Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 42


__ADS_3

Semakin hari kondisi Farel semakin membaik. Apalagi Kania selalu merawat dan memastikan kesehatannya dengan baik. Hingga kemudian ia pun diperbolehkan untuk pulang.


Kania sangat gembira mendengar berita tersebut. Ia pun langsung mengemasi barang-barang mereka agar bisa segera mengajak Farel pulang ke rumah. "Ayo, nak, kita pulang sekarang!" ajaknya usai berkemas.


Farrel mengernyitkan dahi. "Pulang ke mana, bund?" tanyanya binging.


Kania tertawa kecil mendengar pertanyaan konyol putranya. "Pulang ke mana lagi? tentu saja ke rumah kita, tempat tinggal kita selama ini."


"Tapi aku tidak ingat apa-apa. Aku takut tidak bisa beradaptasi di sana.


"Kamu tenang saja. Kan ada, Bunda. bunda akan selalu membantumu setiap saat. Lagi pula kau kan anak yang pemberani. Masak begitu daja nyalimu sudah ciut."


Farrel tersenyum tipis. Meski tak yakin kalau bisa melewati itu semua, namun melihat ketulusan di mata Kania, ia pun mengangguk setuju. "Baiklah, aku akan ikut pulang bersama Bunda."


Sesaat setelah mendapat izin pulang, Kania langsung memberitahukan hal itu pada suaminya. Namun Abhimana meminta maaf tidak bisa menjemput mereka ke rumah sakit dan malah menyuruh sopirnya yang menjemput karena ada rapat penting yang tak bisa di tunda. Ia berjanji akan segera pulang dan menyambut kedatangan mereka di rumah.


Meski sedikit kesal karena suaminya lebih mementingkan pekerjaan ketimbang putranya sendiri, namun Kania tak mau terlalu memikirkannya. Kebahagiaan karena Farrel sudah diperbolehkan pulang jauh lebih besar ketimbang kekesalannya itu.


Dibantu oleh sopir pribadi suaminya, Kania memasukkan barang-barang ke mobil dan mereka segera meluncur ke arah rumah.


Saat pertama kali menjejakkan kaki, Farrel terlihat terpaku sambil memandangi bangunan kokoh yang berdiri dengan megahnya di hadapannya, seakan ia baru melihat bangunan tersebut.


Melihat keterpakuan putranya, Kania tersenyum kecil dan menyenggol lengannya untuk menyadarkannya dari lamunan. "Kok malah bengong disini? Ayo kita masuk!."


Farrel tersentak dari lamunannya. "i....ini beneran rumah kita?" tanyanya terbata, menatap Kania intens dan meminta jawaban.


Kania tersenyum teduh. "Tentu saja ini rumah kita. Emangnya mau rumah siapa lagi?."


"Udah ah, yuk kita masuk dulu ke dalam. Nanti kita lanjut ngobrol lagi di sana."

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Kania menggamit lengan putranya dan menyeretnya ke dalam. "Tara....inilah tempat tinggal kita" ucapnya setiba di dalam.


Farrel makin terpaku begitu sampai di dalam. Potongan-potongan kecil dari serpihan ingatannya berseliweran di kepala. Namun semua hanya tampak buram. Hingga kemudian kepalanya kembali berdenyut sakit. "Argk...." erangnya kesakitan sambil memegangi kepala.


Melihat hal itu, sontak Kania menjatuhkan tas yang dibawanya dan menolong Farrel. "Ada apa, nak?" tanyanya.


"Kepalaku sangat sakit, bunda."


"Kalau gitu, kamu duduk dulu disitu. Bunda akan ambilkan obat pereda rasa nyerimu dulu."


Tak seperti pertama kali yang lansung panik dan bingung harus melakukan apa saat Farrel mengeluhkan rasa sakit di kepalanya saat ia masih dirawat di rumah sakit, kali ini Kania jauh leqbih tenang dalam menyikapinya dan tahu apa yang musti di lakukannya.


Setelah memastikan putranya duduk dengan baik, Kania mengambil obat Farrel dari dalam tas dan memberikannya padanya.


Farrel mengambil obat itu dai tangan bundanya dan langsung meminumnya. Beberapa saat kemudian, nyeri di kepalanya pun kembali reda.


"Apa sekarang kepalamu tak sakit lagi, nak?" tanya Kania setelah melihat putranya kembali tenang.


Kania tersenyum teduh. "Sekarang katakan pada bunda, kenapa kepalamu bisa sakit?" tanyanya lembut penuh keibuan.


