
Keesokan hari Dinda segera menemui Nayla di kantornya. Awalnya ia hanya ingin menghubunginya melalui telepon, namun kemudian memutuskan untuk bertemu dengannya secara langsung dan melihat bagaimana kondisinya saat ini, serta mengucapkan selamat atas pernikahannya.
Dengan mengenakan blazer warna putih yang dipadukan dengan rok model A, ia berangkat menuju perusahaan yang dipimpinnya itu.
Suasana terlihat sedikit lenggang siang itu. Mungkin karena sekarang sedang jam istirahat makam siang. Ia pun memutuskan untuk langsung menemui Nayla di ruangannya saja.
Dengan menggunakan lift khusus untuk para eksekutif perusahaan, ia menuju tempat tertinggi dari gedung ini dimana letak ruangan Nayla berada.
Ting....
Pintu lift terbuka, menampakkan tiga ruangan besar yang salah satunya adalah milik Nayla. Ia pun melangkah menuju salah satu ruangan yang diyakininya sebagai ruangan Nayla.
Melihat kedatangannya, seorang karyawan lama menegurnya. "Bu Dinda, apa kabar?."
Sontak Dinda pun menghentikan langkah. "Eh, pak Bagas. kabar saya baik, pak. Bapak sendiri gimana?" jawabnya berbasa-basi.
"Saya juga baik, bu."
"Masih betah saja bekerja disini" ucapnya lagi sambil menampilkan senyum ramah.
Dinda ingat betul siapa orang yang sedang menyapanya itu. Dulunya ia hanyalah salah satu staf marketing di perusahaan ini sewaktu Kania masih menjadi pemimpin. Tapi dari keberadaannya sekarang ditambah lamanya mengabdikan diri, Dinda menduga kalau posisinya sekarang pasti lebih tinggi lagi.
Mendengar ucapan Dinda, Pak Bagas tersenyum tipis. Bibir bergerak-gerak seolah ingin mengatakan sesuatu namun terlihat ragu. Namun pada akhirnya ia pun mengatakannya juga.
"Keadaan kantor sekarang tidak seperti dulu lagi, bu!."
Dinda mengerutkan dahi mendengar keluhannya. Setahunya Nayla selalu bersikap baik dan ramah terhadap semua karyawannya. "Maksud pak Bagas gimana ya? Memangnya ada apa?."
Pak Bagas menghela nafas berat seolah hatinya dipenuhi oleh sebuah beban yang sangat berat. "Iya bu, keadaan kantir sekarang memjadi kacau semenjak...."
"Ada apa ini? Kenapa kalian tidak bekerja dan malah asyik memgobrol disini?."
Gelegar suara itu memaksa pak Bagas menghentikan ucapannya dan menoleh ke sumber suara. "Pak Davka" ucapnya gugup. Sontak wajahnya berubah seketika dan langsung menundukkan kepala, lalu mundur beberapa langkah ke belakang.
Melihat perubahan pada raut wajah pak Bagas dan ketakutannya saat memdemgar suara itu, Dinda menduga ada hal yang tak beres. Ia pun segera berbalik dan melihat siapa pemilik suara tersebut.
__ADS_1
Seorang pemuda mengenakan setelan jas biru tengah berdiri di hadapannya hingga membuatnya mengernyitkan dahi. "Siapa dia? Kenapa pak Bagas terlihat begitu ketakutan saat melihatnya" ucapnya dalam hati.
Melihat sosok Dinda yang baru dilihatnya hari ini pun Davka melakukan hal yang sama. Ia pun melangkah mendekat dan bertanya, "Siapa kamu dan kenapa kamu bisa berada disini."
"Saya adalah Dinda, tante-nya Nayla," jawab Dinda tegas tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Mengetahui siapa wanita yang tengah berdiri di hadapannya, Davka tersenyum kaku. Ada sedikit kekhawatiran di hatinya kalau Dinda akan mengadukan tindakannya tadi pada Nayla. Apalagi sampai saat ini ia masih belum bisa menjadikan perusahaan ini sebagai miliknya.
"Maafkan saya karena tidak memgenali anda tadi. Saya Davka, suaminya Nayla."
"Pantas pak Bagas tadi takut padanya. Ternyata dia adalah suaminya Nayla," gumam Dinda dalam hati.
"Oh, jadi kamu orang yang bernama Davka. Kania sudah menceritakan siapa dirimu padaku."
"Syukurlah kalau tante sudah tahu. Tapi ngomong-ngomong ada urusan apa Tante kesini?."
"Saya kesini karena ada urusan dengan Nayla. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya. Sekarang katakan, dimana dia sekarang?."
"Nayla ada di apartemen, tante. Dia tidak lagi ke kantor karena saat ini dia sedang hamil. Jadi untuk sementara saya yang menggantikan posisinya disini."
