Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 40


__ADS_3

Kania menggunakan kesempatan disaat Farrel masih terlelap tidur dengan pulang sebentar ke rumah untuk mengambil beberapa barang yang mungkin bisa membantu mengembalikan ingatan Farrel. Namun saat hendak kembali ke rumah sakit lagi, ia malah terjebak dalam kemacetan panjang.


Yang patut dikasihani disini adalah sopir pribadi Abhimana. Sebab sedari tadi ia menjadi sasaran kekesalan istri dari tuan besarnya itu.


"Coba cari jalan lain, pak. Saya harus segera tiba di rumah sakit sebelum anak saya bangun."


"Gimana saya mau cari jalan lain, Nya. Mibil kita terjebak di tengah-tengah. Mau maju aja susah, apalagi muter arah."


Kania menghela nafas berat. "Kalau kayak gini kapan nyampainya" ucapnya sambil mengusap wajah kasar.


"Ya mau gimana lagi, Nya. Terpaksa kira harus mengikuti jalan sampai kita berhasil keluar dari kemacetan ini."


Kania mendesah pasrah, menghempaskan tubuh ke sandaran kursi dan membuang pandangan ke luar jendela. Namun sesaat kemudia matanya berbinar bahagia saat pandangannya tak sengaja mengarah ke pangkalan ojek yang ada di pinggir jalan.


"Stop, pak. Turunkan saya di sini saja!"


Mendengar perintah Nyonya besar yang malah ingin turun di tengah jalan, tentu sopir itu jadi bingung. "Lho, kok malah mau turun disini, Nya? Kan kita belum nyampek di rumah sakit" tanyanya sambil melihat ke belakang dari kaca spion depan.


"Nggak pa pa, pak! Saya mau lanjut naik ojek aja biar cepet. Tuh kebetulan disana ada ojek" satu jari menunjuk kearah pangkalan ojek di pinggir jalan.


Mendengar ucapan Nyonya besar, si sopir jadi khawatir. "Jangan, Nya, terlalu berbahaya kalau nyonya naik ojek."


Kania tersenyum tipis dengan perhatian sopir suaminya itu. "Bapak nggaknperlu khawatir. Dulu saya sering kok naik ojek kayak gini."


"Tapi, Nya, nanti kalau Tuan besar tahu gimana? Nanti bisa-bisa saya yang kena marah tuan besar."


"Nggak akan ketahuan kalau bapak tidak mengadu. Lagian kalau dia tahu, bilang saja kalau saya yang memaksa."


"Tapi, nya...."


Kania tak menghiraukan ucapan sopir suaminya lagi dan langsung turun dari mobil menuju ke pangkalan ojek tersebut. "Pak, tolong antar saya ke rumah sakit Cipta Medika" ucapnya pada salah satu tukang ojek.

__ADS_1


"Boleh, Bu. Mari silahkan naik." memberikan sebuah helm pada pengguna jasanya itu.


Kania mengenakan helm yang disodorkan tukang ojek tadi di kepala lalu naik ke atas motor. "Jalannya agak cepet dikit ya, pak. Saya buru-buru soalnya."


tukang ojek menganggukkan kepala lalu melajukan motornya dengan kecepatan agak tinggi.


Si sopir hanya bisa menghela nafas berat melihat kenekatan nyonya besarnya. "Kenapa nggak sabaran benget sih, Nya? Nanti kalau celaka gimana? Belum lagi kalau nanti tuan besar tahu."


"Saya harus melaporkan hal ini pada tuan besar. Takutnya nanti beliau makin marah kalau tahu saya sengaja menutupi perbuatan istrinya ini."


Pak sopir pun mengambil ponsel dari saku dan menghubungi Abhimana untuk memberitahukan hal ini. Setelah selesai, ia melanjutkan perjalanan lagi kebetulan mobil di depannya sudah melaju lagi.


...****************...


Kania berlari cepat menuju ruangan Farrel begitu ia turun dari ojek. Nafasnya terlihat memburu begitu sampai di ruangan itu. "Farrel, kau sudah bangun, nak," ucapnya saat pintu ruangan terbuka.


