
Nayla dan Natasha menunggu Dave siuman usai menjalani operasi pemasangan plat besi di kaki setelah dipindahkan ke ruang perawatan. Namun baru beberapa saat menunggu, Natasha malah ingin pulang ke rumah.
Melihat hal itu tentu saja Nayla tak setuju. Namun Natasha mengeluarkan segala bujuk rayu hingga akhirnya Nayla pun setuju.
Kak berselang lama setelah kepergian Natasha, terlihat jari-jari Dave bergerak, lalu perlahan matanya pun ikut terbuka.
"Dave, kau sudah sadar?" pekik Nayla bahagia.
Dave menatap ke arah Nayla dengan kesadaran yang belum terkumpul. "Kita ada dimana, Nay?" tanyanya lirih.
"Kita ada di rumah sakit, Dave. Kau batu saja mengalami kecelakaan."
Dave diam, teringat kembali dengan kejadian kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Ia pun sedikit menggerakkan tubuh, bermaksud untuk bersandar di sandaran ranjang. Namun ia malah mengerang kesakitan. "Argk...kakiku sakit!."
Nayla terkejut mendengar teriakan Dave. "Awas, Dave, hati-hati! Jangan terlalu banyak bergerak dulu."
"Kakiku kenapa, Nay? Kenapa sulit untuk digerakkan?" tanya Dave panik. Seketika rasa takut muncul dibenaknya.
Melihat perubahan ekspresi suaminya, Nayla mengerti kalau saat ini dia sedang mengkhawatirkan sesuatu. "Jangan takut, Dave. Kakimu pasti sembuh. Aku yakin kau pasti bisa berjalan normal kembali. Kita akan melewati semua ini sama-sama," ucapnya menenangkan. Menguatkan suaminya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Sekarang biar aku panggilkan dokter dulu untuk memeriksamu." Nayla pun memencet tombol emergency yang berada di samping ranjang untuk meminta bantuan dokter.
Tak berselang lama pintu ruangan terbuka, menampakkan seorang dokter bersama dengan perawatnya. "Permisi! Biar kami periksa dulu!."
Sontak Nayla menoleh ke arah sumber suara. "Eh, silahkan, dok!." mundur ke belakang, memberi ruang untuk dokter menjalankan tugasnya.
Dengan cekatan, dokter memeriksa keadaan Dave. Lalu setelah semua usai, kembali menghadap Nayla. "Keadaan suami anda sudah lebih baik. Jika besok tidak ada keluhan lagi, sudah diperbolehkan pulang."
Nayla tersenyum senang mendengar ucapan dokter. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu."
"Kami sarankan agar suami anda segera menjalani terapi untuk memulihkan kondisi kakinya."
__ADS_1
"Baik, dok! Jika sudah siap, saya akan memberitahukan dokter."
"Baik, kalau begitu kami permisi dulu." Dokter pun berlalu meninggalkan ruangan kembali.
Nayla kembali menghampiri suaminya dan menghempaskan tubuh di kursi kecil di sampingnya. "Apa kau merasa lapar? Biar aku bantu suapi kamu ya?."
Dave mengangguk, Nayla mengambil nampan berisi makanan di atas nakas dan dengan cekatan mulai menyuapi suaminya. "Buka mulutmu, Dave!." Menyodorkan sesendok makanan ke hadapan Dave.
Dave membuka mulut, menerima suapan dari istrinya. Namun saat makanan itu telah berpindah ke mulutnya, ia malah terdiam terpaku. Sebuah gelenyar aneh yang entah apa namanya kembali hinggap di hatinya.
"Ada apa ini? Kenapa aku kembali merasakan gelenyar aneh ini?" tanyanya dalam hati.
Melihat suaminya hanya diam saja, Nayla menepuk bahunya. "Hey, kok malah diam? Ayo di kunyah makanannya!."
Dave tersentak, tersadar dari lamunannya. Cepat-cepat ia buang perasaan tadi, tersemyum singkat, lalu mengunyah makanan di mulutnya.
Nayla memyunggingkan senyuman melihat tingkah suaminya. "Emang lagi mikirin apa tadi?."
Dave sengaja mengalihkan perhatian Nayla agar tak bertanya lebih jauh, karena sebenarnya ia sendiri pun tak tahu perasaan apa tadi.
Nayla menghela nafas, tanpa banyak tanya kembali menyuapi suaminya hingga isi piring yang dipegangnya tandas tak bersisa.
