Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 34


__ADS_3

Kania terlihat tengah asyik mengobrol bersama dengan Dinda di taman rumah sakit. Sesekali terdengar gelak tawa akibat tingkah konyol Dinda.


Ini adalah kali pertama Kania kembali tersenyum dan tertawa semenjak putrinya tak bersamanya lagi di rumah. Semua itu berkat Dinda, sahabat terbaik dalam hidupnya, yang selalu memiliki sejuta cara untuk membuatnya kembali tersenyum dan menghapus air mata kesedihan di hatinya.


Puas tertawa dan bercerita, Kania mengajak Dinda untuk kembali ke ruangan Farrel. "Din, kita kembali lagi ke tuangan Farrel, yuk! Aku khawatir terjadi sesuatu kalau meninggalkannya terlalu lama."


"Ya udah, yuk!" jawab Dinda dan langsung bangkit dari atas bangku taman di ikuti oleh Kania. Lalu mereka berjalan beriringan ke sana.


Sesampainya di dalam ruangan, tak ada satupun hal yang mencurigakan, namun saat mereka hendak menghampiri Farrel, Dinda yang memiliki pendengaran super tajam mendengar adanya suara orang mengaduh. "Siapa itu?" tanyanya refleks. Lalu ia pun mencari sumber suara itu.


Melihat sahabatnya celingak-celinguk seperti mencari sesuatu, Kania bertanya, "Ada apa sih, Din? Kamu lagi nyariin apa?"


Dinda berbalik mengahadap Kania lalu menggeleng pelan. Kedua alisnya terlihat saling bertautan. "Nggak! nggak ada apa-apa. Tapi tadi sepertinya aku mendengar suara orang meringis kesakitan.


"Benarkah? Kamu salah dengar aja kali. Lagian mana ada orang yang berani memasuki ruangan ini."


"Tapi nggak mungkin kalau aku cuma salah denger. Aku betul-betul mendengarnya tadi. Masak kamu nggak mendengarnya juga?."


"Nggak tuh!."


Dinda menghela nafas, menepis dugaannya tadi dan memutuskan untuk kembali ke Kania. Nanun baru saja ia melangkah, ia kembali mendengar suara itu. "Tuh kan kedengaran lagi. Sekarang kamu percaya kan kalau tadi aku nggak cuma salah denger?."


Dinda lalu melangkah menuju tirai panjang di sudut ruangan yang diyakininya sebagai sumber suara itu berasal.


Kania geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang selalu curiga demgan segala hal dan tak pernah tenang sebelum memastikan semuanya baik-baik saja.


Kania pun lanjut mendekati putranya. Namun saat ia hendak duduk, tiba-tiba ia melihat pergerakan tangan Farrel. "Astaga, Farrel!" pekiknya sambil membeliakkan mata tak percaya.


"Ada apa, Nia?" tanya Dinda cepat.


"Cepat kesini, Din. Lihat! Farrel mulai sadar."


"Benarkah!" Dinda pun segera melesat meninggalkan tirai panjang yang hampir di sibaknya tadi menuju ranjang Farrel. "Astaga! Kau benar, Nia. Kita harus segera memanggil dokter agar bisa memeriksa keadaanya."


Kania memgangguk, laku menekan tombol di samping ranjang sang putta untuk memanggil bantuan. "Dok, cepat kesini! Farrel mulai siuman."

__ADS_1


"Ini suatu keajaiban, Nia. Baru saja kau kehilangan harapan, tapi sekarang lihat! Putramu malah kembali dari tidur panjangnya" ucap Dinda yang sudah berdiri di samping sahabatnya.


Kania mengangguk setuju. Air mata keharuan merebak di kedua kelopak mata. "Kalu benar, Din. Ini memang suatu keajaiban dari Allah."


Tak lama kemudian dokter beserta beberapa perawat datang dengan tergopoh-gopoh. "Permisi, Nyonya! Biar kami memeriksa keadaan pasien."


Kania dan Dinda mundur dan memberi ruang pada dokter intuk melakukan tugasnya. Namun pandangan mereka tak beralih sedikitpun dari Farrel.


Dokter mengeluarkan peralatannya dan dengan cekatan, mulai memeriksa tubuh Farrel.


"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" tanya Kania setelah dokter usai melakukan pemeriksaan.


"Ini suatu keajaiban dari Tuhan, Nyonya. Putra anda telah kembali dari koma lebih cepat dari yang kami duga."


Kania bernafas lega mendengar keterangan dokter. "Apa saya sudah boleh melihat anak saya?" tanyanya kemudian.


"Silahkan!" ucap dokter lalu mundur beberapa langkah memberi ruang pada Dinda dan Kania untuk mendekat.


