
Natasha tak pernah kapok untuk mencelakakan Nayla dan bayi dalam kandungannya meski selalu berakhir dengan kegagalan. Gagal dengan rencana satu, ia mencoba dengan rencana yang baru. Tak jarang justru ia sendiri yang terkena jebakannya itu.
Sejauh ini Nayla tak menyadari bahwa yang terjadi belakangan ini adalah ulah mertua dan suaminya sendiri. Ia mengira semua itu hanya kecelakaan yang biasa terjadi.
Karena selalu gagal dengan semua rencananya, lama kelamaan Natasha pun menyerah.
"Sepertinya tidak ada satupun dari rencana kita untuk membuat Nayla celaka yang berhasil, Dave. Dan sialnya lagi, justru Mama yang termakan jebakan itu," keluh Natasha suatu hari disaat ia tengah berada di rumah berdua dengan Dave. Sedang Nayla saat itu tengah ada rapat penting dengan salah satu klien.
"Iya, Ma. Aku juga merasakan hal yang sama. Sepertinya alam selalu melindunginya dan memang menginginkan anak itu lahir," ujar Dave, sependapat dengan Mamanya.
"Atau jangan-jangan Nayla itu punya nyawa sembilan kayak kucing, Ma. Sehingga dia selalu berhasil selamat dari semua rencana kita," imbuhnya.
Mendengar ucapan putranya. Natasha melotot tajam ke arah Dave. "Hush, jaga bicaramu!. Jangan suka bicara sembarangan. Tidak ada itu namanya manusia yang memiliki sembilan nyawa."
Dipelototi sedemikian rupa oleh Mamanya, Dave melengos kesal. "Namanya juga menebak, Ma. Siapa tahu memang benar!."
Natasha menghela nafas berat. Geleng-geleng kepala dan tak habis pikir dengan tingkah putranya yang meski sudah dewasa namun terkadang suka absurd.
"Jadi, apa rencana kita selanjutnya, Ma?" tanya Dave serius, kembali ke topik pembicaraan semula.
Mendengar pertanyaan putranya Natasha malah menggeleng lesu. "Mama juga nggak tahu, Dave. Rasanya Mama ingin menyerah saja dengan semua kegagalan yang selalu kita alami."
Dave diam, namun dahinya terlihat berkerut seakan sedang memikirkan sesuatu yang penting. Tak berselang lama ia mulai angkat bicara. "Gimana kalau kita biarkan saja anak itu lahir, Ma? Aku rasa itu malah akan menguntungkan kita."
"Maksud kamu?" tanya Natasha dengan dahi berkerut, tak mengerti dengan maksud perkataan putranya.
Dave menghela nafas pelan. Merubah posisi duduk menjadi saling berhadapan dengan Mamanya. "Jadi gini, Ma, maksudku. Selama Nayla hamil kan dia sering mengeluh mual dan muntah, sehingga dia jadi nggak bisa maksimal dalam bekerja."
"Nah, kita bisa memanfaatkan hal itu untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan darinya. Kita buat saja alasan kalau kita tak ingin dia kecapekan dan memintanya untuk fokus saja dengan kehamilannya. Perlahan nantinya kita akan menguasai perusahaan itu."
"Selain itu, setelah bayinya lahir, kita bisa menggunakannya sebagai alat untuk mengeruk semua harta yang Nayla miliki. Aku yakin dia tak mungkin menolak permintaanku, sebab aku adalah ayah dari anak yang dikandungnya. Lagipula dia kan sudah cinta mati padaku dan takut kehilangan diriku. Jadi dia pasti menuruti apapun yang kuinginkan."
__ADS_1
Natasha mendengar semua yang dikatakan putranya dengan seksama, menimbang dari segi untung dan rugi. Lalu detik kemudian sudut bibirnya tertarik ke atas. " Bagus juga ide kamu! Kadang-kadang otak kamu pinter juga" pujinya.
Dipuji demikian oleh Mamanya, Dave menepuk dadanya sendiri dan menyombongkan diri. "Siapa dulu dong, Ma, Davka. Makanya Mama jangan suka remehin aku. Gini-gini otakku ada gunanya juga kan?."
Natasha mencebik kesal melihat tingkah putranya. "Ish kamu ini. Baru juga di puji begitu udah kumat lagi absurdnya."
