
Sentara Nayla bertemu dengan Langit di sebuah kafe dimana mereka biasa nongkrong dulu, Dave terlihat tengah bertemu dengan seorang wanita di sebuah apartemen.
"Hai sayang, udah lama nungguinnya?" tanya Dave saat pintu sudah terbuka.
Melihat ada yang datang, wanita yang tengah asyik bermain ponsel sambil tidur tengkurap di atas ranjang itu pun langsung bangkit dan mengalihkan pandangan padanya. "Kenapa lama sekali sih datangnya? Aku kan bete nungguin kamu?" ucapnya sedikit kesal.
"Iya, maaf! Tapi aku kan musti cari alasan dulu biar istriku nggak curiga."
"Istri kamu itu emang dasar! Selalu menjadi penghalang hubungan kita."
"Jangan kesal gitu dong. Dia itu kan mesin ATM kita."
"Terus kapan kamu mau cerain istri kamu? Aku nggak mau terus di sembunyikan seperti ini."
"Sabar ya sayang. Tidak semudah itu untuk menceraikannya. Kau kan tahu sendiri kalau Nayla itu karta karun kita."
"Aku nggak mau tahu. Pokoknya kamu harus segera menceraikannya," sentaknya. Memutar tubuh membelakangi Dave.
"Ayolah, sayang. Jangan memaksaku begitu.Aku janji, setelah berhasil mengeruk semua hartanya, aku pasti langsung menceraikannya."
"Beneran?."
"Beneran! Kapan sih aku bohong sama kamu.?"
"Awas aja kalau kamu bohongin aku."
"Nggak akan! Percaya deh sama aku. Sekarang senyum ya!."
Wanita itu masih saja mencebikkan bibir dan membuang muka. Melihat hal itu, Dave berusaha merayu untuk meluluhkan hatinya. "Ayolah, sayang. Aku kan sudah datang jauh-jauh kesini. Masak kamu nggak mau menyambutku sih." Dave melepaskan jas yang dikenakannya dan melemparkannya ke sembarang arah.
Berjalan menghampiri wanitanya dan mengulurkan tangan hendak menyentuhnya. Namun dengan cepat wanita itu menepisnya.
"Jangan sentuh aku! Aku masih marah padamu!."
Melihat wanita itu terus saja merajuk, Dave mendesah pelan. "Ya sudah kalau kamu nggak mau. Aku pergi lagi saja kalau begitu. Padahal tadi aku berniat menunjukkan sesuatu padamu," ucapnya. Lalu mengenakan kembali jasnya jadi dan berjalan menuju pintu.
Tap....Tap....tap....
Hentakan kaki Dave terdengar begitu mantap. Namun dalam hati harap-harap cemas menunggu wanita itu menghentikan langkahnya. Namun hingga ia tiba di depan pintu, suaranya belum juga terdengar.
Dave mendesah lesu. "Sepertinya dia beneran marah sama aku." Ia pun mengulurkan tangan meraih gagang pintu. Namun saat ia hendak memutarnya, tiba-tiba....
__ADS_1
"Tunggu, Dave! Jangan pulang dulu."
Gotcha.....Dave bersorak dalam hati. Ternyata rencananya berjalan dengan baik. Ia pun memutar tubuh menghadap kekasihnya. "Kenapa sekarang kau menghentikanku? Bukankah tadi kau begitu marah?."
"Jadi kau ingin aku marah denganmu terus?," ucapnya manja.
"Tentu tidak, sayang. Justru aku paling suka kalau melihatmu tersenyum. Sekarang berikan senyum terbaikmu ya!."
wanita itu pun menampilkan senyum terbaiknya. Senyum yang mampu membuat Dave tergila-gila dan bertekuk lutut di hadapannya.
Dialah Jesssica, Kekasih Dave. Tanpa sepengetahuan Nayla, mereka menjalin hubungan terlarang di belakangnya.
Berjalan mendekati Dave, Jessica sengaja berlenggak-lenggok untuk memancing gairahnya. Pakaian yang dikenakannya pun sangatlah minim seolah kekurangan bahan, seakan akan dengan sengaja memamerkan bagian-bagian tubuhnya.
Sebenarnya Jessica dulu adalah mantan pacar Dave. Tapi kini kembali menjalin hubungan dengannya setelah tahu kalau Dave telah menjadi pria kaya.
