
Dengan mengenakan pakaian seragam officeboy, Langit resmi bergabung dalam perusahaan itu. Tentu dengan sedikit bantuan dari pak Bagas.
Dengan menyamar sebagai officeboy membuat pekerjaan Langit jauh lebih mudah. Disana ia bisa berbaur dengan lebih mudah dengan para karyawan dan mengorek informasi darinya. Dan selama ia bekerja disana, telah banyak informasi yang ia dapat tentang apa saja yang terjadi dalam perusahaan selama Dave yang memegang kendali.
Penyamaran Langit sangat sempurna. Hingga tidak ada satupun diantara mereka yang mengenalinya. Hanya pak Bagas sajalah yang mengerti siapa dia yang sebenarnya.
Pernah sekali ia bertatap muka dengan Dave secara tak sengaja. Namun ia segera menundukkan kepala dan berlalu.
Davepun tak terlalu mengindahkan keberadaan Langit. Entah karena mereka yang tak pernah bertemu, atau karena memang tak bisa mengenali dirinya.
Namun tujuannya bukan hanya sekedar untuk itu, tapi jauh lebih penting lagi. Dan untuk itu ia harus bisa masuk ke ruang HRD agar bisa mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Berpikir cepat untuk mengatasi masalah tersebut. Hingga kemudian ia teringat akan sesuatu.
"Aha, aku ada ide. Kenapa aku nggak kepikiran ini dari tadi?" ucapnya sambil menjentikkan jari. "Pekerjaanku ini kan memudahkanku untuk masuk ke dalam ruangan itu. Hanya tinggal menunggu saat yang tepat."
Berjalan menuju tempat penyimpanan peralatan kebersihan. Terdengar siulan kecil dari mulutnya untuk menyemangati diri sendiri dan juga agar tak membuat orang lain curiga.
"Hey, kau mau ngapain dengan peralatan itu?" tanya jimmy, salah satu rekan seprofesinya saat ia mengambil alat kebersihan.
Berbalik cepat menghadap Jimmy. Langit terlihat sangat gugup karena ketahuan. Namun ia segera menguasai diri kembali agar tak membuat temannya semakin curiga.
"Oh, ini? Aku mau membersihkan ruangan HRD. Pak Andre memintaku membersihkan tumpahan kopi di sana."
Jimmy terlihat mengangguk-anggukkan kepala. "Oh gitu, ya udah sana buruan, Entar kena semprot pak Andre lagi."
Langit mengangguk singkat lalu berlalu meninggalkan temannya.
Menunggu jam istirahat kantor tiba. Dimana para karyawan akan meninggalkan meja kerja mereka untuk sejenak melepas lelah. Dan tak berselang lama waktu yang ditunggu itu pun tiba. Satu persatu para karyawan mulai meninggalkan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Berjalan perlahan memasuki ruangan HRD sambil berpura-pura menyapu lantai. Sesekali Langit menengok ke kanan dan kiri, memastikan bahwa tidak ada orang lain dalam ruangan itu. Dan setelah yakin bahwa ruangan itu telah kosong, ia langsung menuju rak besar tempat dimana data para karyawan disimpan.
Mencari sebuah data karyawan diantara tumpukan berkas yang menggunung bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi untuk ukuran perusahaan besar seperti Haidar corporation yang tentu saja memiliki ribuan karyawan di dalamnya.
Mencari dan terus mencari, hanya itulah yang bisa Langit lakukan sekarang. Bergerak cepat mencari berkas yang dimaksud, berburu dengan waktu. Sesekali ia menengok ke arah pintu memastikan tidak ada yang masuk.
Lama mencari namun berkas itu tak juga ketemu. Langit hampir saja menyerah dan putus asa.
"Bagaimana ini sekarang? Dimana lagi aku harus mencari berkas itu?" desahnya lesu sambil memgedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Namun kemudian pandangan matanya tertuju pada tumpukan berkas diatas meja kepala HRD.
"Apa berkas yang sedang aku cari ada diantara tumpukan berkas itu?," tanyanya ragu. Namun dengan segera ditepisnya keraguan itu. "Tidak ada salahnya aku coba. Siapa tahu berkas itu memang ada disitu."
Berjalan cepat menuju meja milik kepala HRD. Langit segera mencari berkas yang dimaksud.
