
"Jadi, bagaimana hasilnya, dok? Apakah benar kalau saya hamil?" tanya Nayla tak sabar setelah duduk di hadapan dokter dengan Dave berada di sampingnya.
Jika Nayla tak sabar menantikan jawaban dokter maka Dave justru merasa tegang. Ia takut Nayla benar-benar Hamil. "Itu tidak mungkin!. Aku hanya melakukannya sekali. Nayla pasti cuma kecapekan dan masuk angin saja. Ya, pasti karena itu" ucapnya dalam hati.
Dokter tersenyum ramah mendengar pertanyaan yang biasa di tanyakan oleh seorang pasien. Mengulurkan tangan dan mengajak Nayla serta Dave bersalaman. "Selamat, pak, bu, anda memang sedang hamil. Saat ini usia kandungan ibu sekitar empat minggu. Untuk kondisi lebih lengkap silahkan lakukan pemeriksaan USG di bagian obgin yang ada di rumah sakit ini juga" ucapnya.
Nayla memekik bahagia, refleks memeluk suaminya. "Aku beneran hamil, Dave. Sebentar lagi kita akan menjadi orangtua."
Mendengar berita yang harusnya membahagiakan itu Dave justru tak senang. Ekspresi wajahnya berubah dingin seketika. "Itu tidak mungkin! Bayi itu pasti bukan anakku, latena aku hanya melakukannya sekali. Berarti kecurigaanku selama ini benar kalau Nayla memang bukan wanita baik-baik" ucapnya dalam hati.
Sontak ia pun melepaskan pelukan Nayla darinya. "Lepaskan Nay, jangan bersikap seperti ini! Kita ada di tempat umum. Malu di lihat oleh dokter."
Nayla pun beringsut dan kembali menghadap dokter. "Maaf, dok!" ucapnya sungkan.
Mendengar ucapan Dave, dokter mengira jika ia hanya malu saja. Ia pun memgunggingkan senyum ramah khas dokter. Tak terbersit dalam benaknya bahwa saat ini dia hanya berpura-pura bahagia. "Tidak apa, pak, bu! Itu lumrah terjadi karena begitu bahagianya ibu mendengar kabar ini" ucanya menenangkan.
"Sebenarnya mual dan muntah yang terjadi pada ibu lumrah terjadi pada kehamilan yang masih muda. Biasanya terjadi selama trimester awal tapi nantinakan hilang dengan sendirinya jika sudah masuk trimester ketiga."
"Nanti saya akan meresepkan beberapa obat dan vitamin yang harus ibu minum untuk mengurangi rasa mual dan muntah ibu."
"Usia kandungan yang masih muda sangat rentan terjagi keguguran. Jadi jaga baik-baik kandungan ibu dengan banyak beristirahat dan jaga pola makan dengan baik dan teratur."
Nayla mendengarkan semua nasihat dokter dengan seksama. Sesekali ia mengangguk-angguk faham. Ini adalah pengalaman pertamanya hamil, dan ia harus belajar banyak tentang itu. "Baik, dok! Saya akan melakukan semua saran dokter" ucapnya.
Selanjutnya dokter meresepkan beberapa obat dan vitamin yang harus.Nayla minum secara teratur. Di serahkannya secatik kertas itu kepadanya.
"Terimakasih banyak, dok!" ucapnya seraya mengambil kertas tersebut dari tangan dokter. "Kalau begitu kami permisi dulu."
__ADS_1
Mereka pun berlalu meninggalkan ruangan dokter dan beralih menuju ruang obgin untuk melakukan USG langsung untuk mengetahui keadaan janin yang dikandung Nayla.
...****************...
Plakkk....
"Kenapa kau bisa sebodoh itu, Dave? Kenapa kau malah membuat Nayla hamil?" berang Natasha saat Dave memberitahu berita kehamilan Nayla. Sebuah tamparan keras ia daratkan ke wajah Dave sebagai bentuk kemarahan.
Dave sangat terkejut, tak mengira Mamanya akan menampar dirinya sekeras itu. Sontak ia pun mengusap wajahnya yang memanas akibat tamparan tersebut. Di wajahnya tercipta lukisan lima jari hasil karya Mamanya sendiri.
"Aku juga tidak tahu, Ma kenapa dia bisa hamil. Tapi aku rasa anak itu bukanlah anakku, sebab aku hanya melakukannya sekali" ucapnya.
