Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 57


__ADS_3

Meski Dinda mengatakan bahwa ia hanya memperingatkan dan menyerahkan semua keputusan pada Nayla, namun hatinya masih saja tak tenang.


"Aku tahu Nayla itu sangat percaya dengan suaminya, dan itu adalah haknya. Aku tak bisa menyalahkannya atas hal itu. Tapi masalahnya ini menyangkut perusahaan. Aku tidak bisa tinggal diam dan membiarkan perusahaan Om Pramono hancur begitu saja."


"Bagaimana ini? Apa aku harus memberitahukan hal ini pada Abhimana dan Kania? Tapi itu tidak mungkin. Saat ini mereka sedang mengalami banyak masalah. Aku tak ingin menambah masalah mereka dengan memberitahukan kecurigaanku ini. Apalagi aku belum memiliki bukti apapun yang bisa menguatkan dugaanku ini."


Sepanjang perjalanan pulang Ia terus mencari cara untuk membuat Nayla percaya pada kata-katanya. Hingga kemudian ia teringat akan sesuatu.


"Aha, aku tahu! Bukankah tadi Nayla bilang kalau Langit sudah pulang kembali ke Indonesia. Kenapa aku nggak beritahukan hal ini padanya saja."


Dinda pun menepikan mobilnya dan segera mencari nomor Langit dalam daftar kontaknya.


Lama mencari namun Dinda belum juga berhasil menemukan nomor kontak Langit. "Ya ampun, kenapa aku bisa lupa begini?" ucapnya setelah beberapa saat sambil menepuk jidadnya sendiri. "Aku kan nggak punya nomor Langit."


"Sekarang aku harus bagaimana? Apa aku temui saja dia dirumah Kania? Tapi nanti Kania bisa curiga kalau melihatku bicara berdua dengannya."


Dinda menggigit bibir bawahnya sambil memikirkan cara yang lain. Lalu kemudian....


"Kenapa aku nggak kepikiran dari tadi? Aku kan bisa meminta nomor Langit pada Nayla. Sudah pasti dia memilikinya."


Ia pun memutar nomor Nayla dan menghubunginya.


"Ya, tante. Ada apa menelponku lagi? Kita kan baru saja bertemu. Apa masih ada yang ingin tante bicarakan denganku?" tanya suara di seberang saat panggilan sudah tersambung.


Dinda tersenyum tipis mendengar ucapan Nayla. "Dari nada bicaranya, sepertinya dia masih kesal karena aku mencurigai suaminya," gumamnya dalam hati.


Tak terdengar suara apapun Nayla kembali bersuara. "Halo, Tante. Apa tante masih ada disitu?."


Dinda tergeragap, tersentak dari lamunannya. "I....iya, Nay. Tante masih ada disini" jawabnya.


Nayla mendesah pelan. "Katakan, ada apa tante menghubungiku lagi? Apa tante masih ingin mengatakan sesuatu lagi tentang, Dave? Apa belum cukup tante mencurigai suamiku?" tanyanya mengulang kembali pertanyaannya tadi.

__ADS_1


"Tidak! Tante tidak ingin berkata apa-apa lagi. Tante hanya ingin meminta nomor Langit. Boleh?."


"Baik, tante. Aku akan kirimkan nomor Langit. Kalau begitu Nayla tutup teleponnya." Dan sambungan telepon pun terputus.


"Maaf kalau tante terlalu ikut campur dalam urusanmu. Tapi semua ini tante lakukan juga demi melindungimu dan juga keluargamu. Terutama perusahaan peninggalan kakekmu," ucap Dinda lirih.


Tak berselang lama ponsel Dinda kembali bergetar karena ada sebuah pesan yang masuk. Dengan segera ia membuka ponselnya kembali dan membaca isi pesan yang sudah ia tahu apa isinya.


Sebuah pesan berisikan nomor kontak Langit. Dengan segera Dinda menghubungi nomor tersebut dan sejenak mengesampingkan kekesalan Nayla padanya.


"Halo, Langit, ini tante Dinda. Bisa kita ketemu sekarang? Ada hal penting yang ingin tante bicarakan denganmu," ucap Dinda langsung tanpa basa-basi sedikitpun begitu panggilan tersambung.


Terdengar sebuah persetujuan dari seberang. Dan Dinda pun mematikan ponselnya kembali.


