmu percaya dengan kata-kataku. Harusnya yang takut kehilangan itu aku, bukan kau. Sebab rencanaku baru saaja dimulai" ucapnya dalam hati


"Aku juga minta maaf! tidak seharusnya aku berbohong padamu. Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi" ucap Dave manis tapi penuh dengan kebohongan. Dikecupnya punggung tangan Nayla.


Nayla menghembuskan nafas pelan. "Sudahlah! Kita lupakan saja masalah ini. Sekarang tunjukkan padaku dimana ibu asuhmu berada. Bawa aku menemuinya agar kami bisa saling mengenal."

__ADS_1


Dave tersenyum bahagia mendengar ucapan Nayla. "Dengan senang senang hati aku akan membawamu menemuinya."


Dave menancapkan gas dan segera melajukan kendaraannya kembali setelah sebelumnya menghubungi wanita yang ia sebut sebagai ibu asuhnya terlebih dahulu dan mengajak untuk bertemu di sebuah Cafe.


Sepanjang perjalanan Dave bersenandung kecil menunjukkan betapa gembiranya ia saat itu.


Melihat wajah ceria sang suami, Nayla pun tersenyum bahagia seakan ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh lelaki yang duduk di sampingnya tanpa ia sadari apa yang akan terjadi setelah ini.


Setelah beberapa saat mereka pun tiba di kafe yang sudah dijanjikan. Dave menggenggam tangan Nayla dengan penuh kemesraan memasuki Cafe tersebut lalu duduk di sebuah meja yang masih kosong.


Tak berselang lama seorang wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah mulai menua pun masuk ke dalam Cafe tersebut. Dave melambaikan tangan memanggilnya. "Ibu, sini! kami ada di sini," ucapnya.


Sontak Nayla memutar tubuh untuk melihat wanita yang dipanggil sebagai ibu oleh suaminya.


Melihat lambaian tangan Dave, wanita itu tersenyum dan berjalan menghampiri meja mereka. "Apa kalian sudah menunggu lama?," tanyanya.


Tidak, Ma. Kami juga baru saja sampai," jawab Dave. Senyum ceria terukir di bibir. "Ayo, Ma, Silakan duduk!."


Wanita itu pun duduk di kursi yang masih kosong bersebelahan dengan Dave.


"Sayang, kenalkan! ini Mamaku, namanya Natasha. Ma, ini Nayla, wanita yang tadi pagi aku nikahi," ucap Dave, saling mengenalkan mereka satu sama lain.


Nayla meraih tangan Natasha dan menciumnya takzim. "Saya Nayla, Tante. Senang bertemu dengan anda."


"Lho, manggilnya kok tante?," ujar Natasha dengan raut wajah tak suka.


Nayla garuk-garuk kepala, bingung dengan ucapan Natasha. "Maaf, Tante, memangnya ada yang salah ya dengan ucapanku tadi?."


Natasha tersenyum ramah. "Bukannya begitu. Kamu itu sudah menjadi istri anakku, yang artinya kau juga adalah anakku. Jadi mulai sekarang manggilnya jangan tante, tapi Mama."


"I...iya, Tante, eh maaf! maksud saya mama," jawab Nayla gugup.

__ADS_1


Mereka pun meneruskan obrolan dan saling memperkenalkan diri satu sama lain sambil menikmati hidangan yang tersaji di atas meja.


__ADS_2