
Singkat cerita, Dinda pun bertemu kembali dengan Nayla di tempat dimana mereka pernah bertemu kemarin.
"Jadi gimana, Tan? Hal penting apa yang ingin Tante bicarakan denganku?" tanya Nayla usai sedikit berbasa-basi.
"Jadi gini, Nay," Dinda sengaja menjeda ucapannya sejenak untuk mengambil nafas sekaligus memikirkan cara terbaik untuk mengatakan maksudnya.
"Kamu ingat nggak, sebelumnya Tante pernah cerita kan kalau tante pernah bertemu sekali dengan suamimu di kantor?." Dinda memulai pembicaraan dengan mengingatkan Nayla akan ceritanya tempo hari dimana ia bertemu dengan Dave di kantor.
"Iya, Nayla ingat! Lalu kenapa, Tan?."
"Sebelumnya tante mau nanya sama kamu. Kenapa kamu percayakan kursi kepemimpinan perusahaan begitu sama sama suamimu?."
"Ya nggak pa pa sih, Tan. Nayla kan lagi hamil dan nggak bisa sepenuhnya ngurusin kantor. Jadi waktu Dave nawarin bantuan, ya aku terima saja."
"Kalau itu alasanmu, lalu kenapa nggak kamu serahkan saja pada salah satu orang yang paling kompeten dan bisa dipercaya di perusahaanmu? Wakil direktur atau siapa gitu. Mereka kan sudah teruji dan memiliki kemampuan yang bisa diandalkan untuk mengurusi perusahaan. Kenapa kamu malah mengambil resiko besar dengan mempercayakannya pada suamimu yang belum diketahui kemampuannya?."
Nayla tersenyum kecil mendengar argumentasi Dinda. "Tante tenang aja. Nggak usah terlalu berlebihan gitu. Lagian ini juga hanya sementara saja kok, tante. Paling lama mungkin setelah aku melahirkan. Ya itung-itung bantuin Dave biar karirnya bisa berkembang Lagipula dia kan suamiku sendiri."
"Apa itu nggak terlalu beresiko, Nay? Dia itu memang benar suamimu, tapi kalian kan baru saja menikah. Apa kamu sudah tahu betul gimana karakter suamimu?."
"Maksud tante?: tanya Nayla cepat dengan dahi berkerut, tak mengerti maksud dari perkataan Dinda tadi.
"Sebelumnya tante minta maaf sama kamu. Bukannya tante ingin ikut campur atau apa dalam urusan rumah tanggamu. Tapi tante nggak percaya sedikitpun dengan suamimu itu. Tante rasa ada yang tidak beres darinya." Dinda terlihat sangat serius saat mengucapkannya. Sorot mata tajam semakin mempertegas keseriusannya.
Nayla yang masih belum mengerti arah pembicaraan Dinda pun kembali bertanya, "Maksud tante ini gimana sih? Aku masih nggak ngerti."
__ADS_1
"Masak selama ini kamu nggak ngerasa ada yang aneh dari tingkah laku suamimu?."
Nayla yang tak merasa aneh apalagi curiga dengan sikap Dave pun menggeleng sambil mengangkat kedua bahu. "Nggak tuh. Nayla rasa nggak ada yang aneh dari sikap Dave selama ini."
"Masak kamu nggak ngerasa curiga sedikitpun?" Dinda kembali mengulang pertanyaannya untuk mempertegas ucapannya.
"Beneran, Tan, Nayla nggak bohong. Nayla memang nggak ngerasa ada yang aneh dari sikap Dave. Memangnya ada apa sih?."
Dinda menghela nafas berat melihat kepolosan anak dari sahabatnya itu. Dia memang pandai, tapi sayang dia terlalu mudah percaya dengan orang lain. Dan sayangnya lagi, rasa percayanya itu sudah disalahgunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab.
"Jadi gini, Nay. Sebenarnya, sebelum tante bertemu dengan suamimu, Tante lebih dulu bertemu dengan pak Bagas. Itu, karyawan senior di kantor kamu. Kamu pasti tahu kan?."
Nayla mengangguk-anggukkan kepala sebagai jawaban. "Iya, tan, Nayla tahu. Tapi apa hubungannya Dave dengan pak Bagas? Sumpah, tante, Nayla nggak ngerti sama sekali."