Mengalungkan kedua lengan di leher sang kekasih. Jessica mendesah pelan di telinganya. "Aku sangat merindukammu. Apa kau tidak merindukanku juga?" Lalu ia menggigit kecil telinganya serta memainkan jari-jari lentiknya diatas dada bidang Dave.
Bagaikan tersengat listrik beraliran besar menerima rangsangan yang diberikan. Lelaki mana yang takkan terdoga melihat seorang wanita cantik nan molek menggodanya dengan sedemikian rupa.
Begitu juga dengan Dave. Gairahnya seketika meletup-letup. "Kau memang sangat menggairahkan, sayang. Beda sekali dengan istriku.
Melihat mangsanya telah terpancing, Jessica malah dengan sengaja menjauhkan diri. "Oh ya? Kalau begitu coba tangkap aku!." Setelah berkata begitu, Jessica langsung berlari menghindar.
Mendesaknya hingga ke sudut ruangan. Dave mengunci pergerakan Jessica dengan kedua lengannya hingga Jessica tak mampu menghindar lagi. "Kau tidak akan pernah bisa lari dariku, sayang. Kemanapun kau pergi, aku pasti bisa menangkapmu!."
"Kalau begitu aku tidak akan lari lagi darimu. Lari-larian itu melelahkan!"
"Kamu mau nggak lari-larian denganku? Meski capek, aku jamin kamu pasti mengerang penuh kenikmatan."
"Oh ya?."
"Jadi kamu nantangin aku? Mau aku buktikan sekarang?."
Dave pun lantas menundukkan wajah mencoba meraih bibir merah menggoda sang kekasih. Pandangan mata meredup karena tertutup oleh kabut gairah.
Jessica pun ikut memejamkan mata seolah menyambut penyatuan kedua bibir mereka. Namun saat bibir mereka telah bertemu, ia malah mendorong tubuh Dave kebelakang.
"Tidak semudah itu untuk menyentuhku, Dave," ucapnya sambil mengerlingkan mata.
"Ta....tapi..."
__ADS_1
"Bukankah tadi kau ingin menunjukkan sesuatu padaku?."
Dave yang gairahnya sudah terlanjur tersulut pun sedikit kesal karena Jessica menanyakan hal itu di waktu yang tidak tepat. "Ayolah, sayang. Jangan merusak suasana dengan menanyakan hal itu. Kita bisa membicarakannya nanti kan."
Namun Jessica tetap kukuh demgan pendiriannya. "Tidak, pokoknya aku mau tahu dulu!."
Dave mendesah kasar, mengusap wajah kasar "Ayolah, Jess, layani aku dulu. Aku bisa gila kalau kau menggantungku begini."
"Sekali tidak, tetap tidak! Tunjukkan padaku atau aku tidak akan pernah melayanimu." Jessica melipat kedua tangan di depan dada. Pandangan mata menatap tajam ke arah Dave menunjukkan keseriusannya.
Dave mengerang penuh frustasi. Mau tak mau ia pun menuruti keinginan Jessica.
Mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Membuka sebuah aplikasi lalu menunjukkannya ke hadapan Jessica. "Lihat. ini!,"
Jessica yang masih belum mengerti maksud kekasihnya pun bertanya, "Ini apa, Dave? Aku tidak mengerti!."
"Ini adalah uang yang baru Nayla transfer ke rekeningku."
Mendengar ucapan Dave, Jessica membelalakkan kata. "Bagaimana bisa?."
"Tentu saja bisa. Sebab aku sangatlah cerdas. Aku memintanya untuk memberiku sejumlah uang dengan mengatakan bahwa perusahaannya sedang mengalami masalah dan butuh suntikan dana. Dan dengan bodohnya. Nayla percaya begitu saja dan langsung mentransfer uang itu ke rekeningku."
"Kau tahu berapa jumlah uang yang ia kirimkan padaku?."
"Berapa?" tanya Jessica cepat.
"Tiga puluh milyar rupiah."
Jessica membelalakkan mata mendengar besarnya nominal yang disebutkan oleh Dave. "Itu besar sekali, Dave!."
Dave mengedipkan mata. "Tentu saja!" ucapnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. "Dan kau tahu apa yang lebih bagus dari ini?."
Dave sengaja berteka-teki untuk membuat Jessica semakin penasaran.
"Apa?."
"Aku akan memberikan semua uang itu padamu."
"Benarkah?" Jessica makin melebarkan mata mendengar ucapan Dave.
"Tentu saja! Tapi sekarang, layani aku dulu dengan baik."
__ADS_1
"Dengan senang hati, sayang!."