
Dave sangat bahagia karena akhirnya bisa berjalan dengan normal kembali. Hingga tanpa sadar ia memeluk Nayla. Namun saat kembali sadar, ia segera melepaskan pelukannya.
Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang melihat semua kejadian itu dengan tatapan tak suka dari balik pintu. Dialah Natasha, Mama kandung Dave.
Sepeninggal Nayla dari kamar, Natasha segera masuk dan meluapkan emosi yang sedari tadi ia tahan. "Apa-apaan tadi, Dave? Kenapa kau memeluk Nayla seperti itu?."
Awalnya Dave menanggapi kemarahan Mama-nya dengan santai. Namun semakin lama ia pun ikut tersulut juga. Apalagi selama beberapa hari ini ia berusaha menahan emosi karena Mama-nya tak pernah memperhatikannya selama ia sakit. "Jangan pernah membentakku lagi, Ma. Atau aku akan lupa siapa Mama," ucapnya dengan nada meninggi. Muka merah padam menahan emosi dan mata membulat lebar.
Natasha tak mau kalah. Ia pun semakin meninggikan suaranya. "Apa maksudmu berkata seperti itu, Dave. Mama ini ibu kandung kamu. Ibu yang telah melahirkanmu."
"Mama mungkin adalah wanita yang telah melahirkanku, tapi aku ragu apakah masih pantas untuk menyebut Mama sebagai Mamaku."
"Apa maksudmu berkata seperti itu, Dave?."
"Kalau Mama memang peduli padaku, Mama pasti merawatku selama aku sakit kemarin. Tapi nyatanya apa? Mama tak sedikitpun menunjukkan kepedulian Mama kepadaku. Jangankan peduli, untuk sekadar menanyakan kondisiku pun tidak Mama lakukan kan?."
Natasha terkejut mendengar ucapan Dave. Kata-katanya begitu menohok hatinya. Ia pun mencoba merayu putranya agar tak marah lagi. "Bu....bukan seperti itu, Dave. Mama juga sangat mengkhawatirkan kondisimu," ucapnya dengan terbata-bata. "Ba....bagaimana kondisimu sekarang?," tangan terulur hendan menyentuh putranya.
Dengan cepat, Dave menepis tangan Nayla sebelim sempat menyentuh tubuhnya. "Jangan berlagak sok perhatian lagi padaku, Ma. Kemana aja Mama selama aku sakit kemarin?" bentaknya keras.
Natasha terkejut setengah mati melihat putranya berani bersuara keras padanya. Ini adalah kali pertama Dave berani melawannya. ",D....Dave, kau," ucapnya terbata setengah tak percaya.
Namun detik berikutnya hatinya di penuhi dengan amarah. "Ini semua pasti gara-gara Nayla. Wanita itu sudah mempengaruhi pikiranmu sehingga berani bersikap kurang ajar seperti ini pada Mama."
__ADS_1
Melihat Mama-nya tak menyadari kesalahannya dan malah menjadikan Nayla sebagai kambing hitam, Dave pun semakin emosi. "Jangan pernah menyalahkan Nayla atas kesalahan Mama sendiri, Ma. Semua ini nggak ada hubungannya dengan dia. Justru harusnya Mama berterimakasih padanya, bukan malah memusuhinya. Andai tidak ada Nayla, aku tidak tahu bagaimana keadaanku sekarang."
Melihat putranya membela Nayla mati-matian di hadapannya, Natasha semakin emosi. "Kau lebih memilih membela Nayla daripada Mama?."
"Bukankah sudah aku bilang, semua ini nggak ada hubungannya dengan Nayla. Harusnya Mama itu bisa menyadari kesalahan Mama, bukan malah menyalahkannya."
"Bohong! Kau pasti hanya mencari alasan saja kan!."
"Terserah Mama mau menganggap apa. Yang penting aku sudah mengatakan yang sebenarnya."
Sejenak mereka sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tapi tak lama kemudian Natasha kembali membuka suara, memecah kebisuan itu. "Jadi ternyata memang benar dugaan Mama selama ini. Kau memang benar-benar jatuh cinta padanya," ucapnya dengan bibir bergetar. Mukanya merah padam menahan amarah.
Dave menatap Mama-nya cepat, tak suka dengan kata-kata yang diucapkannya barusan. "Kenapa Mama masih tak mau mengerti juga? Bukankah aku sudah bilang, aku tidak mencintainya, dan tak akan pernah jatuh cinta padanya."
