
Nayla mengetuk pintu namun tak juga terdengar sahutan dari dalam, hingga dia pun mengulangnya kembali.
Tok tok tok
Ceklek...
Ketukannya kali ini berhasil. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu. " Eh non Nayla" sapanya saat mereka beradu pandang.
Nayla menyunggikan senyum ramah dan bertanya, "Ayah sama bunda ada, bik?."
"Ada, non. Tuan sama Nyonya sedang bersantai di teras belakang. Mari silahkan masuk!."
Nayla pun melangkah memasuki rumah diikuti oleh Dave dibelakang. Namun baru beberapa langkah ia melangkah, Bik Ijah menghentikannya. "Maaf, non Kalau boleh tahu semalam non kemana? Kenapa tidak pulang ke rumah? Apa non tahu, Nyonya terus menangis karena mengkhawatirkan kondisi non."
Mendengar peeyanyaan bik Ijah yang terkesan ingin tahu, Dave pun membentaknya. "Jangan ikut campur urusan majikan! Kau itu hanya seorang pembantu di rumah ini."
Melihat Dave membentak bibik kesayangannya, Nayla pun menegur Dave. "Jangan bersikap kurangajar begitu terhadap orangtua. Dia memang hanya seorang pembantu di rumah ini. Tapi posisinya lebih dari itu di hati kami."
Mendengar Nayla berani menegurnya di hadapan seorang pembantu, Dave pun marah. Harga dirinya sekan terluka karena hal sepele itu. Ia menatap tajam ke arah Nayla. "Kau berani menegurku seperti itu dihadapan seorang pembantu? Padahal aku bersikap seperti itu hanya agar dia lebih menghormatimu dan ingat akan posisinya."
Nayla sangat terkejut mendengar Dave marah seperti itu. Padahal saat menegur tadi dia berusaha agar tak menyinggungnya. "Maafkan aku, Dave. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin kau berkata kasar terhadap bik Ijah. Dia segalanya bagi kami. Dia bekerja dirumah ini jauh sebelum aku lahir, bahkan sejak bundaku masih kecil."
"Alah, bohong! Itu hanya alasanmu saja untuk mempermalukanku di hadapannya kan?." Meski Nayla sudah memberi penjelasan tentang siapa bik Ijah, Namun Dave masih tak percaya dan menganggap itu hanya alasannya saja. Hingga perdebatan pun muncul diantara mereka.
Tak ingin anak majikannya terus berdebat lantaran membela dirinya, Bik Ijah segera melerai perdebatan itu. "Cukup, non, tolong jangan diteruskan lagi. Ini semua memang salah bibik yang sudah bersikap kurang ajar dan sok ikut campur dengam urusan non."
Mendengar ucapan Bik Ijah, Nayla berbalik cepat dan menghampirinya. "Tidak, bik, ini bukan salah bibik. Bahkan aku samgat berterimakasih karena bibik sangat perhatian padaku. Aku mohon bibik memaafkan ucapan Dave tadi."
Dave mendengus kesal melihat sikap Nayla yang lebih membela pembantunya daripada dirinya.
__ADS_1
Tiba-tiba....
"Ada suara ribut-ribut apa ini?" terdengar gelegar suara yang sangat Nayla kenal. Itu adalah suara Abhimana, ayahnya. Rupanya perdebatannya tadi terdengar sampai ke belakang hingga membuat ayahnya keluar.
"A...ayah." Nayla tertunduk takut melihat sosok sang ayah yang tengah berdiri tegap dihadapannya.
Sesaat suasana berubah hening. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Abhimana atau sekedar angkat bicara saat dirinya mengeluarkan suara menggelegar miliknya.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut disini?." Abhimana mengulang kembali pertanyaannya karena tak kunjung mendapat jawaban. Pandangannya tertuju pada Nayla dan Dave bergantian. Namun saat ia melihat pakaian yang dikenakan oleh putrinya, ia mengerutkan dahi. "Kenapa kau memakai pakaian seperti itu, Nayla?.
Tubuh Nayla semakin gemetar ketakutan mendengar pertanyaan ayahnya. Suaranya bagai tercekat di tenggorokan. "Ka....kami baru saja melangsungkan pernikahan, yah. Dan tujuan kami kemari adalah ingin meminta restu dari kalian" jawabnya dengan terbata.
"Apa?" teriak Abhimana. Matanya terbelalak lebar saking terkejutnya dengan jawaban Nayla.
Bukan hanya Abhimana, Bik Ijah pun sama terkejutnya mendengar berita pernikahan putri majikannya yang telah ia anggap seperti cucu sendiri. Namun ia tak berani ikut campur dan memilih undur diri ke belakang. "Maaf, tuan, non Nayla, bibik pamit dulu ke belakang."
