Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 47


__ADS_3

Sebulan sudah Dave berada di rumah lagi semenjak dokter mengizinkannya untuk menjalani rawat jalan di rumah. Selama itu pula Nayla dengan cekatan merawatnya.


Sesekali Nayla membawa Dave ke rumah sakit untuk menjalani terapi untuk mengembalikan kemampuan otot-otot dan syaraf di kaki akibat kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Tak jarang ia mengabaikan kesehatannya sendiri karena terlalu sibuk mengurus suaminya itu.


Namun selama itu juga, Natasha tak terlihat mendekati putra semata wayangnya sedikitpun atau sekedar menanyakan bagaimana kondisinya.


Pagi itu seperti biasa Nayla kembali menunjukkan perhatiannya pada sang suami. Dengan seember air bersih dan handuk kecil di tangan, ia berjalan memasuki kamar dan berteriak memanggil nama suaminya berniat untuk membersihkan tubuhnya. "Dave, kamu ada dimana? Ayo aku bersihkan tubuhmu dulu. Setelah itu kita makan sama-sama."


Dave yang saat itu berada di kamar mandi untuk buang air kecil pun menyahuti panggilan istrinya dengan berteriak. "Iya sebentar, Nay. Aku masih buang air kecil di kamar mandi."


Nayla menghela nafas pelan. "Sambil nungguin Dave keluar dari kamar mandi, lebih baik aku siapkan pakaian gantinya dulu."


Nayla pun berjalan mengitari tempat tidur bermaksud untuk meletakkan ember yang dibawanya tadi. Namun karena tak hati-hati, kakinya malah tersandung kaki ranjang dan akhirnya....


Argkkkk...


Grep... Sebuah lengan kekar dengan sigap menangkap tubuhnya sebelum sempat menyentuh lantai diiringi dengan omelan. "Lain kali kalau jalan hati-hati. Kamu itu sedang hamil. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu gimana?."


Sontak Nayla menoleh ke arah pemilik suara tersebut. "Dave!" ucapnya dengan mulut menganga setengah tak percaya.


"Hey, kok malah bengong? Ayo bangun!."


Nayla tersadar dari lamunannya dan segera bangkit kembali. "Makasih banyak, Dave. Untung tadi kamu segera menangkapku. Andai tadi kau tak datanga tepat waktu, aku nggak tahu apa yang akan terjadi padaku dan calon anak kita," ucapnya sambil merapikan pakaiannya kembali. Namun detik berikutnya sebuah senyuman tampak mengembang di bibirnya saat pandangannya tertuju pada sang suami.


Melihat istrinya malah senyum-senyum sendiri, Dave menggoyang-goyangkan telapak tangan di depan wajah Nayla karena menganggap istrinya masih saja melamun. "Hey, sekarang malah senyum-senyum sendiri. Ada apa?."

__ADS_1


"Lihat kakimu, Dave! Karena gerakanmu yang tiba-tiba tadi, sekarang kau bisa berdiri dengan kedua kakimu sendiri," jawab Nayla dengan mata berbinar bahagia.


Mendengar ucapan istrinya, sontak Dave menunduk dan melihat ke arah kakinya. Detik berikutnya senyum bahagia pun ikut mengembang di bibirnya. "Kau benar, Nay! sekarang aku sudah bisa berdiri dengan sempurna," pekiknya bahagia. "Ini semua berkat kamu, Nay. Kau yang tak pernah berhenti merawatku dan terus memberikan semangat agar aku mau menjalani terapi."


Tanpa sadar, Dave membawa Nayla kedalam pelukannya lantaran begitu bahagianya. "Terimakasih banyak, Nay," ucapnya tulus. Namun perasaan aneh itu kembali ia rasakan saat kulit mereka kembali bersentuhan. "Perasaan apa ini? Kenapa aku kembali merasakan perasaan ini?," tanyanya dalam hati.


Ini sudah kesekian kali ia merasakan getaran ini semenjak mereka kembali berdamai usai kejadian malam itu dimana ia sedang mabuk berat dan berniat menceraikan Nayla. Padahal saat pertama berkenalan dengannya hingga mereka menikah, ia tak pernah merasakan getaran ini.


"Apa ini yang disebut dengan perasaan cinta?," tanyanya semakin bingung. Namun ia segera menepis kembali perasaan itu begitu ingat siapa orangtua dari wanita yang saat ini tengah berada dalam dekapannya.


Sontak ia pun melepaskan pelukannya dan menjauhkan diri dari istrinya. "Maaf! tadi aku refleks saja karena begitu senangnya" ucapnya datar.


