
Dave sengaja mengerjai Langit dengan memerintahkannya untuk mencuci mobilnya, sesuatu yang bukan bagian dari tugasnya. Dan meski sedikit dongkol, namun Langit tak bisa menolak perintahnya karena Dave selalu saja mengancam ingin memecatnya.
Berjalan menuju tempat parkiran khusus untuk para petinggi perusahaan dan mulai mengerjakan tugas yang diberikan. Namun saat ia mulai membersihkan bagian dalam mobil, secara tak sengaja matanya melihat sebuah berkas yang sangat ia kenal. "Lho, ini kan berkas yang selama ini aku cari"
Langit pun membuka berkas tersebut untuk memastikan dugaannya. Dan benar saja, berkas itu memang berkas milik Dave,berkas yang selama ini ia cari-cari.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku tak perlu lagi repot-repot mencari berkas ini, sebab berkas ini sendiri yang menemuiku," ucap Langit dengan senyum tersungging di bibir.
"Tapi ngomong-ngomong kenapa berkas ini bisa ada disini? Apa kemarin si Dave menemukan berkas ini lalu berniat menyembunyikannya?."
Bermacam dugaan muncul di benak Langit. Namun dengan segera ia menepisnya. "Ah terserah alasannya apa. percuma juga kalau aku memikirkannya. Yang jelas sekarang berkas ini sudah ada di tanganku."
Berniat ingin mengerjai Langit, namhn sayang keberuntungan sepertinya malah berpihak padanya.
Langit pun menyelipkan berkas itu di balik baju lalu segera menyelesaikan sisa pekerjaannya. Setelah itu ia membereskan semua peralatan kebersihan dan mengembalikannya ke tempatnya semula.
Berjalan menghampiri pak Aji untuk mengembalikan kunci mobil. Langit bersikap seolah tak terjadi apa-apa agar tak mengundang kecurigaan.
"Ini, pak, kunci mobilnya. Saya sudah selesai mencucinya," ucapnya seraya menyodorkan kunci mobil itu.
Pak Aji menerima kunci mobil itu dan meyimpannya kembali ke dalam saku celana. "Terimakasih banyak, Mas, Maaf merepotkan" jawabnya sedikit kikuk.
"Bukan masalah yang besar, pak. Justru harusnya saya yang mengucapkan terimaksih ke bapak," jawab Langit dengan senyum tersungging di bibir.
Mendengar ucapan Langit, pak Aji malah mengerutkan dahi bingung. "Terimakasih untuk apa, Mas? Kan saya tidak melakukan apa-apa."
"Bukan apa-apa sih pak. Anggap saja secara tak langsung bapak sudah menolong saya," jawab Langit sambil mengangkat kedua bahu keatas. Senyum misterius terus tersungging di bibir.
Usai berkata begitu, Langit berlalu begitu saja meninggalkan pak Aji yang masih garuk-garuk kepala bingung.
Keluar dari area perusahaan dengan menaiki mobil yang sengaja ia titipkan di tempat parkir lain agar tak menimbulkan kecurigaan orang kantor sebelum jam pulang kantor tiba. Langit bahkan tak peduli andai Dave memecatnya gara-gara masalah ini.
Sesampainya di tempat rahasia, Langit membuka berkas itu dan membacanya dengan seksama.
__ADS_1
"Mmh, jadi nama lengkapnya Davka Digdaya Hitler. Sebuah nama yang cukup mengerikan," gumam Langit. "Tapi memang pantas sih dengan orangnya.
Langit terus membaca berkas itu dengan seksama, mencari informasi sebanyak-banyaknya.
"Baiklah, aku rasa informasi ini cukup membantu. Aku akan memberitahukan hal ini pada Ayah."
Berjalan memasuki mobil lagi dan mengemudikannya menuju kediaman Abhimana. Langit sudah tak sabar ingin memberitahukan hal ini padanya. Tak lupa ia mengganti pakaiannya dulu agar tak membuat sang bunda shok.
Tak berselang lama mobil pun sampai. Langit segera masuk dan mencari keberadaan Abhimana.
"Assalamualaikum, bunda" ucap Langit.
Kania yang saat itu sedang asyik menonton acara talk show di salah satu saluran televisi pun mengalihkan pandangan padanya.
"Waalaikum salam," jawabnya. "Eh, anak bunda udah pulang. Gimana harinya tadi?."