Hampir semua berkas yang ada sudah ia buka. Namun berkas yang dimaksud belum juga berhasil di temukan. Hanya tersisa beberapa berkas saja yang belum ia buka.
Bekerja cepat membuka berkas yang tersisa. Hati Langit semakin was-was takut tak berhasil menemukannya. Apalagi ia harus berpacu dengan waktu. Hingga kemudian pada tumpukan berkas yang terakhir......
Menghempaskan tubuh diatas kursi dan mulai membaca berkas tersebut. Namun saat ia hendak membuka lebar berikutnya, tiba-tiba......
Tap
tap
tap
Terdengat hentakan sepatu pentofel menggema di udara yang mengarah ke ruangan tersebut. Dengan cepat Langit merapikan tumpukan berkas yang sudah diacak-acaknya tadi.
Tinggal satu berkas saja yang belum ia rapikan, yaitu berkas milik Dave. Ia sengaja tak merapikannya kembali dan berniat menyembunyikannya di balik baju. Namun tiba-tiba....
__ADS_1
Brakkk....
"Siapa itu?"
Sontak Langit menjatuhkan berkas tersebut dan menoleh cepat ke sumber suara.
"Pak Dave!" ucapnya sedikit gugup saat tahu sosok siapa yang datang. Lalu ia pun menendang berkas tersebut ke kolong meja agar Dave tak melihatnya. "Sedang apa bapak kemari?."
Berjalan menghampiri Langit dengan angkuhnya. Dagu sedikit terangkat untuk menunjukkan kekuasaannya. "Suka-suka saya dong mau kemana. Perusahaan ini perusahaan saya," ucapnya sombong.
Langit ingin muntah rasanya mendengar kata-kata Dave barusan. Ingin rasanya ia menonjok wajah penuh kesombongan di hadapannya itu.
"Heh, kau bilang ini perusahaanmu? Jangan mimpi!," geram Langit dalam hati sangat kesal. "Kau itu hanya benalu yang menumpang hidup pada kakakku. Dan sudah seharusnya untuk segera disingkirkan."
"Maafkan atas kelancangan saya tadi, pak. Saya hanya heran saja, kenapa orang sebesar anda berada di ruangan seperti ini," ucap Langit sambil menunduk menyembunyikan wajah.
"Bukankah sudah aku bilang, terserah aku mau kemana. Jangan berani-berani untuk mengaturku," berang Dave. Ia yang memiliki temperamen cukup tinggi langsung tersulut mendengar kata-kata Langit barusan. "Justru yang harusnya bertanya itu aku. Untuk apa kau berada di ruangan ini?."
"Apa bapak tidak melihat pakaian yang saya kenakan?" tanya Langit cepat. "Saya seorang officeboy. Sudah tugas saya untuk membuat ruangan menjadi bersih."
"Heh, hanya seorang tukang bersih-bersih aja belagu!" sinis Dave, memandang rendah pekerjaan Langit tanpa tahu siapa lawan bicaranya yang sebenarnya. "Ya udah sana, cepat selesaikan pekerjaanmu. Setelah itu tinggalkan ruangan ini!."
Tanpa banyak bicara Langit segera menyelesaikan tugasnya. Namun ekor matanya terus tertuju pada berkas yang berada di kolong meja, mencari-cari kesempatan agar bisa mengambil berkas tersebut. Namun sayang, sepertinya keadaan hari itu tak mengizinkannya untuk bisa mendapatkan berkas tersebut.
Dave yang sedari tadi memperhatikan Langit pun membentaknya karena menganggap kinerjanya yang lambat. "Lama sekali sih kerjaan kamu. Dasar lamban! Mau aku pecat sekarang juga?."
Langit tak berani membantah dan segera menyelesaikan tugasnya. Mana mungkin ia biarkan hal itu terjadi sebelum misinya untuk membongkar semua kejahatan Dave terwujud. Dan setelah selesai, ia pun segera meninggalkan ruangan tersebut.
Sepeninggal Langit, Dave menghempaskan tubuh di atas kursi milik kepala HRD. Dan tanpa sengaja sudut matanya melihat ke arah berkas yang berada di bawah kolong meja.
__ADS_1
"Dasar officeboy tak berguna. Masak kerjanya berantakan begini," sungutnya kesal. Sontak ia pun membungkukkan tubuh dan mengambil berkas tersebut. Namun saat melihat isi bekas tersebut, ia......