
Langit memutar otak cepat untuk memenuhi permintaan Dave yang menginginkan segelas es jeruk hanya dalam waktu kima belas menit. Ia pun mengeluarkan ponselnya untuk mencari letak restoran yang menyediakan minuman yang dimaksud.
Namun sayang, hanya ada satu restoran saja yang menyediakan menu itu, dan itu pun tempatnya cukup jauh dari situ. Tanpa membuang waktu lagi ia bergegas mencari tukang ojek dan memintanya untuk mengantarnya kesana.
Namun si tukang ojek malah menganggap rendah dirinya setelah melihat pakaian yang dikenakannya. Tak ingin membuang emosi dan energi dengan percuma, Langit segera menyodorkan lembaran uang seratusan sebanyak sepuluh lembar untuk membungkam kesombongan si tukang ojek.
Si tukang ojek tergiur dengan banyaknya uang yang Langit tunjukkan. Namun Langit segera menyimpan uang itu kembali dan mengatakan akan memberikannya hanya jika si tukang ojek mampu membawanya ke restoran itu hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit.
Singkat cerita si tukang ojek berhasil memenuhi tantangan Langit dan mendapatkan bayaran yang sudah dijanjikan. Namun saat menghitung banyaknya uang itu, ia makin dibuat melongo tak percaya. "Uang ini lebih dari yang anda janjikan tadi, tuan," ucapnya.
Langit tersenyum memdengar ucapan si tukang ojek. Ia memang sengaja melebihkah uang yang diberikan. "Tidak apa, anggap saja itu sebagai rasa terimakasih saya karena anda berhasil mengantarkan saya tepat waktu. Lain kali jangan menganggap rendah orang lain hanya dari pakaian yang dikenakannya. Bisa saja orang itu adalah orang yang tak pernah anda duga dam sedang dalam misi penyamaran."
Si tukang ojek tertunduk karena malu. Langit telah memberinya sebuah pelajaran berharga dengan cara yang cukup bijak.
Beejalan cepat memasuki area perusahaan. Langit melirik sekilas ke arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu yang tersisa hanya kurang dari satu menit saja. "Gawat! Waktuku tinggal sedikit lagi. Aku harus segera bergegas sekarang!."
Berlari secepat mungkin menuju pantry untuk menuangkan minuman ke dalam gelas yang baru lalu bergegas menuju lift para karyawan untuk bisa mencapai lantai tertinggi dari gedung ini dimana letak ruangan Dave berada. Namun sayang, lift itu malah sedang dalam perbaikan.
"Sial! Bagaimana ini sekarang?" umpat Langit kesal. "Kalau aku menggunakan tangga darurat untuk bisa kesana juga waktunya tidak akan keburu. Mana mungkin aku bisa mencapai lantai dua puluh hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Yang ada malah kakiku yang pegal-pegal."
Langit berpikir cepat, menoleh kesana kemari mencari jalan keluar. Lalu kemudian matanya tertuju pada lift khusus untuk para petinggi perusahaan.
"Apa aku gunakan saja lift itu?" tanyanya dalam hati ragu, namun ia segera menepis keraguannya itu karena sudah tak ada waktu lagi. "Mau ketahuan atau tidak itu urusan belakangan. Yang terpenting sekarang aku harus tiba disana tepat waktu."
__ADS_1
Berjalan cepat menuju lift itu. Langit menengok ke kiri dan kanan memastikan tidak ada yang melihatnya dan segera masuk.
Namun lift itu bukan seperti lift pada umumnya. Lift itu menggunakan sidik jari untuk bisa membukanya. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang sidik jarinya sudah terdaftar yang bisa membukanya. Dan untungnya Langit adalah salah satu diantaranya.
Begitu pintu lift terbuka, Langit segera memencet tombol ke arah lantai yang akan dituju. Dan lift itu pun mulai bergerak membawa tubuhnya menuju lantai tersebut.
Waktu terus berputar, membuat degup jantung Langit semakin tak karuan. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya karena harus berkejaran dengan waktu yang hampir habis.
"Ayo cepat, bergerak lebih cepat lagi!" ucap Langit gusar di dalam lift. Jari tangannya terlihat mengetuk-ngetuk pintu untuk memgurangi kegugupan.
"Ayolah aku mohon, bergeraklah lebih cepat lagi. Aku harus segera sampai disana sebelum waktuku habis. Aku tidak mau sampai di pecat gara-gara masalah ini."
