
Dave meminta data para office boy baru pada Siska, sekretarisnya untuk mencari tahu tentang Langit. Dan setelah mendapatkannya, diketahui bahwa pria yang dicarinya itu bernama Farhan. Namun tanpa ia tahu. Itu hanya sebuah nama samaran saja.
Berjalan menuju pantry hanya untuk mencari keberadaan Langit. Tindakan Dave ini sontak menimbulkan tanda tanya besar dalam benak para karyawan lain. Ada apa seorang bos besar mencari keberadaan karyawan rendahan seperti Langit hingga rela harus ke pantry. Padahal bisa saja ia memanggilnya langsung dari ruangannya.
Sesampainya disana, Dave memerintahkan Langit untuk membuatkannya segelas es jeruk dengan irisan lemon diatasnya. Dan lagi, minuman itu harus memiliki rasa yang sama persis dengan buatan restoran.
Sebuah perintah yang cukup sederhana namun tidak bagi Langit. Mana mungkin ia bisa membuatkan minuman itu jika di tempat ini tidak ada sari jeruk.
Bukannya mengerti dengan alasan Langit, Dave justru semakin menekannya. "Saya tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus membuatkanku minuman itu. Dan dalam waktu lima belas menit, minuman itu harus sudah ada diatas mejaku."
Usai berkata begitu Dave langsung meninggalkan Langit yang sedang kebingungan. "Rasain kamu! Aku akan terus menyiksamu hingga kau tak betah bekerja di perusahaan ini. Ini adalah akibat dari tindakanmu kemarin yang berani bersikap kurangajar padaku," sinisnya.
Sepeninggal Dave dari pantry, Langit memutar otak cepat. "Minuman jeruk dengan irisan lemon diatasnya dengan citarasa restoran! Kalau begitu kenapa aku tidak memesannya saja langsung di restoran. Tinggal nanti aku tuangkan saja isinya ke gelas lain dan mengantarkannya ke ruangannya," gumamnya pelan. "Tapi masalahnya restoran mana yang menyediakan minuman itu?."
Langit tak kehabisan akal. Ia segera membuka aplikasi pencarian di handphonenya dan mencari restoran terdekat yang menyediakan minuman yang dimaksud. Namun sayang, tak ada satupun restoran yang menyediakan minuman itu. Hanya ada satu restoran saja yang menyediakan, dan itu pun tempatnya lumayan jauh.
Tak ingin membuang waktu, Langit segera meluncur ke restoran tersebut dengan mengendarai sebuah ojek yang mangkal di dekat situ.
"Bang, tolong antarkan saya ke restoran xx sekarang!," ucapnya pada salah satu penyedia jasa ojek.
"Wah, itu tempatnya lumayan jauh, Mas. Memangnya anda mampu membayar saya?," ucap tukang ojek memandang rendah lelaki di hadapannya saat melihat pakaian yang digunakannya.
Ingin rasanya Langit menonjok wajah menyebalkan tukang ojek itu. Dia yang seorang anak angkat dari pasangan pengusaha ternama harus menerima penghinaan dari seorang tukang ojek yang penghasilannya tidak seberapa hanya karena pakaian yang sedang dikenakannya saat ini.
__ADS_1
Namun Langit tak ingin membuang energi dengan marah-marah tak jelas. Ia lebih memilih mengeluarkan sepuluh lembar uang ratusan dan menyodorkannya ke hadapan si tukang ojek. "Apa uang ini cukup untuk anda bisa mengantarkan saya ke restoran itu?" ucapnya datar.
Sebuah tindakan yang cukup cerdas tanpa harus membuang energi dan emosi. Menggunakan kelemahan lawan untuk membungkam kesombongannya dan membuatnya tak berkutik.
Dan benar saja, wajah si tukang ojek itu mendadak pucat pasi saat melihat lembaran uang yang dikeluarkan oleh Langit. Ia menyadari bahwa lelaki dihadapannya itu bukanlah orang sembarangan.
"Cu....cukup, tuan. Mari saya antarkan kesana!" ucapnya terbata sambil menerima lembaran uang itu.
