
Dave mendatangi Nayla di kamarnya bermaksud untuk membicarakan hal yang menurutnya sangat penting.
Ia mengatakan, jika saat ini perusahaan sedang mengalami masalah besar lantaran dirinya yang tak bisa pergi ke kantor beberapa bulan terakhir lantaran kecelakaan yang dialaminya. Ia pun meminta suntikan dana sebesar tiga puluh milyar rupiah untuk mengatasi masalah tersebut.
Mendengar besarnya nominal uang yang disebutkan suaminya, Nayla sangat terkejut. "Kenapa bisa sebanyak itu, Dave?." Namun Dave terus meyakinkan jika memang itu yang ia butuhkan.
Setelah berpikir sejenak, Nayla pun memutuskan untuk ikut ke kantor keesokan hari untuk mengatasi masalah itu sendiri.
Mendengar hal itu, sontak Dave kelabakan. Sebab semua ini hanya alasannya saja untuk mengambil uang Nayla sebanyak-banyaknya.
Ia pun memutar otak, mencari cara untuk menggagalkan niat Nayla atau semua rencananya akan berantakan.
"Menurutku sebaiknya kau tidak usah ikut ke kantor, Nay. Apalagi sekarang perutmu semakin membesar. Cukup percayakan saja semuanya padaku. Biar aku yang mengatasi semua masalah di kantor."
"Kau tidak usah khawatir, Dave. Aku bisa mengatasi semuanya sendiri."
"Kau memang wanita yang cerdas. Dengan cepat kau pasti bisa menyelesaikan masalah itu. Tapi masalahnya adalah saat ini kau sedang hamil besar. Aku tidak ingin kau ikutan stres lantaran memikirkan masalah perusahaan."
"Kau tidak usah terlalu mengkhawatirkanku, Dave. Aku pasti jaga kondisi."
"Tidak, Nay. Tetap saja aku tidak setuju. Kau itu sedang mengandung anakku. Aku berkewajiban untuk menjagamu dan juga calon anak kita. Kalau sampai terjadi sesuatu dengannya, maka aku tifak akan pernah memaafkanmu."
Dave serasa ingin muntah dengan ucapannya sendiri. Ia sangat muak karena harus terus bersikap manis dan bersandiwara dengan mengakui anak dalam kandungan Nayla sebagai anaknya. Padahal sampai matipun ia takkan pernah sudi menerima anak itu.
Nayla terdiam mendengar ucapan suaminya. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kata-katanya.
Menghela nafas pelan lalu berkata, "Baiklah, Dave. Besok aku akan mentransfer uang itu ke rekeningmu. Tapi tolong, selamatkan perusahaanku. Jangan sampai perusahaan itu hancur. Itu adalah warisan dari mendiang kakekku."
Dave bersorak gembira dalam hati mendengar ucapan istrinya. "Terimakasih karena kau sudah mau menuruti perkataanku, Nay. Semua ini aku lakukan juga demi kebaikan kita."
Nayla menganggukkan kepala dan tersenyum tipis. "Aku tahu, Dave. Aku percayakan semuanya padamu."
__ADS_1
"Tentu saja, Nay. Kau bisa mengandalkanku," ucapnya penuh kebohongan. "Kalau begitu aku mau pergi keluar sebentar. Jaga dirimu baik-baik di rumah."
Nayla mengangguk dan Dave pun segera berlalu.
Sepeninggal Dave dari kamar, ponsel Nayla berdering. Ia pun mengambil benda pipih itu dan melihat siapa yang menelpon.
Menampilkan nama Langit di layarnya. Nayla menautkan kedua alis mata lantaran bingung. "Kenapa tiba-tiba Langit menelponku? Bukankah dia sedang ada kerjaan di luar negeri? Atau memang dia sudah kembali ke Indonesia?."
Tak ingin hanya memendam pertanyaan tanpa mendapat jawaban, Nayla segera menekan tombol hijau dan menerima panggilan itu. "Halo, Langit. Ada apa? Tumben-tumbenan menelponku."
...****************...
Sementara itu di tempat lain, usai bicara berdua dengan Abhimana di ruang kerjanya, Langit pergi ke halaman belakang untuk memikirkan cara terbaik untuk mengatasi semua masalah yang tengah membelit keluarganya.
