
Dave mengajak Nayla beserta Mama-nya untuk pindah ke rumah baru yang di belinya kemarin. Sesampainya disana, Nayla begitu terpukau dengan kemewahan rumah itu.
Namun saat Dave menyebutkan harganya, Nayla terlihat tak suka. "Rumah ini terlalu berlebihan, Dave. Bukankah aku sudah bilang untuk membeli sesuai dengan kebituhan kita?."
Bukannya merasa bersalah, Dave malah mengeluarkan kata-kata manis yang membuat Nayla tak bisa marah. Apalagi Natasha, Mama mertuanya juga ikut mendukung tindakan Dave.
Nayla hanya bisa mendesah pasrah dengan sikap mereka. Mau tak mau ia menyetujuinya. "Ya sudah, tidak apa. Toh rumah ini juga sudah terlanjur kita beli. Sekarang mana sertifikatnya? Aku ingin melihatnya sekarang."
Mendengar permintaan istrinya yang harusnya sudah bisa di duga, Dave terlihat sangat kebingungan. Pasalnya ia tak mengira kalau Nayla akan menanyakannya. "Em...anu, Nay, sertifikatnya sekarang tidak ada di tanganku" jawabnya gelagapan sambil garuk-garuk kepala.
Nayla menautkan kedua alis. "Jangan bercanda kamu! Maksudnya tidak ada di tanganmu itu gimana, Dave? Ini itu dokumen penting. Kenapa kamu bisa seceroboh itu?" geramnya sedikit emosi.
Melihat istrinya mulai emosi, Dave berpikir cepat untuk mencari alasan yang tepat. "Anu, Nay, maksudku tadi itu sertifikatnya sudah aku simpan di tempat yang aman. Jadi kamu nggak perlu khawatir lagi." Untuk saat ini hanya alasan itu yang terlintas dipikirannya.
"Iya, aku tahu. Tapi kamu simpannya itu dimana? Aku juga kan ingin lihat."
"Ada deh, di suatu tempat pokoknya. Yang jelas, tempat itu tempat yang paling aman. Percaya padaku!" ucap Dave kembali berusaha meyakinkan istrinya.
"Tapi...."
Melihat gelagat yang ditunjukkan Dave sedari tadi, Natasha menduga bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh anaknya. Ia pun turut membantunya untuk berkelit.
"Udahlah, Nay, percaya dengan suamimu" ucapnya memotong kata-kata Nayla. "Kalau dia bilang sudah menyimpannya di tempat aman, ya kamu harus percaya."
Nayla diam tak berkutik mendengar ucapan Mama mertuanya. Ingin membantah tapi tak bisa. Entahlah, Nayla sendiri tak tahu.
Melihat kebungkaman istrinya, Dave menggunakan kesempatan itu untuk mengalihkan perhatiannya. "Oh ya, Nay, bukannya tadi kamu bilang capek? Kalau begitu lebih baik kamu istirahat saja di kamar. Kan katanya tadi nanti sore kita mau bersantai di taman rooftop?."
Nayka kembali mendesah lesu. "Ya sudah, aku istirahat di kamar dulu!."
"Yuk aku antar ke kamar kita" ucap Dave seraya bangkit dari tempat duduknya. "Lagian tadi kamu kan belum tahu yang mana kamar kita."
__ADS_1
Nayla mengangguk mengiyakan. "boleh!" jawabnya. Ia pun berjalan beriringan sambil berpegangan di lengan kekar sang suami.
Dave memberi isyarat pada Mama-nya agar menunggunya disana karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Namun sayang Nayla tak ikut melihat isyarat itu.
Tibalah mereka di kamar yang paling besar di antara kamar-kamar yang ada di rumah itu. Sebuah kamar yang terletak di lantai dua. Dave membukakan pintu dan mempersilahkan istrinya masuk dulu. "Ini adalah kamar kita, Nay. Masuklah! Semoga kamu suka dengan kamarnya" ucapnya sambil merentangkan tangan.
Nayla pun melangkah memasuki kamar itu. Sesampainya di dalam, ia mengakui jika kamar itu memang benar-benar luas dan nyaman. Dan ia sangat menyukai kamar itu. Bahkan karena kenyamanan yang dirasakannya itu, ia mulai lupa dengan persoalan sertifikat rumah tadi. Ia pun langsung merebahkan tubuh di atas ranjang dan merasakan kenyamanannya.
Dave mengikuti langkah kaki istrinya di belakang dan membiarkannya merasakan kenyamanan dari ranjang yang tengah di tidurinya. "Bagaimana, Nay? apa kau suka dengan kamar ini?" tanyanya setelah beberapa saat.
Nayla menganggguk. "Iya, Dave, aku sangat suka!" jawabnya dengan senyum mengembang. "Kamar ini benar-benar nyaman."
