
Davka mulai menjalankan rencana barunya untuk merebut harta Nayla serta menghancurkan keluarganya. Pagi itu ia mulai mendekati Nayla.
"Nay, belakangan ini aku lihat kamu jadi nggak fokus sama urusan kantor karena kehamilanmu ini. Gimana kalau untuk sementara kamu nggak ngantor dulu?" ucap Dave sambil memijat tengkuk Nayla setelah datangnya serangan mual dan muntah yang selalu menderanya akhir-akhir ini.
Nayla tersenyum tipis sambil mengusap keningnya yang mengeluarkan keringat dingin. Wajahnya agak sedikit pucat setelah mengeluarkan semua isi perut. "Aku tidak apa-apa kok, Dave. Aku masih bisa menghandle semuanya."
"Aku tahu kalau kamu itu wanita yang kuat. Tapi gimana dengan kandunganmu? Apa bayi kita akan sekuat dirimu juga? Aku nggak mau terjadi sesuatu dengan bayi kita lantaran kamu terlalu memforsir tenaga."
Nayla diam, berpikir sejenak lalu menghela nafas. "Kalau aku nggak ngator, lalu siapa yang akan menghandle semua urusan di kantor? Lagipula kamu kan tahu sendiri kalau akhir-akhir ini di kantor lagi banyak kerjaan."
Dave diam, pura-pura berpikir tapi sebenarnya hanya ingin menggiring Nayla menuju satu tujuannya. "Gimana kalau kamu serahkan saja semua urusan kantor padaku? Aku bisa kok melakukannya untukmu."
Nayla menyatukan kedua alis, sedikit keberatan dengan ide suaminya. Bukannya tak percaya dengan suaminya sendiri, namun ia tahu betul kalau dia tidak mempunyai kemampuan untuk memimpin perusahaan, yang mana posisi itu merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat besar.
Melihat ekspresi di wajah istrinya, Dave tahu kalau dia tak mempercayainya. Ia pun memakai teknik tarik ulur dan tak mau terlalu memaksa agar Nayla tak menaruh curiga akan niatnya yang sebenarnya.
"Aku tahu kalau kamu menyangsikan kemampuanku untuk menangani masalah di perusahaan. Tapi kamu kan masih bisa memantaunya dari rumah. Toh kendali perusahaan sepenuhnya ada di tangan kamu."
Dave sengaja menjeda ucapannya sejenak, memberi sedikit waktu bagi Nayla untuk berpikir.
"Itu sih cuma saranku saja. Kalau kamu nggak setuju juga nggak pa pa." lanjutnya. "Aku tak ingin memaksamu untuk setuju dengan pendapatku. Aku mengatakan itu hanya ingin membantumu saja."
Nayla masih saja diam, menimbang baik dan buruknya usulan Dave. Helaan nafasnya terdengar begitu berat kekuar dari kedua lubang hidung. "Bagaimana ini? Keputusan apa yang harus kuambil?," ucanya dalam hati.
Nayla berada dalam persimpangan batin. Antara mempertaruhkah perusahaan dengan memberikan wewenang pada suaminya untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan untuk sementara waktu dan fokus pada kehamilannya, atau menolak usulan suaminya namun beresiko pada kehamilannya.
Namun beberapa saat kemudian akhirnya ia pun setuju. "Aku rasa tidak ada salahnya memberi kesempatan pada Dave. Toh aku masih bisa memantau semuanya dari rumah atau sesekali mendatangi kantor untuk mengecek semua. Lagipula kita tidak akan pernah tahu kemampuan seseorang sebelum memberinya kesempatan untuk membuktikan diri," gumamnya kembali.
__ADS_1
"Baiklah! Nanti aku akan memberitahukan pada seluruh staf di kantor, bahwa selama aku hamil, aku memberikan wewenang padamu untuk mengambil semua keputusan di kantor."
"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Dave, sedikit sangsi dengan perkataan istrinya.
Nayla mengangguk yakin. "Ya, aku sangat yakin dengan keputusanku!."
"Gotcha....akhirnya kamu masuk juga dalam perangkapku. Ternyata tidak sulit juga untuk membuatmu percaya perkataanku. Cukup bersikap lembut dan menggunakan kata-kata manis" sorak Dave kegirangan dalam hati.
