Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 50


__ADS_3

Kania merasa sangat senang saat melihat Langit sudah kembali pulang. Namun mendadak wajahnya berubah sedih saat secara tak sengaja Langit menyebut nama Nayla.


Melihat hal itu, Langit pun bertanya. Namun Kania terus menyangkal dengan mengatakan bahwa semua baik-baik saja.


Setelah sedikit mendesak, akhirnya Kania bersedia menceritakan apa yang terjadi.


Langit manggut-mqnggut mendengar cerita Kania. "Jadi ini alasan kenapa ayah memintaku untuk segera pulang."


"Berjanjilah satu hal, nak! Apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya, bawalah kakakmu kembali pulang ke rumah ini. Bunda serasa mati karena hidup berjauhan dengannya."


Langit menghela nafas. "Tanpa bunda minta pun Langit pasti membawa kembali kak Nayla ke rumah ini" ucapnya mantap.


"Apa kau bersungguh-sungguh, nak?," tanya Kania memastikan. Sorot matanya terlihat penuh harap.


Langit mengangguk mantap. "Langit bersungguh-sungguh. Bunda bisa pegang kata-kata Langit tadi."


Kania sangat bahagia mendengar ucapan Langit. Harapannya untuk berkumpul kembali dengan putrinya kini kembali lagi. Di dekapnya putra asuhnya itu penuh sayang. "Terimakasih banyak, nak. Kau telah memberikan bunda sinar harapan."


"Jangan berterimakasih padaku seperti itu, bund. Aku hanya melakukan apa yang sudah seharusnya aku lakukan."


Perlahan mereka pun saling melepaskan pelukan. "Ayah dimana, bund? Langit ingin bicara dengannya dulu."


"Ayahmu ada di ruang kerjanya. Pergilah kesana dan temuilah dia."


Langit mengangguk dan bangkit dari kursi. Namun saat hendak melangkah, ia melihat Farrel lewat. Sontak ia pun memanggilnya. "Farrel, kau juga sudah pulang?."


Mendengar namanya disebut, Farrel pun langsung menoleh. Tapi saat melihat siapa yang memanggilnya, ia mengernyitkan dahi seolah tak mengenalnya.


Melihat Farrel tak menyahuti panggilannya, Langit datang mendekat. "Kenapa kau hanya diam saja? Mana salaman rahasia kita?" tanyanya dengan tangan terulur bersiap melakukan salam rahasia ala mereka. Namun Farrel tetap saja diam dengan dahi berkerut.

__ADS_1


"Kenapa kau masih saja diam?, ayo salaman!" ucap Langit tak sabar. Namun kata-kata yang meluncur dari mulut Farrel berikutnya membuatnya sangat terkejut. "Kau ini siapa? Apa kita saling mengenal sebelumnya?."


Langit menganga tak percaya mendengarnya. "Kau ini bicara apa? Tentu saja kita saling mengenal. Aku Langit, saudara, sahabat sekaligus rival abadimu."


Farrel menggeleng sambil tersenyum tipis. "Maaf, tapi aku memang tidak mengenalmu."


Langit makin tercengang mendengar jawaban Farrel. "Jangan bercanda lagi, Farrel. Ini sangat tidak lucu! Kita ini satu keluarga, kita tumbuh dan tinggal dalam satu atap yang sama. Bagaimana bisa kau melupakan semuanya?."


"Sekali lagi aku minta maaf! Aku juga sedang tidak bercanda. Tapi aku memang tidak mengenalmu."


Langit sangat marah melihat Farrel tak mengenalinya. Ia masih saja menganggap bahwa Farrel hanya ingin mengerjainya. "Cukup, Farrel. Jangan bercanda lagi. Katakan kalau kau mengenalku atau kau aku pukul!." Tangan menggenggam bersiap untuk memukul.


Bersamaan dengan itu tiba-tiba Farrel merasaian kepalanya berdenyut sakit. Ia pun mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya. "Argk...bunda tolongin aku. Kepalaku terasa sangat sakit."


Melihat hal itu, Kania tak tinggal diam. Ia segera berlari menghampiri mereka dan menghentikan pertengkaran itu. "Cukup, Langit, jangan diteruskan lagi!" sentaknya. Ia pun lantas memegangi lengan Farrel dan menolongnya. "Ayo, nak, kita duduk dulu di situ." Farrel mengangguk dan mengikuti langkah bundanya.


