Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 44


__ADS_3

Dave yang merasa sedikit pusing setelah marah-marah pada para karyawan akibat penurunan pada keuntungan perusahaan pun memutuskan keluar perusahaan sebentar untuk sejenak menjernihkan pikiran.


Namun belum jauh ia melajukan kendaraan dari area perusahaan, tiba-tiba mobilnya ditabrak oleh sebuah truk tronton bermuatan penuh yang tengah mengalami rem blong dari arah berlawanan hingga menyebabkan mobilnya ringsek dan masuk kedalam kolong truk dan tubuhnya terjepit oleh bodi mobil.


Para warga yang menyaksikan kejadian itu pun segera mendekat dan melakukan penyelamatan hingga menimbulkan kemacetan yang cukup panjang di ruas jalan tersebut.


Setelah berhasil diselamatkan ia dibawa oleh sebuah mobil ambulan menunu rumah sakit terdekat agar segera mendapatkan perawatan mengingat kondisinya yang sangat kritis.


Tak berselang lama polisi pun datang dan memintai keterangan para saksi mata mengenai kejadian kecelakaan tadi. Secara tak sengaja, seorang polisi menemukan dompet serta ponsel milik Davka yang terjatuh.


Seorang polisi lain yang merupakan atasan mereka pun membuka dompet tersebut untuk melihat kartu tanda pengenalnya dan menelepon keluarga korban untuk mengabarkan kecelakaan yang menimpanya melalui nomor yang tertera pada panggilan terakhir di ponsel milik korban.


Sementara itu di sisi lain, Nayla yang saat itu tengah berkutat didapur membuat kreasi kue untuk mengisi kekosongan waktu tiba-tiba hatinya bergetar hebat. Batinnya merasa tak tenang, seperti ada sesuatu yang tidak mengenakkan. Karena pikirannya yang tak fokus, hingga akhirnya gelas yang dipegangnya pun terjatuh.


Pyarrr....


Gelas pecah berserakan. Nayla terjingkat karena terkejut. Ia pun berjongkok dan segera memunguti pecahan gelas tersebut. Namun secara tak sengaja jarinya malah tergores oleh pecahan gelas tersebut hingga mengeluarkan darah.


"Argk...." pekik Nayla kesakitan. Ia pun segera berlari menuju westafel untuk menghentikan pendarahan itu. "Ada apa ini? Kenapa dari tadi hatiku merasa tak tenang?" ucapnya usai membersihkan lukanya.


Natasha yang saat itu berada di ruang tengah langsung berlari menuju dapur begitu mendengar suara benda terjatuh untuk melihat apa yang sedang terjadi. "Ada apa, Nay?" tanyanya panik.


Nayla yang saat itu tengah duduk diatas kursi sambil mengobati jarinya yang terluka pun mengalihkan pandangan pada sang ibu mertua. "Nggak pa pa, Ma. Tadi aku nggak sengaja pecahin gelas dan jariku terluka terkena pecahannya," ucapnya menjelaskan.


"Astaga! sini Mama bantu obati luka kamu." Natasha pun menghempaskan tubuh disamping Nayla dan mengobati luka di jarinya. "Lain kali hati-hati. Kamu itu sedang hamil," ucapnya sok perhatian.


Nayla hanya menanggapi dengan sebuah senyuman tipis. "Iya, Ma. Lain kali Nay akan lebih berhati-hati lagi."

__ADS_1


"Ya udah nggak pa pa. Tapi ngomong-ngomong kenapa gelas itu bisa terjatuh? Kamu sedang melamun ya tadi?."


Nayla menghela nafas pelan. "Nggak tahu, Ma. Hanya saja sejak tadi perasaanku nggak enak. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi."


Natasha ikut menghela nafas. "Ya udah nggak usah dipikirin lagi. Mungkin itu hanya perasaanmu aja."


Nayla mengangguk setuju. "Iya kali, Ma." Ia pun segera menepis perasaannya tadi dan lanjut memanggang kue yang sempat terhenti karena kejadian tadi.


Namun baru saja ia memegang loyang berisikan adonan kue, tiba-tiba ponselnya berdering dengan nama Davka tertera di layarnya. "Tumben sekali Dave meneleponku di jam segini?" ucapnya sambil mengernyitkan dahi. "Mungkin ada hal penting yang ingin ia bicarakan kali."


