
Natasha ingin mencelakakan Nayla suapaya ia kehilangan bayi dalam kandungannya dengan sengaja membuat lantai apartemen basah. Namun ia justru terjatuh dalam jebakannya sendiri.
Entah kebetulan atau memang alam yang masih melindunginya. Hingga pada menit-menit terakhir ia justru selamat dari perangkap itu melalui serangan mual dan muntah yang datang secara tiba-tiba.
Mendengar suara orang terjatuh yang disertai dengan suara teriakan, Nayla dan Dave segera keluar kamar untuk memeriksa.
Alangkah terkejutnya Dave saat melihat kondisi Mamanya yang terkapar tak berdaya diatas lantai sambil merintih kesakitan dan memegangi kepala. Rupanya teriakan tadi berasal darinya.
Dave terlihat begitu panik saat melihat Mamanya mulai tak sadarkan diri. Untung ada Nayla yang membantu mengemudikan mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Namun setibanya disana, suster justru melarangnya untuknikut masuk ke ruang tindakan.
Tinggallah Dave seorang diri sambil menatap kosong pintu UGD yang tertutup rapat. Setitik air mata jatuh di pipi karena terlalu mengkhawatirkan kondisi sang ibu.
Beberapa saat kemudian Nayla datang menyusul dengan langkah tergopoh-gopoh. Pakaian yang dikenakannya hari itu membuatnya sedikit kesulitan untuk bergerak apalagi menyamai langkah lebar suaminya. Hingga terpaksa ia jauh tertinggal di belakang.
"Bagaimana keadaan Mama, Dave?" tanyanya dengan nafas memburu setelah sampai di hadapan suaminya.
Dave menggeleng lemah, terlihat sangat kesedihan di matanya. "Entahlah, Nay, aku juga tidak tahu. Saat ini dokter sedang menanganinya di dalam."
Nayla merasa kasihan melihat kondisi suaminya yang sangat rapuh. Ia memeluk dan mengusap punggung suaminya untuk memberikan sedikit ketenangan. "Tenanglah, Dave, semua akan membaik! Aku yakin Mama pasti baik-baik saja," ucapnya lembut.
Pelukan hangat yang disertai dengan kata-kata lembut dari istrinya membuat Dave menemukan tempat untuk berkeluh kesah. Hingga tanpa sadar ia membalas pelukan itu. "Bagaimana kalau Mama tidak baik-baik saja, Nay? Aku tidak mau kehilangan Mama lagi" ucapnya dengan sedikit terisak.
"Jangan pesimis, Dave. Mama adalah wanita yang kuat. Aku yakin dia pasti baik-baik saja!."
Waktu terus bergulir menciptakan keresahan di hati setiap insan yang sedang menantikan sesuatu dalam ketidakpastian. Begitu menyiksa dan melelahkan.
Begitu juga dengan Dave yang sedang menantikan dokter segera muncul dari balik pintu UGD dan mengatakan tentang kondisi sang Mama yang tengah berbaring tak berdaya di dalam sana.
Dengan sabar Nayla menemani suaminya yang tengah berada dalam masa sulit. Bahkan ia rela membatalkan rapat penting hari ini hanya agar bisa menemaninya di rumah sakit.
Pintu UGD terbuka, yang ditunggu sedari tadi akhirnya menampakkan diri. Dave bangkit dari tempat duduk dan segera menghampirinya. "Bagaimana keadaan Mama saya, dok?" tanyanya penuh dengan kekhawatiran.
Nayla pun turut bangkit dari tempat duduk. Berdiri di samping sang suami dan menunggu dokter menjelaskan kondisi sang mertua.
__ADS_1
Dokter membuang nafas, tersenyum sejenak lalu berkata, "Anda tenang saja! Mama anda baik-baik saja. Tadi dia pingsan karena syok. Ada sedikit pendarahan di kepala tapi itu hanya luka keciel biasa. Kami sudah mengobati luka-lukanya dan sebentar lagi beliau pasti siuman."
"Apa Mamaku memerlukan rawat inap, dok?" tanya Dave kembali.
Dokter menggeleng. "Itu tidak perlu! Nanti setelah pasien sadar anda bisa langsing membawanya pulang, sebab tidak ada luka yang serius di tubuhnya."
Dave menghembuskan nafas penuh kelegaan mendengar penjelasan dokter. "Syukurlah kalau Mama baik-baik saja. Saya tadi sempat khawatir kalau Mama daya kenapa-napa."
Sama seperti suaminya, Nayla pun turut merasa lega mendengar penjelasan dokter tadi.