Greppp....Dave mendekat erat tubuh istrinya dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya. "Terimakasih banyak, sayang, karena sudah memberiku kepercayaan. Aku janji, aku tidak akan mengecewakanmu. Dan aku akan mengerahkan segenap kemampuan untuk membuat perusahaan menjadi semakin maju."
Nayla tersenyum tipis mendengar janji-janji yang suaminya katakan. "Jangan pernah mengecewakan kepercayaanku, Dave."
"Ya, aku janji!" ucap Dave penuh dengan kebohongan.
Nayla memang wanita yang sangat cerdas, namun ia juga begitu naif. Dan sayangnya kenaifannya itu dimanfaatkan oleh Dave dengan begitu baik.
Nayla mengangguk. "Baiklah. Ayo kita bersiap!." Nayla bangkit dari tempat tidur, namun Dave malah menghentikannya. Sontak ia pun berbaik kembali. "Ada apa lagi, Dave?" tanyanya.
Dave tersenyum tipis. "Tidak apa. Aku hanya ingin mengatakan kalau mulai sekarang kamu jangan terlalu memikirkan urusan di kantor. Semua itu biar aku saja yang tangani. Kamu banyak-banyak istirahat saja di rumah dan jaga kehamilanmu baik-baik. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan bayi kita karena kamu kecapekan."
Nayla tersenyum manis mendengar ucapan suaminya. "Terimakasih banyak atas perhatianmu, Dave. Aku pasti akan menjaga bayi kita baik-baik" ucapnya. Ia tak pernah tahu kalau perhatian suaminya itu penuh dengan kepura-puraan.
...****************...
"Semuanya, tolong dengarkan saya baik-baik! Hari ini saya akan memberikan beberapa pengumuman penting," ucap Nayla setibanya mereka di kantor.
Mendengar ucapan orang nomor satu di perusahaan, semua karyawan pun segera berkumpul. " Ada pengumuman apa, bu? Akan ada kenaikan gaji bulan ini ya?" canda salah satu karyawan. Kepribadiannya yang supel membuat para karyawan tak takut untuk bercanda dengannya namun tak mengurangi rasa hormat terhadapnya.
__ADS_1
Nayla tersenyum menanggapi candaan karyawan itu. "Bukan, bukan soal itu!," ucapnya.
"Yaah....kirain" Kompak terdengar riuh rendah kekecewaan para karyawan yang membuat Nayla tertawa melihatnya. "Kalian tenang saja. Mungkin usulan kalian ini bisa saya pertimbangkan nanti kalau keuntungan perusahaan bertambah" ucapnya.
"Beneran, bu?" tanya salah satu karyawan dengan binar mata penuh harap. Yang dijawab oleh Nayla dengan menyungginkan senyuman disertai dengan sebuah anggukan kepala.
"Hore.....kita mau naik gaji" kembali terdengar riuh rendah para karyawan. "Bu Nayla memang bos yang paling the best. Paling tahu cara membuat kami semakin betah bekerja di perusahaan ini."
Kembali nayla menyunggingkan sebuah senyuman mendengar ucapan para karyawannya.
Dave menepuk bahu Nayla, memperingatkannya pada tujuan semula. Hingga akhirnya Nayla pun menghentikan riuh rendah para karyawan itu.
"Udah udah, cukup! Sekarang dengarkan pengumuman saya baik-baik!."
Hening, para karyawan kembali diam dan memasang telinga baik-baik mendengarkan pengumuman yang akan di berikan.
Setelah semua kembali tenang, Nayla mulai membuka suara. "Sebelumnya saya mau memperkenalkan pada kalian semua kalau laki-laki yang ada di sebelah saya ini adalah suami saya."
"Apa?." Terdengar kasak-kusuk diantara para karyawan menanggapi berita yang disampaikan oleh orang nomor satu di gedung itu.
"Kok bisa bu Nayla menikah dengan pria itu? Bukannya dia karyawan baru di perusahaan ini ya?."
"Dari sekian banyak lelaki mapan yang mendekatinya, kenapa bu Nayla malah memilih untuk menikah dengannya?."
"Iya, ya! Pria itu memggunakan pelet kali."
Muka Dave terlihat merah padam mendengar kasak kusuk diantara para karyawan itu. Namun ia tak berani menunjukkan kemarahannya itu. "Berani sekali kalian meremehkanku! Lihat saja, aku akan bikin perhitungan dengan kalian setelah aku berhasil mengambil alih perusahaan ini" geramnya dalam hati.
__ADS_1