
Dengan alasan membersihkan ruangan, Langit berusaha menyelinap ke ruangan HRD untuk mencari data diri milik Dave. Dan begitu memastikan tidak ada orang disana, ia segera mencari berkas yang dimaksud.
Mencari sebuah berkas diantara ribuan berkas tidaklah mudah. Apalagi untuk ukuran perusahaan sebesar Haidar Corporation yang tentu memiliki ribuan karyawan di dalamnya.
Di tengah keputusasaan, Langit melihat tumpukan berkas lain diatas meja kepala HRD. Dan walau sedikut ragu, ia mendekatinya juga.
Mencari dan terus mencari, akhirnya Langit berhasil mendapatkan berkas yang dimaksud. Namun saat ia membuka berkas tersebut, seseorang masuk ke sana.
Ternyata itu adalah Dave, berjalan dengan angkuhnya dan bertanya untuk apa ia berada disana.
Langit sangat muak mendengar Dave mengaku bahwa perusahaan ini adalah miliknya. Ingin rasanya ia menonjok wajah penuh keangkuhan itu.
Tak ada pilihan lain bagi Langit selain menyelesaikan tugasnya dan segera berlalu. Ia tak ingin Dave sampai memecatnya sebelum semua penyelidikannya berhasil. Dan sepertinya keadaan saat itu belum berpihak padanya sehingga membuatnya gagal mendapatkan apa yang hampir berada di tangan.
Sepeninggal Langit, Dave menghempaskan tubuh diatas kursi. Namun tiba-tiba sudut matanya melihat berkas di bawah kolong meja yang sengaja di jatuhkan oleh Langit tadi.
Menundukkan sedikit tubuh untuk mengambil berkas tersebut. Namun saat ia membukanya, ia sangat terkejut.
"Lho, ini kan surat lamaran kerjaku dulu. Untuk apa Office boy tadi memegang berkasku ini?."
Kecurigaan pun mulai menyelimuti hatinya. Ia merasa ada yang aneh dari sikap office boy tadi. Apalagi sedari awal ia terlihat berani padanya. "Sepertinya ada yang tidak beres dengan office boy tadi. Ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus selalu mengawasinya," gumamnya dalam hati.
Ia pun menyimpan berkas itu di balik jas lalu bergegas keluar ruangan. Tanpa ia sadari bahwa dia sendiri sedang diawasi.
...****************...
Keesokan hari Langit mencoba untuk menyelinap kembali ke ruangan HRD dan mengambil berkas yang dilemparkannya ke kolong meja kemarin. Namun setibanya di sana ia tak berhasil menemukan berkas tersebut.
"Sial! Sepertinya seseorang sudah menemukan berkas itu dan memindahkannya ke tempat lain. Dan sekarang aku tidak ada waktu untuk mencarinya lagi," geram Langit sedikit kesal. "Lalu sekarang aku harus bagaimana? Apa aku harus meminta bantuan pak Bagas lagi?."
__ADS_1
Langit pun segera keluar dari ruangan itu dan bersikap senormal mungkin agar tak membuat orang lain curiga.
...****************...
Sementara itu di tempat lain.....
"Cepat cari tahu siapa saja office boy yang baru bekerja disini!" ucap Dave pada Siska, sekretarisnya saat baru tiba di ruangannya.
Siska dibuat bingung mendengar permintaan tak lazim dari suami sang pemilik perusahaan. Sontak ia pun bertanya sambil mengernyitkan dahi, "Untuk apa anda menanyakan hal remeh itu, pak? Bukankah itu sesuatu yang tidak penting?."
Mendengar perintahnya di pertanyakan, Dave pun berteriak marah. "Jangan banyak tanya dan cukup lakukan apa yang aku perintahkan, mengerti!." Bangkit dari tempat duduk dan menggebrak meja keras.
Siska sedikit terjingkat melihat kemarahan Dave. Sontak ia menundukkan kepala seraya berkata, "Ma....maafkan saya, pak! Saya akan segera melakukan apa yang anda minta."
"Ya sudah sana, cepat kerjakan!" ucapnya sambil mengibaskan tangan, mengusir Siska keluar. Dan tanpa banyak bicara Siska pun keluar dari ruangan melakukan apa yang ia minta.
