Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 41


__ADS_3

Kania merasa begitu sakit saat melihat putranya sendiri tak bisa mengenali dirinya dan malah memanggilnya dengan sebutan Tante. Namun ia tak mau terlalu larut dalam kesedihan. Membantu mengembalikan ingatan Farrel jauh lebih penting daripada hanya meratapi nasib.


Saat tengah menyuapinya, Farrel bertanya kenapa Kania menyebut dirinya sebagai bundanya. Kania pun menjawab bahwa dia memang ibu kandungnya dan meminta Farrel untuk tidak memanggilnya tante lagi, melainkan bunda.


Meski tidak ingat apapun tentang Kania, Namun Farrel bersedia memanggilnya dengan sebutan bunda. Mendengar hal itu, sontak Kania memeluk tubuh Farrel dqn menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi. "Terimakasih karena sudah mau memanggilku bunda, nak" ucapnya penuh haru dengan berlinang air mata bahagia.


Farrel tersenyum kecil, sedikit kikuk mendapat perlakuan seperti itu. " Jangan berterimakasih seperti itu, bund. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." Namun sesuatu dalam dirinya merasa hangat seakan mengenali pelukan Kania tersebut.


Puas saling berpelukan, perlahan mereka melepaskan diri. "Bunda lanjut suapi kamu lagi ya?" ucap Kania. Di usapnya lelehan air mata yang membasahi pipi.


Farrel mengangguk dan menerima suapan dari Kania hingga makanan itu tandas tak bersisa.


Kania meletakkan kembali piring bekas makan Farrel di atas nakas lalu mengambil beberapa butir obat yang tersedia di sana serta segelas air minum. "Sekarang kamu minum obat dulu ya, biar kamu cepet sembuh," ucapnya sambil menyodorkan gelas yang dibawanya tadi ke arah Farrel beserta obat yang harus diminumnya.


Farrel mengambil gelas tersebut beserta obat dan meminumnya langsung kemudian mengembalikannya lagi pada Kania. "Terimakasih, bund."


Kania tersenyum bahagia. Diletakkannya kembali gelas tersebut diatas nakas lalu mengambil album foto yang diambilnya dari rumah tadi.


Duduk kembali di samping sang putra. membuka album tersebut dan memperlihatkannya pada Farrel. "Lihat, nak! Ini adalah foto saat kamu masih kecil" ucapnya. Jari telunjuk mengarah pada sesosok anak kecil di foto tersebut.


Farrel menolok ke album foto tersebut. Begitu takjub melihat foto masa kecilnya. "Jadi ini fotoku saat masih kecil, bund?"


"Iya, nak, ini foto kamu!."


Kania terus membuka lembar demi lembar dari Album foto tersebut sambil mengingatkan Farrel pada semua anggota keluarganya satu persatu.


Farrel mencoba mengingat kembali orang-orang yang berada di foto tersebut. Namun tak ada satupun dari mereka yang ia ingat. Semua nampak buram dikepalanya. Semakin keras ia berusaha mengingat, semakin ia tak mendapat jawaban. Mendadak kepalanya berdenyut nyeri. Hingga kemudian....


"Argkkk...." ia mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya


"Astaga, Farrel. Kau kenapa?" tanya Kania panik. Di letakkannya kembali album foto tersebut sembarangan dan membantu Farrel.


"Aku tidak tahu, bunda. kepalaku terasa sangat sakit" erang Farrel.

__ADS_1


Kania yang terlanjur terserang oleh kepanikan tak bisa berpikir dengan jernih hingga ia kebingungan sendiri. "Ya Tuhan, Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?."


"Bunda, tolongin aku. kepalaku sangat sakit." Farrel terus saja mengerang kesakitan di atas ranjang sambil memegangi kepalanya. Air matanya bahkan keluar karena begitu dahsyatnya sakit yang ia rasakan.


Kania semakin panik. Hingga tanpa sadar ia menggigitbibir bawahnya sendiri. "Ya Tuhan, bagaimana ini? Farrel, katakan apa yang harus bunda lakukan." Farrel tak memjawab pertanyaan Kania dan terus saja mengerang sambil memegangi kepalanya.


Di tengah situasi yang genting, tiba-tiba.....


Brakkk...


Pintu ruangan terbuka, menampakkan Abhimana di baliknya. Ia terlihat sangat terkejut saat melihat putranya mengerang kesakitan seperti itu diatas ranjang. "Astaga! Ada apa ini?."


Mendengar suara pintu terbuka, Kania menoleh ke arah pintu. Dan begitu tahu siapa sosok yang berdiri di baliknya, ia segera berlari ke arahnya. "Mas Abhi, untung kau datang disaat yang tepat. Tolongin Farrel, Mas. Dia sangat kesakitan."


