Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 11


__ADS_3

"Ma, ini udah malam. Aku pergi ke kamar dulu ya!" pamit Dave seraya bangkit dari duduknya.


"Pergilah! Mama juga sudah mengantuk. Sebentar lagi Mama masuk kamar!" jawab Natasha.


Dave berlalu meninggalakan Mamanya dan memasuki kamar. Namun saat pintu kamar telah terbuka, ia disuguhkan dengan sebuah pemandangan yang tak pernah terduga sebelumnya.


Sesosok bidadari cantik mengenakan lingerie warna merah menyala tengah berbaring diatas ranjang dengan pose yang begitu menantang. Bibirnya merah merona senada dengan warna pakaian yang dikenakannya. Rambut panjang nan indah dibiarkan tergerai begitu saja membingkai wajahnya yang cantik menawan. Pakaian yang dikenakannya semakin memancarkan pesona dalam dirinya.


Lelaki mana yang tak kan tergoda bila disuguhkan dengan pemandangan yang begitu indah dan menantang. Bola mata Dave bahkan sampai tak berkedip karena takut kehilangan pemandangan indah itu barang sedetik.


Perlahan Dave melangkah maju. Naluri kelaki-lakiannya menuntunnya untuk terus mendekat. Dan bagai harimau kelaparan yang sedang menghampiri mangsa, Dave merangkak ke atas ranjang menuju tubuh mulus yang tergolek pasrah.


Dave mendaratkan ciuman disekujur tubuh Nayla. Mulai dari kaki, naik terus dan terus hingga wajah. Hingga tanpa sadar tubuhnya kini telah menindih tubuh sang istri.


Nayla membiarkan Dave menyusuri setiap lekuk tubuhnya. Menikmati gelenyar aneh yang ditimbulkan akibat sentuhan kulit mereka. Hingga kini tubuhnya berada dibawah kungkungan sang suami.


Hembusan nafas Dave terasa begitu hangat menerpa wajah Nayla saat mereka saling beradu pandang. Sorot mata memancarkan rasa cinta di hati masing-masing.


"Kau cantik sekali malam ini, sayang" ucap Dave lirih. Tangannya membelai lembut tubuh mulus sang istri.


Nayla tersenyum mesrah mendengar ucapan suaminya. Kedua lengan dia kalungkan dilehernya.


"Mulai sekarang aku adalah milikmu, Dave" bisik Nayla mesrah. "Aku pasrahkan seluruh jiwa ragaku padamu."


Dave tersenyum mendengar ucapan sang istri. "Bolehkah aku meminta hakku malam ini?."


Nayla mengangguk. "Lakukan apapun yang kau mau. Semua yang ada dalam diriku adalah milikmu."


Nayla mengerlingkan mata, sengaja menggoda untuk membangkitkan gairahnya, dan itu berhasil. Nafas Dave terdengar semakin memburu dibakar oleh gairah yang semakin membara.

__ADS_1


Dave melesakkan wajah diceruk leher sang istri, menggigit kecil cuping telinganya hingga membuatnya menggelinjang kenikmatan.


Nafas mereka semakin memburu, seiring gairah yang semakin terpacu. Pandangan mata pun mengelap tertutup oleh kabut nafsu.


"Lakukan sekarang, Dave! Aku sudah tidak tahan. Jadikan aku milikmu seutuhnya," desah Nayla yang tak kuasa lagi menahan badai asmara.


Dave mengangguk karena kini ia sendiripun sudah tak kuasa lagi menahan nafsu. "Dengan senang hati," ucapnya. Dan hanya dengan sekali hentakan, tubuh mereka pun kini menyatu dalam cinta.


Perlahan Dave memainkan gairah asmara, terus dan terus merangkak naik. Hingga akhirnya ia sendiri tak mampu menahan ledakan asmara.


Dengan nafas yang semakin memburu, bersama mereka mencapai puncak kenikmatan hingga akhirnya mereka pun terdampar di surga kenikmatan. Terkapar tak berdaya setelah terkena badai kenikmatan.


...****************...


Pagi hari Nayla terbangun karena merasa kedinginan. Ia lupa jika semalam mereka tidur dalam keadaan telanjang dan hanya tertutup oleh sebuah selimut. Ia merasa sekujur tubuhnya remuk redam. Semalam Dave benar-benat menggempur tubuhnya habis-habisan tanpa rasa ampun.