Menatap hamparan rumput hijau yang tertata rapi di hadapannya. Kepalanya di penuhi dengan berbagai strategi untuk mengatasi masalah itu. Ia yang di kenal sebagai anak yang paling cerdas saat masih sekolah dulu dengan mudahnya mendapatkan solusi untuk memecahkan setiap masalah.
"Ya, aku rasa inilah cara yang terbaik untuk mengatasinya. Tapi pertama-tama aku harus menghubungi kak Nayla dulu dan mengajaknya untuk bertemu. Lagipula sudah lama kita tidak saling berkomunikasi dan bertemu," ucapnya bermonolog.
Ia pun mengambil benda pipih dengan logo bekas apel tergigit dari saku celananya dan memencet nomor Nayla.
"Kak, kalau nanya itu satu-satu. Aku kesulitan jawabnya kalau kakak terus memberondongku dengan berbagai pertanyaan."
Terdengar tawa berderai dari seberang. "Maaf, Langit, kebiasaan. Sekarang katakan, ada apa tiba-tiba kau menghubungiku!."
"Emangnya nggak boleh menghubungi kakakku sendiri?," Langit sengaja bertanya balik pada kakak perempuannya itu agar tak terlalu kaku. "Tapi kalau kakak nggak mau ya sudah, aku tutup lagi aja teleponnya."
Mendengar ancaman Langit, Nayla langsung mencegahnya. "Tunggu dulu! Jangan ditutup dulu teleponnya. Aku tadi kan cuma nanya. masak gitu aja kamu sudah marah."
"He he he, aku tadi juga hanya bercanda saja kok kak."
Nayla mendengus kesal lantaran Langit hanya mengerjainya. "Ya sudah, sekarang katakan, ada apa kau menelponku?."
__ADS_1
Langit menghela nafas. "Apa kita bisa bertemu hari ini, kak?" tanyanya.
"Memangnya sekarang kamu sudah ada di Indonesia?."
"Jelas sudah dong, kak! Kalau belum, mana mungkin Langit ngajakin kakak ketemuan."
"Iya juga, ya" ucap Nayla bego. "Ya sudah, ok, kakak setuju. Lagipula kakak juga mau ada urusan di luar. Jadi sekalian aja kita ketemu. Emangnya ada apa sih kamu ngajakin kakak ketemuan?."
"Ada deh, ntar juga kakak tahu," ucap Langit sok misterius. "Lagipula kita kan sudah lama nggak ketemu."
"Tapi ngomong-ngomong kita mau ketemuan dimana?."
"Gimana kalau di kafe tempat kita biasa nongkrong dulu?."
"Ok, kakak setuju. Setengah jam lagi kita bertemu disana." Dan sambungan telepon pun terputus.
"Dari dulu kakak nggak pernah berubah! Selalu saja terburu-buru," ucap Langit sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum kecil melihat kelakukan kakak perempuannya itu.
Tanpa berganti pakaian, Langit segera meluncur ke tempat yang sudah di sepakati.
Tiba disana lebih awal, Langit duduk di dekat jendela dan memutuskan untuk memesan segelas minuman sambil menunggu kedatangan Nayla.
Tak berselang lama Nayla tiba bersamaan dengan minumannya yang sudah jadi. Langit melambaikan tangan untuk menunjukkan posisinya.
Nayla berjalan menghampiri Langit. Ia terlihat sedikit kesulitan berjalan lantaran perutnya yang semakin membesar.
Melihat hal itu, Langit langsung bangkit dan membantunya berjalan. "Awas kak, hati-hati! ucapnya penuh perhatian. Lalu ia pun menarik kursi untuk Nayla dan mempersilahkannya duduk. "Silahkan, kak!."
Nayla tersenyum kecil menerima perhatian dari lelaki yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. "Makasih banyak, Langit. Kau memang adikku yang paling pengertian."
Langit menatap manik hitam milik sang kakak. "Andai kakak tidak hanya melihatku sebagai seorang adik melainkan sebagai pria dewasa. Tentu aku akan menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Melihat Langit hanya diam saja sambil menatapnya, Nayla menggoyang-goyangkan telapak tangannya di hadapan Langit. "Hey, kok malah bengong? Ayo duduk!."
Langit tersadar dari lamunannya dan segera menarik kursi untuk dirinya sendiri, duduk saling berhadapan dengan kakak perempuannya itu.