Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 22


__ADS_3

Nayla mengumpulkan semua karyawannya untuk memberikan beberapa karyawan penting. Namun saat ia memberitahukan tentang status Dave yang telah sah menjadi suaminya, para karyawan mulai berkasak-kusuk.


Wajah Dave merah padam mendengar kasak-kusuk para karyawan yang terkesan merendahkannya. Namun ia tak berani menunjukkan kemarahannya itu sekarang. "Berani sekali kalian meremehkanku. Lihat saja! Aku akan bikin perhitungan dengan kalian semua setelah aku berhasil memgambil alih kepemimpinan perusahaan" geramnya dalam hati.


Melihat ekspresi tidak mengenakkan di wajah sang suami, Nayla segera menghentikan kasak kusuk itu. "Semuanya, harap kembali tenang!" ucapnya lantang. Sontak semua kembali diam menuruti perintah sang Bos.


Setelah semua kembali tenang, Nayla kembali berucap. "Saya tahu kalau kalian semua terkejut dengan kabar pernikahan saya ini. Tapi saya tekankan pada kalian bahwa kami telah menikah secara sah di mata hukum. Dan saat ini saya telah mengandung buah cinta kami."


"Ini semua adalah urusan pribadi saya. Jadi saya harap setelah ini tidak ada rasa kusuk apapun lagi mengenai hal ini. Dan saya juga berharap agar kalian bisa menghormati suami saya seperti kalian menghormati saya selama ini."


Semua karyawan diam, tak berani berkasak kusuk atau merendahkan Dave lagi.


Nayla menghembuskan nafas dan kembali berucap, "Seperti yang sudah saya sebutkan di awal tadi kalau saat ini saya sedang hamil. Maka dari itu saya beritahukan pada kalian semua bahwa mulai hari ini, saya selaku pimpinan di perusahaan ini, memberikan wewenang kepada bapak Davka, suami saya untuk mengambil keputusan apapun mengenai urusan perusahaan."


"Keputusannya adalah keputusan saya juga. Jadi saya harap kalian semua mematuhi perintahnya."


"Demikian pengumuman yang ingin saya sampaikan hari ini, dan silakan kembali ke pekerjaan kalian masing-masing!." Semua karyawan pun membubarkan diri dan kembali ke pekerjaan masing-masing.


Walau masih ada sedikit kasak kusuk di antara para karyawan, namun mereka tak berani menunjukkannya di hadapan Nayla apalagi Dave, takut menyinggung perasaan mereka karena ini tidak ada kaitannya dengan urusan pekerjaan.


"Ayo, Dave, kita pergi ke ruanganku," ajak Nayla, melingkarkan tangan di lengan kekar sang suami dan melenggang menuju lift khusus untuk para petinggi perusahaan.

__ADS_1


Setibanya di ruangan milik Nayla yang berada di lantai paling atas di gedung ini, Dave menghempaskan tubuh di kursi kebesaran yang biasa Nayla gunakan dan bersikap seolah-olah dialah pemilik dari perusahaan ini. Ia mulai menunjukkan watak asli sebenarnya namun sayang, Nayla masih tak menyadari hal itu.


Dave menyandarkan punggung di sandaran kursi, menikmati kenyamanan dari kursi itu. Sementara Nayla sendiri justru malah berdiri tegak disampingnya, di ruangan yang seharusnya adalah miliknya.


"Ruanganmu ini sangat nyaman, Nay, apalagi kursi ini. Kenapa kamu nggak pernah mengajakku sama sekali masuk ke ruangan ini?" tanyanya.


Nayla menghela nafas mendengar pertanyaan yang dilontarkan suaminya. "Gimana aku mau mengajakmu kesini, kan kamu sendiri yang menginginkan untuk menyembunyikan hubungan kita di hadapan para karyawan di kantor" jawabnya telak.


Dave tertegun mendengar jawaban istrinya, baru sadar akan kekeliruannya. "Betul juga kata Nayla. kenapa dulu aku begitu bodoh dan malah ingin menyembunyikan hubunganku dengannya. Andai dulu aku tidak melarang Nayla untuk mengungkap hubungan kita di hadapan para karyawan, pasti sudah dari dulu aku menikmati semua kenyamanan ini," gumamnya dalam hati.


