
Dave meninggalkan Nayla begitu saja setelah mengucap kata talak. Tak diperdulikannya lagi jerit tangis sang istri yang begitu menyayat hati.
Semula Natasha hanya diam dan hanya memperhatikan pertengkaran mereka tanpa ada keinginan untuk melerai. Namun saat Dave mengatakan bahwa dirinya ingin berpisah dari Nayla membuatnya tak bisa tinggal diam lagi.
"Apa-apaan si Dave ini? Kenapa tiba-tiba dia mau menceraikan Nayla?."
"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus bicara dengan Dave atau semua rencana balas dendamku akan berantakan," ucapnya dalam hati.
Natasha pun mendekati Nayla dan menghiburnya. Ia melakukan ini bukan untuk menunjukkan rasa simpati, melainkan hanya sebuah pencitraan saja.
"Tenangkan dirimu, nak, Dave pasti tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya tadi," ucapnya.
Nayla memandang wajah ibu asuh Dave. Wajahnya sangat sembab karena banyaknya air mata yang tertumpa. "Tapi bagaimana jika dia memang bersungguh-sungguh, Ma? Aku tidak ingin kehilangan Dave," ucapnya lirih.
Natasha tersenyum teduh. Diusapnya kepala sang menantu lembut. "Kau tenang saja, nak! Biar Mama yang bicara dengannya. Mama akan membuatnya percaya kalau ini semua hanya salah paham."
Mendengar ucapan Natasha, mata Nayla berbinar dipenuhi oleh harapan. "Benarkah itu, Ma? Mama bersedia membantuku?."
Natasha menganggukkan kepala sambil terus tersenyum, membuat binar mata Nayla semakin nyata. "Terimakasih banyak, Ma. Aku sangat berterimakasih atas semua bantuan Mama," ucapnya penuh bahagia seraya memeluk erat Natasha.
Natasha membiarkan Nayla mendekap tubuhnya sebentar. Dan setelah dirasa cukup, ia melonggarkan dekapannya itu. Diusapnya lelehan air mata Nayla yang masih tersisa. "Sekarang hapus air mata kamu dan beristirahatlah di kamar. Kamu pasti lelah karena menunggunya terus sedari tadi."
"Tapi, Ma, Bagaimana dengan Dave?." Nayla menolak saran Natasha untuk beristirahat. Bagaimana mungkin dia bisa tenang sementara Dave pergi dari rumah dalam keadaan penuh dengan kemarahan.
Natasha kembali tersenyum melihat kekhawatiran Nayla. "Kamu jangan risau. Bukankah tadi Mama sudah bilang akan mengatasi masalah ini? Jadi biar Mama yang menunggu Dave pulang."
Mendengar ucapan Mama Dave, hati Nayla menjadi sedikit tenang. "Terimakasih banyak, Ma. Tolong nanti bangunkan aku kalau Dave sudah pulang."
Natasha mengangguk, Nayla bangkit dan berjalan memasuki kamar.
...****************...
__ADS_1
"Apa-apaan kau ini Dave? Kenapa kau malah ingin menceraikan Nayla? Kau ingin semua rencana yang kita susun hancur berantakan?," berang Natasha saat melihat Dave pulang. Ia segera menarik tubuh Dave masuk ke kamarnya agar tak ketahuan oleh Nayla. Saat itu hari mulai pagi.
"Kenapa Mama malah memarahiku? Bukankah tadi Mama sudah mendengar apa alasanku melakukan ini" jawab Dave. Ia tak suka melihat Mamanya yang terkesan malah memihak Nayla.
Natasha mendengus kesal. "Kau itu jangan bodoh, Dave! Kau lupa apa tujuan kita sebenarnya mendekati Nayla?."
Dave balik menatap kesal Mamanya. "Aku ingat semuanya, Ma! Jangan pernah mengingatkanku lagi. Tapi masalahnya, lelaki mana yang sudi menerima bekas orang lain?."
Natasha semakin kesal melihat kebodohan anaknya. Terpaksa ia menggeplak kepala Dave untuk membuatnya tersadar. "Kau ini bodoh atau memang nggak punya otak. Kenapa kau malah terpengaruh oleh masalah sepele seperti itu?."
Dave mengusap kepalanya yang terkena geplakan Natasha. Sementara Natasha sendiri berjalan mengambil handphonenya yang tergeletak diatas nakas.
"Lihat ini, perhatikan wajah ini baik-baik!," ucapnya sambil menunjukkan sebuah foto di galeri teleponnya. "Apa darahmu tidak menggelegak dan ingin menuntut balas setiap melihat wajahnya?.
Dave hanya diam mendengar perkataan Mamanya. Namun sorot matanya nampak berkilat penuh amarah melihat wajah di foto itu.
