
Berbulan-bulan sudah Farrel dirawat di rumah sakit itu namun ia tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan segera membuka mata. Selama itu pula dengan setia Kania menemani putranya tanpa beranjak sedikitpun. Keinginannya hanya satu, dialah orang pertama yang putranya lihat saat nanti membuka mata .
Pintu ruangan terbuka, menampakkan Abhimana di baliknya. Ia berjalan mendekati istrinya yang tengah tertidur dengan posisi tubuh tertelungkup disamping putranya. Perlahan ia tepuk bahu sang istri untuk membangunkannya.
Kania tergeragap, terbangun dari tidurnya. "Eh, Mas Abhi, sejak kapan ada disini?," tanyanya. Ia lalu mengucek-ucek mata yang terasa masih mengantuk dan menguap lebar. Terlihat sangat gurat kelelahan di wajahnya.
Abhimana sangat miris melihat kondisi sang istri yang semakin hari semakin kurus karena beban berat di hatinya semenjak Farrel dinyatakan koma.
"Pulang dan beristirahatlah barang sejenak di rumah, bunda. Bunda terlihat sangat kelelahan."
Namun Kania malah menggeleng keras. "Tidak, Mas Abhi, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikut mengantuk saja tadi. Tapi sekarang tidak lagi," ucapnya dusta. Padahal terlihat sangat bahwa kondisinya tidak sedang baik-baik saja. Terlebih kantung hitam di bawah mata akibat terus terjaga selama berhari-hari.
"Baiklah, bunda tidak usah pulang. Biar ayah menyewa sebuah ruangan lagi agar bunda bisa beriatirahat di sana. Ayah tidak ingin Bunda jatuh sakit karena kelelahan. Jangan khawatirkan soal Farrel, biar Ayah yang berjaga disini menggantikan bunda. Bunda juga butuh istirahat kan?."
Namun Kania kembali menolak saran suaminya. "Tidak, Mas Abhi. Bunda tidak ingin meninggalkan Farrel barang sekejap. Nanti kalau dia membuka mata tapi bunda tidak ada di sampingnya bagaimana? Bunda tidak ingin hal itu terjadi. Bunda ingin bunda-lah orang pertama yang dia lihat saat nanti membuka mata."
Abhimana menghela nafas berat, menyerah dengan kekeraskepalaan sang istri. "Baiklah, terserah bunda. Tapi sekarang bunda makan dulu ya! Ini ayah bawakan makanan sesukaan bunda. Bunda pasti belum makan juga kan."
Kania tersenyum tipis mendengar ucapan suaminya. Perutnya memang terasa lapar, namun selara makannya seakan ikut hilang bersama tidur oanjang sang putra. "Bunda belum lapar," ucapnya sambil menggeleng pelan.
Melihat sikap sang istri yang masih saja keras kepala dan menolak untuk makan pun menjadi gusar. Padahal sejak kemarin ia belum makan apapun juga. Ia pun yerpaksa mengancam sang istri agar ia mau makan. "Bunda, makan sekarang atau ayah akan membawa bunda pulang dan tak mengizinkan bunda menunggui Farrel di rumah sakit lagi!"
"Tapi, Mas...."
"Tidak ada tapi-tapian. Makan makanan ini sekarang juga!" ucapnya tegas sambil membuka kotak makanan dan mengambil sesendok makanan lalu menyodorkannya ke hadapan sang istri."Buka mulutnya. Biar Ayah yang menyuapi bunda!."
Kania mendesah lesu, tak bisa menolak perintah suaminya lagi. Dengan terpaksa ia membuka mulut dan menerima suapan darinya. Perlahan ia mengunyah makanan tersebut dan menelannya.
Abhimana tersenyum melihat kepatuhan istrinya. "Nah, ini baru istriku yang cantik!" pujinya yang ditanggapi oleh istrinya dengan menyunggingkan senyum tipis.
__ADS_1
Abhimana kembali menyuapi istrinya. Namun baru beberapa suap, dia sudah menolak. "Cukup, Mas Abhi, perutku sudah kenyang."
Tentu saja Abhimana tak menghiraukan penolakan darinya. "Tidak! Pokoknya makanan ini harus habis atau ayah akan membawa bunda pulang ke rumah sekarang!."
Mendengar ancaman suaminya wajah Kania cemberut. "Baiklah, bunda makan lagi!."
Abhimana pun lanjut menyuapai istrinya hingga isi kotak makanan itu habis tak bersisa. "Bagus! Sekarang bunda minum air ini dulu," ucapnya sambil menyodorkan segelas air minum ke hadaoan sang istri.
Kania menerima gelas tersebut dari tangan suaminya dan meminum isinya hingga habis tak bersisa dan mengembalikan lagi gelas tersebut padanya.
"Sudah puas sekarang, Mas?" ucapnya. "Bunda sudah menuruti perintah Mas Abhi dengan menghabiskan makanan itu. Jadi sekarang biarkan bunda untuk tetap berada di sini."
