
Keesokan hari, Langit mulai menjalankan rencana penyelidikannya. Dengan mengenakan kemeja biru polos yang dipadukan dengan celana bahan tanpa merk, ia pergi ke perusahaan Nayla.
Membawa sebuah surat lamaran di tangan, Langit sengaja menyamar sebagai seorang pemuda biasa yang sedang mencari pekerjaan di sana untuk mempermudahnya dalam melakukan penyelidikan.
Setibanya di sana, Langit menuju meja resepsionis untuk mencari info lowongan pekerjaan yang mungkin bisa ia masuki. Namun sayang, saat itu perusahaan sedang tak membutuhkan karyawan baru.
Berjalan dengan langkah gontai. Langit terlihat tertunduk lesu. "Bagaimana ini? Gimana caranya aku bisa melakukan penyelidikan kalau aku nggak bisa masuk ke dalam perusahaan? Bisa saja aku mengaku sebagai adik dari kak Nayla. Tapi itu hanya akan membuat hasil penyelidikanku tidak akurat. Mereka pasti berlomba-lomba untuk mencari muka dihadapanku dan menyembunyikan hal yang sebenarnya."
Memutuskan untuk duduk diluar sambil memikirkan cara selanjutnya, tanpa sengaja ia menabrak seseorang karena tak memperhatikan jalan.
"Maaf-maaf, saya nggak sengaja," ucapnya sopan. Lalu memunguti barang-barang milik orang yang ditabraknya tadi yang berserakan.
"Tidak apa-apa. Biar saya yang bereskan barang-barang saya sendiri" ucap orang itu, lalu ikut menunduk memunguti barang-barangnya.
"Sekali lagi saya minta maaf, pak! Saya benar-benar nggak sengaja" ucap langit kembali seraya mengembalikan barang milik orang tersebut. Namun saat pandangan mereka saling bertemu, mereka berdua sama-sama terkejut."
"Pak Bagas!."
"Pak Langit! Apa kabar?,"
Pak Bagas tahu betul siapa lelaki muda yang tengah berdiri di hadapannya. Sebagai pria yang sudah puluhan tahun mengabdi di perusahaan itu, tentu saja ia tahu siapa saja keluarga dari pemilik perusahaan. Apalagi Langit sering mengunjungi perusahaan itu saat dulu Kania yang memegang.
Langit tak menjawab pertanyaan pak Bagas dan malah celingak-celinguk melihat ke sekitar. Dan setelah memastikan tidak ada yang melihat mereka, ia segera menarik tangan pak Bagas dan mengajaknya ke tempat yang sepi. "Ikut dengan saya, pak!" ucapnya.
Pak Bagas mengernyitkan dahi, bingung dengan tingkah Langit. "Kita mau kemana, pak?."
"Nanti saja saya jelaskan! Sekarang ikut saja dengan saya dulu."
Meski sedikit bingung dan ragu dengan permintaan Langit, namun pak Bagas tetap mengikuti langkahnya juga.
"Kenapa bapak malah membawa saya ke tempat seperti ini?" tanya pak Bagas kembali saat mereka tiba di tempat yang sepi.
"Sst, jangan keras-keras, pak! Nanti ada yang menguping pembicaraan kita," ucap Langit sambil menempelkan jari telunjuknya diatas bibir.
__ADS_1
"Maaf-maaf, tapi tolong jelaskan, ada apa ini sebenarnya?."
Langit diam sejenak, menyusun kata-kata yang tepat sebelum mulai bicara. Tiba-tiba terbesit sebuah ide dalam benaknya untuk sedikit bantuan pak Bagas. "Sebelumnya saya mau minta maaf karena sudah membuat pak Bagas kebingungan. Tapi saya kesini untuk melakukan hal yang penting. Dan untuk itu saya membutuhkan bantuan dari pak bagas."
"Bantuan apa yang pak Langit maksudkan?," tanya pak Bagas kembali, masih tak mengerti dengan maksud perkataan Langit tadi."
"Dengerin dulu penjelasan saya, pak!" ucapnya, memasang wajah serius.
Pak Bagas terlihat memasang pendengarannya baik-baik, menunggu apa yang ingin Langit katakan.
"Bapak pasti tahu kan dengan suaminya kak Nayla?."
"Iya, tahu. Lalu kenapa?" tanya pak Bagas balik.