Meletakkan kembali piring yang telah kosong di atas nakas, berganti mengambil segelas air putih beserta obat yang harus diminum Dave lalu menyodorkan padanya. "Ini, Dave, minum obatmu dulu."
Dave mengambil obat tersebut dari tangan istrinya dan langsung meminumnya lalu mengembalikannya lagi padanya. Ekspresinya terus saja dingin, bahkan untuk mengucap terimaksih pun enggan.
Nayla menghela nafas melihat perubahan yang terjadi pada suaminya. "Ada apa dengan Dave? Tadi saat sadar dia baik-baik saja. Tapi kenapa tiba-tiba berubah seperti ini? Apa aku melakukan kesalahan yang tak kusadari tadi?."
Nayla segera menipis perasaannya itu. "Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Dave kan baru sadar, jadi mungkin perasaannya belum membaik."
...****************...
__ADS_1
Sesuai dengan pesan Natasha sebelum pulang, Nayla menghubunginya untuk mengabarkan bahwa Dave telah sadar. Namun nyatanya hingga pagi kembali menyapa mertuanya itu belum juga menampakkan batang hidung.
"Mama kenapa belum kesini juga? Apa dia nggak merasa khawatir sedikitpun dengan keadaan anaknya?," gumamnya dalam hati.
Nayla menghela nafas berat, menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.
Mendengar helaan nafas istrinya, Dave yang saat itu tengah memegang gadgetnya pun mengalihkan pandangan padanya." Ada apa sih, Nay? Nafas kamu kok terdengar berat gitu?."
Nayla menggeleng pelan. "Bukan apa-apa, Dave. Aku hanya heran aja dengan Mama."
"Emang Mama kenapa?" tanya Dave dengan kedua alis mata saling bertaut.
"Aku sudah ngabarin beliau sejak semalam kalau kamu sudah sadar. Tapi sampai sekarang dia belum kesini juga. Apa dia nggak pengen lihat kondisi anaknya gitu."
Dave terhenyak mendengar ucapan Nayla, baru menyadari jika semenjak sadar, ia belum melihat sosok ibunya sekalipun. "Benar kata Nayla. Aku belum melihat Mama sejak pertama aku sadar. Apa dia nggak khawatir sedikitpun dengan keadaanku?,"
"Ah, Aku nggak boleh berpikiran macam-macam. Mungkin saat ini Mama memiliki rencana yang tidak aku ketahui di balik sikapnya ini. Mungkin dia ingin menggunakan kesempatan disaat Nayla nggak ada dirumah untuk kenjalankan rencana barunya itu," gumamnya dalam hati.
"Mmh, Nay, aku mau nanya, sejak aku dibawa kesini, apa Mama pernah kesini apa tidak?," tanyanya, pandangan kembali tertuju pada istrinya menatap dengan tatapan setajam elang. Nada bicaranya pun terdengar sangat serius.
"Waktu pertama kali mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpamu, Mama terlihat sangat syok dan terpukul. Lalu kami langsung kesini sama-sama untuk melihat keadaanmu. Tapi sebelum kamu sadar, Mama sudah pulang duluan. Katanya sih kepalanya pusing karena nggak tahan sama bau obat. Tapi sampai sekarang beliau belum kesini lagi." Mengangkat sebelah bahu.
Dave manggut-manggut mendengar jawaban istrinya. "Sebelum pulang, Mama ada ngomong sesuatu nggak sama kamu?" tanyanya kembali.
Nayla kembali menggeleng. "Seingatku sih tidak. Dia cuma ngomong suruh ngabarin kalau kamu sudah sadar atau terjadi sesuatu."
"Berarti memang benar! Mama sedang ada rencana baru." Dave meyakinkan diri sendiri bahwa Mamanya tidak mungkin mengabaikannya begitu saja. Ia pun mencoba memberi pengertian Nayla agar tak berpikiran buruk pula.
"Udahlah, Nay, nggak usah terlalu dipikirin. Mungkin memang benar Mama lagi nggak enak badan, apalagi sekarang kan dia udah tua, wajar kalau sering sakit-sakitan."
"Tapi, Dave..." Nayla mencoba menyangkal pendapat Dave, namun suaminya itu langsung memotong ucapannya sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya. "Nay, aku bilang udah! Nggak usah diperpanjang lagi. Lagipula sekarang kan aku sudah baik-baik saja," ucap Dave tegas.
__ADS_1
Nayla menghela nafas berat. Walau ia masih tak setuju dengan pendapat suaminya, namun ia tak mau berdebat lebih jauh lagi. Apalagi ini hanya soal sepele.