
Farrel kembali sadar setelah berbulan-bulan mengalami koma di rumah sakit. Namun saat Kania mencoba mendekatinya, dia tak bisa mengenalinya sama sekali.
Setelah melakukan pemeriksaan singkat, dokter mengatakan bahwa Farrel mengalami amnesia. Namun ia tidak bisa menentukan apakah amnesia yang dialaminya itu bersifat sementara atau permanen. Dokter juga tidak bisa memprediksi apakah ingatannya akan kembali dengan cepat atau tidak sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan.
Mendengar hal itu, Kania sangat syok dan langsung jatuh pingsan. Dengan sigap Dinda mengangkat tubuh sahabatnya dan membaringkannya di atas sofa dibantu oleh beberapa perawat yang ada di sana.
Dokter mendekat untuk memeriksanya. Dinda mempersilahkan dokter memeriksa dan menggunakan kesempatan itu untuk menghubungi Abhimana, suami Kania.
"Halo, Abhi, kau ada dimana sekarang?" tanya Dinda panik saat telepon telah tersambung.
"Aku masih ada di kantor, Din. Ada apa?."
"Datanglah cepat ke rumah sakit sekarang, Bhi, Farrel sudah sadar dari koma."
Abhimana yang mendengar kabar cukup mengejutkan itupun tersenyum bahagia. "Alhamdulillah, syukurlah kalau dia sudah sadar. Aku masih ada raoat penting disini. Nanti kalau sudah selesai aku akan segera kesana."
"Tidak, Bhi, aku mohon datanglah sekarang!. Farrel memang sudah sadar, tapi....."
"Tapi apa?" tanya Abhimana cepat.
"Ah, sudahlah, nanti kau juga akan tahu sendiri. Pokoknya datang saja kesini sekarang juga. Apalagi saat ini Kania sedang jatuh pingsan dan dokter sedang memeriksa keadaannya."
Mendengar kepanikan dalam nada bicara Dinda ditambah dengan adanya kabar bahwa istrinya sedang jatuh pingsan, mau tak mau dia pun ikutan panik. Dan akhirnya ia pun setuju untuk kesana. "Baiklah, aku akan kesana secepat mungkin." Dan sambungan telepon pun terputus.
Abhimana yang saat itu sedang memimpin rapat penting di perusahaan pun terpaksa membubarkan rapat itu dan segera berlari menuju parkiran khusus yang biasa di gunakan oleh kalangan eksekutif perusahaan.
Tanpa memperdulikan kecepatan mobil yang dikendarainya, Abhimana berusaha secepat mungkin agar bisa segera sampai di rumah sakit. Kepanikan yang dialaminya saat mendengar kabar bahwa istrinya jatuh pingsan membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih.
Setibanya di rumah sakit, Abhimana langsung menuju ruang rawat Farrel. Suara hentakan sepatu pentofel yang di kenakannya terdengar menggema di udara. Dan dengan langkah lebarnya, ia bisa sampai di ruangan itu dalam waktu yang cukup singkat.
Brakkk....
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka. Abhimana masuk ke dalam dengan nafas memburu. "Bagaimana keadaan anak dan istriku?" tanyanya cepat.
Mendengar suara pintu terbuka, Dinda menoleh kesana cepat. "Abhi" ujarnya. "Cepat kesini, Bhi. Kania masih belum sadar."
"Astaga!." Abhimana segera berlari menuju ke arahnya dan berlutut di hadapan istrinya. "kenapa Kania bisa sampai jatuh pingsan? Apa yang sudah terjadi tadi?" tanyanya kemudian.
Dinda menghela nafas berat. "Ini dia yang ingin aku sampaikan padamu di telepon tadi tapi aku nggak sanggup untuk mengatakannya."
"Kalau begitu sekarang katakan!."
Kembali terdengar helaan nafas uang cukup berat dari dada Dinda. "Kania sangat gembira saat kami mengetahui kalau Farrel sudah sadar. Tapi kemudian ada sebuah masalah baru yang muncul."
"Masalah apa? Cepat katakan yang jelas. Jangan memberi informasi setengah-setengah " tanya Abhimana cepat, tak ingin terlalu bertele-tele.
"Saat Kania mendekatinya tadi, Farrel tak bisa mengenali siapapun bahkan Kania sendiri. Dokter mengatakan kalau dia mengalami amnesia dan tak tahu apakah amnesia yang dialaminya itu bersifat sementara atau permanen. Mendengar hal itu, Kania langsung syok dan jatuh pingsan."