"Lalu kenapa sekarang bunda hanya diam saja? Kenapa tak langsung memanggil dokter tadi?."


"Bunda....bunda sangat panik tadi. Jadi bunda nggak bisa memikirkan hal itu."


Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka dan menampakkaan seorang dokter dengan dua orang perawat di baliknya. "Permisi! Biar kami yang menangani pasien."" ucap dokter.


Sontak Kania menghampiri dokter tersebut. "Tolongin anak saya, dok! Dia terlihat sangat kesakitan."


Dokter mengangguk. "Anda tenang dulu. Biar kami memeriksanya."


Kania menepi memberi ruang pada dokter untuk menjalankan tugasnya. "Anda tenang dulu, tuan muda. Biar kami memeriksa keadaan anda."


Namurn Farrel terus saja memcgerang kesakitan. "Tolongin saya, dok. Kepala saya sangat sakit."


"Iya, saya tahu. Makanya tuan muda tenang dulu" ucap dokter. Lalu beralih memberi perintah pada perawat. "Sus, tolong siapin suntikannya."


"Baik, dok!" mengangguk dan langsung menjalankan perintah dokter. "Ini, dok!" ucapnya kemudian.


Dokter mengambil suntikan itu lalu menyuntikkannya langsung pada Farrel. Perlahan Farrel kembali tenang seiring dengan kesadarannya yang mulai menghilang.

__ADS_1


Kania menghembuskan nafas lega begitu melihat Farrel tak lagi berteriak kesakitan. "Bagaimana keadaan putra saya, dok?" tanyanya kemudian.


"Saat ini tuan muda sudah lebih tenang setelah saya berikan obat penenang tadi. Tapi kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba tuan muda bisa kesakitan seperti tadi?."


"I....itu, dok. Tadi saya berusaha mengembalikan ingatan Farrel lagi dengan menunjukkan potret masa lecilnya dulu bersama keluarga" jawab Kania terbawa. "Tapi kalau boleh tahu, kenapa ya ,dok?."


Doktee menghela nafas. "Menstimulasi ingatan tuan muda agar bisa segera kembali memang baik. Tapi jika tidak dilakukan secara hati-hati malah akan berakibat fatal, apalagi jika kita terlalu memaksakannya untuk mengingat. Karena hal itu malah akan menciderai syaraf-syaraf otak. Akibatnya, ingatan tuan muda malah akan hilang untuk selamanya."


Kania terpaku mendengar keterangan dokter. "Astaga! Kenapa bisa separah itu?."


"Memang itu resikonya, nyonya. Itulah mengapa saya sarankan, jika anda ingin mengembalikan ingatannya, maka lakukanlah dengan perlahan. Biarkan ingatannya kembali seiring dengan berjalannya waktu. Karena itu lebih baik baginya."


Abhimana yang sedari tadi hanya diam mendengarkan mulai angkat bicara saat melihat istrinya masih syok memdemgar keterangan dokter tadi. "Baik, dok, kami mengerti! Lain kali kami akan lebih berhati-hati lagi."


Dokter tersenyum ramah. "Kalau tidak ada yang mau di tanyakan lagi, saya permisi dulu. Ada pasien lain yang harus saya tangani."


"Mari, silahkan, dok!" ucap Abhimana mempersilahkan. Dan dokter beserta perawatnya pun berlalu.


Sepeninggal mereka, Abhimana merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan. "Sudahlah, bunda, jangan terlalu di pikirkan. Yang penting sekarang Farrel baik-baik saja."


"Sungguh, Mas Abhi, bunda nggak berniat untuk membuat Farrel kesakitan seperti tadi."


"Ayah tahu maksud bunda. Tapi sudahlah. Semua sudah terjadi. Yang penting mulai sekarang kita lebih berhati-hati lagi."


Kania mengangguk. "Iya, Mas. Bunda janji tidak akan memaksanya lagi. Tapi ngomong-ngomong kenapa ayah tiba-tiba berada di sini? Memangnya ayah nggak kerja?."


"Tadi maunya sih gitu. Tapi tiba-tiba supir ayah menelepon dan mengatakan kalau bunda nekat naik ojek untuk menerobos kemacetan. Makanya ayah langsung ke sini karena khawatir."


Kania mencebik kesal. "Sopir ayah itu memang ember. Udah dibilangin nggak usah ngadu, masih aja ngadu."


Abhimana tertawa melihat kekesalan istrinya. Dicubitnya kecil ujung hidung sang istri. "Jangan merasa kesal seperti itu padanya. Dia melakukannya karena mengkhawatirkan Bunda. Lagi pula, berkat dia Ayah bisa tiba di sini tepat waktu sehingga tidak terjadi apa-apa pada Farrel kan."


Kania mengangguk setuju. "Iya, yah, itu memang benar!." lalu kembali melesat ke dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2