
Sepanjang hari Nayla diliputi oleh keresahan semenjak bertemu dan berbicara dengan Dinda kemarin. Hatinya gelisah dan tak tenang memikirkan kondisi sang adik tersayang. Bahkan semalan ia tak bisa tidur dengan nyenyak.
Ingin rasanya pergi menjenguknya kerumah sakit untuk sekedar melihat kondisinya atau mengusap wajahnya. Namun ketakutan akan bertemu dengan ayahnya disana nanti membuatnya urung melakukan niatnya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?."
Nayla terus mondar-mandir seperti setrikaan memikirkan hal itu. Bahkan perutnya sampai terasa sedikit sakit karena terlalu tegang. Mungkin sang bayi dalam perut ikut meradakan ketegangan yang di rasakan oleh ibunya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi juga.
"Aku harus mencari cara agar bisa menemui adikku. Aku tidak bisa membiarkannya jatuh koma seperti ini."
Berbekal alamat yang ditunjukkan Dinda lemarin, Nayla segera bersiap dan pergi ke rumah sakit itu dengan mengendarai mobilnya sendiri.
Sesampainya di sana, Nayla tertegun saat melihat sosok sang bunda dari kejauhan yang tengah berjalan bersama Tante Dinda menuju arah taman rumah sakit.
Tangannya melambai ke arahnya dengan maksud ingin menegur. Namun bibirnya hanya bergetar tanpa bisa mengeluarkan bersuara. Dan saat kembali tersadar, ia telah kehilangan sosok sang bunda. Setetes air mata pun luruh tanpa bisa dicegah. "Bunda, Nayla rindu" ucapnya lirih.
Di usapnya kembali butiran air mata itu dan kembali pada tujuan utamanya kesini yaitu melihat kondisi sang adik, Farrel. Ia pun melangkah menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan kamar rawat adiknya itu.
Setelah mengetahui dimana letak ruangan Farrel berada, Nayla melangkah cepat menuju ruangan tersebut. Namun saat hampir tiba disana, ia malah mengendap-endap sambil celingak-celinguk mencari keberadaan ayahnya.
Suasana terlihat cukup lenggang dan tak menunjukkan tanda-tanda keberadaan ayahnya bersama empat bodyguard yang selalu menyertainya dimanapun dia berada, hingga membuat Nayla menghembuskan nafas lega. "Syukurlah situasinya aman. Jadi aku bisa menemui Farrel sebentar." Nayla membuka pintu ruangan dan segera masuk.
Air mata Nayla luruh seketika begitu melihat kondisi sang adik secara langsung. Ia melihat sesosok tubuh tengah berbaring lemah diatas ranjang dengan berbagai peralatan medis yang menancap di tubuh. Matanya terpejam rapat seolah tak ingin bangun kembali.
Tubuh itu tak ubahnya seperti mayat hidup sekarang. Hanya gerakan naik-turun akibat tarikan nafasnya saja yang memastikan bahwa ia masih hidup.
Perlahan Nayla mendekati tubuh itu. Bibirnya bergetar karena luapan emosi. "Kenapa kamu bisa seperti ini, Farrel?" ucapnya pilu.
Ia pun menggenggam jemari sang adik dan mengecupnya. Satu tangannya yang lain membelai wajahnya lembut. "Bangunlah adik kesayanganku. Lihat! kakakmu sudah datang menemuimu."
"Buka matamu kembali, Farrel. tunjukkan senyum manismu yang selalu kau tunjukkan padaku. Tidakkah kau ingin bercanda dan bercerita dengan kakakmu ini lagi seperti dulu?."
"Dulu kau sering sesumbar dengan mengatakan bahwa kau lelaki kuat dan tak terkalahkan seperti Thor, tokoh favoritmu. Lalu mana buktinya sekarang? Kenapa kau malah tergolek lemah dan tak berdaya seperti ini? Injkah yang kau sebut sebagai lelaki kuat dan tak terkalahkan?."
__ADS_1
"Kau pernah bercerita pada kakak kalau kau sedang menjalin cinta dengan seorang gadis. Lalu kenapa kau malah tertidur pulas di sini? Tidakkah kau merindukannya?."
Nayla menangis sedih dengan kondisi sang adik. Ia terus berusaha membuatnya sadar kembali dengan cara mengajaknya bicara dengan harapan alam bawah sadarnya mendengar suaranya itu hingga ia mau membuka matanya kembali.
"Bangun, Farrel! Buka matamu kembali. Jika kau tak ingin membuka matamu untuk kakak, lakukanlah untuk kekasihmu! Tidakkah kau ingin menemuinya lagi?."
Nampaknya Farrel merespon kata-kata terakhir Nayla. Terbukti dari jemarinya yang mulai bergerak.
Nayla terbelalak dan menangis bahagia melihat pergerakan itu. "Farrel" pekiknya. Hingga tanpa sadar setetes air mata jatuh mengenai kelopak mata adiknya.