Ting....pintu lift pun kembali terbuka. Kini Langit telah berada di lantai paling tertinggi dari gedung ini.
Memastikan kembali bahwa tidak ada orang yang melihatnya. Langit berjalan cepat menuju ruangan orang nomor satu dalam perusahaan.
"Masuk!." Terdengar suara sahutan dari dalam.
Langit menekan handle pintu dan segera masuk kedalam. "Permisi, tuan. Ini pesanan anda tadi," ucapnya sopan.
Dave yang saat itu sedang duduk membelakangi Langit pun segera memutar kursi dan menghadapnya. Senyum penuh kelicikan tergambar jelas di wajahnya.
"Kau tidak bisa melakukan tugas yang aku berikan tepat waktu. Jadi sekarang kau kupecat!" ucapnya dengan senyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Oh ya?," jawab Langit tak kalah sinis. Meletakkan minuman yang sudah susah payah didapatkannya tadi kehadapan Dave lalu berdiri tegak menantang. Tak ada ketakutan sedikitpun di wajahnya saat berhadapan dengan orang yang dianggap menakutkan oleh semua karyawan. " Kalai begitu lihatlah jam tangan anda baik-baik!."
Sontak Dave pun melihat ke arah jarum jam pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Arah jarum jam menunjukkan bahwa waktu yang diberikan kurang dari lima detik saja. Seketika itu senyuman di wajahnya pun menghilang.
Melihat perubahan ekspresi di wajah Dave, Langit balik menyunggingkan senyum penuh kemenangan. "Bagaimana, tuan? Saya sudah berhasil melakukan perintah anda bukan? Jadi anda tidak bisa memecat saja sekarang!."
Bukan Dave namanya jika harus mengaku kalah begitu saja. Ia langsung menegakkan tubuh kembali dan memasang wajah datar. "Baiklah! Saya akui kalau kamu belum terlambat. Masih ada sisa waktu lima detik dari waktu yang saya berikan." ucapnya tanpa ekspresi.
"Tapi tunggu dulu. Jangan kamu merasa senang dulu hanya karena berhasil melakukan perintah saya tepat waktu. Sebab kita belum tahu apakah rasa minuman ini sesuai dengan apa yang saya minta atau tidak!."
"Kalau begitu silahkan anda cicipi sendiri minumannya!" jawab Langit penuh percaya diri. Sangat yakin jika saat ini ia akan berhasil lolos dari jebakan Dave.
"Baiklah, saya akan cicipi minuman ini sekarang! Tapi jika ternyata minuman ini tidak sesuai, maka siap-siap angkat kaki dari perusahaan ini tanpa uang pesangon," ucapnya lagi.
Langit tak takut sedikutpun dengan ancaman Dave. Bahkan ia melipat kedua tangan di depan dada seolah menantangnya.
Dave pun mengangkat gelas berisi minuman es jeruk permintaannya itu dan mendekatkannya ke bibir. Perlahan ia menyesapnya dan merasakan citarasanya di lidah.
Namun saat minuman itu telah masuk ke dalam kerongkongannya, ia di buat tertegun dengan rasanya. "Bagaimana mungkin kau bisa membuat minuman seenak ini hanya dalam waktu sesingkat itu?" tanyanya setengah tak percaya. "Bahkan minuman ini melebihi ekspetasiku."
Langit tersenyum miring mendengar kata-kata Dave. "Itu rahasia, tuan. Anggap saja kalau tangan saya memiliki sentuhan ajaib. Yang jelas saya telah berhasil melakukan perintah yang anda berikan. Jadi anda tidak bisa memecat saya."
"Rasain kamu aku kibulin. Ya jelas saja minuman itu enak. Lha wong aku belinya di restoran bintang lima," tawa Langit dalam hati.
__ADS_1
Dave diam tak berkutik mendengar ucapan pemuda yang jauh lebih muda darinya itu. Mau tak mau ia harus mengakui bahwa ia telah kalah telak darinya.
"Tugas saya sudah selesai kan ,tuan? Kalau begitu saya permisi dulu. Saya mau kembali ke pekerjaan saya lagi," ucap Langit kemudian. Dan tanpa menunggu persetujuan Dave, ia segera berlalu meninggalkannya yang masih tertegun tak percaya.