Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 32


__ADS_3

Keesokan hari Dinda kembali menjenguk Farrel di rumah sakit untuk melihat perkembangannya, sekaligus ada hal yang ingin ia bicarakan dengan sahabatnya itu.


"Bagaimana kondisi Farrel hari ini?" tanya Dinda sambil menghempaskan tubuh di samping sahabatnya.


Kania mendesah lesu. "Masih belum ada perubahan yang berarti. Bahkan aku mulai kehilangan harapan."


Dinda mengusap bahu Kania lembut. "Jangan putus harapan. Percayalah, keajaiban itu nyata! Kalau kau sampai kehilangan harapan, lalu siapa yang akan menjadi penyemangat putramu?."


Kania diam. "Entahlah! Aku tidak tahu."


"Mmh, ngomong-ngomong, kemarin siang aku bertemu dengan Nayla di kafe" ucap Dinda.


"Benarkah?" tanya Kania cepat sambil memandang ke arah Dinda. Bola matanya berbinar bahagia walau Dinda baru mengatakan bahwa ia telah bertemu dengan putrinya. Sinar harapan untuk kembali bertemu kembali muncul.


"Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Bicara apa saja kalian kemarin?" memberondong Dinda dengan berbagai pertanyaan hingga membuat sahabatnya tergelak menahan tawa.


"Hei, non, kalau nanya itu satu-satu, jangan kayak kereta lokomotif gitu. Kamu itu emang bener-bener ya! Nggak pernah sabaran kalau udah kumat rasa pengen tahu-nya."


"Ish, kamu ini!" cebik Kania memajukan sedikit bibir. "Makanya buruan ngomong, biar aku nggak makin penasaran."


Dinda menutup mulut dan berusaha mengatadi tawa. Setelah berhasil, ia pun berkata, "Sebaiknya kita bicara di taman rumah sakit saja. Nggak enak kalau bicara disini. Nanti malah mengganggu," seraya bangkit dari tempat duduk.


Kania mengangguk dan bangkit pula dari kursi, kemudian mengikuti langkah kaki sahabat baiknya.


Berjalan beriringan menuju taman rumah sakit. Baru kali ini Kania mau meninggalkan Farrel sendirian di ruangan semenjak dia dinyatakan koma. Kalau bukan karena rindunya pada sang putri yang sangat di sayanginya, tak mungkin ia mau diajak keluar seperti ini.


Sesampainya di taman, mereka duduk di sebuah bangku yang berhadapan langsung dengan kolam air mancur. "Sekarang katakan padaku, Din, bagaimana pertemuanmu kemarin dengan Nayla?" tanya Kania langsung.


"Keadaan Nayla sehat, ia terlihat bahagia dengan pernikahannya. Saat ini dia tinggal di sebuah apartemen miliknya."


Kania bernafas lega mendengar penuturan sahabatnya. "Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya."


"Oh ya, satu lagi! Sebentar lagi kamu akan segera menjadi seorang nenek, karena saat ini Nayla tengah mengandung. Kalau tidak salah kemarin dia bilang usia kandungannya sudah empat bulan."

__ADS_1


Kania makin terbelalak mendengar kabar tentang Nayla yang di bawakan oleh kawan terbaiknya itu. "Oh ya? Benarkah yang kau katakan tadi kalau sekarang Nayla putriku sedang hamil?" tanyanya setengah tak percaya."


Dinda mengangguk untuk menegaskan ucapannya tadi. "Mmh, itu benar! Dan tidak lama lagi kita berdua akan menimang cucu dari Nayla."


Kania berhambur ke pelukan Dinda. "Aku sangat bahagia mendengar kabar ini, din. Terimakasih karena masih peduli dengan putriku."


Dinda melepaskan pelukan Kania dari tububnya. Wajahnya terlihat tak setuju dengan perkataan sahabatnya. "Hei, kau ini bicara apa? Tentu saja aku peduli dengan Nayla. Dia itu bukan hanya putrimu saja, tapi juga putriku."


Kania terlihat salah tingkah dan segera meralat ucapannya agar tak membuat sahabatnya kesal. "Iya, Maaf! Maksudku putri kita."


"Nah, itu baru bener!" ucap Dinda tersenyum lebar. "Sekarang, kita lanjut lagi pelukannya" merentangkan kedua tangan bersiap menerima pelukan dari sahabat baiknya sehak masih muda."


"Nggak mau!" cebik Kania. "Wes kasep (sudah terlanjur)!" lalu memutar tubuh membelakangi sahabatnya. Tentu ia hanya berpura-pura saja merajuk seperti ini.