Abhimana mengangguk setuju. "Tentu saja! Ayah tidak akan melarang bunda lagi. Tapi kalau nanti bunda tidak mau makan lagi, maka ayah akan membawa bunda pulang ke rumah."
Kania tak menghiraukan ancaman suaminya dan kembali fokus pada Farrel. Digenggamnya tangan sang putra yang terlihat sangat lemah. Sedang satu tangannya lagi mengusap wajahnya. "Farrel, bukalah segera matamu, nak. Bunda mohon!"
Tak ingin melihat pemandangan menyedihkan yang terpampang di hadapannya, Abhimana memilih untuk segera keluar dan membiarkan istrinya berdua dengan putranya. Bukanya ia tak peduli dengan anaknya sendiri, namun ia tak ingin terlihat lemah di hadapan sang istri.
Tak berselang lama setelah kepergian Abhimana dari ruangan, pintu kembali terbuka dengan menampakkan seorang wanita di baliknya. "Kania!" pekiknya dengan nafas yang memburu.
Sontak Kania menoleh ke pemilik suara yang sangat ia kenal. "Dinda!" pekiknya pula. Lantas ia pun berhambur ke pelukan sang sahabat setia sejak masih muda.
Dinda pun membalas pelukan sahabatnya. "Maafkan aku karena baru bisa menjenguk Farrel sekarang" ucapnya setelah saling melepas pelukan.
"Aku baru tiba di Indonesia semalam. Dan begitu sampai dirumah, aku mendengar kabar kalau Farrel mengalami kecelakaan tragis dan jatuh koma."
Kania memukul lengan sahabatnya pelan. "Dasar! Memangnya kamu menghilang kemana saja selama ini? Kamu tahu nggak, banyak hal yang aku alami selama kamu pergi. Dan aku tak memiliki teman yang bisa aku jadikan tempat berkeluh kesah selain dirimu."
"Maafkan aku. Kalau bukan karena mengikuti suamiku yang sedang mengembangkan bisnis di luar negeri, tak mungkin aku meninggalkanmu seperti ini."
__ADS_1
"Tapi tenang saja! Karena sekarang aku sudah ada disini, kamu bisa menceritakan semuanya padaku" ucapnya sambil menampilkan senyum penuh ketulusan.
Kania berjalan menuju sofa kecil yang tersedia di ruangan itu di ikuti oleh Dinda di belakang. "Aku sangat merindukan Nayla, Din," ucapnya lirih."
Dinda menauykan kedua alis bingung. "Memangnya Nayla kemana? Bukankah dia masih tinggal bersama kalian?."
"Sekarang tidak lagi!" jawab Kania menggeleng pelan. "Mas Abhi sudah mengusirnya dari rumah."
Dinda terkejut mendengar ucapan sahabat. "Tapi kenapa? Apa kesalahannya sehingga Abhimana tega mengusirnya dari rumah?"
Kania mendesah lesu. "Ceritanya panjang, Din."
"Maka ceritakanlah! Aku akan menjadi pendengar setiamu."
Kania tersenyum tipis mendengar jawaban sahabatnya. "Sejak dulu kau memang tidak pernah berubah. Selalu setia mendengarkan keluh kesahku."
Dinda ikut tersenyum melihat senyuman di wajah sahabatnya. "Sekarang katakan, bagaimana ceritanya sampai Abhimana mengusir anaknya sendiri dari rumah."
Kania pun menceritakan semua kejadian mulai dari dimana Nayla membawa Davka ke rumah dan memperkenalkannya sebagai kekasihnya, sampai dengan pengusiran yang dialami oleh putrinya.
Dinda terdiam mendengar cerita sahabatnya. "Aku ikut prihatin atas masalah yang terjadi di keluargamu. Tapi aku percaya, Abhimana pasti memiliki alasan kenapa dia sampai tega melakukan hal itu. Aku sangat mengenal bagaimana dirinya."
"Apapun alasannya, tidak seharusnya dia mengusir anaknya sendiri dari rumah. Kau tahu, aku merasa deja vu saat semua itu terjadi. Kau pasti masih ingat kan kalau dulu aku juga pernah di usir dari rumah oleh Papa?."
Dinda diam, mengerti bagaimana perasaan sahabatnya sekarang. "Kalau kau merindukan Nayla, kenapa tidak kau temui saja dia? Kau kan masih bisa bertemu dengannya di luar?."
"Bagaimana aku bisa menemuinya kalau Mas Abhi selalu mengawasi gerak-gerikku selama dua puluh empat jam. Aku bahkan tidak tahu dimana putriku tinggal sekarang."
Dinda menghela nafas berat, mencari cara untuk mempertemukan Kania dengan putrinya.
__ADS_1
Tiba-tiba terbesit sebuah ide yang cukup bagus di otaknya. "Kau tenang saja, Kania. Aku akan membantumu untuk bertemu dengan putrimu. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."