"Ingat, Dave! Jangan rusak semua rencana kita yang sudah tersusun rapi hanya karena masalah ini," lanjutnya.
"Wanita bisa dicari!. Kau bisa mendapatkan wanita manapun yang kau inginkan, tapi itu nanti, setelah kita berhasil menguasai semua harta Abhimana dan menghancurkan keluarganya."
"Kau boleh menceraikan Nayla tapi itu nanti! setelah semua tujuan kita tercapai. Ingat! Dia adalah alat kita untuk membalas dendam. Jadi jangan pernah meninggalkan dia lagi."
"Harusnya kamu mengambil hatinya agar dia semakin percaya pada kita dan mau menuruti apapun yang kita minta. Bukannya malah membuatnya menangis dan kecewa seperti ini."
Meski hanya diam dan tak mengucap satu katapun, namun agaknya ucapan panjang lebar Natasha tadi membuat Dave tersadar. Ia pun menghela nafas panjang. "Maafkan aku, Ma! Aku hanya terbawa perasaan saja tadi."
Natasha ikut menghela nafas mendengar permintaan maaf anaknya. Suaranya pun perlahan kembali melembut. "Ya sudah, tidak apa. Yang penting jangan melakukan kebodohan apapun lagi. Sekarang pergilah ke kamar kalian. Minta maaf ke Nayla dan buat hatinya senang."
Dave mengangguk mengiyakan. "Baik, Ma. Aku balik ke kamar sekarang!."
"Pergilah!."
__ADS_1
Dave pun berlalu meninggalkan Mamanya dan menuju kamarnya sendiri. Perlahan diputarnya gagang pintu dan mendorongnya pelan agar tak membuat Nayla terbangun.
Ia pun menghempaskan tubuh disamping sang istri. Di pandanginya wajah sembab Nayla akibat terlalu banyak menumpahkan air mata.
Tiba-tiba sebuah perasaan aneh muncul di hati kecil Dave setelah menatap wajahnya. Perasaan yang entah ia sendiri tak sanggup mengartikannya. Perasaan yang membuat tangannya bergerak mengusap wajah yang tengah terlelap dalam tidur.
Merasakan sentuhan di wajahnya, perlahan Nayla membuka mata. Pandangannya disuguhkan dengan kehadiran sang suami yang tengah duduk disampingnya. "Dave, kau sudah pulang?," tanyanya lirih.
Menyadari bahwa Nayla telah terbangun, Dave memalingkan wajah dan berdiri menjauh. Ditepisnya segera perasaan aneh yang sempat hinggap di hati.
Melihat suaminya ingin kembali menjauh, Nayla segera meraih tangannya untuk menghentikan pergerakannya. "Maafkan aku, Dave. Tolong jangan pergi lagi!" ucapnya lirih.
Sontak Dave menghentikan langkah dan berbalik menghadap Nayla. "Tidak, Nay, harusnya aku yang meminta maaf padamu. Aku telah menyakiti hatimu dan menuduhmu yang bukan bukan. Sekali lagi maafkanlah aku!," ujar Dave sepenuh hati.
Hati Nayla menghangat mendengar permintaan maaf suaminya. "Apa itu artinya kau tidak akan menceraikanku, Dave?," tanyanya.
Dev menggeleng tegas. "Tidak akan! dan itu tidak akan pernah terjadi."
"Apa kau bersungguh-sungguh?" tanyanya kembali. Meminta penegasan dari ucapannya tadi, yang di jawab dengam anggukan kepala oleh Dave.
Sontak Nayla menghambur ke pelukan suaminya. Wajahnya dipenuhi dengan binar bahagia. "Terima kasih banyak, Dave. Aku mencintaimu!."
Dave membalas pelukan istrinya. Di dekapnya tubuh Nayla penuh mesra. "Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Karena kau masih menerimaku sebagai suamimu setelah apa yang aku lakukan padamu. Sungguh, aku pun tak ingin kehilanganmu," ucapnya lembut, dikecupnya seluruh wajah sang istri penuh cinta.
Entah itu memang ungkapan cintanya dari dalam hati atau hanya sekedar berpura-pura dihadapan Nayla saja. Karena Dave sendiri pun tak tahu dengan apa yang terjadi pada hatinya.
Puas saling menumpahkan perasaan masing-masing, perlahan mereka melepas pelukan. "Apa kau sudah bicara dengan Mama tadi?" tanya Nayla.
Dave pun mengangguk. "Ya, dialah yang membuatku menyadari kesalahanku."
Nayla tersenyum mendengar jawaban suaminya. "Mamamu memang orang yang baik, Dave. Aku sangat senang dia ada disini."
__ADS_1
Dave hanya tersenyum kaku menanggapi ucapan Nayla.