Dave tersenyum mendengar jawaban istrinya. "Syukurlah kalau kamu suka." Lalu ia menarik selimut dan menggunakannya untuk menutupi tubuh Nayla hingga batas dada. "Sekarang beristirahatlah! Aku mau menemui Mama sebentar."
Nayla mengangguk lalu mulai memejamkan mata. Dave mendaratkan sebuah kecupan singkat di dahi istrinya sebelum berlaku pergi.
Turun kembali ke lantai dasar dan berjalan memghampiri Mama-nya. Dave disambut oleh Natasha dengan waiah masam. Kedua tangan terlipat di depan dada dan posisi kaki saling menumpuk. "Jelaskan semua yang terjadi hari ini pada Mama? Jangan coba-coba untuk menyembunyikan sesuatu!."
Dave tersenyum miring mendengar ucapan Mama-nya. "Tenang dikit, Ma. Aku pasti jelaskan semuanya. Masak sama anak sendiri nggak percaya" ucapnya sambil menghempaskan tubuh diatas kursi di seberang Mama-nya. Sengaja menggunakan balik kata-kata yang dilontarkannya tadi pada Nayla.
Natasha terasa tertikam oleh kata-katanya sendiri. Ia pun merubah ekspresi menjadi sedikit lebih tenang." Baiklah, maaf! Sekarang jelaskan semuanya!"
Dave tersenyum melihat perubahan sikap Mama-nya. Menegakkan kembali posisi punggung yang semula bersandar di sandaran sofa. Ekpresi wajahnya menunjukkan keseriusan. "Mama tau nggak, aku beli rumah ini dengan menggunakan uang Nayla."
Natasha terbelalak mendengar ucapan anaknya. "Yang bener?."
"Mmh," memjawab hanya dengan deheman. "Dan Mama tau nggak apa yang lebih hebat dari itu?." Sengaja Dave berteka-teki untuk membuat Mamanya makin penasaran.
"Apa?."
"Aku membuat namaku sebagai satu-satunya pemilik dari rumah ini."
__ADS_1
"Apa kau bilang?," Natasha makin terbelalak tak percaya dengan pengakuan anaknya. "Jadi ini alasan kenapa tadi kamu terlihat begitu gugup saat Nayla menanyakan soal sertifikat rumah?."
"Mmh" kembali Dave menjawab hanya dengan deheman saja.
Mengertilah kini Natasha alasan dibalik sikap Dave tadi. Mana mungkin ia akan menunjukkan sertifikat itu pada Nayla, sementara hanya nama Dave saja yang tertulis disana. Bisa-bisa Nayla marah dan curiga dengan niat mereka sebenarnya.
"Bagus, Dave! Mama nggak nyangka, ternyata kamu licik juga," ujarnya sambil tersenyum miring.
Dave tertawa kecil mendengar ucapan Mama-nya. "Siapa dulu yang ngajarin, Mama kan. Berarti Mama lebih licik daripada aku" ucapnya. Lalu tawa mereka pun pecah berderai.
"Ada satu hal lagi yang ingin Mama tanyakan padamu!" ucap Natasha kemudian setelah mereka berhenti tertawa. Kembali memasang wajah serius.
"Apa, Ma?" tanya Dave, ikut memasang wajah serius pula.
"Akhir-akhir ini Mama lihat kamu makin dekat dan mesra dengan Nayla. Jangan bilang kalau sekarang kamu benar-benar jatuh cinta padanya."
Tawa Dave pecah berderai mendengar pertanyaan Mama-nya yang baginya terdengar sangat konyol. "Jadi ini yang ingin Mama tanyakan padaku? aku kira masalah apa tadi."
"Jangan tertawa, Dave!" bentak Natasha. Tak suka melihat Dave mentertawakannya. "Jawab saja pertanyaan Mama."
Sontak Dave menghentikan tawa. "Maaf, Ma. Baiklah, Dave akan jawab!"
"Dave tegaskan ke Mama, Dave tidak jatuh cinta pada Nayla, dan tak kan pernah" ucapnya tegas.
"Jangan coba-coba bohongin Mama, Dave! Mama bisa menilainya." Natasha sangsi dengan pengakuan Dave.
"Ayolah, Ma. Percaya Dave! Ini semua hanya bagian dari rencana kita. Bukankah Mama sendiri yang bilang kalau kita harus bermain cantik?."
Natasha diam tak berkutik. Mendengar ucapan telak dari anaknya sendiri. "Baik, untuk sekarang Mama percaya dengan kata-katamu. Tapi Mama akan selalu mengawasimu."
"Lakukan apa saja yang ingin Mama lakukan," ucap Dave tak ingin berdebat.
__ADS_1
"Ingat, Dave! Cinta hanya omong kosong belaka. Perasaan itu hanya akan membuat hidup kita hancur. Dan Mama tidak akan membiarkanmu menghancurkan semua rencana kita hanya gara-gara perasaan itu."
"Terserah apa kata Mama. Aku tidak peduli!" ucap Dave, bangkit dari kursi dan memilih berlalu.