Membantu memapah tubuh Farrel menuju sofa lalu mendudukkannya. "Tunggu dulu disini. Biar bunda ambilkan obatmu dulu" ucap Kania lalu mengambil obat pereda nyeri yang biasa Farrel minum lalu kembali lagi. "Ini, nak, minumlah obatmu dulu."


Melihat semua itu, timbul tanda tanya besar dalam benak Langit. Ia pun segera menghampiri mereka untuk bertanya. "Apa-apaan tadi bunda? Kenapa Farrel bisa tidak mengenaliku?" tanyanya dengan sedikit emosional. "Kalau dia hanya ingin bercanda, ini sudah sangat keterlaluan."


"Tenanglah dulu, Langit. Bunda akan jelaskan semuanya," ucapnya. Lalu ia beralih menatap Farrel. "Farrel, beristirahatlah dulu disini. Bunda akan segera kembali." Farrel mengangguk dan membiarkan bundanya berlalu.


"Ikuti bunda sekarang!" Kania mengajak Langit menuju taman belakang menjauh dari Farrel.


Walau sudah tak sabar ingin mendapat penjelasan namun Langit tetap diam dan mengikuti kemana Kania melangkah.


"Sekarang jelaskan semuanya, bunda! Langit sungguh tidak mengerti dengan semua ini," ucapnya saat mereka sudah berhenti.


Sejenak Kania menghela nafas seolah ingin melepas beban berat yang mengganjal hatinya. "Farrel tidak sedang bercanda, Langit. Dia memang tidak mengenalimu," jawabnya kemudian.

__ADS_1


Langit semakin mengerutkan dahi mendengar jawaban bundanya. "Maksud bunda apa? Tolong katakan dengan jelas! Jangan membuat Langit kebingungan seperti ini."


"Makanya dengarkan dulu penjelasan bunda. Jangan langsung memotong begitu."


Langit menyadari kesalahannya dan langsung meminta maaf. "Maafkan Langit, bunda!."


Kania hanya menghela nafas pelan mendengar permintaan maaf putra ketiganya itu. "Sudahlah, lupakan saja! Sekarang dengarkan penjelasan bunda."


Sejenak Kania kembali menghela nafas. Berdiri membelakangi Langit sambil memandang ke arah awan yang berjalan.


Dengan setia Langit menunggu bundanya memberi penjelasan. Hingga kemudian Kania mulai membuka suara.


"Bukan hanya kau saja yang tidak bisa Farrel kenali. Kita semua yang ada disini pun tidak ada yang dia kenali. Bahkan butuh waktu berbulan-bulan bagi bunda hingga dia mau memanggil bunda dengan sebutan bunda lagi," ucap Kania sendu. Air mata terlihat mulai merebak di kedua matanya mengingat saat itu.


"Kenapa bisa begitu, bunda? Memangnya apa yang sudah terjadi?."


"Beberapa bulan yang lalu, tepatnya setelah kakakmu Nayla pergi meninggalkan rumah, Farrel mengalami kecelakaan parah hingga dia jatuh koma hingga berbulan-bulan."


"Saat itu bunda mulai kehilangan harapan bahwa ia akan kembali lagi. Tapi Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya dan dia pun kembali sadar. Tapi bersamaan dengan itu, semua ingatannya pun hilang. Dia tidak bisa mengenali siapapun dan bahkan dirinya sendiri."


"Dokter mengatakan bahwa ini akibat dari benturan keras yang terjadi di kepalanya. Dan dokter pun mengatakan bahwa dia tidak bisa menentukan kapan ingatan Farrel akan kembali lagi."


"Kini Bunda hanya memiliki satu harapan agar Farrel bisa mendapatkan kembali ingatannya dulu." Kania mengakhiri kisahnya dengan menyeka air mata yang menetes di pipi.


"Apa sekarang kau sudah mengerti semuanya?" tanyanya sambil membalikkan badan menghadap Langit.


Langit termangu mendengar cerita Kania. Tak menyangka bahwa sahabat sekaligus rival abadinya akan mengalami nasib setragis itu. "Sungguh, Langit tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati bunda saat itu. Langit juga tidak menyangka bahwa Farrel akan seperti ini."


"Semuanya sudah terjadi. Kita juga tidak bisa mengubah apa yang sudah digariskan. Yang terpenting sekarang Farrel masih bersama kita."

__ADS_1


Langit menganggukkan kepala. "Bunda sangat benar. Kita memang hanya bisa berharap agar ingatan Farrel segera kembali. Dan untuk itu, Langit akan berusaha keras untuk membantunya."


__ADS_2