"Lalu kenapa kau memeluknya seperti tadi kalau bukan karena kau mencintainya?" tanya Natasha cepat.
"Bohong!," sentak Natasha tak percaya. "Kau pasti hanya mencari aladan saja kan?."
Dave menghela nafas berat, mengusap wajah kasar. Merasa frustasi tak tahu bagaimana cara untuk memberi penjelasan pada Mama-nya. "Terserah Mama mau menganggapku apa," ucapnya akhirnya.
"Aku tekankan sekali lagi ke Mama, Aku tidak mencintainya dan tak akan pernah bisa."
"Tapi ya, andai memang benar itu terjadi, jangan pernah menyalahkanku atau Nayla atas hal ini. Karena semua ini memang salah Mama. Apalagi Nayla memang wanita yang sangat mudah untuk dicintai."
__ADS_1
Natasha tertegun mendengar ucapan anaknya. Namun detik berikutnya ia segera meminta maaf padanya agar Dave tak lagi marah, atau semua rencananya untuk membalas dendam pada keluarga Abhimana akan berantakan.
Perlahan ia mendekati Dave dan mengusap lengannya pelan. "Maafkan Mama karena tak mempercayaimu, Dave. Tadi Mama hanya terbawa emosi." Wajahnya berubah sendu untuk meyakinkan Dave bahwa ia memang benar-benar menyadari kesalahannya tadi.
Dave tetap diam, tak terpengaruh sedikitpun dengan kata-kata manis yang diucapnya Mama-nya.
Melihat putranya tetap diam, Natasha tak menyerah. Ia terus merayu putranya agar mau berpihak lagi padanya. "Ayolah, Dave. Jangan mengabaikan mama seperti ini. Kau tahu benar kan kenapa Mama sangat membenci kata cinta?."
"Dulu Mama melakukan kesalahan karena Mama jatuh cinta. Kita hidup menderita juga karena cinta. Karena itulah Mama tak ingin kau melakukan kesalahan yang sama seperti yang Mama lakukan dulu."
"Mama hanya tidak ingin hidupmu hancur gara-gara cinta. Karena itulah Mama tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan Nayla. Apalagi dia adalah putri dari Abhimana, orang yang telah menghancurkan kebahagiaan kita."
"Dia telah merenggut masa kecilmu, merenggut kebahagiaanmu, merenggut semua yang kau miliki, merenggut semua dari tangan kita. Apa hatimu tidak merasa terbakar mendengar namanya disebut di hadapanmu? Apa kau tak ingin menuntut balas padanya?."
Natasha terus meracuni pikiran Dave agar kembali berpihak padanya dan mau membalas dendam lagi pada Abhimana dengan mengingatkannya pada penderitaan yang mereka alami saat Dave masih kecil dulu.
Mendengar Mama-nya terus menyebut nama Abhimana secara berulang-ulang, emosi Dave kembali menggelegak. Kebenciannya pada Abhimana yang sempat berkurang karena kehadiran Nayla, kini semakin bertambah berkali-kali lipat.
"Mama tenang saja! Aku tidak akan pernah melupakan semua penderitaan yang kita alami karena perbuatannya. Aku akan menuntut balas pada Abhimana berkali-kali lipat. Aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita. Lalu aku akan menghancurkan keluarganya seperti dulu dia menghancurkan keluarga kita," ucapnya dengan tangan terkepal kuat. Matanya berkilat merah menandakan emosi yang tak terbendung.
Natasha tersenyum bahagia mendengar ucapan anaknya. Sontak ia pun memeluknya. "Terimakasih banyak, Dave. Mama sangat senang mendengarnya. Hanya kau satu-satunya harapan Mama untuk membalaskan dendam kita," ucapnya.
Dalam hati ia tersenyum miring. "Kau telah berani merebut putraku dari tanganku, Nayla. Lihat saja apa yang aku lakukan padamu!" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Perlahan ia pun melepaskan pelukannya dari Dave. "Mama harap kau tidak hanya berkata-kata saja, Dave, tapi juga membuktikannya."
"Tenang saja, Ma! Lihat saja apa yang akan aku lakukan setelah ini" ucapnya dengan bibir tersenyum culas. Bahkan ia sudah lupa dengan semua kebaikan Nayla kemarin.