Namun ternyata Langit malah menarik kembali lembaran uang yang sudah dikeluarkannya tadi. "Saya hanya akan memberikan uang itu jika anda bisa membawa saya kesana dan balik lagi kesini hanya dalam waktu lima belas menit. Lebih dari itu, maka saya tidak akan membayar anda."
Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Mungkin itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan tindakan Langit saat ini. Ia sudah terlanjur direndahkan. Maka ia jadikan saja kesempatan itu untuk menekan si tukang ojek.
Glekk....si tukang ojek menelan air liurnya sendiri. Mana mungkin ia bisa membawa calon pengguna jasanya hanya dalam waktu sesingkat itu.
Namun si tukang ojek yang sudah terlanjur tergiur dengan banyaknya uang yang akan ia terima itu pun langsung menganggukkan kepala tanpa memikirkan hal lainnya. Mana mungkin ia melewatkan kesempatan emas itu begitu saja.
"Satu juta rupiah hanya untuk mengantarkan satu orang penumpang saja. Mana mungkin aku menolaknya. Seumur hidupku pun aku belum pernah mendapatkan uang sebesar itu walau aku sudah bekeeja keras seharian," gumamnya dalam hati.
"Baik, tuan, saya bersedia!" ucapnya yakin.
Sepakat dengan tawaran tadi, Langit segera memakai helm keselamatan di kepala dan langsung naik ke atas motor.
"Ingat, pak! Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Jadi saya harap anda bisa cepat!" ucap Langit saat sudah berada diatas motor.
__ADS_1
Si tukang ojek menganggukkan kepala dan langsung melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Ia tak peduli lagi dengan omelan para pengguna jalan lain karena cara menyetirnya yang ugal-ugalan. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana bisa sampai di restoran itu tepat waktu agar uang yang sudah ditawarkan benar-benar berada di tangan.
Langit sendiri tak mempersoalkan cara mengemudi si tukang ojek. Sebab dia sendiri pun kini sedang berpacu dengan waktu.
Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di restoran itu. Langit segera masuk ke dalam dan memesan minuman yang dimaksud. Dan tak lama kemudian ia kembali lagi menghampiri si tukang ojek sambil menenteng pesanannya di tangan.
"Ayo cepat kita balik lagi, pak! Waktu kita tinggal beberapa menit lagi," ucapnya sambil naik kembali ke atas motor.
Si tukang ojek memganggukkan kepala dan kembali melajukan motornya dengan kecepatan yang sama pula. Hingga kurang dari waktu yang telah disepakati tadi ia berhasil tiba kembali di tempat asal.
Langit segera turun dari motor dan mengembalikan helm yang dikenakannya. Lalu ia memberikan uang yang sudah dijanjikannya tadi.
Si tukang ojek menerima uang itu dengan hati gembira. Namun saat ia menghitung uang itu, ia dibuat makin bingung. "Lho, tuan. Ini uangnya lebih dari yang sudah kita sepakati tadi," ucapnya.
Langit tersenyum tipis mendengar ucapan si tukang ojek. Ia memang sengaja melebihkan ongkos ojek yang sudah ia janjikan tadi.
"Tidak apa, anggap saja itu sebagai rasa terimakasih saya karena anda berhasil mengantarkan saya tepat waktu," ucapnya tanpa beban. "Lain kali, jangan melihat orang hanya dari penampilannya saja. Bisa saja orang yang anda rendahkan itu adalah orang yang tak pernah anda duga dan sedang dalam misi penyamaran."
Si tukang ojek merasa sangat tertampar oleh kata-kata Langit. Sontak ia pun menundukkan wajah karena malu. "Maafkan sikap saya tadi, tuan. Saya janji, lain kali tidak akan melakukan kesalahan yang sama."
Langit kembali menyunggingkan senyuman, menepuk bahu si tukang ojek dan berlalu pergi.
Melangkah cepat memasuki area perusahaan. Langit melirik sekilas ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu yang tersisa hanya kurang dari satu menit saja. "Gawat! waktuku tinggal sedikit lagi. Aku harus lebih cepat lagi."
__ADS_1