Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 55


__ADS_3

Sementara itu ditempat lain namun diwaktu yang sama, Dinda terlihat tengah mengobrol berdua dengan David, suaminya.


"Bagaimana kabar Farrel sekarang? Apa sudah ada kemajuan?" tanya David sambil menyeruput secangkir teh sore itu di halaman belakang rumahnya.


David baru saja tiba di Indonesia tadi pagi, jadi dia belum sempat menengok keadaan Farrel. Namun sejauh ini dia terus memantau perkembangannya lewat Dinda.


"Belum ada kemajuan yang berarti, Mas. Dia masih belum mengingat apapun," jawab Dinda sambil menghela nafas pelan.


David meletakkan kembali gelasnya ke atas meja lalu memanjang jauh ke depan. "Kasihan, Kania. Dia pasti sangat sedih sekarang. Sebagai sahabatnya, kamu harus terus membantu dan menguatkan dia."


"Tentu saja, Mas! Tanpa kau minta pun aku pasti melakukannya."


"Akhir-akhir ini kayaknya keluarga Kania banyak mengalami masalah ya. Oh ya, gimana dengan Nayla? Apa dia sudah pulang lagi ke rumah?"


"Nayla juga belum pulang, Mas. Aku juga nggak tahu sampai kapan Abhimana akan bersikap seperti itu pada anaknya sendiri."


Berbicara tentang Nayla, membuat Dinda ingat akan sesuatu. "Astaga! Aku melupakan satu hal yang sangat penting, Mas" ucapnya.


David yang tidak mengerti maksud istrinya pun bertanya, "Melupakan apa?," sebelah mata memicing keatas.


Dinda merubah posisi duduk menghadap suaminya. Pandangan mata terlihat sangat serius. "Beberapa hari yang lalu aku mendatangi kantor Nayla. Disana aku bertemu dengan Davka, suaminya."


"Oh ya, berarti itu bagus namanya."


"Iya juga sih, Mas. Tapi aku rasa ada yang aneh dengan pria itu."


"Maksud kamu?."


"Entahlah, aku juga belum tahu pasti. Tapi sepertinya dia punya sebuah niat yang tidak baik."


"Ini maksudnya gimana sih? Mas masih nggak mengerti maksud kamu. Jangan sepotong-sepotong kalau bicara."


Dinda menghela nafas lalu menjelaskan maksud perkataannya dengan lebih detil. "Jadi gini, Mas. Kamu masih ingat nggak dengan pak Bagas? Itu, karyawan senior di kantor Nayla."


David mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, ingat. Kenapa?."


"Sebelum Davka datang, dia terlihat ingin mengucapkan sesuatu padaku. Tapi begitu Davka datang, mendadak dia bungkam. Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan. Dari situ aku menduga kalau ada sesuatu yang tidak beres."


"Lalu kenapa kamu nggak coba menemuinya lagi dan menanyakan apa yang ingin dia katakan?."

__ADS_1


"Aku rasa itu percuma saja, Mas. Davka pasti sudah mengancamnya agar tidak buka mulut."


David menghela nafas berat, mengalihkan pandangan ke depan. "Benar juga kata kamu. Kalau aku berada diposisinya, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama."


"Dan, Mas, tahu nggak apa yang lebih gila dari ini?."


"Apa?" tanya David cepat, kembali menatap istrinya dengan wajah penuh keseriusan.


"Nayla menyerahkan kursi kepemimpinan perusahaan pada suaminya itu."


"Apa????" pekik David makin terkejut. Sontak berdiri dari duduknya saking terkejut. "Kenapa dia bisa bertindak sebodoh itu? Biarpun Davka itu suaminya sendiri, tapi mereka kan baru saja menikah. Kenapa dia bisa sepercaya itu pada orang baru?."


"Itu dia, Mas! Makanya tadi aku bilang ini hal gila."


David kembali menurunkan bobot tubuhnya di kursi setelah bisa mengatasi keterkejutannya. "Terus, kamu sudah memberitahukan hal ini pada Abhimana atau Kania tidak?."


Dinda menggelengkan kepala. "Tidak, Mas. Aku tidak ingin menambah beban pikiran mereka dengan memberitahukan kecurigaanku ini. Apalagi ini semua kan belum pasti. Bisa saja ini hanya kecurigaanku saja."