Mendengar hal itu Abhimana pun ikut syok hingga membuatnya jatuh terduduk. "Astaga Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini?."
Dinda menggeleng lemah. "Aku juga tidak tahu, Bhi."
"Dokter sedang membawanya menuju ruangan lain untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Baiklah! Terimakasih karena sudah mau menjaga istri dan anakku disini."
"Sama-sama, Bhi. Kania itu sudah seperti saudaraku sendiri, jadi tidak perlu mengucapkan terimakasih padaku."
Pintu ruangan kembali terbuka, menampakkan seorang pria dibaliknya yang langsung berjalan menghampiri Abhimana.
"Maaf, Tuan, ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada anda."
"Katakan!."
__ADS_1
Namun pria itu tak juga membuka suara dan malah menundukkan kepala.
Melihat hal itu Abhimana langsung mengerti bahwa hal yang ingin di sampaikan oleh pria itu benar-benar hal penting dan tak boleh ada orang lain yang mengetahuinya selain dirinya. "Baiklah, kita bicarakan hal ini di tempat lain," ucapnya.
Lalu ia berbalik menatap Dinda. "Dinda, aku minta tolong sedikit padamu. Sementara aku pergi, tolong jaga Kania di sini. Aku janji tidak akan lama" ucapnya seraya bangkit berdiri.
Dinda mengangguk paham kalau ada hal penting yang harus Abhimana selesaikan. "Pergilah, Abhi. Selesaikan semua urusanmu. Jangan khawatirkan soal Kania. Biar aku yang menjaganya disini."
Abhimana mengangguk. "Terimakasih, Din. Aku percayakan Kania padamu! Kalau begitu aku pergi dulu."
Abhimana melangkah keluar ruangan diikuti oleh pria tadi di belakangnya.
"Katakan! Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan padaku" ucapnya kemudian sesampainya di sebuah tempat yang cukup sepi. Wajahnya berubah dingin seketika."
"Maaf, tuan, tadi saya melihat Nona Nayla memasuki ruang perawatan Tuan muda sebelum dia tersadar."
Abhimana terkejut mendengar perkataan bodyguardnya. "Apa kau bilang, Nayla masuk ke ruangan Farrel?."
"Benar, tuan! Saya melihat Nona Nayla mengajak tuan muda bicara lalu dia pun langsung tersadar."
"Tapi tak lama kemudian Nyonya dan bu Dinda masuk ke dalam ruangan, lalu Nona Nayla segera keluar saat semua fokus pada tuan muda."
"Mmh, jadi Nayla yang sudah membuat Farrel sadar dari koma. Baguslah kalau begitu. Berarti ikatan persaudaraan diantara mereka memang cukup kuat" gumam Abhimana dalam hati.
"Apa ada orang lain yang mengetahui hal ini?" tanyanya kemudian pada bodyguardnya.
"Tidak ada, tuan! Hanya saya dan tuan saja yang mengetahui hal ini. bahkan Nona Nayla sendiri tak menyadari kalau saya mengawasinya sedari tadi."
Ya, sepasang mata yang melihat Nayala masuk ke ruangan tadi adalah milik bodyguard tersebut. Ia memiliki kemampuan untuk menghilang di balik bayangan sehingga tadi Nayla tak menyadari bahwa ia telah diawasi.
"Bagus! Untuk sementara biarkan saja begitu. Biar nanti Nayla aku yang mengurusi. Kamu fokus saja dengan tugasmu untuk mengawasi Farrel. Aku tak ingin ada orang lain.yang mencelakakannya lagi seperti kemarin" ujar Abhimana tersenyum puas dengan hasil kerja bodyguardnya.
__ADS_1
Bodyguard itu mengangguk faham. "Baik, tuan ,saya mengerti! Kalau begitu saya permisi dulu." lalu ia pun berlalu pergi.
Sepeninggal pria tadi, senyum bahagia terlukis di wajah Abhimana. "Ayah bersyukur atas apa yang kau lakukan hari ini, nak. Tanpa sadar kau telah membawa adikmu kembali dari maut. Tunggu saja sampai ayah selesai menyelidiki tentang suamimu laku ayah akan membawamu kembali pulang ke rumah."