"Aku juga tidak tahu, bund. Mendadak tadi ingatanku bermunculan. Tapi semuanya masih nampak buram."


Mendengar ucapan Farrel yang mulai mengingat kembali, harapan Kania bahwa ingatan putranya akan segera kembali, kembali muncul.


"Tidak apa, nak. Semua akan baik-baik saja. Rasa sakit yang kau rasakan tadi akibat dari ingatanmu yang kembali muncul."


"Jika kau mengingat sesuatu tapi kemudian mendadak kepalamu terasa sakit, maka jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingatnya. Pelan-pelan saja. Lambat laun ingatanmu akan kembali seiring berjalannya waktu."


"Tapi bagaimana jika ingatanku tidak pernah kembali lagi, bund? Apa yang harus aku lakukan?."

__ADS_1


"Tidak ada" jawab Kania sambil menggelengkan kepala. "Cukup menjadi dirimu sendiri dan lakukan apapun yang harus kau lakukan."


"Ikuti saja apa kata hatimu. percayalah semua akan baik-baik saja."


Farrel sedikit tenang setelah mendengar kata-kata bijak sang bunda. Optimisme bahwa ingatannya akan segera kembali muncul lagi.


"Sekarang beristirahatlah! biar bunda tunjukkan dimana kamarmu. Kau masih butuh banyak istirahat."


Farrel mengangguk dan langsung mengikuti langkah sang bunda menuju kamarnya.


Terletak di lantai dua bersebelahan dengan kamar Nayla. Kania membukakan pintu kamar dan mempersilahkan Farrel beristirahat. "Ini kamarmu. Sekarang beristirahatlah. Bunda juga mau beristirahat sebentar." Farrel mengangguk, Kania berlalu.


Farel menutup pintu setelah memastikan bundanya tidak terlihat lagi lalu mendudukkan diri di atas ranjang. Diedarkannya pandangan ke seluruh penjuru ruangan seakan ingin memindai isi dari ruangan tersebut satu persatu ke dalam otaknya. Namun tak ada satupun dari sudut di ruangan itu yang mampu mengembalikan ingatannya. Ia merasa begitu asing dengan ruangan tersebut. Hingga kemudian kepalanya kembali berdenyut.


Farrel menghela nafas berat. "Benar kata Bunda. Sebaiknya aku tidak terlalu memaksakan diri untuk mengingat kembali. Lebih baik sekarang aku beristirahat saja," ucapnya lirih. Ia pun merebahkan diri di atas ranjang lalu memejamkan mata.


Sementara itu, setelah mengantar putranya ke kamarnya, Kania duduk kembali di ruang tamu menunggu suaminya pulang.


Mas Abhi ini gimana sih? Katanya akan segera pulang setelah rapat selesai, nyatanya sampai jam segini belum juga kembali," gerutunya kesal.


Lama menunggu namun Abhimana belum juga muncul, apalagi suasana siang itu begitu sunyi. Hingga akhirnya ia teringat kembali akan putrinya. "Bagaimana kabar putriku sekarang? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya," ucapnya sendu.


Beberapa saat kemudian terdengar deru suara mobil memasuki halaman rumah. Abhimana melangkah lebar memasuki rumah dan memanggil istrinya. "Bunda, kamu ada di mana? Ayah sudah pulang nih."


Namun Kania yang terlanjur sedih karena memikirkan putrinya yang jauh darinya, membuatnya mengabaikan panggilan suaminya.


Abhimana tertegun saat melihat istrinya tengah duduk termenung di ruang tamu. "Kenapa Bunda terlihat sedih? Bukankah Putra kita sudah pulang ke rumah," tanyanya sambil mendudukkan diri di hadapan istrinya. Dihapusnya lelehan air mata yang membasahi pipinya.


"Harus berapa lama lagi Bunda berpisah dengan Nayla?," tanya Kania tiba-tiba.

__ADS_1


Abhimana terhenyak mendengar pertanyaan istrinya, terasa bagai sebuah tamparan keras di pipi. Bukannya tak ingin membawa putrinya kembali ke rumah, namun kecelakaan yang menimpa Farrel kemarin benar-benar menyita perhatiannya hingga membuatnya lupa akan Nayla.


Melihat suaminya hanya bungkam, Kania kembali bertanya, "Jawab pertanyaanku, Mas Abhi? kenapa hanya diam saja. Harus berapa lama lagi Bunda memendam kerinduan ini?."


__ADS_2