Dinda menghidupkan mesin mobilnya kembali lalu berjalan memutar arah menuju tempat pertemuan yang sudah di sepakati.


...****************...


Dinda tahu betul bagaimana karakter Langit yang sedari kecil memang sangat menghargai waktu. Dan ia tak terlalu mempersoalkan hal itu.


Mengubah posisi duduk dan memasang wajah serius. Dinda pun tak ingin membuang-buang waktu lagi dan langsung pada tujuan utamanya mengajak Langit bertemu.


"Kau benar sekali, Langit. Ini memang sangat-sangat penting!."


"Katakan, tante!" ucap Langit, ikut memasang wajah serius.


"Jadi gini, kamu pasti sudah tahu kan kalau kakakmu Nayla di usir dari rumah gara-gara menikah dengan lelaki pilihannya?."


"Iya, Langit sudah tahu!. Bunda yang menceritakannya padaku," jawabnya dengan menganggukkan kepala.


"Beberapa hari yang lalu Tante bertemu dengan suaminya di perusahaan kakakmu. Dari sikapnya tante curiga kalau ada sesuatu yang ia sembunyikan."

__ADS_1


"Maksud, Tante?" tanya Langit cepat.


Dinda pun menceritakan secara singkat bagaimana pertemuannya kemarin dengan pak Bagas dan juga Dave di perusahaan Nayla. Tak lupa ia juga menceritakan apa yang membuatnya curiga.


"Entahlah, tante sendiri juga tidak tahu. Yang jelas ada sesuatu yang sedang ia rencanakan."


"Tante tidak memaksa kamu untuk mempercayai kecurigaan tante. Tapi tante mohon, kamu mau menyelidiki hal ini," ucap Dinda mengakhiri ceritanya dengan sebuah permohonan.


Langit diam, mencoba mengingat kembali ucapan Abhimana tempo hari. Lalu ia memcoba menggabungkan dengan kecurigaan Dinda barusan.


"Berarti bukan hanya ayah saja yang curiga dengan Dave. Karena ternyata tante pun memiliki kecurigaan yang sama pula," ucapnya kemudian.


"Maksud kamu?" tanya Dinda tak mengerti. Kedua alis mata saling bertaut.


"Benar, tante. Bukan hanya tante saja yang menaruh curiga pada suami kakak, Ayah pun juga sama. Karena itulah ayah memintaku untuk cepat pulang dan menyelidiki hal ini."


"Syukurlah kalau begitu. Tante lega kau percaya dengan kecurigaan tante," ucap Dinda sambil menghembuskan nafas penuh dengan kelegaan.


"Benar, tante. Dan tante tidak perlu khawatir. Langit sudah menyusun sebuah rencana untuk menyelidiki hal ini. Mana mungkin Langit membiarkan orang lain menghancurkan keluarga yang sudah memberiku segalanya."


"Satu hal yang Langit tak mengerti, kenapa tante tidak mengatakan hal ini pada ayah atau bunda?. Bukankah tante adalah sahabat baik bunda?."


Dinda menghela nafas berat mendengar pertanyaan yang diajukan Langit. "Bukannya tante tidak ingin memberitahukan hal ini pada mereka. Hanya saja tante tak ingin menambah beban pikiran mereka. Kau kan tahu sendiri kalau belakangan ini mereka sedang mengalami banyak masalah."


"Awalnya tante pikir cukup dengan memperingatkan kakakmu saja. Tapi sayang, dia malah marah dan menganggap kalau tante hanya ingin menjelek-jelekkan nama suaminya saja."


Langit mengangguk-anggukkan kepala mendengar penuturan Dinda. "Berarti keputusan tante untuk mengatakan hal ini pada Langit sudah tepat. Dan Langit pasti akan membongkar siapa Dave sebenarnya, serta menggagalkan semua rencana jahatnya."


Dinda tersenyum mendengar ucapan Langit. "Terimakasih banyak, Langit. Tante sangat mengandalkanmu."


"Jangan berterimakasih padaku seperti ini, tante. Ini sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi mereka yang aku sayangi. Keluarga yang telah memberiku sebuah kehidupan baru. Tanpa mereka, mungkin saat ini aku sudah tiada."

__ADS_1


__ADS_2