Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 51


__ADS_3

Singkat cerita Langit pun mendatangi Abhimana di ruang kerjanya.


Tok..tok..tok


"Masuk!."


"Assalamualaikum, yah!" ucap Langit.


Abhimana yang sedari tadi tengah berkutat dengan banyaknya dokumen dihadapannya pun sontak mengalihkan pandangan. "Langit!" serunya dengan mata berbinar. Lalu ia pun bangkit dari tempat duduk untuk menyambut kedatangannya.


Langit tersenyum tipis, berjalan mendekati Abhimana, lalu mencium punggung tangannya. "Apa kabar, yah?" tanyanya.


"Kabar ayah baik. Kamu sendiri bagaimana?"


"Langit juga baik, yah."


"Ayo, mari, silahkan duduk!" ucap Abhimana menunjuk ke arah sofa yang ada di ruangan itu.


Langit mengangguk, lalu duduk di sofa itu berhadapan dengan Abhimana. Mereka lalu mengobrol sebentar mengenai kehidupan masing-masing sekedar untuk berbasa-basi.


Usai berbasa-basi, Langit mulai pada tujuan utamanya mendatangi Abhimana. "Maaf, yah, Langit dengar Ayah mengusir kak Nayla. Kenapa, yah?" tanyanya langsung.


Mendengar pertanyaan Langit, Abhimana tersenyum tipis. "Kau pasti mendengarnya dari bundamu kan?."


Langit mengangguk singkat. "Benar, yah. Bunda sudah menceritakan semuanya pada Langit. Tapi ada satu hal yang Langit tak mengerti. Kenapa ayah tidak menyetujui pernikahan mereka? setahuku ayah bukan tipe orang yang suka melihat harta dan jabatan seseorang."


Abhimana tersenyum singkat. "Kau memang putraku. Kau sangat mengenal siapa diriku."


Ia pun lalu bangkit, berdiri membelakangi Langit dengan pandangan menatap ke arah langit-langit. "Kau mungkin takkan mempercayainya, tapi hati seorang ayah mengatakan bahwa ada yang tidak benar dengan pria itu."


"Maksud ayah, Davka?" tanya Langit.


"Dave, Davka, atau siapa lah itu namanya aku nggak peduli. Yang jelas aku tidak percaya sedikitpun dengannya."


"Kalau boleh tahu, memangnya kenapa, yah?."


"Saat pertama kali Nayla memperkenalkannya pada kami, Ayah merasa wajahnya sangat tidak asing. Tapi ayah tidak tahu kapan pernah bertemu dengannya. Dan saat ayah melihat sorot matanya, ada sesuatu yang tidak beres disana. Ayah sendiri tidak tahu apa itu. Yang jelas itu bukan sesuatu yang baik."

__ADS_1


Langit manggut-manggut mendengar penjelasan Abhimana. "Aku mengerti maksud ayah, dan aku sangat percaya dengan ayah. Sekarang apa yang ayah ingin Langit lakukan! Aoa ayah ingin Langit menyeledikinya?"


Abhimana kembali menghadap Langit, tersenyum tipis, lalu berkata, "Sekali lagi kau membuktikan bahwa kau memang adalah putraku. Kau langsung mengerti apa yang ayah inginkan sebelum ayah mengatakannya."


"Kau sangat benar, Langit! Ayah memang ingin kau menyelidiki siapa pria itu. Ayah tidak percaya dengan siapapun selain kau."


"Itulah mengapa ayah ingin Langit segera pulang kan?" ucap Langit.


"Kau benar sekali. Kau memang putraku yang paling bisa aku andalkan."


Langit tersenyum tipis mendengar pujian Abhimana. "Baik, yah. Langit akan menyelidiki siapa Dave sebenarnya dan apa maksud dibalik niatnya mendekati kak Nayla. Secepatnya Langit akan mengabarkannya pada ayah setelah mengetahuinya."


"Bagus! Ayah sangat mengandalkanmu."


...****************...


Sementara itu diwaktu yang sama namun berbeda tempat, Dave terlihat tengah mendatangi Nayla di kamarnya.


"Nay, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu!" ucap Dave. Nada bicaranya terdengar sangat serius.


Dave pun menghempaskan tubuh ke aras ranjang, duduk saling berhadapan dengan istrinya. Sorot matanya terlihat datar.


Terus menampilkan senyum terbaiknya, Nayla mulai membuka percakapan. "Bagaimana harimu tadi di kantor, Dave?."