Dokter tersenyum melihat pancaran kebahagiaan di wajah keluarga pasien. "Kalau tidak ada yang mau ditanyakan lagi saya permisi dulu. Ada pasien lain yang harus segera saya tangani."
"Oh ya, satu lagi! Setelah ini anda boleh melihatnya."
"Baik, dok, terimakasih!" ucap Nayla.
Dokter mengangguk sekilas lalu perg! meninggalkan mereka berdua. Sementara itu Dave beserta Nayla segera memasuki ruangan sepeninggal dokter tadi.
Nayla dengan setia berada di samping sang suami dan menemaninya. Namun baru beberapa saat berada di sana ia kembali mengalami mual dan muntah lantaran tak tahan dengan bau khas di rumah sakit.
Melihat kondisi Nayla yang lemah hati Dave menjadi iba. "Sebaiknya kau pulang dulu ke rumah, Nay, tidak baik kau berada di rumah sakit berlama-lama dan kondisimu sekarang. Lagipula kondisi Mama juga sudah baik-baik saja.
"Tapi, Dave...."
"Tidak apa, Nay, pergilah! Biar aku yang temani Mama disini."
Karena sudah berulangkali suaminya menyuruh untuk pulang akhirnya Nayla pun menurut. Ia segera berlalu meninggalkan suaminya setelah memastikan tidak ada yang perulu dikhawatirkan lagi.
Sepeninggal Nayla dari dalam ruangan, perlahan jemari Natasha mulai bergerak, yang diikuti dengan terbukanya kelopak matanya.
"Mama! Akhirnya Mama siuman juga" pekik Dave bahagia.
Natasha meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang di perban. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Dengan sigap Dave menarik kembali tangan itu. "Awas, Ma, hati-hati!"
__ADS_1
"Mama ada dimana ini?" tanyanya sedikit bingung melihat ruangan yang serba putih.
"Kita ada di rumah sakit, Ma!" jawab Dave. "Tadi Mama jatuh terpeleset dan jatuh pingsan. Kepala Mama juga sedikit terluka karena terjatuh tadi. apa Mama tidak ingat kejadian itu tadi?."
Ingatan Natasha kembali teringat akan kejadian dimana ingin mencelakakan Nayla yang malah berujung dengan dirinya sendiri yang celaka.
"Ya, Mama sudah ingat!. Sekarang dimana istrimu itu?."
"Nayla baru saja pulang, Ma. Aku yang menyuruhnya karena tak tega melihat kondisinya. Tadi dia yang membantuku membawa Mama ke sini" terang Dave.
Melihat putranya mulai bersimpati dengan kondisi Nayla membuat Natasha marah. "Kenapa sekarang kau malah bersimpati dengannya? Jangan bilang kalau sekarang kau mulai jatuh cinta dengannya!."
Mendengar ucapan Mamanya sontak Dave mengelak. "Itu tidak benar, Ma! Aku melakukan itu hanya sebagai bentuk terimakasih karena dia sudah membantuku membawa Mama kesini tadi."
"Jangan bohong kamu?" ujar Natasha dengan pandangan penuh selidik.
"Aku berani bersumpah, Ma, hanya itu alasanku. Tidak kurang dan tidak lebih!" jawab Dave. "Lagipula bagaimana Mama bisa terjatuh seperti tadi?."
Natasha pun menceritakan kejadian dimana ia dengan sengaja membuat lantai menjadi basah dan berakhir dengan dirinya yang terpeleset di sana. "Bukankah semalam Mama sudah mengatakan rencana ini?" Natasha mengakhiri ceritanya dengan bertanya pada Dave.
Dave nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maafin aku, Ma. Sebenarnya tadi aku sempat lupa dengan rencana kita ini."
"Astaga, Dave!" Natasha terkejut mendengar pengakuan putranya. "Kamu sadar nggak? gara-gara kebodohanmu ini, Mama yang celaka."
"Ya mau gimana lagi. Namanya juga orang lupa!" jawab Dave enteng.
Natasha menghela nafas berat. "Ya sudah, kita lupakan hal ini. Anggap saja tadi Nayla sedang beruntung dan Mama yang sial. Tapi lain kali dia tidak akan seberuntung ini."
"Sekarang apa rencana Mama selanjutnya" tanya Dave, kembali memasang wajah serius.
"Kamu tenang saja! Mama sudah punya rencana lain untuk mencelakakannya."
Mereka berdua kembali menyunggingkan senyuman licik setelah membicarakan rencana mereka selanjutnya. Dan Nampaknya Natasha belum juga kapok untuk membuat Nayla kembali celaka setelah apa yang terjadi padanya.
__ADS_1