"Maafin aku, Nay. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan status kita di hadapan semua orang terutama para karyawan di kantor ini, hanya saja saat itu aku belum siap untuk itu. Kan kamu tahu sendiri apa posisiku di perusahaan ini. Yang pastinya akan banyak yang akan menggunjing dan mengatakan yang tidak-tidak tentangku. Dan aku tak mau hal itu terjadi."


Sejenak Nayla terdiam mendengar alasan suaminya. "Kau benar sekali, Dave! Maafkan aku yang tidak bisa mengerti perasaanmu" ucap Nayla penuh sesal.


"Sudahlah! Sebaiknya kita lupakan masalah itu," ucap Dave, menyunggingkan senyum penuh kepalsuan lalu kembali menegakkan posisi tubuh.


"Tapi nomong-ngomong, tindakanmu tadi sangat bagus, sayang. Kau membungkam mulut mereka dengan kata-katamu dan membuat mereka menaruh hormat padaku," imbuhnya.


Nayla tersenyum tipis mendengar ucapan suaminya. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri untuk melindungi harkat dan martabat suaminya," ujarnya.


Dave ikut tersenyum pula mendengar ucapan istrinya. "Kau memang istri yang sangat baik, Nay. Tapi tenang saja, mulai sekarang tidak akan ada yang berani menghinaku setelah tahu kalau aku adalah suamimu."

__ADS_1


Nayla mengangguk, setuju dengan pendapat suaminya. "Semoga hal itu memang benar. Tapi aku berharap kau bisa bersikap lebih bijak dalam menanggapi masalah ini."


Mendengar ucapan istrinya, wajah Dave berubah dingin seketika. "Kau tenang saja! Aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk membungkam mulut mereka kalau sampai berani menghinaku lagi di kemudian hari."


"Jangan seperti itu, Dave. Jangan bertindak berlebihan apalagi membuat para karyawan tak betah bekerja di sini. Biar bagaimanapun tanpa adanya mereka, perusahaan ini tak mungkin bisa sebesar ini."


"Jangan sok mengajariku tentang apa yang harus dan tidak harus aku lakukan! Aku lebih tahu hal itu daripada dirimu" berang Dave, menggebrak meja dengan begitu keras lalu satu jarinya menunjuk kearah Nayla.


Nayla terjingkat kaget saat Dave menggebrak meja tadi. Jantungnya berdebar kencang saking kagetnya. Ia pun mengusap dadanya untuk meredakan debaran itu.


"Seorang pemimpin itu harusnya bisa tegas dan menunjukkan wibawanya di hadapan para karyawan agar mereka tunduk dan tak berani bersikap kurangajar terhadap kita. Bukannya malah asyik bercanda dengan mereka."


"Tapi Dave, bukankah seorang karyawan itu juga seorang manusia yang layak mendapatkan rasa hormat juga dari kita?" bantah Nayla. "Kita tidak bisa memaksa mereka untuk menghormati kita sedangkan kita sendiri tidak mau menghormati mereka."


"Diam kau!" bentak Dave semakin marah. Matanya berkilat merah dan menatap tajam Nayla. "Bukankah tadi sudah ku katakan untuk tidak mengajariku tentang apa yang harus dan tidak harus aku lakukan?."


Nayla terkejut setengah mati mendengar suara keras Dave. Ia tak menyangka kalau suaminya akan semarah itu hanya karena masalah sepele. Kilatan merah di matanya membuatnya sedikit takut.


"Tapi, Dave, maksud perkataanku tadi..." Nayla mencoba untuk menjelaskan maksud dari perkataannya, namun Dave justru kembali membentaknya.


"Tutup mulutmu! Berapa kali harus aku katakan, jangan pernah mengajariku!!" amuknya. "Atau aku harus memukulmu dulu untuk membuatmu diam!" seraya mengangkat tangan ke arah Nayla.

__ADS_1


Melihat kemarahan suaminya yang semakin tak terkendali, Nayla memutuskan untuk tak meneruskan perdebatan mereka. "Maafkan aku, Dave. Aku memang bersalah," ucapnya lirih.


Dave tersenyum miring karena berhasil membuat istrinya menurut. "Nah gitu dong! harusnya dari tadi kamu bersikap seperti itu. Jadinya kan aku nggak perlu marah-marah sama kamu."


__ADS_2