Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 16


__ADS_3

Sebulan sudah usia pernikahan Nayla dan Dave. Namun mereka semakin jarang menghabiskan waktu bersama lantaran kesibukan masing-masing. Dan sepulang dari kantor pun mereka langsung tidur karena kecapekan.


Pagi itu Nayla sengaja meluangkan waktu untuk duduk bersama sambil menikmati sarapan pagi di meja makan bersama dengan Dave dan Natasha, sesuatu yang sudah lama tak ia lakukan. Sesekali mereka berbincang ringan sambil menikmati makanan yang tersaji diatas meja.


Ditengah asyiknya menikmati makanan, tiba-tiba Nayla merasakan perutnya mual.


Huek...huek...


Sontak ia pun menutup mulutnya dan mengusap-usap perut.


"Ada apa, Nay?" tanya Dave yang duduk disampingnya penuh kekhawatiran.


"Aku juga nggak tahu, Dave. Tapi beberapa hari ini perutku selalu mual dan muntah."


"Kamu masuk angin dan kecapekan kali. Akhir-akhir ini kamu kan selalu lembur karena ada sedikit masalah di kantor" jawab Dave.


"Entahlah, Dave, aku tidak tahu. Aku sudah mencoba membalurkan minyak angin ke sekujur tubuh, tapi mualku tidak juga hilang."


Natasha yang sedari tadi hanya mendengarkan pun mengerutkan dahi. Dipandangnya wajah sang menantu intens. Ia merasa apa yang dirasakan Nayla saat ini sama seperti yang dirasakannya dulu.


"Apa mual dan muntah yang dirasakan Nayla ini karena ia sedang hamil? Tapi itu tidak mungkin. Setahuku Dave kan tidak pernah menyentuhnya lagi setelah malam itu. Atau Dave memang menyentuhnya lagi tetapi aku tak tahu" ucapnya dalam hati.


"Ini tidak boleh dibiarkan! Kalau memang benar Nayla hamil, aku harus melakukan sesuatu untuk menggugurkan kandungannya, atau semua rencanaku akan berantakan."


Ia pun memastikan dugaannya dengan menanyai Nayla. "Nayla, kapan terakhir kali kamu datang bulan?" tanyanya serius.


Mendengar pertanyaan Natasha, Nayla mencoba mengingat-ingat. Namun karena siklus haidnya yang tidak menentu, membuatnya kesulitan mengingat kapan terakhir datang bulan. "Entah, Ma, aku tidak ingat!. Tapi ada apa, Ma?."


"Coba kamu memeriksakan diri ke dokter kandungan. Mama rasa mual dan muntahmu itu bukan karena kecapekan atau masuk angin."

__ADS_1


"Maksud Mama? tanya Nayla, masih tak mengerti dengan maksud Mama mertuanya.


Natasha menghela nafas berat. " Dari tanda-tanda yang kau katakan tadi, Mama rasa saat ini kamu sedang hamil. Tapi Mama juga nggak tahu pasti. Itulah mengapa Mama memintamu memeriksakan diri ke dokter kandungan intuk memastikan."


Mata Nayla terbelalak mendengar ucapan Natasha. "Benarkah itu, Ma?" tanyanya setengah tak percaya. Namun detik berikutnya ia tersenyum lebar.


"Kalau memang benar aku sedang hamil, maka itu artinya dalam tubuhku ada buah cinta kita yang sedang tumbuh. Dan sebentar lagi kita akan menjadi orangtua, dan Mama menjadi Nenek."


Di usapnya perutnya lembut seakan-akan memang benar bahwa ia tengah hamil. "Tumbuhlah dengan sehat disana, nak. Mama akan selalu menjagamu."


Dave yang tak mengerti ucapan dua wanita yang ada disamping dan hadapannya itu pun menatap ibunya lalu mengangkat alisnya sebagai isyarat seolah meminta penjelasan


Puas mengusap perutnya, pandangan Nayla beralih ke suaminya. "Setelah ini antarkan aku ke dokter kandungan dulu ya, Dave. Aku mau memastikan hal ini dulu," pintanya penuh harap. Tangannya menepuk bahu Dave pelan.


Dave yang sedari tadi menatap ibunya dan tak terlalu mendengarkan ucapan Nayla pun terjingkat saat Nayla menepuk bahunya. "Ap...apa? Kau bicara apa tadi?," tanyanya gelagapan.