Perlahan Nayla menggerakkan tubuh, namun tubuhnya terasa berat sebab ada sebuah lengan kekar yang melingkar diatas perutnya. Ia pun memutar tubuh dan menghadap si pemilik lengan itu.


"Pagi, sayang!" sapanya mesrah. Dikecupnya bibir sang suami sekilas sementara tangannya membelai wajahnya lembut.


Perlahan Dave membuka mata karena sentuhan lembut dari sang istri. Kecupan sekilas dari bibir manisnya memaksa dirinya untuk segera bangun. "Kau sudah bangun, sayang" ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.


Nayla mengangguk sekilas dan tersenyum lembut. "Tidurlah lagi! Kau pasti masih capek karena pertempuran kita semalam."


"Itu karena tubuhmu memang begitu nikmat, sayang. Rasanya aku tak ingin mengakhiri kenikmatan itu."


Nayla tertawa kecil menanggapi ucapan suaminya. "Kau memang gila, Dave. Badanku rasanya sakit semua karena semalam kau menggempurku habis-habisan."


"Tapi kau suka kan!" ucap Dave dengan wajah mesum. Menaik turunkan kedua alis untuk menggoda sang istri.

__ADS_1


Nayla tersipu malu mendengar ucapan suaminya Karena sebenarnya ia sendiri pun tak ingin semua itu berakhir.


Bicara tentang pertempuran semalam membuat gairah Dave kembali bangkit, terlebih suasana pagi itu yang begitu dingin membuatnya ingin menikmati kembali kehangatan semalam.


Nayla menyingkirkan lengan Dave yang melingkar diatas perutnya. "Ayo kita bangun, Dave! Biar aku buatkan sarapan pagi untukmu" ujarnya. Namun Dave malah semakin mengeratkan pelukannya. Mana mungkin ia biarkan Nayla pergi begitu saja disaat dirinya sudah terlanjur tersulut gairah seperti ini. Gairah yang menuntut untuk terpuaskan.


"Sebelum bangun, bolehkah aku melakukannya sekali lagi?," pintanya.


Mendengar permintaan sang suami sontak Nayla pun menolak. "Emangnya kamu nggak capek, Dave. Bagian inti tubuhku saja masih terasa nyeri akibat perbuatanmu semalam."


Bukannya merasa kasihan dengan keluhan istrinya, Dave justru terus memaksa untuk melayani hasratnya. "Ayolah, sayang, sekali saja! Aku janji akan melakukanya secara lembut."


"Tapi, Dave...."


Dave tak menghiraukan lagi penolakan dari sang istri dan langsung ******* habis bibir manisnya yang membuatnya candu


Mendapat serangan dadakan dari sang suami membuat Nayla gelagapan. Terpaksa ia melayani hasrat suaminya kembali pagi itu.


Melihat tak ada penolakan dari sang istri Dave pun semakin beringas mencumbuinya. Ia pun bangkit dan menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mereka bersiap untuk memulai penyatuan tubuh.


Namun saat pandangannya tertuju pada seprei dibawah tubuh sang istri, mendadak hasratnya yang tadi begitu menggebu seketika padam. Ia tak melihat adanya noda darah dibawahnya seperti yang biasa terjadi saat malam pertama. Dave pun menyingkir dari tubuh sang istri, urung melakukan penyatuan tubuh mereka.


Wajah Dave pun berubah dingin. Senyum manis yang sedari tadi menghiasi bibir hilang entah kemana. Ia sangat kecewa akan hal itu.


Melihat perubahan mendadak di wajah sang suami membuat Nayla bingung. Ia pun langsung bertanya padanya, "Ada apa, Dave? Kenapa kau tak jadi melakukannya?."


"Tidak apa!," jawab Dave sambil menggelengkan kepala tanpa mau melihat wajah istrinya lagi. "Mendadak aku teringat kalau pagi ini ada hal penting yang harus aku lakukan."


Usai berkata begitu Dave langsung bangkit dan memasuki kamar mandi. Meninggalkan sang istri yang masih diliputi oleh kebingungan.

__ADS_1


Nayla menatap punggung suaminya dengan berjuta pertanyaan di otak. Ia tak tahu apa yang membuat suaminya mendadak berubah seperti itu. Ia sangat yakin bahwa apa yang dikatakan oleh suaminya tadi hanya alasan belaka.


__ADS_2