Langit berjalan menghampiri Kania dan mencium punggung tangannya. "Sekua lancar, bund," jawabnya. Tak lupa sebuah senyuman manis ia berikan. "Oh ya, bund, ayah ada dimana? Langit pengen ngobrol nih sama beliau."
"Ayah ada taman belakang. Biasalah, ngasih makan anak ke empatnya."
Kania tertawa renyah mendengar pertanyaan Langit. "Siapa lagi kalau bukan ikan-ikan koi kesayangannya. Kalu kan tahu sendiri gimana ayahmu kalau sudah bercengkerama dengan mereka."
Langit menepuk dahi memdengar jawaban bundanya. "Ada-ada aja bunda ini. Aku kira tadi siapa. Udah senam jantung aja tadi dengernya. Eh nggak tahunya ternyata...."
Tawa Kania makin pecah berderai karena berhasil mengerjai anak angkatnya.
"Ya udah, bund, kalau gitu Langit samperin ayah dulu di belakang."
Kania mengangguk, lalu Langit pun berlalu menuju taman belakang.
"Assalamualaikum, yah. Apa ayah sedang sibuk?" ucap Langit saat tiba disana.
Abhimana yang saat itu sedang memberi makan para ikan-ikan kesayangannya pun langsung mengalihkan pandangan. "Eh Langit, ada apa kamu kesini?."
__ADS_1
"Langit kesini bawa berita bagus buat ayah. Langit yakin ayah pasti suka mendengarnya" jawab Langit dengan senyuman tersungging di sudut bibir.
"Berita bagus? Apa?"
Langit menoleh ke kanan dan kiri, terlihat sedang mengawasi situasi. "Ayah yakin ingin membicarakan hal ini di sini," ucapnya sedikit ragu.
Melihat perubahan ekspresi pada wajah Langit, Abhimana mengerti bahwa hal yang akan disampaikannya itu benar-benar sangat penting. Ia pun bangkit lalu mencuci tangannya di kran air yang berada tak jauh dari situ.
"Ikuti ayah! kita bicarakan ini di ruang kerja ayah," ucapnya kemudian.
"Baik, yah!" mengangguk singkat lalu mengikuti langkah ayahnya.
"Katakan! Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan?" ucap Abhimana seraya menghempaskan tubuh diatas sofa. Ekspresi wajahnya terlihat sangat serius.
"Langit sudah tahu siapa Dave, ayah!" jawab Langit. Wajahnya terlihat tak kalah serius dengan Abhimana. Menunjukkan bahwa apa yang akan disampaikannya memang benar-benar sangat serius.
"Benarkah? Kalau begitu katakan!."
Langit mengeluarkan berkas yang ditemukannya secara tak sengaja di dalam mobil Dave tadi dari balik jas lalu menyodorkannya ke hadapan Abhimana.
"Ini adalah cv milik Dave. Nama lengkapnya adalah Davka Digdaya Hitler. Disana disebutkan bahwa dia adalah anak dari Alex Hitler dan Natasha Hitler. Ayahnya meninggal dunia saat dia masih berusia tiga tahun. Sayangnya Langit belum tahu alasan di.balik kematian ayahnya."
Abhimana terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh Langit. Ia pun bertanya kembali untuk menegaskan bahwa yang didengarnya tadi memang benar.
"Tunggu dulu, kau bilang apa tadi? Dave. anak dari Alex Hitler?."
"Iya, benar. Ayahnya memang bernama Alex Hitler," jawab Langit bingung. Dahinya terlihat berkerut. "Memangnya ada apa, yah?."
"Ya tuhan, kenapa semuanya jadi seperti ini.Ternyata dugaanku kemarin memang benar."
Terkejut, tercengang, terpaku, terhenyak. Entah istilah apa lagi yang tepat untuk menggambarkan betapa terkejutnya Abhimana saat ini. Ia sangat shok, tubuhnya merosot ke lantai seketika.
Melihat perubahan ekspresi di wajah ayahnya, Langit segera membantunya untuk duduk kembali di atas kursi. "Ada apa, yah? Kenapa ayah tiba-tiba begini? Apa ayah mengenal siapa ayah Dave?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Bukan kenal lagi. Tapi ayah sangat tahu siapa dia. Yang jelas saat ini kakakmu sedang dalam bahaya," jawab Abhimana dengam bibir bergetar hebat. Sebuah ketakutan tergambar dengan jelas di wajahnya.