
Nayla sempat syok saat mendengar kabar dari polisi jika suaminya, Dave tengah mengalami kecelakaan parah di dekat perusahaan miliknya dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat karena kondisinya yang sangat kritis.
Namun ia tak mau terlalu larut dalam kesedihan, ada hal yang jauh lebih penting yang harus ia lakukan selain meratapi kesedihan, apalagi saat ini kondisinya sedang berbadan dua. Ia pun segera menuju ke rumah sakit bersama Natasha, Mama mertuanya untuk melihat keadaannya. Dan begitu sampai disana, ia langsung bertanya di bagian resepsionis keberadaan suaminya.
"Sus, pasien korban kecelakaan yang baru saja di bawa kemari ada di ruangan mana?."
"Apa yang anda maksudkan adalah korban bernama Davka Digdaya?."
Nayla mengangguk. "Iya, sus, Kami keluarganya."
"Sebentar, biar kami periksa datanya dulu."
Sejenak Suster terlihat memeriksa catatan di layar komputer. Nayla menunggu dengan hati tak sabar. Namun tak berselang lama suster kembali menatap Nayla dan berucap, "Oh, dia berada di ruag ICU, masih dalam penanganan dokter."
"Baik, sus. Makasih," ucap Nayla. Dan ia pun langsung menuju ke ruangan yang disebutkan tadi.
Bagitu sampai di ruangan tersebut, ia menunggu dokter selesai menangani suaminya dengan harap-harap cemas.
Waktu terus bergulir, namun dokter belum juga menampakkan diri, membuat jiwa yang menunggu dalam ketidakpastian semakin khawatir. "Kenapa lama sekali? Apakah Dave memang separah itu?" batin Nayla, berjalan mondar-mandir di depan ruangan.
Tak berselang lama, pintu ruangan pun terbuka dan menampakkan dokter dibaliknya. Nayla langsung maju mendekat diikuti oleh Natasha dan bertanya mengenai keadaan Dave. "Bagaimana keadaan suami saya, dok?."
"Maaf, anda ini siapa?."
"Kami adalah keluarganya."
__ADS_1
Dokter mengangguk paham. "Suami anda mengalami tulang remuk pada bagian kaki kirinya akibat terhimpit oleh bodi kendaraan. Kami sudah melalukan tindakan operasi dengan memasang lempengan besi di kakinya untuk menyatukan kembali tulangnya yang remuk."
Nayla terbelalak, terlihat begitu syok mendengar kabar itu. "Astaga! Kenapa bisa separah itu. Apa kemungkinannya suami saya tidak bisa jalan lagi, dok?."
"Jika dilakukan terapi secara teratur, pasien bisa saja pulih kembali dan bisa berjalan, tapi besar kemungkinan tidak bisa berjalan dengan normal lagi."
"Ya Tuhan." Nayla jatuh terduduk mendengar keterangan dokter. "Kasian sekali, Dave."
Melihat hal itu, dokter kembali melanjutkan ucapannya. "Anda tidak perlu khawatir, kami akan berusaha keras untuk memperkecil kemungkinan tersebut."
Terbit sinar harapan di hati Nayla mendengar ucapan dokter tadi. "Benarkah itu, dok? Kalau begitu lakukan apa saja yang diperlukan. Yang penting suami saya bisa berjalan normal kembali.
Dokter mengangguk pasti. "Kami akan berusaha semaksimal mungkin."
"Kalau begitu, apa kami sudah diperbolehkan untuk menemuinya sekarang."
Nayla mendesah lesu, namun ia tetap mengangguk patuh. "Baik, dok, terimakasih. kami akan menunggu."
"Kalau tidak ada pertanyaan lagi saya permisi dulu. Ada pasien lain yang harus saya tangani." dan dokter pun berlalu meninggalkan mereka berdua.
Nayla kembali terduduk menunggu suaminya di keluarkan dari ruang ICU. Sesekali di usapnya lembut perutnya tempat sang jabang bayi berkembang agar tak bergejolak lagi lantaran dirinya yang terlalu emosional tadi.