David kembali menghela nafas berat. "Ucapanmu ada benarnya juga. Tapi tetap, kita harus memberitahukan hal ini pada salah satu diantara mereka. Jangan sampai mereka kecolongan gara-gara kita membiarkannya begitu saja."


"Itu dia, Mas. Makanya di awal tadi aku mengatakan kalau aku melupakan satu hal yang sangat penting."


David kembali menghela nafas untuk tang kesekian kali. "Jadi sekarang apa rencanamu?."


"Rencananya aku mau menemui Nayla lagi dan memberitahukan kecurigaanku ini agar dia bersikap waspada dan tak percaya begitu saja pada suaminya."


"Bagus! Aku setuju dengan rencanamu ini. Jika perlu, aku akan menemanimu bertemu dengannya agar dia semakin percaya."


Dinda tersenyum tipis mendengar tawaran suaminya. "Aku rasa itu tidak perlu, Mas. Aku sendiri sudah cukup untuk menanganinya."


"Terserah kamu kalau gitu. Tapi kalau butuh bantuan, cepat beritahukan padaku."


"Tentu saja, Mas! Aku pasti langsung memberitahumu kalau ada apa-apa."


"Ya sudah kalau gitu. Sekarang tunggu apa lagi, cepat telepon Nayla dan ajak dia bertemu."


Dinda menganggukkan kepala. "Baik, Mas. Kalau gitu aku tinggal ke dalam sebentar untuk mengambil ponselku."


David menganggukkan kepala. Dinda masuk ke dalam, dan tak berselang lama kembali lagi sambil membawa sebuah ponsel di tangan.

__ADS_1


Menghempaskan tubuh kembali di atas kursi disamping suaminya. Dinda memencet nomor Nayla dan menghubunginya.


"Halo, Nay, bisa kita bertemu sekarang? Ada hal penting yang ingin tante beritahukan padamu kemarin tapi kelupaan" ucap Dinda saat panggilan sudah diangkat.


"Maaf, Tante, Nayla nggak bisa kalau sekarang," jawab suara dari seberang.


"Lho, kenapa? Apa kamu sedang sibuk sekarang?."


"Nggak juga sih, Tan, Tapi saat ini Nayla sedang ada di luar. Sedang bertemu dengan Langit."


"Emangnya Langit sudah pulang kembali ke Indonesia?."


"Sudah, Tan. Katanya baru tiba tadi pagi. Apa tante ingin bicara juga dengannya?"


"Tidak, Nay. Tidak usah. Biar nanti tante sendiri yang menghubunginya."


"Tapi kalau tante mau, tante bisa datang kesini dan bergabung dengan kita."


"Tidak, Nay. Tante tidak ingin mengganggu pertemuan kalian. Lagipula kalian kan sudah lama nggak bertemu dan saling ngobrol. Jadi nikmati saja waktu kalian sekarang. Kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Kalau begitu tante tutup dulu teleponnya."


Nayla merasa tak enak hati karena sudah menolak Dinda. Ia pun mencoba memberi solusi lain sebelum Dinda menutup telepon. "Tunggu sebentar, tan. Jangan buru-buru tutup teleponnya."


"Ada apa lagi, Nay? Apa ada hal yang ingin kamu sampaikan ke tante?."


"Nggak juga, tan. Tapi Nayla cuma mau menawarkan gimana kalau kita ganti pertemuan kita dengan besok siang."


"Baiklah, Tante setuju. Kalau begitu kita bertemu besok siang di tempat yang kemarin saja."


"Baik, tan. Besok Nayla akan pergi ke sana"


"Kalau begitu tante tutup dulu teleponnya." Dan sambungan telepon pun terputus.


"Jadi gimana? Apa Nayla setuju bertemu denganmu?" tanya David saat melihat istrinya mematikan telepon.


Dinda menggelengkan kepala. "Tidak bisa hari ini, Mas" jawabnya


"Lho emangnya kenapa?"


"Nayla sedang ketemuan dengan Langit sekarang, Mas. Tapi dia mengajakku ketemuan besok siang."

__ADS_1


"Ya udah nggak pa pa. Yang penting kalian bisa bertemu. Ingat, jangan sampai kelupaan lagi."


__ADS_2