"Sebelumnya saya mau tanya ke bapak. Saya harap bapak mau menjawab pertanyaan saya dengan sejujur-jujurnya tanpa ada yang di sembunyikan."
Pak Bagas terlihat menelan ludahnya sendiri mendengar ucapan Langit. Dalam benaknya ia berpikir sesuatu yang akan Langit tanyakan padanya pastilah sesuatu yang sangat penting. Tidak mungkin ia berkata begitu andai itu bukan sesuatu yang penting.
"Bagus!" ucap Langit. "Sekarang dengarkan baik-baik!."
"Kemarin tante Dinda mengatakan pada saya bahwa dia bertemu dengan anda beberapa hari yang lalu di sini. Dia bilang kalau anda ingin mengatakan sesuatu padanya tapi nggak jadi karena keduluan ada Dave. Yang ingin saya tanyakan adalah, apa yang ingin bapak katakan ke tante Dinda kemarin?."
"Bu....bukan apa-apa, pak! bukan sesuatu yang penting kok!" Wajah Pak Bagas terlihat sangat ketakutan. Suaranya pun ikut bergetar lantaran takut. Bahkan keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Padahal saat itu cuaca tidak sedang panas.
Melihat ketakutan di wajah pak Bagas, semakin mempertegas dugaan Langit bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi.
"Ayolah, pak, jangan mencoba untuk membohongi saya. Bukankah tadi bapak berjanji tidak akan membohongi saya."
"Tapi saya memang berkata jujur, pak," sangka pak Bagas.
Langit menatap tajam pak Bagas. "Jangan coba bohongi saya kalau anda tak pandai dalam melakukannya. Bahkan wajah bapak menunjukkan bahwa saat ini anda sedang berbohong."
Pak Bagas menundukkan kepala, tak berani menatap manik hitam milik sang lawan bicara.
__ADS_1
Melihat kebungkaman pak Bagas, Langit mengerti kalau saat ini ia berada dibawah sebuah ancaman.
"Saya tahu kalau saat ini bapak sedang diancam oleh seseorang. Tapi jawaban bapak ini akan sangat membantu penyelidikan saya. Bapak tenang saja, saya akan pastikan keselamatan bapak terjamin."
Pak Bagas terlihat memikirkan kata-kata Langit. Lalu kemudian ia mulai membuka suara. "Tapi bapak janji kan akan menjamin keselamatan saya kalau saya membuka mulut?" tanyanya meminta kepastian.
"Tentu saja!."
"Baiklah kalau begitu. Saya adkan beritahukan sebenarnya."
Sejenak pak Bagas menjeda ucapannya untuk mengambil nafas. "Semenjak perusahaan ini di pegang oleh pak Dave, terjadi banyak perubahan disini."
"Maksud bapak?."
"Pak Dave sering menyunat dana perusahaan untuk kepentingannya sendiri.
"Apa? Dave melakukan korupsi di perusahaan kakak?" tanya Langit, tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Pak bagas terlihat menganggukkan kepala. "Benar, pak! Bahkan beberapa bulan ini gaji para karyawan tidak dibayarkan."
"Lalu kenapa kalian hanya diam saja?" sentak Langit sedikit emosi.
"Bapak pikir kami akan diam saja di perlakukan tidak adil oleh pak Dave?" tanya balik pak Bagas dengan bibir tersenyum tipis. "Kami sudah berusaha untuk melawan. Tapi apa daya, kami hanya seorang karyawan."
"Pak Dave selalu mengancam akan menyakiti keluarga kami kalau sampai berani melawan apalagi berani buka mulut. Tak jarang dia memecat para karyawan tanpa suatu alasan yadmg jelas."
Langit manggut-manggut mendengar keterangan pak Bagas. "Terimakasih karena pak Bagas sudah memberitahukan hal ini pada saya. Saya berjanji akan segera mengatasi masalah ini, karena untuk itulah saya berada disini."
"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk membantu pak Langit?" tanya pak Bagas cepat. Binar matanya terlihat penuh harapan.
"Tidak ada. Yang perlu bapak lakukan hanya memasukkan saya ke perusahaan ini. Jadi officeboy pun tak apa. Sisanya serahkan pada saya."
Pak Bagas menganggukkan kepala. "Baiklah. Saya akan melakukan apa yang pak Langit inginkan. Jika bapak memerlukan bantuan lagi, bapak bisa mengatakannya ke saya."
__ADS_1