Natasha pun melakukan hal yang sama, ikut duduk di samping menantunya dan menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Namun kali ini ia terlihat lebih bisa menguasai diri, bahkan tak terlihat lagi tetesan air mata yang mengalir dari kedua matanya.
Tak berselang lama pintu kembali terbuka, menampakkan dua orang perawat yang sedang mendorong brangkar dengan tubuh Davka di atasnya.
__ADS_1
Melihat hal itu, Nayla langsung bangkit dan berdiri sejajar dengan suaminya, melangkah kemana arah brangkar itu dibawa. Tangannya menggenggam tangan sang suami seolah tak mau terpisah.
"Dave," ucapnya lemah saat melihat tubuh sang suami yang tengah tergolek lemah diatas brangkar dengan kondisi sebelah kaki tertutup kain gips. Sebutir air mata pun luruh kembali.
Sementara itu Natasha hanya berjalan santai di belakangnya seolah tak khawatir sama sekali. Sikapnya terlihat jauh berbeda dengan saat baru mendengar kabar kecelakaan putranya tadi.
Dan akhirnya mereka pun tiba di ruang rawat VIP yang berada di lantai dua gedung ini. Melakukan pengecekan ulang dan memastikan tak ada yang perlu dikhawatirkan dari pasien, kedua perawat itupun berlalu pergi. Tinggallah Nayla dan Natasha seorang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Nayla memilih duduk di kursi kecil di sebelah sang suami sambil terus menggenggam tangannya menunggu ia sadar kembali. Sementara Natasha duduk di atas sofa yang jauh lebih nyaman dan sibuk memainkan handphone. Sesekali matanya terlihat melirik tak suka ke arah genggaman tangan Nayla.
Baru beberapa menit mereka duduk di ruangan itu, namun Natasha sudah merasa jenuh. Padahal sedari tadi ia tak melakukan apa-apa dan hanya sibuk main handphone.
Bangkit dari atas sofa, merenggangkan otot-ototnya yang dirasa kaku, lalu berjalan menghampiri Nayla. "Nay, Mama mau pulang kerumah dulu ya," pamitnya.
Mendengar permintaan mertuanya, Nayla mengernyitkan dahi. "Lho, Ma, kok udah mau pulang aja. Emangnya Mama nggak pengen lihat Dave siuman?."
"Nggah deh, Nay. Kepala Mama terasa agak pusing karena bau obat. Lagian kan udah ada kamu juga yang jagain. Nanti kamu kabari Mama aja kalau Dave udah sadar atau terjadi apa-apa. Nanti Mama pasti langsung ke sini."
"Tapi, Ma, yang sakit ini anak Mama sendiri lho, ya meski bukan anak kandung Mama sih. Tapi Mama kan sudah menganggap Dave seperti anak sendiri. Apa Mama nggak merasa khawatir sedikitpun gitu?."
Mendengar ucapan Nayla, Natasha hampir saja tersedak oleh air liurnya sendiri. Ia lupa jika yang Nayla tahu, dia hanya seorang ibu asuh, bukan ibu kandung Dave sendiri. Cepat-cepat ia menguasai diri kembali agar tak membuat Nayla curiga dan oenyamarannya terbongkar.
Memasang wajah memelas dan mengeluarkan jurus rayuan mautnya. Natasha berusaha mencari alasan yang tepat untuk meyakinkan Nayla agar ia tak semakin curiga. "Ayolah, Nay, jangan bicara seperti itu. Bukannya Mama nggak khawatir sama keadaan Dave, tapi Mama ini kan udah tua, nggak bisa kalau terlalu lama berada di rumah sakit."
Nayla menghela nafas berat. "Ya udah, Ma, nggak pa pa. Mama pulang aja. Biar Nay sendiri yang jagain Dave disini." Walau sedikit keberatan, namun akhirnya ia setuju juga.
__ADS_1
Nayla pikir ucapan Natasha ada benarnya juga. ia tak bisa memaksa orang yang sudah tua untuk berlama-lama berada di lingkungan rumah sakit. Bisa-bisa nanti niatnya mau jagain orang sakit, tapi malah jatuh sakit sendiri.