"Tapi kenapa kita nggak kepikiran hal itu sejak kemarin ya!. Tahu gitu kita nggak perlu capek-capek buat mencelakakan Nayla."
"Makanya, Ma, lain kali kalau mau buat rencana, minta pendapat Dave dulu. Jangan asal main perintah aja!."
...****************...
Sementara itu di tempat lain, Abhimana terlihat tengah merenung sendirian di ruang kerja di rumahnya. Kepalanya tertunduk ke bawah akibat beban berat yang dipikulnya karena masalah ini.
Berulangkali ia menghela nafas berat untuk menghilangkan beban di hati. Namun semakin ia menepis beban itu, semakin berat saja rasanya. Apalagi sekarang istrinya mulai pisah ranjang dan memilih untuk tidur di kamar lain.
Tak terhitung lagi berapa batang rokok yang ia habiskan malam itu. Padahal kebiasaannya itu sudah ia buang jauh semenjak Kania hamil putri mereka. Tapi kini terpaksa ia melakukannya lagi untuk sedikit membantunya mengurai kekusutan pikiran.
"Aku harus segera menyuruh seseorang yang dapat aku percaya untuk menyelidiki siapa laki-laki itu sebenarnya dan apa maksud dibalik niatnya mendekati Nayla."
"Aku harus segera mendapatkan jawabannya agar aku bisa membuktikan pada Kania kalau firasatku memang benar. Dari gestur tubuh yang dia tunjukkan pada pertemuan pertama dulu, aku melihat ada sesuatu yang tidak beres."
Abhimana bangkit dan meraih benda pipih namun sangat canggih dengan logo apel bekas tergigit di atas meja kerja. Kemudian ia memencet sebuah nomor telepon diantara ribuan nomor telepon yang tersimpan di daftar kontak di benda tersebut.
Tuttt...
Tuttt...
Terdengar nada sambung telepon saat panggilan mulai terhubung.
"Halo, ayah, assalamualaikum." Terdengar suara sahutan dari seberang saat panggilan mulai di angkat.
__ADS_1
"Waalaikum salam" jawabnya. "Bagaimana kabarmu disana?" tanyanya sedikit berbasa-basi.
"Baik. Yah! Ayah dan bunda sendiri gimana kabarnya disana?."
"Ayah dan bunda juga sehat. Tapi...." Abhimana semgaja menggantung kalimatnya untuk memancing pertanyaan lawan bicaranya.
Benar juga dugaan Abhimana, karena kemudian suara di seberang terdengar mengajukan pertanyaan. "Tapi apa, yah? Kok nggak di lanjutin."
Abhimana menyunggingkan senyuman tipis. "Tidak apa. Hanya saja rasanya tidak enak membicarakan hal ini di telepon."
"Tidak usah merasa tidak enak, Yah. Katakan saja ada apa."
"Kapan kamu kembali ke indonesia?" Abhimana malah balik bertanya.
"Kira-kira masih dua bulanan, yah. Masih ada beberapa masalah di sini yang harus aku tangani."
Abhimana menghela nafas berat. "Ya sudah, kamu fokus saja dengan masalah disana. Cepat selesaikan semua dan cepatlah kembali."
"Baik, yah. Aku usahakan kurang dari itu sudah kembali ke indonesia. Tapi ngomong-ngomong ada masalah apa, yah?. Kenapa tiba-tiba ayah memintaku untuk segera pulang?."
Abhimana kembali menghela nafas. "Ceritanya panjang, nanti ayah ceritakan padamu kalau kau sudah ada disini. Yang jelas ayah membutuhkan bantuanmu untuk menyelidiki sesuatu."
"Baiklah, yah! akan aku usahakan kembali ke indonesia secepatnya."
"Ya sudah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik disana, dan....segeralah kembali. Ayah tutup dulu teleponnya."
Tanpa Abhimana sadari, ada sepasang telinga yang turut mendengarkan percakapannya dengan seseorang di telepon tadi dari balik pintu.
"Siapa orang yang berbicara dengannya di telepon? Apakah dia langit, atau putraku yang lain?."
"Siapapun orangnya, aku berharap dia bisa membawa putriku kembali lagi ke rumah ini."
__ADS_1