Mendengar perkataan anaknya, Natasha justru semakin marah. "Kau itu bodoh atau apa sih? Jelas-jelas kalau itu adalah anakmu."
"Tapi aku memang hanya melakukannya sekali, Ma". Dave terus menyangkal dan menolak kalau itu benar anaknya hingga membuat Mamanya yang marah semakin marah.
Dave terdiam mendengar ucapan Mamanya. Namun dalam hati ia tetap menyangkal kenyataan bahwa bayi yang di kandung Nayla memang benar anaknya.
"Sekarang kacau, semua rencana kita berantakan!" gusar Natasha. "Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus menyuruh Nayla untuk menggugurkan kandungannya."
"Mama pikir Nayla akan menuruti kemauan kita? Tidak akan semudah itu. Ma. Aku lihat sendiri bagaimana bahagianya dia mengetahui bahwa dirinya hamil."
Natasha terdiam mendengar ucapan anaknya. Ia juga berpikir kalau hal itu tidak mungkin bisa dilakukan. Ia pun berpikir keras untuk memcari jalan keluarnya.
Tiba-tiba terlintas sebuah ide gila di benaknya. "Kalau kita tidak bisa menyuruh Nayla menggugurkan kandungannya, maka kita celakakan saja dia. Dan bayi itu akan gugur dengan sendirinya."
"Tapi bagaimana caranya, Ma?" tanya Dave tak mengerti dengan dahi berkerut. "Bukankah Mama sendiri yang menyuruhku untuk bersikap manis di hadapannya?."
__ADS_1
"Kamu tenang saja! Mama punya rencana untuk mencelakakannya. Yang pastinya dia tidak akan pernah mengira bahwa kita memang sengaja melakukannya" ucap Natasha tersenyum culas.
"Apa, Ma?."
Natasha membisikkan rencananya di telinga Dave. Dave manggut-manggut mendengar ucapan Mamanya.
"Jadi, bagaimana menurutmu, Dave?" ucap Natasha. Mengakhiri ucapannya dengan menanyakan pendapat putranya.
"Aku rasa bukan sebuah ide yang buruk! Kita bisa melakukan rencana itu tanpa membuat Nayla curiga pada kita," jawab Dave.
"Kau benar, Dave! Dan setelah penghalang rencana kita musnah, kita bisa menuntaskan rencana pembalasan dendam kita."
Mereka berdua pun sama-sama tersenyum licik. Dan entah apa yang akan mereka lakukan terhadap Nayla setelah ini.
Sementara itu di tempat lain, .Nayla terlihat tengah mengusap perutnya yang masih rata dengan penuh kebahagiaan. Ia tak tahu apa rencana jahat yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Tumbuhlah dengan sehat di sana, nak. Mama akan selalu menjagamu dengan baik. Kau adalah buah cinta Mama dan Papa" ucapnya sambil mengusap perut dengan gerakan dari atas ke bawah.
"Setelah kau lahir nanti, Mama akan mencurahkan semua cinta kasih Mama untukmu. Akan Mama pastikan kau tak kekurangan suatu apapun."
"Andai Oma mu ada disini juga, dia pasti akaan sangat senang dengan kehadiranmu."
Mengingat bundanya yang selalu ada untuknya di setiap saat membuat Nayla mendadak sedih. Ia begitu merindukan dirinya. Ucapan lembutnya yang selalu menghadirkan ketenangan, cinta tanpa syarat yang selalu ditujukan untuknya, dan segala hal tentang dirinya, tanpa tahu bahwa bundanya jauh lebih tersiksa dibanding dirinya karena perpisahan ini.
Sebutir air mata jatuh diatas pipi mengenang rindunya pada sang Bunda. "Bunda, Nayla sangat rindu. Andai kita bisa bertemu lagi," ucapnya lirih.
Sebenarnya bisa saja Nayla mengajak bundanya untuk bertemu. Namun ucapan terakhir sang ayah membuatnya harus berpikir ribuan kali untuk melakukannya. Ia tak ingin Ayah dan bundanya bertengkar lagi lantaran dirinya.
__ADS_1
Namun Nayla tak mau terlalu larut dalam kesedihan. Ada janin dalam dirinya yang harus ia jaga dengan tetap bahagia. Di hapusnya kembali tetesan air mata itu.