Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 53


__ADS_3

Langit pergi menemui Nayla di tempat dimana biasa dulu mereka nokrong. Namun ternyata dia tiba disana lebih cepat dari Nayla. Ia pun memutuskan untuk memesan segelas minuman dulu sambil menunggu.


Tak berselang lama Nayla pun tiba juga. Namun ia terlihat sedikut kesulitan berjalan lantaran perutnya yang semakin besar. Dengan sigap Langit membantunya dan menarikkan sebuah kursi untuk Nayla duduk.


Nayla tersenyum melihat besarnya perhatian pria yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. "Terimakasih banyak, Langit. Kau memang adikku yang paling baik."


Memdengar ucapannya itu, Langit malah menatap wajah kakak perempuannya intens. "Andai kau melihatku bukan hanya sebagai seorang adik, melainkan seorang pria dewasa, tentu aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia," ucapnya dalam hati.


Melihat adiknya tidak juga duduk dan malah asyik memandangi wajahnya, Nayla menggoyang-goyangkan tangannya di deoan wajah Langit untuk menyadarkannya dari lamunan. "Hey, kok malah begong? Ayo duduk!."


Langit tersentak dari lamunannya, segera duduk di hadapan Nayla, dan bersikap normal kembali. "Bagaimana kabar kakak sekarang?" tanyanya kemudian.


"Kabar kakak baik. Kamu sendiri gimana? Kapan tiba di Indonesia?."


"Kabar aku juga baik, kak. Aku baru saja tiba dan langsung kesini nemuin kakak. Kakak tahu kenapa?" ucap Langit, mulai dengan rayuan mautnya.


"Emang kenapa?" tanya Nayla, menumpukan dagu pada tangannya, menunggu jawaban Langit. Sebelah mata memicing keatas.


"Sebab kakak adalah wanita spesial buatku." Terlihat sangat keseriusan di wajah Langit sangat mengucapkan kata-katanya itu.


Pecahlah tawa Nayla mendengar jawaban Langit. "Dari dulu kamu itu nggak pernah berubah ya. Paling jago kalau ngerayu cewek."


"Aku nggak bercanda, kak! Aku serius. Kakak memang wanita paling spesial buatku," Langit mengulang kembali perkataannya tadi untuk menegaskan ucapannya. Nada bicaranya sedikit meninggi karena sejak dulu Nayla selalu menganggap ucapannya sebagai sebuah candaan.


Melihat perubahan ekspresi Langit, sontak Nayla menghentikan tawanya dan menjadi salah tingkah. "Maaf, kakak tidak bermaksud mentertawakanmu."


"Ha ha ha...Kali ini kakak tertipu lagi olehku." Kali ini tawa Langit yang pecah. Ia paling tak tahan melihat wajah penuh bersalah kakaknya. Karena itu ia bersikap normal kembali.


Mengetahui dirinya hanya dikerjai, Nayla mencebikkan bibir. "Kamu itu ya, dasar!."


"Habisnya wajah kakak sangat lucu kalau lagi merasa bersalah" ucapnya sambil terus tertawa, hingga membuat Nayla makin kesal karenanya.


Puas tertawa, Langit menyodorkan sebuah paperbag besar ke hadapan Nayla. "Ini aku bawain sedikit hadiah buat kakak. Anggap saja ini sebagai kado pernikahan untuk kakakk. Semoga kakak suka dengan hadiahku."


"Apa ini isinya?."

__ADS_1


"Buka aja langsung!."


Nayla pun membuka paperbag itu dan melihat isinya. Alngkah senangnya ia saat mengetahui apa hadiah yang diberikan Langit padanya. "Wah, ini kan tas yang kakak idamkan sejak lama. Kamu beneran ngasih hadiah ini buat kakak?" tanya Nayla setengah tak percaya.


Sebuah tas berwarna merah dengan merk ternama. Harganya mencapai ratusan juta karena pembuatannya yang sangat terbatas.


"Tentu saja itu buat kakak. Memangnya untuk siapa lagi?."


"Tapi ini kan sangat mahal."


"Buat kakak, apa sih yang nggak akan aku berikan. Nyawapun siap aku korbankan." Langit mulai lagi dengan rayuan mautnya.


"Mmh, mulai lagi deh gombalnya. Udah deh, berhenti gombalin kakak. Simpan saja gombalanmu itu buat pacar kamu.