Abhimana mengangguk sekilas, bik Ijah segera berlalu ke belakang tanpa berani menoleh lagi.
Nayla menundukkan kepala. Tak berani menatap Ayahnya. Tangannya meremas pakaian yang dikenakannya untuk mengurangi ketakutan.
Melihat putrinya hanya bungkam sambil menundukkan kepala, Abhimana kembali berucap, "Sejak kecil Ayah selalu memanjakan dirimu. Apapun yang kau minta, ayah selalu turuti. Bahkan ayah pun membebaskan apapun keputusanmu. Apa pernah kami meminta imbalan darimu?."
Nayla menjawab pertanyaan ayahnya dengan menggelengkan kepala.
"Ayah tak pernah mempertanyakan apapun keputusanmu, dan bahkan ayah selalu mendukungnya. Lalu kenapa kau tak bisa bersikap seperti itu juga?."
Nayla tetap bungkam mendengar pertanyaan ayahnya. Sementara Dave hanya menjadi penonton setia pertengkaran antara ayah dan anak tanpa ada keinginan untuk melerai.
Sesaat Abhimana diam, matanya terpejam untuk mengendalikan amarah yang membuncah. Namun detik berikutnya ia kembali angkat bicara. "Seumur hidup Ayah hanya meminta satu hal darimu, jangan menikah denganya. Tapi kau malah membangkang perintah ayah," jari telunjuk mengarah ke arah Davka. Sorot mata penuh dengan kekecewaan.
__ADS_1
Mendengar kekecewaan Ayahnya, meledaklah tangis Nayla. Ia bersimpuh di kakinya dan meminta maaf. "Maafkan aku, ayah, tapi aku benar-benar mencintainya. Aku tak bisa hidup tanpanya. Dia adalah cinta pertama dan terakhirku."
"Setelah ayah, baru kali ini aku jatuh cinta terhadap seorang lelaki dengan begitu dalam. Lalu tiba-tiba ayah memintaku untuk meninggalkannya. Bagaimana mungkin aku bisa menuruti perintah ayah dan menjauh dari cintaku? Katakan padaku ayah, bagaimana caranya?."
Abhimana diam, tak menjawab pertanyaan putrinya. Hatinya ikut merasa perih melihat putrinya meneteskan air mata. Putri yang selalu ia jaga dengan sepenuh hati sejak masih kecil.
Sebenarnya Abhimana tak ingin memutus cinta putrinya. Namun keraguan akan sosok lelaki yang dicintainya membuatnya harus melakukan ini.
Entahlah, ia hanya merasa ada yang aneh dengan lelaki itu. Ia tak menolak, hanya memerlukan sedikit waktu untuk mencaritahu dan menjawab semua keraguannya.
"Melihat kebungkaman Ayahnya, Nayla kembali bertanya. "Kenapa Ayah meminta hal yang sulit dariku? Kenapa ayah menolak Dave?."
"Apa ayah pernah bertanya padamu apapun keputusanmu?" tanya Abhimana balik.
Nayla membisu, tak tahu harus menjawab apa pertanyaan ayahnya.
Sesaat suasana berubah sunyi. Tak ada satupun yang bersuara dan memilih untuk tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Namun kebisuan itu tak berlangsung lama. Helaan abhimana yang terdengar begitu berat mulai memecah kebisuan itu. "Baiklah kalau itu keputusanmu. Ayah tidak akan bertanya apapun lagi. Tapi mulai detik ini tinggalkan rumah ini. Kau bukan lagi bagian dari keluarga ini."
Duarrr...
Bagai tersambar petir di siang bolong. Suaranya begitu memekakkan telinga dan membuat terkejut siapapun yang mendengarnya.
Begitu juga dengan Nayla. Ia sangat terkejut mendengar ucapan Ayahnya. "Tolong jangan katakan itu, ayah. Jangan usir aku dari rumah ini."
Nayla memeluk erat kaki sang ayah, menangis dan memohon agar sang ayah menarik kembali ucapannya. Namun nyatanya air mata itu tak mampu merubah keputusan sang Ayah.
Abhimana memejamkan mata melihat putrinya menangis sedemikian rupa. Namun hatinya terlanjur kecewa dengan tindakan yang diambil oleh putrinya.
__ADS_1
Ia menepis tangan Nayla yang memeluk kakinya. "Singkirkan tanganmu dari kakiku. Mulai sekarang kau tidak memiliki hak itu lagi."
Tenaga yang dikeluarkan oleh Abhimana cukup kuat hingga membuat Nayla terpental dan jatuh di kaki seorang wanita. "Ada apa ini?" tanyanya.