Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 31


__ADS_3

Keesokan hari Nayla bersiap menemui Dinda di tempat dan waktu yang disepakati. Dengan mengenakan jubah warna peach dengan motif bunga yang dipadukan dengan hijab lebar polos dengan warna senada ia pun berangkat ke sana.


Sesampainya di kafe itu, Nayla tak mendapati sosok Dinda di sana. "Tante Dinda mana ya? kok belum datang," gumamnya dalam hati lalu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ah, mungkin dia masih ada di jalan. Biar aku tunggu di dalam. Mungkin sebentar lagi dia nyampek."


Nayla pun duduk di sebuah meja yang masih kosong dan memesan segelas minuman.


Tak berselang lama Dinda menampakkan diri di pintu masuk. Nayla memanggilnya sambil melambaikan tangan. "Tante Dinda, sini!."


Dinda tersenyum lalu melangkah mendekati Nayla dan menghempaskan tubuh di kursi di hadapannya. "Maaf nungguin lama. Tadi Tante terjebak macet."


Nayla tersenyum mendengar ucapan Dinda. "Tidak apa, tan. Nayla juga baru datang kok."


"Oh ya, hal penting apa yang ingin Tante bicarakan denganku?."


Dinda tertawa kecil mendengar pertanyaan putri dari sahabat baiknya. "Kamu ini nggak sabaran banget. Kita ini udah lama nggak bertemu lho. Emangnya kamu nggak ada keinginan buat nanyain kabar tante?."


Nayla tersenyum kikuk mendengar ucapan Dinda yang mengandung sindiran untuknya. "Maafin Nayla, tan. Nayla terlalu penasaran dengan apa yang ingin tante bicarakan denganku sejak kemarin. Jadinya kelupaan deh nanyain kabar Tante," ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Dinda mencebikkan bibir ke samping. "Dasar! Emak sama anak sama saja." Membuat Nayla malah tertawa melihatnya.


"Oh ya, gimana kabar tante dan keluarga?" tanya Nayla kemudian setelah berhasil mengatasi tawanya.


"Alhamdulillah, kabar tante dan keluarga baik-baik saja. Kamu sendiri gimana? Sehat?."


"Alhamdulillah, tan, Nayla sehat."


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya ntrgomong-ngomong, selamat ya atas pernikahanmu. Kemarin Tante sudah bertemu dengan suamimu di kantor."


"Makasih banyak ucapan selamatnya, Tan.Tante adalah orang pertama yang memberi selamat pada Nayla" ucap Nayla dengan mata yang berkaca-kaca. Terharu bahwa ternyata masih ada orang yang peduli dengannya setelah kejadian pengusiran dirinya.


Melihat kesedihan di mata Nayla, Dinda menggeser kursi mendekatinya dan mengusap kepalanya lembut. "Tante sudah memdengar semua yang terjadi padamu dari bundamu. Tante turut prihatin mendengarnya. Kamu yang sabar ya! Ayahmu pasti punya alasan sendiri di balik tindakannya ini."

__ADS_1


Nayla tersenyum tipis mendengar ucapan Dinda lalu segera menghapus air matanya kembali tak ingin membuat anak dalam kandungannya ikut merasakan kesedihannya.


"Oh ya, kata suamimu kemarin saat ini kamu sedang hamil ya?" tanya Dinda mengalihkan topik pembicaraan agar Nayla tak terlalu tenggelam dalam kesedihan.


Nayla mengangguk. "Iya, Tan. Sekarang usianya sudah empat bulan," jawabnya sambil mengusap perutnya lembut.


"Wah, berarti lima bulan lagi Tante akan memiliki cucu darimu. Rasanya sudah nggak sabar buat menimangnya nanti. Kalau bundamu tahu, pasti dia sangat bahagia. Secara kamu kan tahu sendiri kalau sudah lama bundamu ingin menimang cucu darimu," ucap Dinda dengan mata berbinar. "Boleh nggak tante mengusap perutmu?."


"Boleh, Tante, silahkan!" jawab Nayla sambil menganggukkan kepala dan mempersilahkan Dinda mengusap perutnya.


Dinda pun meletakkan telapak tangan di atas perut Nayla lalu mengusapnya lembut dan mengajak bayinya bicara. "Hai cucu Nenda, apa kabar?."


Nayla mengernyitkan dahi mendengar kalimat yang diucapkan oleh sahabat Mama-nya. "Nenda itu apa, tan?."


"Nenda itu artinya Nenek muda. Secara Tante kan masih cantik dan kelihatan muda. Nggak kalah cantik sama kamu kan."