"Kalau pacar Langit itu kakak gimana?" tanyanya tiba-tiba. Memajukan sedikit tubuh dan memasang wajah serius.


Nayla hampir saja tersedak oleh air liurnya sendiri mendengar ucapan Langit. Namum detik berikutnya ia kembali menguasai diri. "Kau ini ngomong apa sih? Kita ini saudara. Lagipula kakak sudah menikah, dan sebentar lagi juga mau punya anak" ucapnya dengan nada suara agak meninggi.


Maka kembali pecahlah tawa Langit melihat ekspresi kemarahan kakaknya. "Aku bercanda kali, kak. Gitu aja dianggap serius."


"Iya, maaf. Langit nggak akan ngomong kayak gitu lagi."


"Awas saja kalau sampai kamu bicara gitu lagi. Kakak nggak akan mau bicara apalagi bertemu sama kamu."


"Ish, sadis banget ngomongnya."


"Biarin!!."


Puas berbasa-basi, Langit mulai dengan tujuan utamanya menemui Nayla. Dengan memasang wajah serius, ia oun berkata, "Kakak sydah denger berita soal Farrel belum?."


Mendengar pertanyaan Langit, mendadak wajah Nayla berubah sendu. "Iya, kakak tahu. Sebab kakak yang pertama kali melihat dia sadar."


"Jadi, secara nggak langsung kakak lah yang membuat Farrel sadar kembali?."


"Bisa dibilang gitu."

__ADS_1


" Apa Ayah sama bunda tahu soal ini?."


"Sepertinya tidak. Sebab kakak langsung pergi begitu dia sadar."


"Lalu kenapa kakak menyembunyikan hal ini dari mereka?. Harusnya saat itu kakak nggak langsung pergi gitu aja?."


"Kakak belum siap untuk bertemu dengan mereka, Langit. Kakak masih malu," Setetes air mata jatuh di pelupuk mata mengingat saat ia diusir dari rumah. "Tapi tidak apa. Yang penting Farrel kembali sadar. Itu sudah cukup bagi kakak." Di usapnya kembali setitik air mata yang terlanjur jatuh.


Langit menghela nafas berat. "Apa kakak juga tahu kalau saat ini Farrel juga kehilangan ingatannya?," tanyanya kemudian.


Nayla tersentak, terkejut mendengar berita yang dibawakan oleh Langit. "Apa? Farrel kehilangan ingatannya?."


"Iya, kak. Dan dokter mengatakan, entah sampai kapan ingatannya akan kembali."


"Kakak ikut sedih mendengarnya. Andai kakak bisa berbuat sesuatu untuk membantu mengembalikan ingatannya," ucapnya sendu dengan kepala sedikit tertunduk.


"Pulanglah, kak. Berkumpullah kembali dengan kita di rumah. Kasihan bunda."


Nayla kembali menganggkat wajah, menggeleng pelan dan tersenyum pedih. "Maaf, kakak tidak bisa. Tolong jangan paksa kakak untuk pulang."


Langit menghela nafas berat mendengar penolakan dari kakaknya. "Baiklah, Langit mengerti. Dan Langit tidak akan pernah memaksa kakak lagi."


"Terimakasih banyak atas pengertianmu."


Sejenak mereja saling diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga kemudian Langit membuka suara, memecah kebisuan itu. "Apa kakak bahagia dengan pernikahan kakak?" tanyanya tiba-tiba. Terlihat sebuah keseriusan dalam nada bicaranya


Nayla terkejut mendengar pertanyaan Langit. "Kenapa kamu bertanya seperti itu."


"Tidak apa. Langit hanya ingin tahu saja," jawabnya dengan mengedikkan kedua bahu. "Kakak jawab saja pertanyaanku tadi. Ya, atau tidak!."


"Tentu saja kakak bahagia. Kau pikir apa?" jawab Nayla cepat. "Kau lihat sendiri kan, kakak sekarang sedang hamil, dan beberapa bulan lagi akan melahirkan."


"Syukurlah kalau kakak bahagia. Aku ikut senang mendengarnya." Langit tahu jika Nayla berkata bohong. Sorot matanya mengatakan bahwa dia tidak bahagia. Namun ia tak ingin memaksa Nayla untuk berkata jujur dan memilih untuk menyelidikinya sendiri.


"Andai suatu hari kakak di perlakukan tidak baik oleh suami kakak, atau kakak merasa tidak bahagia dengan pernikahan kakak, kakak bisa datang padaku."

__ADS_1


__ADS_2