"Ayolah, Kania, peluk aku! Jangan marah kayak gitu" ucap Dinda dengan wajah memohon.


Kania tergelak dalam hati melihat sahabatnya memohon seperti itu. Namun ia masih terus berpura-pura merajuk.


Rupanya ancaman yang Dinda katakan tadi cukup jitu untuk membuat Kania takut dan berhenti merajuk, terbukti kini tubuhnya segera berputar dan tangannya terulur menangkap pergelangan tangan Dinda untuk menghentikan langkahnya. "Jangan pergi, aku mohon!" ucapnya penuh harap.


Dinda menoleh, menatap wajah Kania sejenak lalu meledaklah tawanya. "Dari dulu kamu itu memang selalu saja mudah untuk aku kibuli. Lagian siapa juga yang mau cepet-cepet pulang?."


Menyadari bahwa dirinya malah balik kena tipu, Kania mencebik kesal. "Ish, dasar! Dari dulu nggak pernah berubah. kenapa sih kamu selalu saja sukses mengerjaiku sementara aku tidak?."


"Itu karena kamu nggak cukup pintar untuk mengalahkanku."


Kania mendelik makin kesal mendengar kata-kata sahabatnya. Namun ia tak benar-benar marah karena tahu kalau Dinda hanya bercanda dan ingin membuatnya tertawa.


Melihat ekspresi wajah Kania, Dinda segera menghentikan tawa. "Maaf! Aku tadi cuma bercanda."


"Aku tahu kalau kamu hanya bercanda, dan aku juga nggak benar-benar marah padamu. Ya sudah sini, kita lanjut pelukan lagi."


Mereka pun saling berpelukan seakan tak ingin terlepas dalam waktu yang cukup lama. Senyum bahagia tersungging di bibir masing-masing. Sebuah senyuman yang muncul dari tulusnya sebuah persahabatan.

__ADS_1


Sstelah puas, perlahan mereka saling melepaskan berpelukan. "Terimakasih karena masih mau menjadi sahabatku dan selalu peduli denganku. Kau selalu bisa menemukan cara untuk membuatku kembali tertawa. Kau memang sahabat terbaik di dunia" ucap Kania sepenuh hati.


Mendapati pujian dari sahabatnya membuat sifat absurd Dinda kembali kumat. "Siapa dulu dong, Dinda" ucapnya menyombongkan diri sambil menepuk dada dengan gaya yang sangat menyebalkan.


Mata kania membeliak melihat keabsurd-tan sahabatnya yang walau sudah sama-sama tua tapi kadarnya tetap saja sama. Sebuah geplakan pun ia daratkan di lengannya.


Plakkkk....


"Dasar! Dari dulu nggak pernah berubah. Baru di puji gitu aja udah gedhe kepala."


Dinda meringis kesakitan sambil memegangi lengannya yang terkena geplakan Kania tadi. "Auch....sakit Kania, tolongin aku!."


Kania tak menghiraukan ringisan sahabatnya karena ia tahu kalau dia hanya berpura-pura dan ingin mengerjainya saja. "Tau ah, gelap!" ucapnya sambil memutar badan membelakanginya.


Namun ternyata Dinda tak juga berhenti meringis kesakitan hingga akhirnya ia kembali memutar tubuh. "Beneran sakit, Din? Maafin aku ya! Pasti aku tadi kekencengan mukulnya" ucapnya penuh sesal dengan ekspresi khawatir.


Maka meledaklah kembali tawa Dinda. "Ha ha ha, kamu kena tipu lagi! Tubuhku itu kuat! Pukulanmu tadi mana berasa?."


Menyadari bahwa dirinya kembali di tipu mentah-mentah, Kania mencubit lengan Dinda. "Ish, dasar!!!."


"Auch....ampunnnn" teriak Dinda kesakitan, membuat Kania menghentikan cubitannya.


Sejenak mereka sama-sama diam, namun detik berikutnya tawa mereka pecah berderai.


"Jangan pernah leleh untuk membuatku terus tertawa," ucap Kania penuh haru.


Namun keharuan itu kembali hilang oleh tingkah absurd Dinda. "Sebenarnya aku sudah lelah membuatmu tertawa. Aku juga ingin pergi meninggalkanmu. Tapi aku takut kau patah hati lalu bunuh diri."


"Emang iya?."


"Ya iyalah! Kan kamu sudah cinta mati denganku dan tak ingin kehilanganku,." jawab Dinda dengan nada yang sangat menyebalkan.


Meski kesal dengan tingkah sahabatnya, namun Kania memang mengakui hal itu benar. Dan tawa mereka pun kembali berderai.

__ADS_1


__ADS_2