Nayla melongo mendengar jawaban Dinda.Namun detik berikutnya tawanya pecah berderai. "Dapet kosakata dari mana itu, tan? Lucu banget namanya."


"Tapi emang benar sih. Tante emang kelihatan awet muda. Dan julukan itu juga cocok dengan Tante," ucap Nayla setelah tawanya berhenti. "Kalau gitu, entar kalau anakku sudah lahir, dia akan memanggil ,tante dengan sebutan Nenda."


Dinda bertepuk tangan bahagia seperti seorang anak kecil yang senang setelah di beri permen mendengar ucapan Nayla. "Bagus! Janji ya, nanti anakmu harus manggil tante denganc sebutan Nenda."


"Iya, Tante, Nayla janji!"


"Oh ya, ngomong-ngomong apa kamu nggak ingin bertemu dengan Ayah dan bundamu lagi. Mungkin dengan kamu menemui mereka, ayahmu akan memaafkanmu dan menerima pernikahanmu."


Mendengar pertanyaan Dinda, wajah Nayla kembali di selimuti kabut duka. Wajahnya tertunduk ke bawah. "Entahlah, tan, Nayla masih takut untuk menemui mereka. Nayla terlalu malu karena sudah mengecewakan hati ayah."


Dinda menghela nafas berat mendengar ucapan Nayla. "Orang tua mungkin marah dan kecewa dengan anaknya. Tapi mereka tidak pernah membenci anaknya."


Nayla mengangguk. "Nayla tahu, tan, hanya saja.... Ah sudahlah! Nanti kalau anakku sudah lahir dan aku merasa sudah siap, aku akan menemui mereka dan meminta maaf."

__ADS_1


Dinda mendesah pelan, tak ingin memaksa Nayla lagi. "Kalau kamu belum ingin bertemu dengan ayahmu, Tante tidak akan memaksa. Tapi setidaknya bicaralah dengan bundamu, Kasihan dia. Dia terlihat sangat sedih karena berpisah denganmu. Apalagi sekarang adikmu Farrel jatuh koma."


Nayla terkejut dan tak percaya mendengar kabar yang di ucapkan oleh Dinda barusan. "Tante tadi bilang apa? Farrel jatuh koma? kok bisa? bagaimana ceritanya?" tanyanya beruntun.


Melihat keterkejutan Nayla, membuat Dinda balik terkejut. "Jadi kamu belum mendengar kabar ini?."


Nayla menggeleng lemah. "Belum, tante. Justru Nayla baru mendengarnya sekarang dari tante" jawabnya lirih.


"Astaga, ya Tuhan!" pekik Dinda tertahan, menepuk jidatnya sendiri.


"Tolong katakan padaku, tante, bagaimana keadaan Farrel sekarang? Dan kenapa dia bisa jatuh koma?" tanya Nayla penuh kekhawatiran.


Dinda pun menceritakan peristiwa kecelakaan yang menimpa Farrel dan bagaimana kondisinya sekarang. Namun ia tak pernah tahu alasan dibalik kecelakaan yang menimpa Farrel. Hanya Abhimana dan para bodyguard saja yang tahu, dan dia tak membiarkan siapapun mengetahui penyebabnya.


"Astaga, Farrel!" pekik Nayla sambil menutup mulut mendengar kabar tentang kondisinya. "Kenapa bisa separah itu?."


"Itu dia, Nay. Makanya tadi tante memintamu untuk menemui Bundamu dan menghiburnya."


"Tolong antarkan Nayla ke rumah sakit sekarang, tan. Aku ingin melihat keadaannya."


Dinda mengangguk. "Baiklah! Ayo tante antar kamu ke sana sekarang."


Dinda bangkit dari kursi, diikuti oleh Nayla. Namun detik berikutnya Nayla jusyru kembali duduk hingga membuat Dinda bingung. "Kenapa kau malah duduk lagi, Nay? Bukankah tadi kau ingin tante mengantarmu ke rumah sakit?" tanyanya.


"Maaf, tante. Tapi Nayla tidak bisa!." ujarnya sambil tertunduk sedih.


"Tapi kenapa?."


"Pasti ada ayah juga disana. Dan Nayla belum siap bertemu dengannya."


Dinda menghela nafas berat. "Baiklah, Terserah kamu! Tante tidak akan memaksa. Tapi tante sangat berharap agar kau mau menjenguk adikmu barang sebentar saja. Mungkin dengan kehadiranmu nanti dia mau membuka mata lagi."

__ADS_1


__ADS_2