"I...iya, tante. Ada apa ya?" tanyanya bingung.
"Tidak, tidak ada apa-apa! Kalau begitu aku permisi dulu." Dinda mulai melangkah meninggalkan mereka, tapi kemudian Davka menghentikannya. "Maaf, tante, kalau saya boleh tahu, ada perlu apa tante ingin menemui istriku? Mungkin saya bisa sampaikan padanya."
"Tidak perlu! Ini masalah keluarga, tidak ada kaitannya denganmu. Biar nanti aku menghubunginya saja."
Setelah mengatakan itu, Dinda berlalu pergi. Sepanjang perjalanan pulang, berbagai spekulasi bermunculan di benaknya. "Sepertinya ada yang janggal dari sikap yang Davka tunjukkan padaku tadi? Seperti sedang berusaha menyembunyikan sesuatu tapi entah apa."
"Nayla juga, kenapa dia malah mempercayakan perusahaan begitu saja padanya. Meski dia adalah suaminya, namun tetap saja dia adalah orang luar."
"Ini tidak boleh di biarkan. Aku harus segera memperingatkan Nayla."
...****************...
Sementara itu di apartemen, Nayla terlihat tengah bersantai di atas sofa di ruang tamu ditemani oleh segelas susu hamil dan beberapa makanan kecil. Ditangannya ada sebuah buku yang sedang ia baca.
__ADS_1
Tak lagi sibuk ngantor membuat Nayla memiliki banyak waktu luang. Terlebih rasa mual dan muntah yang selalu menyerangnya tiap pagi mulai berkurang seiring dengan usia kehamilan yang semakin bertambah. Ia pun menggunakan waktu luangnya itu dengan membaca-baca buku untuk menambah pengetahuannya akan kehamilan dan juga dunia parenting yang akan di hadapinya nanti.
Seperti halnya siang itu, yang terlihat sedang membaca sebuah buku tentang cara mendidik anak secara islami. Sesekali tangannya mengusap lembut perutnya yang mulai sedikit membuncit.
Di tengah asyiknya membaca buku, Natasha datang mendekat dengan berpakaian rapi dan di tangannya menenteng sebuah tas. "Nayla" tegurnya.
Nayla pun mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibacanya dan menengok ke Natasha. "Mama" ucapnya. Namun saat melihat mertuanya tengah berpakaian rapi sambil menenteng tas, ia pun bertanya, "Mama mau pergi? Kok memakai pakaian rapi?."
"Iya, Mama mau pergi ke salon sebentar! Sudah lama Mama nggak melakukan perawatan dan relaksasi tubuh."
"Oh, ya udah, Mama pergi aja. Nayla bisa jaga diri di rumah."
"Mama minta uangnya dong" ucap Natasha sambil menadahkan tangan di depan Nayla.
Mendengar permintaan ibu mertuanya sontak Nayla mengeryitkan dahi. "Bukankah kemarin Nayla sudah mentransfer uang bulanan Mama?."
"Iya sih, tapi sekarang sudah habis!" jawab Natasha enteng.
Nayla melongo mendengar jawaban ibu mertuanya. Padahal uang yang diberikannya kemarin bukan jumlah yang sedikit. "Kok bisa, Ma? Kan kemarin Nayla Nayla mgasihnya juga nggak sedikit."
"Maafin Mama, Nay. Kemarin Mama tergiur dengan cincin berlian yang di tawarkan oleh teman arisan Mama. Jadi Mama menggunakan uang itu untuk membeli cincinya."
Nayla menghela nafas berat memdengar ucapan Mama mertuanya.
Melihat ekspresi Nayla, Natasha tak menyerah. Ia terus merayunya agar mau memberinya uang lagi. "Ayolah, Nay, jangan pelit sama Mama. Kan putra Mama juga yang kerja keras di perusahaan kamu."
Nayla kembali menghela nafas mendengar ucapan Mama mertuanya. "Ya udah, Ma. Tunggu disini sebentar. biar Nayla ambilkan uangnya dulu."
Ia pun pergi ke kamar dan kembali lagi sambil membawa sejumlah uang. "Ini, Ma uangnya. Lain kali lebih bijak lagi dalam menggunakannya."
Natasha mengambil uang itu dari tangan Nayla fan memeluknya singkat. "Makasih sayang. Kamu memang menantu Mama yang paling baik" ucapnya sambil tersenyum lebar.
Nayla tersenyum tipis mendengar ucapannya.
"Ya udah, kalau gitu Mama pergi dulu. Kamu baik-baik di rumah ya." dan ia pun melenggang pergi.
__ADS_1
Nayla hanya bisa menghela nafas melihat kepergian Mama mertuanya.