Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 23


__ADS_3

"Lihat, Ma! hari ini aku telah berhasil membuat Nayla menyerahkan kepemimpinan perusahaan padaku. Tapi ini hanya permukaannya saja! Karena setelah ini, satu persatu aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku dari tangannya" ucap Dave saat tengah berdua dengan Mamanya sepulang dari kantor.


"Ssst....pelankan suaramu!" ucap Natasha sambil meletakkan jari telunjuk diatas bibir dan kepala celingak-celinguk memastikan tidak ada yang mendengar ucapan putranya tadi. "Nanti kedengeran Nayla."


Melihat ketakutan Mamanya, Dave malah tertawa. "Ha ha ha....Mama tenang saja! Tidak akan ada yang mendengar pembicaraan kita. Kita kan hanya tinggal bertiga di apartemen ini. Lagipula tadi aku melihat kalau Nayla sudah tertidur pulas."


Mendengar ucapan putranya, Natasha menghela nafas lega. "Syukurlah kalau begitu. Mama sempat khawatir kalau Nayla mendengar pembicaraan kita."


"Tidak akan, Ma. Tenang saja!."


"Jadi, apa katamu tadi?" Natasha kembali bertanya karena tadi ia tak terlalu mendengarkan ucapan anaknya lantaran takut ketahuan.


Dave menghela nafas dan memanyunkan bibir. "Putramu ini sufah berhasil menjalankan sebagian dari rencananya, Ma" ujarnya menjeladkan secara singkat.


"Bagus!" puji Natasha sambil mengacungkan jempol. "Pastikan semua rencana kita berjalan sempurna!."


"Pastinya, Ma!" jawab Dave penuh keyakinan. "Aku sudah menyusun semua rencana dengan matang dan memastikannya berjalan dengan sempurna. Jadi Mama nggaknperku khawatir lagi."


"Tapi untuk sekarang, mari kita bersulang dulu untuk merayakan keberhasilanku tadi. "Meraih gelas berisi anggur dan mengangkatnya ke atas.


Natasha melakukan hal yang sama dengan putranya dan mereka pun bersulang.


Ting....suara gelas saling beradu.


"Bersulang untuk keberhasikan kita" ucap mereka bersamaan lalu meminum isinya dengan cara menautkan kedua lengan mereka membentuk huruf x.


Tawa berderai pun terdengar dari mulut mereka setelahnya.


...****************...


Sementara Davka dan Mamanya bahagia karena telah berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan dan merayakannya dengan cara bersulang, di sisi lain salah satu orang kepercayaan Abhimana mendatanginya dengan tergopoh-gopoh.

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan, karena mengganggu anda malam-malam begini. Tapi ada hal penting yang harus segera saya sampaikan pada anda" ucapnya dengan nafas memburu.


Abhimana yang malam itu tengah bersantai sendirian di ruang tengah dengan posisi kaki saling menumpuk satu sama lain sambil menonton televisi pun mengalihkan pandangan pada orang kepercayaannya itu. Namun saat melihat ketegangan di raut wajahnya, ia menurunkan kaki dan memasang wajah serius. "Katakan! Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan sampai berani menganggu waktu istirahatku?."


Orang itu menunduk takut. "Maafkan saya, Tuan, tapi barusan Tuan muda Farrel tengah mengalami kecelakaan fatal dan mobilnya jatuh ke jurang."


Farrel adalah putra Kania dengan Abhimana, yang merupakan adik dari Nayla. Saat masih bayi dia bernama Faruq, tapi kemudian di ganti dengan nama Farrel lantaran sering sakit-sakitan.


Mendengar berita mengejutkan yang dibawa oleh salah satu orang kepercayaannya, sontak Abhimana bangkit dari tempat duduk saking terkejutnya "Apa?" teriaknya dengan mata terbuka lebar.


Suara teriakan Abhimana terdengar cukup keras, hingga membuat Kania yang kebetulan melintas datang mendekat. "Ada apa, Mas Abhi? Kenapa berteriak sedemikian kencang malam-malam begini?" tanyanya.


"Ti...tidak ada apa-apa, bunda" jawab Abhimana gugup. Sengaja berbohong karena tak ingin membuat istrinya khawatir.


Kania menatap suaminya penuh selidik. "Jangan coba-coba menutupi apapun dariku Mas! aku tahu kalau saat ini Mas Abhi sedang berbohong."