Melihat suaminya tak memperhatikannya, wajah Nayla pun cemberut. "Ish, kok balik nanya sih? Kamu nggak mendengarkan ucapanku tadi ya?" ucapnya kesal.


Walau masih kesal dengan suaminya, namun Nayla pun mengatakannya kembali. "Aku bilang, tolong antarkan aku ke dokter kandungan setelah ini. Aku ingin memastikan kalau aku memang beneran hamil atau tidak."


Mendengar permintaan istrinya, Dave malah garuk-garuk kepala. Rasanya enggan menuruti permintaannya, namun untuk menolak secara langsung takut Nayla marah. Ia pun menatap Mamanya dan memberi isyarat apa yang haru dilakukannya. Yang dibalas oleh Natasha dengan anggukan kepala.


Terpaksa ia pun setuju untuk mengantarnya. "Ok, setelah ini aku antar kamu kesana!" ucapnya dengan senyum sedikit dipaksa.


Nayla bersorak kegirangan. Memeluk Dave dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi. " Makasi banyak, Dave. Kau memang suami yang bisa diandalkan."


Melihat adegan romantis di hadapannya, Natasha menatap tajam putranya. Hingga membuat Dave semakin salah tingkah. Perlahan ia pun melepaskan pelukan Nayla dari tubuhnya.


"Sekarang kita lanjut makan lagi ya. Takutnya nanti malah kesiangan. Kan tadi katanya setelah ini mau ke dokter kandungan dulu" ucapnya.

__ADS_1


"Iya deh. Yuk kita lanjut makan lagi!" ucapnya penuh semangat.


Mereka pun kembali menikmati makanan mereka masing-masing.


"Kita berangkat sekarang yuk! Aku sudah selesai nih makannya," ucap Nayla setelah mengakhiri sarapannya dengan meminum segelas air putih.


Dave mengangguk dan tersenyum. Turut mengakhiri sarapannya dengan meminum air putih juga.


Nayla bangkit dari kursi dan meraih tasnya. "Ma, kami berangkat dulu!" pamitnya pada Natasha. "Dave, ayo kita berangkat sekarang!."


Dave terlihat ragu. Ia pun membuat alasan pada Nayla agar bisa bicara dengan Mamanya lebih dulu. "Mmh..sayang, kamu ke mobil duluan ya! Aku mau ke kamar sebentar! Ada berkas-berkas untuk rapat nanti yang ketinggalan di sana."


Nayla mengangguk. "Baiklah! Tapi jangan lama-lama ya."


Dave mengangguk. Nayla berjalan menuju basement meninggalkan suaminya.


Melihat istrinya sudah pergi, Dave segera menggunakan kesempatan itu untuk bicara dengan.Mamanya. "Bagaimana ini, Ma? Mama yakin menyuruhku untuk mengantarkan Nayla ke dokter kandungan?" tanyanya.


"Mama rasa itu yang terbaik untuk sekarang! Sekaligus untuk mencari tahu apakah Nayla memang benar-benar hamil atau tidak."


"Yang tidak Mama mengerti adalah kenapa kau malah membuatnya hamil? bukankah kau tak pernah menyentuhnya lagi setelah malam itu? Atau jangan-jangan kau memang menyentuhnya lagi?" tanyanya dengan pandangan penuh selidik.


Sontak Dave pun menolak tuduhan Mamanya. "Tidak, Ma. Aku bersumpah kalau aku tidak pernah menyentuhnya lagi setelah malam itu," ucapnya sambil menggeleng keras.


Natasha tak percaya begitu saja dengan perkataan putranya. Ia masih saja menatapnya dengan tatapan membunuh hingga membuat jakun Dave naik turun menelan salivanya sendiri.


"Awas saja kalau kau sampai berani membohongi Mama," ucap Natasha.


"Aku berani bersumpah, Ma. Semua yang kukatakan tadi memang benar!" ujar Dave dengan penuh kesungguhan.

__ADS_1


Perlahan Natasha pun percaya dengan ucapan putranya. Ia pun menghembuskan nafas pelan untuk membuang semua kecurigaan. "Baiklah kalau begitu. Sekarang susul istrimu ke bawah sebelum dia mulai curiga. Ingat! Jangan lakukan apapun yang bisa membuat rencana kita berantakan!."


Dave mengangguk dan segera menyusul istrinya.


__ADS_2