"Bagaimana perasaanmu sekarang, nak?" tanya Kania.


Farrel tak menjawab pertanyaan bunda-nya dan hanya menatap dengan pandangan kosong. "Aku ada dimana sekarang?" tanyanya.


Disaat pandangan semua orang tertuju pada Farrel, Nayla yang sedari tadi bersembunyi dibalik tirai pun keluar dari persembunyian berjalan mengendap-endap menuju pintu yang masih terbuka lebar lalu melangkah cepat meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi kebelakang.


Hatinya cukup lega setelah mengetahui bahwa adiknya telah siuman dan kondisinya baik-baik saja. Andai saja ia sedikit lebih berani, tak mungkin ia harus bersembunyi dan mengalami kesakitan seperti tadi.


Sementara itu....


"Auch..." Farrel meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang tertutup oleh kain perban.


Sontak Kania meraih tangan Farrel untuk menghentikannya. "Hati-hati, nak! Kepalamu masih terluka" ucapnya penuh kekhawatiran.


Farrel segera menepis tangan bundanya dari tangangannya dan memandangnya dengan kedua alis saling bertautan. Lalu hal yang tak terduga pun terjadi.


"Kau ini siapa?" tanya Farrel dengan tatapan bingung, seolah tak mengenali bundanya sendiri.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Farrel, kania menganga tak percaya. "Ini bunda, Farrel. Masak kamu nggak bisa mengenali bunda?."


Namun Farrel malah menggelengkan kepala. "Maaf, saya tidak tahu siapa anda" ujarnya.


Melihat hal itu Kania langsung panik. "Jangan bercanda, Farrel. Ini Bunda, ibu kandung kamu!."


"Sekali lagi saya minta maaf! Tapi saya memang benar-benar tidak mengenal anda."


Sontak pengakuan Farrel tadi membuat Kania berteriak histeris. "Tidak, kamu pasti bohong. Tidak mungkin kamu tidak mengenali bunda."


"Dokter, katakan ada apa ini! Kenapa putraku tidak bisa mengenaliku?."


Melihat hal itu, dokter langsung mendekat. "Permisi, nyonya! Biar kami memeriksanya dulu!."


Dengan sigap Dinda menarik Kania mundur dan memberi ruang pada dokter. "Silahkan, dok!."


Dokter segera memeriksa kondisi Farrel dan mengajukan beberapa pertanyaan padanya.


Kania menangis histeris dalam pelukan sahabat terbaiknya. "Katakan kalau semua ini tidak nyata, Din. Farrel tidak mungkin tidak mengenaliku. Aku ibunya. Dia tidak boleh melupakanku seperti ini."


Dinda mendekap erat tubuh sahabatnya dan mengusap punggungnya pelan. Ia tahu bagaimana hancurnya perasaan Kania sekarang melihat putranya sendiri tak bisa mengenali dirinya. Setetes air mata jatuh di atas pipi ikut merasakan pula kehancuran itu.


"Tenangkan dirimu, Nia. Farrel pasti baik-baik saja. Dokter sedang memeriksanya saat ini" ucapnya menenangkan.


"Tapi Farrel tidak boleh melupakanku seperti ini, Din. Aku ibunya!."


"Aku tahu itu, Nia. Tapi aku mohon kendalikan dirimu dan lihat sisi positifnya. Setidaknya putramu sudah sadar sekarang!."


Kania mengusap cepat air matanya dan menarik diri dari pelukan sahabatnya saat melihat dokter usai melakulan pemeriksaan. "Bagaimana keadaan putra saya, dok?" tanyanya cepat.


Dokter terlihat menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya menjawab, "Sepertinya benturan keras yang terjadi di kepalanya membuatnya kehilangan semua ingatannya. Kami tidak bisa memastikan apakah amnesia yang dialami oleh putra anda ini bersifat permanen atau hanya sementara saja. . kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tingkat keparahannya dan memastikan apakah ingatannya bisa kembali atau tidak."


Bagaikan sambaran petir di siang bolong. Kania berteriak histeris mendengar hal itu. "Tidak!!!!!" lalu ia pun jatuh pingsan.


"Astaga, Kania!" pekik Dinda terkejut. Ia segera mengangkat tubuh sahabatnya dan meletakkannya diatas sofa di bantu oleh beberapa perawat tadi. Di tepuk- tepuknya pipi Kania untuk membuatnya kembali sadar. "Kania, sadarlah!."

__ADS_1


Dokter melangkah mendekat. "Biar saya memeriksa keadaanya!."


Dinda mengangguk dan membiarkan dokter memeriksanya. Lalu ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan menghubungi Abhimana untuk memberitahukan hal ini.


__ADS_2