Farrel yang saat itu baru selesai berganti pakaian di bantu oleh salah satu perawat pun mengalihkan pandangan ke arah pintu. "Tante?" ucapnya, kedua alis mata saling bertaut. "Tante datang ke sini lagi?."


Hati Kania bagai teriris pisau belati yang tajam melihat putra kandungnya sendiri tak mengenali dirinya dan malah memanggilnya dengan sebutan Tante. Namun ia tak mau terlalu larut dalam kesedihandan fokus pada kesembuhan putranya.


Dihapusnya setitik air mata yang jatuh dari kedua kelopak mata dan segera menghampiri putranya. Tak lupa senyuman manis ia sunggingkan di bibir agar tak meimbuat putranya itu curiga. "Pagi, Farrel, kamu sudah sarapan belum?."


"Belum, tante. Aku baru saja bangun saat perawat tadi datang."


Kania mengangguk mengerti. "Biar Bunda yang suapi kamu, ya?" ucapnya sambil mendudukkan diri di samping putranya. Walau putranya masih belum mau memanggilnya dengan sebutan bunda, namun ia tetap menyebut dirinya sebagai bunda."


Farrel terlihat menganggukkan kepala setuju. "Kalau tante tidak keberatan, boleh!."


Kania tersenyum teduh. "Tentu saja bunda tidak keberatan. Justru bunda merasa senang kalau kau tak menolak untuk bunda suapi."


Tanpa banyak bicara, Kania mengambil nampan berisi makan diatas nakas lalu menyodorkan sesendok makanan ke mulut putranya. "Buka mulutmu, nak!."

__ADS_1


Farrel membuka mulut dan menerima suapan makanan dari Kania.


Kania tersenyum bahagia. Ia merasa melihat sosok Farrel yang sedang bergelayut manja di pangkuannya saat sedang disuapi makan olehnya saat masih kecil dulu. Setitik air mata keharuan pun meluncur sukses di pipi.


Melihat air mata yang jatuh di pipi Kania, sontak Farrel mengulurkan tangan dan menghapus air mata itu. "Kenapa tante malah menangis?" tanyanya.


Kania menggeleng. Di genggamnya tangan sang putra yang menyentuh pipinya, seakan tak ingin momen itu cepat berlalu. "Tidak apa, nak. Bunda hanya teringat saat kamu masih kecil dulu."


Farrel tersenyum tipis. "Maaf, tante, kalau boleh tahu, kenapa dari kemarin tante selalu menyebut diri tante sebagai ibuku?" tanyanya penasaran.


"Karena bunda memang ibu kandungmu" jawab Kania cepat.


"Maafkan saya, tante. Tapi saya betul-betul tidak ingat apapun tentang tante."


Kania mengusap air matanya. "tidak apa! Bunda akan terus membantumu untuk mendapatkan ingatanmu kembali."


"Tapi kalau bunda boleh minta tolong, tolong jangan panggil tante lagi. Tapi panggillah dengan sebutan bunda. Bunda mohon" ucapnya penuh harap.


Meski tak ingat apapun tentang siapa wanita yang tengah duduk disampingnya itu, namun ia tak tega bila harus menolak keinginan kecil dari seorang ibu. Apalagi sejak ia tersadar, wanita itu terlihat begitu tulus menyayanginya. "Baiklah, mulai sekarang saya akan memanggil anda bunda."


Kania menganga tak percaya. "Kau bilang apa tadi, nak?."


"Bunda" jawab Farrel lantang.


Kania menangis haru, hampir tak percaya dengan pendengarannya. "Tolong ucapkan sekali lagi, nak!" pintanya.


Kembali Farrel mengulang kata-katanya tadi. "Bunda."


Sontak Kania memeluk erat Farrel dan menghujani wajahnya dengan ciuman bertubi-tubi. "Terimakasih banyak, nak, terimakasih. Kau telah memberiku kebahagian terbesar seorang ibu."


Farrel tersenyum tipis menerima perlakuan Kania. Namun hatinya merasa bahagia karena telah memberikan kebahagiaan pada orang di sekitarnya terutama wanita di hadapannya itu. "Jangan berterimakasih seperti itu padaku, bun. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan."

__ADS_1


__ADS_2