Nayla nyengir kuda melihat kekesalan tantenya. "He he he...maafin, Nayla, tan. Abisnya tante ngomongnya berbelit-belit. Nayla kan jadinya bingung."
Dinda menghela nafas berat. "Ya udah, ok! Sekarang kita kembali ke topik pembicaraan kita tadi."
Dinda kembali memesang wajah serius. Mau tak mau Nayla pun ikut melakukannya juga.
"Jadi gini, Nay. Waktu itu pak Bagas terlihat mencoba mengatakan sesuatu ke tante tapi nggak jadi karena keduluan suamimu datang. Nah pas tante coba tanya lagi, dia malah menggeleng dan bilang bukan apa-apa. Tante lihat dia langsung menundukkan kepala begitu tahu suamimu datang. dan wajahnya juga terlihat sangat ketakutan seperti menghindari bersitatap dengan suamimu."
"Dari situlah tante menduga kalau ada yang tidak beres darinya."
Sejenak Nayla diam, mencoba mencerna kata-kata Dinda barusan. Tapi detik berikutnya ia malah tertawa terpingkal-pingkal. Melihat hal itu, tentu saja Dinda jadi bingung. "Lho, kok malah ketawa? Emangnya ada yang lucu ya?."
__ADS_1
Bukannya diam, Nayla malah makin mengeraskan tawanya hingga membuat Dinda makin kesal. "Kalau kamu nggak berhenti tertawa, tante pukul pakai sepatu tante" ucap Dinda sambil membungkukkan badan mengambil salah satu sepatu yang dikenakannya.
Melihat hal itu, Nayla langsung menutup mulut dan berusaha mengatasi tawanya. "Maafin Nayla, Tan. Nayla nggak bermaksud untuk mentertawakan tante. Hanya saja Nayla rasa tante sedikit berlebihan dalam menanggapi hal itu" ucapnya setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Maksudnya berlebihan gimana?," tanya Dinda bingung. Mata menyipit dengan kedua alis mata saling bertaut.
Nayla membenarkan posisi duduk dan kembali memasang wajah serius. "Dave itu orangnya memang sangat tegas, tan. Dia paling tidak suka melihat orang yang tidak disiplin. Mungkin saat itu pak Bagas ketakutan karena takut Dave akan marah karena ketahuan sedang asyik mengobrol dengan tante di jam kerja" ucapnya panjang lebar.
Sejenak Dinda terlihat memikirkan kata-kata Nayla barusan. Namun detik berikutnya ia kembali angkat bicara. "Ucapanmu mungkin ada benarnya. Tapi Tante rasa ketakutan di wajah pak Bagas bukan hanya karena itu. Tapi memang ada hal lain yang coba ia katakan tapi tidak bisa."
"Kalau hanya karena takut Dave akan marah karena ketahuan sedang asyik mengobrol di jam kerja, tante rasa pak Bagas nggak sampai segitunya."
Melihat Dinda terus mencurigai Dave, lama-lama Nayla tak suka. "Ayolah, tante, berhenti mencurigai Dave terus seperti itu. Dia itu hanya berniat untuk membantuku mengurus perusahaan saja."
Melihat kekesalan di wajah Nayla, Dinda tak bisa bicara apa-apa lagi dan hanya menghela nafas berat. "Tante harap ucapanmu tadi memang benar dan kecurigaan tante memang salah."
"Maaf kalau kamu nggak suka dengan ucapan tante tadi. Tapi tidak ada salahnya kalau kamu memikirkan kembali kata-kata tante tadi."
"Tante hanya mencoba untuk memperingatkanmu. Selebihnya terserah kamu mau percaya atau tidak!."
Tak jauh dari sana, ternyata ada sepasang telinga lain yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Wajahnya terlihat terbakar oleh amarah mendengar isi dari pembicaraan itu.
"Kurangajar! Wanita itu mencoba untuk merusak semua rencanaku. Aku harus menyingkirkannya agar dia tidak menghalangi rencanaku lagi," tekadnya dalam hati. Namun detik berikutnya ia malah berubah pikiran.
"Tidak, menyingkirkan wanita itu terlalu beresiko. Bisa-bisa masalahku malah semakin bertambah. Yang harus aku lakukan adalah mempercepat pengalihan kepemilikan perusahaan. Baru setelah itu aku bisa tenang."
__ADS_1