"Tidak terlalu baik!," jawab Dave singkat. Nada bicaranya pun sangat dingin.


"Memangnya ada apa, Dave?."


"Cukup bicaranya, Nay. Aku kesini bukan untuk berbasa-basi. Aku menemuimu untuk membicarakan hal yang penting," ucapnya meninggi hingga membuat Nayla sedikit berjingkat.


Nayla menghela nafas. "Maafkan aku, Dave. Sekarang katakan, hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku? "ucapnya tetap kalem. Diusapnya lembut perutnya yang semakin membuncit agar tak bergejolak lagi akibat terjingkat tadi.


Sejenak Dave diam, mencari kata-kata yang tepat untuk mengatakan maksudnya. "Nayla, kau tahu sendiri kan kalau beberapa bulan terakhir aku tak bisa pergi ke kantor karena kecelakaan itu."


"Iya, lalu?" tanya Nayla dengan kedua alis saling bertaut, belum mengerti maksud perkataan suaminya.


"Selama aku tidak bisa ke kantor, ternyata terjadi masalah besar disana."

__ADS_1


Nayla terkejut mendengar ucapan suaminya yang baru sekata-kata. "Masalah apa, Mas? Apa masala sangat serius?" tanyanya penuh kekhawatiran. Bila sudah menyangkut soal perusahaan, Nayla tak bisa tenang. Apalagi perusahaan itu adalah warisan dari kakeknya, mendiang papa Kania.


"Tenang dulu, Nay, jangan panik. Aku akan jelaskan semuanya padamu."


Nayla pun mencoba untuk tenang kembali. Apalagi perutnya terasa kembali bergejolak karena kepanikannya tadi. "Baiklah, Dave, aku sudah tenang. Sekarang jelaskan semuanya padaku!."


"Begini, Nayla. Untuk saat ini aku tidak bisa mengatakan seberapa besar masalah yang terjadi di perusahaan. Hanya saja....."


Dave sengaja menjeda ucapannya untuk memancing rasa penasaran istrinya. Dan benar saja, Nayla langsung terpancing dengan kata-kata suaminya itu. "Hanya apa, Dave. Ayo katakan! Jangan membuatku mati penasaran seperti ini."


Gotcha.....Dave bersorak dalam hati melihat Nayla masuk ke dalam perangkapnya dengan begitu mudah.


Sebenarnya tak terjadi apapun dengan perusahaan Nayla. Semuanya masih berjalan dengan normal. Hanya saja dia melakukan sandiwara ini demi satu tujuan, yaitu mengambil uang Nayla sebanyak-banyaknya.


"Saat ini aku membutuhkan suntikan dana yang cukup besar untuk mengatasi masalah itu," ucapnya.


Nayla menghela nafas, mengerti akan maksud perkataan suaminya. "Suntikan dana, ya? Seberapa besar dana yang kau butuhkan?."


"Cukup besar, Nay. Kira-kira sebesar tiga puluh milyar rupiah."


"Apa? Tiga puluh milyar? Jangan beecanda kamu?" Nayla terkejut setengah mati mendengar nominal yang disebutkan suaminya.


"Aku tidak bercanda, Nay. Memang itu yang aku butuhkan."


"Tapi itu bukan angka yang sedikit, Dave. Itu sangat-sangat besar!."


Nayla memang berasal dari keluarga kaya raya, dan uang sebesar itu tidak ada artinya jika dibanding dengan semua kekayaan yang dimilikinya . Namun bagi Nayla yang sangat menghargai nilai uang, uang sebanyak itu sangatlah banyak.


"Aku tahu kalau uang itu sangat banyak. Makanya sejak awal aku katakan kalau masalah yang terjadi di perusahaan sangat besar."


Nayla diam, menghela nafas berat, dan berpikir sejenak. Lalu kemudian dia berkata, "Baiklah, Dave. Besok aku akan ikut denganmu ke kantor untuk menyelesaikan masalah itu."


Mendengar perkataan istrinya, wajah Dave mendadak pucat pasi. "Gawat, bisa kacau semua rencanaku kalau sampai Nayla pergi ke kantor," ucapnya dalam hati.


"Nayla itu wanita yang sangat cerdas. Dia pasti langsung tahu kalau aku hanya menipunya. Kenapa aku tidak mengantisipasi hal ini."


"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Apapun caranya aku harus mencegahnya."

__ADS_1


__ADS_2