Nayla tersenyum kikuk dan ikut menjauhkan diri dari suaminya pula. "Tidak apa, Dave. Aku mengerti!." Dalam hati ia merasa sangat bahagia karena bisa kembali berada sedekat itu dengan suaminya."


Dave pun ternyata tak jauh beda dengan Nayla. Terjadi sebuah pertentangan di hatinya. "Kau memang wanita yang baik, Nay. Tak sulit bagimu untuk membuat orang lain jatuh cinta padamu. Tapi sayang, kau adalah anak dari musuhku. Tak mungkin bagiku untuk jatuh cinta padamu," ucapnya dalam hati.


"Tapi, Dave...."


Belum selesai Nayla berucap namun Dave sudah memotong. "Kau tak perlu khawatir, aku bisa melakukannya sendiri."


Nayla mendesah lesu, memilih untuk menuruti perintah suaminya. "Baiklah, Dave. Aku siapkan makanan dulu buatmu." Ia pun segera berlalu meninggalkan kamar.


Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang menyaksikan semua kejadian itu dari balik pintu. Sepasang mata itu terlihat tak suka. Ia sangat marah saat tahu Dave memeluk istrinya.


Saat melihat Nayla akan keluar, ia segera bersembunyi agar Nayla tak mengetahui keberadaannya. Dan setelah memastikan Nayla tak kelihatan lagi, ia segera masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Berjalan menghampiri Dave dengan mata berapi-api. Emosinya yang sedari tadi coba ia tahan langsung tertumpah. "Apa-apaan tadi, Dave? Kenapa kau memeluk Nayla sedemikian eratnya?."


Dave yang saat itu tengah berdiri membelakanginya pun langsung memutar tubuh begitu memdemgar suaranya. "Mama!" pekiknya terkejut dengan bola mata membulat sempurna. Tak menyangka akan kehadiran mama-nya yang tiba-tiba. "Ke....kenapa Mama bisa ada disini?" tanyanya dengan terbata.


"Kenapa? terkejut?" tanya Natasha dengan bibir menyunggingkan senyuman sinis. Kedua tangan terlipat di depan dada.


Dave segera menguasai diri kembali agar tak terlihat gugup di depan Mamanya. "Tidak juga! Aku hanya sedikit marah karena Mama masuk ke kamarku tanpa permisi."


"Harusnya yang marah itu Mama, bukan kamu! Apa maksudmu memeluk Nayla seperti tadi? Jangan bilang kalau kau mulai jatuh cinta padanya," ujar Natasha sengit. Ya, pemilik sepasang mata yang memperhatikan di balik pintu tadi tak lain dan tak bukan adalah Natasha, Mama kandung Dave sendiri.


"Jadi Mama memata-mataiku tadi?" tanya balik Dave datar, ikut menyunggingkan senyuman sinis ke arah Mama-nya.


"Jangan membalikkan pertanyaan Mama, Dave! Jawab saja pertanyaan Mama tadi" bentak Natasha marah, tak suka melihat Dave yang mulai berani padanya.


"Jangan pernah berani membentakku lagi, Ma! Atau aku akan lupa siapa Mama." Dave tersulut emosi melihat Mama-nya yang bersuara keras padanya. Selama beberapa hari ini ia sudah cukup menahan diri karena merasa diabaikan olehnya.


"Jadi sekarang kau mulai berani melawan Mama, Dave?. Aku ini Mama kandungmu, orang yang melahirkanmu!."


"Kau memang adalah wanita yang telah melahirkanku. Tapi aku ragu, apa aku masih pantas menyebutmu dengan panggilan Mama."


"Apa maksudmu, Dave?," tanya Natasha dengan dahi berkerut.


"Kalau kau memang masih pantas disebut sebagai Mama, kau pasti sangat khawatir dengan keadaanku. Tapi nyatanya apa?." ucap Dave, menyunggingkan senyum sinis mengejek.


Natasha terkejut mendengar ucapan anaknya. "Bu....bukan seperti itu, Dave. Mama juga sangat mengkhawatirkan kondisimu. Ba....bagaimana kondisimu sekarang?" ucapnya dengan terbata. Tangan terulur hendak menyentuh anaknya itu.

__ADS_1


Dengan cepat, Dave menepis tangan Mama-nya sebelum berhasil menyentuh tubuhnya. "Jangan berlagak sok perhatian lagi padaku, Ma. Kemana aja Mama selama aku sakit kemarin?" ucapnya dengan suara meninggi.


__ADS_2