Abhimana memasang senyum di wajah agar tak membuat istrinya semakin curiga." Ayah tidak bohong, Bunda, tanya saja sendiri sama Adit," ujarnya sambil melirik ke arah orang kepercayaannya seakan mengisyaratkan agar mengatakan iya.


Dengan sedikit gugup dan kepala tertunduk, Adit mengiyakannya perkataan Abhimana. "I...iya, Nyonya. tuan tidak sedang berbohong."


"Tidak, Nyonya, itu tidak benar! Saya tidak sedang mencoba melindungi tuan apalagi menyembunyikan sesuatu."


"Jangan bohong lagi, Pak Adit!" berang Kania. "Katakan yang sebenarnya atau saya akan memecat anda!" sambil berkacak pinggang.


Mendengar ancaman Kania, Pak Adit ketakutan. "Saya mohon, Nyonya, jangan pecat saya. kasihan keluarga saya kalau saya sampai dipecat."


"Kalau begitu jangan coba-coba untuk membohongiku. cepat katakan padaku apa yang sedang kalian sembunyikan!."


"Baik, Nyonya!" menundukkan kepala untuk menghindar dari bersitatap demgan Abhimana. "Sebenarnya tadi saya mengatakan kalau tuan muda Farrel tengah mengalami kecelakaan dan mobilnya jatuh ke jurang."


"Ya Allah gusti, itu tidak mungkin" pekik Kania tertahan. "Katakan, Pak Adit, Itu semua tidak benar kan? Farrel putraku baik-baik saja kan?" tanyanya emosional.

__ADS_1


"Maafkan saya, nyonya. Tapi itu memang benar! Tuan mudah Farrel memang mengalami kecelakaan."


"Tidakkk..." jerit Kania. Mendadak tubuhnya lemas dan terkulai di atas lantai.


"Bunda..." Pekik Abhimana. Dengan sigap mengangkat tubuh istrinya dan meletakkannya di atas sofa. Tenangkan dirimu, Bunda, jangan seperti ini!."


"Bagaimana Bunda bisa tenang kalau mendengar putra kita mengalami kecelakaan?."


Abhimana menghela nafas berat. "Itulah kenapa tadi ayah tidak ingin memberitahukan hal ini pada Bunda. karena ayah tahu, reaksi bunda pasti seperti ini."


Setelah sedikit tenang, Kania merubah posisi duduk. "Katakan, Pak Adit, bagaimana kondisi putraku sekarang?."


"Kondisi Tuan muda cukup parah, nyonya. Tadi kami langsung membawanya ke rumah sakit begitu mendengar berita ini, dan saat ini tuan muda sedang berada dalam penanganan dokter di ruang ICU."


"Lalu kenapa sekarang kita masih ada di sini? antar aku ke rumah sakit itu sekarang juga!."


Mendengar istrinya ingin ke rumah sakit di tengah kondisinya yang sedang lemah, Abhimana langsung menghentikannya. "Tapi, Bunda, kondisi bunda saat ini sedang lemah. Biar ayah saja yang pergi ke sana."


Namun Kania menolak dengan keras. "Tidak, Mas Abhi, aku baik-baik saja. Aku harus pergi ke rumah sakit dan melihat langsung kondisi putraku."


Kania terus bersikukuh ingin ikut pergi ke sana, hingga akhirnya dengan terpaksa Abhimana mengizinkan "Baiklah, Bunda boleh Ikut!" ucapnya. "Tapi Bunda harus janji, setibanya di sana bunda tidak boleh histeris lagi."


"Baik, Bunda janji!" ucap Kania.


Abhimana beralih menatap orang kepercayaannya. "Adit segera persiapkan mobil dan antar kami ke rumah sakit di mana Farrel dirawat sekarang juga!" perintahnya.


Adit mengangguk. "Baik, Tuan!." lalu berlalu pergi dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Abhimana.


Adit segera membukakan pintu saat melihat Abhimana dan istrinya berjalan menghampirinya. "Silakan, Tuan, Nyonya," ucapnya sambil sedikit membungkukkan badan.


Abhimana mengangguk sekilas lalu mempersilahkan istrinya masuk ke mobil lebih dahulu. "Silakan, Bunda!."

__ADS_1


Tanpa banyak kata Kania segera masuk mobil diikuti oleh suaminya.


Adit menutup pintu dan segera mengemudikan mobil membelah jalanan kota menuju rumah sakit di mana Farrel dirawat.


__ADS_2