"Bulan...." ucap Farrel lemah saat merasakan butiran air mata yang jatuh mengenainya.
Nayla mengernyitkan dahi mendengar nama yang disebutkan oleh adiknya. "Siapa Bulan? Apa dia adalah nama wanita yang Farrel cintai?" tanyanya dalam hati.
Ia memekik tertahan, semakin bahagia saat perlahan Farrel mulai membuka mata. Tapi kemudian.....
Tap tap tap....
Terdengar derap kaki mendekati ruangan hingga membuat Nayla panik seketika. "Astaga! siapa itu yang datang kesini? Jangan-jangan itu adalah ayah."
Nayla celingak-celinguk mencari tempat persembunyian yang kira-kira aman. Namun sejauh mata memandang, tak ada satupun dari sudut ruangan itu yang menurutnya mampu menyembunyikan tubuhnya. Apalagi perutnya yang mulai membuncit membuatnya tak leluasa dalam bergerak. Hingga kemudian....
Ceklek....
Kriet.....
Suara pintu terbuka, dan masuklah dua orang ke dalam ruangan. Bersamaan dengan itu, Nayla berlari secepat kilat dan bersembunyi dibalik tirai panjang di sudut ruangan sebelum pintu terbuka lebar.
Jantungnya berdetak kencang saat langkah kaki itu mulai memasuki ruangan. Keringat dingim mengalir di sekujur tubuh karena takut ketahuan. Namun ketegangan yang dirasakannya saat ini malah membuatnya semakin tersiksa. Karena saat ini, perutnya mendadak mengeras dan mengalami nyeri yang teramat sangat. Mungkin sag jabang bayi dalam perut ikut merasakan ketegangan yang dirasakan oleh ibunya.
"Auch..." ucapnya merintih kesakitan. Cepat-cepat ia membekap mulutnya sendiri agar tak kedengeran oleh dua orang tadi. Namun sayang, salah satu diantara mereka ternyata mendengar suara rintihannya tadi.
"Siapa itu?" tanyanya cepat sambil mencari sumber suara.
__ADS_1
Sontak seorang lagi pun bertanya. "Ada apa sih?."
Orang itu berhenti sejenak. "Nggak, Itu tadi kayaknya aku mendengar suara orang mengaduh kesakitan" jawabnya sambil menautkan kedua alis.
"Ah, kamu salah denger aja kali. Mana ada orang yang berani masuk ke sini?."
Orang pertama menggeleng keras, menolak anggapan seorang lagi. "Nggak, nggak mungkin aku cuma salah denger. Aku mendengar suaranya dengan jelas tadi. Masak kamu nggak mendengarnya!"
Orang kedua menggelengkan kepala dan menjawab enteng. "Nggah tuh,aku nggak denger suara apa-apa!."
"Nggak mungkin aku cuma salah denger. Aku harus memastikan suara siapa tadi. Takutnya dia adalah orang yang ingin mencelakakan putraku."
Orang itu pun kembali melangkah, berhalan mendekati tirai dimana letak Nayla bersembunyi.
Mendengar hal itu, hati Nayla semakin deg-degan. Tubuhnya gemetar ketakutan khawatir akan ketahuan. beesamaan dengan itu perutnya kembali bergejolak.
"Auch..." ringisnya kembali. Cepat-cepat ia membekap mulutnya dan mengusap perutnya lembut dengan harapan bayi adalam perutnya berhenti bergejolak. "Mama mohon untuk saat ini tenanglah dulu, nak. Atau kita akan ketahuan" bisiknya pelan.
"Tuh kan, kedengeran lagi! sekarang kamu percaya kan kalau aku tidak hanya salah denger?." Ia pun melanjutkan langkah menuju tirai itu. Perlahan tangannya terulur memegang tirai.
Nayla memejamkan mata, pasrah andai saat itu ia benar-benar ketahuan. Tapi tiba-tiba....
"Astaga, Farrel!" pekik orang pertama. Rupanya ia menyadari pergerakan tangan Farrel.
Orang pertama pun berbalik cepat. "Ada apa?" tanyanya.
"Cepat kesini. Lihat! Farrel mulai sadar."
Orang itu pun meninggalkan tirai itu dan berlari menghampiri Farrel.
"Huft" Nayla bernafas lega. "Untung aku tidak ketahuan."
Ia pun menggunakan kesempatan saat kedua orang itu sibuk dengan Farrel dan membelakanginya dengan segera keluar dari ruangan itu. Kebetulan saat itu pintu masih terbuka lebar hingga membuatnya mudah untuk keluar.
__ADS_1
Nayla berjalan cepat menjauhi ruangan tersebut. Dan setelah agak jauh, ia bernafas lega dan kembali bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa. Namun tanpa ia sadari, tenyata ada sepasang mata yang telah mengawasinya bahkan sejak ia masuk ke dalam tadi.