Ia pun langsung memencet tombol hijau dan menerima panggilan itu. "Halo, dave, ada apa? Tumben sekali kamu menelponku di jam segini," ucapnya.


Namun suara yang berbicara di seberang telpon bukanlah Dave, melainkan seorang polisi. "Halo, apa benar ini keluarga bapak Davka Digdaya?," tanyanya.


Nayla yang tak mengenali suara itu pun semakin dibuat bingung. "Iya, benar! saya adalah istrinya. Kalau boleh tahu, ini siapa ya? Kenapa menelpon dengan menggunakan ponsel milik suami saya?."


Degh.....


Jantung Nayla terasa berhenti mendadak saat mendengar kabar mengejutkan itu. Sontak ia pun terjatuh diatas lantai karena sangat syok. "A....pa? Itu tidak mungkin."


Natasha yang saat itu masih berada disana pun terkejut melihat menantunya jatuh usai menerima panggilan. Ia pun berlari mendekatinya dan bertanya, "Ada apa, Nay? siapa yang menelpon tadi?" tanyanya panik.


"I....itu tadi polisi, Ma. Mereka mengabarkan kalau Dave mengalami kecelakaan parah dan saat ini sudah di bawa ke rumah sakit," ucapnya terbata. Bersamaan dengan itu air matanya pun ikut luruh.


"Apa???" pekik Natasha sama terkejutnya. "Itu tidak mungkin terjadi." Bersamaan dengan itu, ia pun ikut jatuh terduduk di hadapan Nayla sambil berteriak histeris memanggul nama anaknya. "Davka!!!!."


Nayla mengusap air mata dan berusaha menguasai diri kembali. Ada hal lebih penting yang harus ia lakukan ketimbang meratapi kejadian itu seperti sekarang. "Jangan menangis lagi, Ma. Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit untuk melihat kondisi Davka."

__ADS_1


Natasha mengangguk, mengusap air mata dan mengikuti langkah menantunya menuju basement.


Mengendarai sendiri mobilnya dengan kecepatan sedang. Nayla berusaha keras agar tak terlalu larut dalam kesedihan karena ada makhluk kecil dalam rahimnya yang harus ia jaga kenyamanannya dengan tak terlalu emosional.


Sementara Natasha yang duduk disamping Nayla terlihat sangat gurat kekhawatiran di wajahnya. Berulangkali ia menggigit bibir bawahnya untuk mengurai kekhawatirannya itu. Bahkan ia meremas ujung gaun yang dikenakannya itu saking khawatirnya. "Tolong lebih cepat sedikit, Nay, Mama sangat khawatir dengan kondisi Davka," ucapnya.


Nayla menoleh sejenak ke arah mertuanya lalu kembali fokus ke jalanan. "Sabar dikit ya, Ma. sebentar lagi kita nyampek kok."


"Gimana Mama bisa tenang kalau belum lihat sendiri kondisi Davka, Nay?" ucapnya dengan suara agak meninggi.


"Nayla tahu, Ma. Nayla juga sama khawatirnya dengan Mama. Tapi kita tetap harus berhati-hati dalam berkendara. Apalagi saat ini perut Nayla juga mulai membuncit, membuat Nay agak kesulitan bergerak, Ma."


Natasha diam mendengar ucapan Nayla dan tak berani memaksa lagi. Ia pun membuang pandangan ke arah luar jendela dan berharap agar mereka bisa segera sampai.


Tak berselang lama kemudian mobil pun sampai di depan rumah sakit. Nayla dan Natasha segera berlari menuju meja resepsionis untuk menanyakan tentang Davka.


"Sus, korban kecelakaan yang baru saja di bawa ke rumah sakit ini sekarang ada di ruangan mana ya?," tanya Nayla.


"Apa maksud ibu adalah korban yang bernama Davka Digdaya?."


"Benar, sus. Kami adalah keluarganya."


"Oh, dia berada di ruang ICU dan masih dalam penanganan dokter."


"Baik, sus. Terimakasih!."


Mereka pun bergegas menuju ruang yang dimaksud.

__ADS_1


__ADS_2