Sepeninggal Siska dari ruangan, Dave kembali menghempaskan tubuh di atas kursi kebesarannya. "Dasar sekretaris tidak berguna! Pagi-pagi sudah bikin orang emosi saja," sungutnya kesal.
"Maaf, pak! Ini daftar para office boy baru disini, " ucapnya sambil menyodorkan berkas yang dibawanya ke hadapan Dave.
"Mmh, cepat juga kinerja kamu! Saya sangat suka," puji Dave dengan senyum puas di wajah. "Ya sudah sana, kembali lagi ke pekerjaan kamu."
Siska pun kembali keluar ruangan.
Dave membaca data para office boy dan mencari nama pria yang di temuinya kemarin lewat foto yang terpampang disana.
"Oh, jadi office boy kemarin bernama Farhan.," ucapnya saat berhasil menemukan Foto Langit.
Langit sengaja memalsukan namanya menjadi Farhan dalam data karyawan agar samarannya tidak mudah terbongkar. Dan ini adalah salah satu alasan kenapa semua orang tak bisa mengenali dirinya.
__ADS_1
Dave pun membaca cv milik Langit. Namun tiba-tiba ia mengeryitkan dahi. "Apa ini? riwayat pendidikannya sebagus ini?. Lalu kenapa dia malah bekerja sebagai office boy? Bukankah seharusnya ia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus lagi?."
"Menarik, aku sangat tertarik!. Sudah aku duga bahwa ada yang lain dari lelaki itu. Dan aku akan terus mengawasinya" ucapnya dengan bibir tersungging senyuman sinis.
Menyimpan kembali berkas itu dengan baik dan melangkah keluar ruangan untuk mencari keberadaan Langit.
Siska yang melihat atasannya keluar ruangan pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan bertanya, "Anda mau kemana, pak? Apa ada yang bisa saya lakukan untuk anda?."
"Mencari office boy bernama Farhan," jawab Dave singkat lalu kembali melangkahkan kaki tanpa memperdulikan Siska yang melongo keheranan.
"Dimana office boy yang bernama Farhan?" tanyanya pada salah satu karyawan saat ia tiba di lantai bawah.
"Dia ada di pantry, Pak. Apa bapak ingin saya memanggilnya?," ucap salah satu karyawan. Namun dengan cepat Dave menolak tawarannya. "Itu tidak perlu!biar saya sendiri yang menemuinya."
Sontak semua mata pun memandang dengan sejuta tanya di benaknya. Untuk apa suami seorang CEO menemui seorang office boy secara pribadi.
Tanpa memperdulikan tatapan penuh tanda tanya mereka, Dave berlalu menuju pantry dan memanggil Langit.
"Mana orang yang bernama Farhan?" tanyanya setibanya di sana.
Jimmy, rekan seprofesi Langit yang kebetulan berada di dekatnya langsung menyikut lengannya."Kamu dipanggilin bos tuh!" ucapnya.
Langit yang saat itu sedang membuatkan kopi untuk salah satu karyawan pun langsung menghentikan aktifitasnya dan langsung menghadap. "Saya, Pak! Ada apa bapak memanggil saya? Apa ada yang bisa saya bantu?."
Memasang wajah datar dan bersikap sok berkuasa seperti yang ia tunjukkan pada Langit kemarin. Dave memandang rendah pria di hadapannya tanpa tahu siapa dia sebenarnya.
"Aku ingin kau membuatkan segelas es jeruk dengan irisan lemon diatasnya. Rasanya harus sama persis dengan buatan restoran. Setelah itu antarkan ke ruanganku" perintahnya.
"Tapi, pak, disini kan tidak tersedia sari jeruk. Lalu bagaimana saya bisa membuatnya?" ucap Langit dengan alis saling bertaut.
__ADS_1
"Saya tidak mau tahu. Pokoknya saya ingin kamu membuatkannya untukku. Dan dalam waktu lima belas menit, minuman itu harus sudah ada di atas mejaku. Lebih dari itu maka aku akan memecatmu."
Setelah berkata begitu ia berlalu begitu saja meninggalkan Langit dalam kebingungan. "Rasain kamu! Akan kubuat kamu menderita sampai tidak tahan bekerja disini. Ini akibat dari ulahmu kemarin yang berani bersikap kurangajar padaku," gumamnya dengan senyum sinis tersungging di bibir.